Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Urat malunya putus?
...Setelah healing di pantai sampai malam, angin laut terasa semakin dingin, membuatnya mulai kedinginan. Angin malam yang tadi terasa menenangkan kini menusuk kulitnya. Zhara berjalan menjauh dari bibir pantai, ia menoleh sebentar ke arah laut yang gelap, seakan hatinya tidak ingin berpamitan, pada tempat yang telah menenangkan hatinya malam itu....
...Mereka berdampingan berjalan meninggalkan pantai....
...Malam semakin larut, bibi, paman, dan Biru berpamitan untuk pulang. udara terasa dingin, tapi suasana perpisahan tetap hangat....
...“Maaf Zhara sayang, kami tidak bisa menginap,” kata bibinya dengan lembut, memeluk dan mencium pipi Zhara....
...“Iya bibi, besok besok kalau sempat dan tidak sedang ada kegiatan main lagi kesini ya...” ucap Zhara hangat....
...“tenang kak, kalau sudah musim liburan, aku akan sering bermain kesini.” jawab biru tersenyum lebar....
...“kamu sebentar lagi mau kelas tiga, belajar yang giat dan tunjukkan pada kakak, nilai yang paling memuaskan.” Zhara mentap Biru penuh perhatian....
...“Itu gampang, aku juga akan datang memberi kakak sebuah kejutan.” jawabnya dengan suaranya lebih mantap dari sebelumnya....
...“Zhara! Tolong jaga diri baik baik, jika butuh sesuatu, telfon dan kabari paman...” ucap paman dengan penuh perhatian....
...“Iya... Terimakasih untuk hari ini paman.” Zhara berdiri di samping pamanya, tersenyum kecil....
...Biru dan bibi melambaikan tangan dari dalam mobil, senyumnya hangat meski perpisahan terasa singkat....
...“Hati-hati ya!” ucap Zhara melambaikan tangan....
...Mobil pun perlahan melaju, suara mesin mobil yang makin lama makin samar. Lampu belakang mobil semakin jauh, lalu lenyap di tikungan jalan, suasana kembali hening. Zhara hanya tersenyum kecil, matanya mengikuti mobil itu hingga benar-benar hilang dari pandangan....
...Zhara masuk ke dalam, menutup pintu agar dingin dari luar tidak ikut masuk. Ia berjalan menuju dapur, menyalakan kompor, memanaskan air, dan menyiapkan secangkir teh untuk menghangatkan badannya....
...Uap tipis mulai mengepul saat air panas dituangkan, aroma teh yang lembut memenuhi ruangan. Zhara menggenggam cangkir dengan kedua tangan, merasakan hangatnya meresap ke jari jari tangannya, yang tadi sempat kaku karena kedinginan....
...Zhara menghela napas lega, dada yang tadi terasa sesak, kini mulai lega, beban yang menumpuk perlahan menghilang. Di tengah sunyinya rumah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Zhara merasa dirinya baik baik saja....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...
...Badan yang sehat, jiwa yang tenang. Hari ini, Zhara sudah merasa siap kembali bekerja. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian kerja yang rapi, muali berias dan menyisir rambutnya. Zhara merapikan sedikit kerah bajunya, dan sedikit semprotan parfum. lalu tersenyum lembut pada bayangannya sendiri....
...Zhara meraih tasnya di atas meja, lalu mengambil kunci motor di sampingnya. Ia menggenggam keduanya erat, memastikan dirinya sudah siap untuk melangkah keluar kembali beraktivitas....
...Zhara menyalakan motor, suara mesin pelan memecah pagi yang masih tenang. Ia mengenakan helm, tersenyum lembut sebelum melaju. Perjalanan menuju tempat kerja terasa berbeda. Bukan sekadar rutinitas, tapi langkah awal untuk kembali menata hidupnya....
...Hari ini, Zhara berangkat bekerja dengan hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih jernih, dan harapan yang kembali tumbuh. menggenggam setang dengan perasaan mantap, matanya fokus ke depan. Ia sampai di tempat kerja, mematikan mesin motor, lalu melepas helmnya perlahan....
...“Zhara...” panggil seseorang terdengar pelan, namun cukup untuk membuat Zhara menoleh, Gadis di hadapannya terasa asing....
...“Siapa ya?...” ucap Zhara menghampiri dengan sopan....
...“Kamu, mantannya Alvaro kan?” perempuan itu tersenyum tipis, menatap Zhara dengan penuh percaya diri....
...“Perkenalkan. Aku Viona Shanjaya calon istrinya Alvaro.” ucapnya tenang, tatapannya tegas....
...Zhara terdiam, nama itu terdengar begitu jelas di telinganya, membuat jantungnya seolah berhenti sesaat. Ia berusaha mengontrol perasaannya....
...“Ohh... Halo.” sapa Zhara santai....
...“Kamu tidak bertanya?... mengapa aku berada disini?...” Viona menatapnya sedikit memiringkan kepala....
...Zhara terdiam sejenak, ia menatap Viona, mencoba membaca maksud perempuan itu. Zhara hanya tersenyum tipis....
...“Untuk apa?” jawabannya cuek....
...“Kau...” Viona terlihat kesal....
...“Aku sedang mengandung anak dari Alvaro, jadi...” Belum sempat Viona melanjutkan ucapannya, Zhara sudah berbalik melangkah pergi....
...“Heii... aku belum selesai berbicara...” ucap Viona menarik tas Zhara, sehingga Zhara jatuh....
...Bruk!...
...Tubuh Zhara terjatuh, suara benturannya memecah suasana yang semula biasa saja. Tiara yang melihatnya dari kejauhan, segera bergegas menghampiri Zhara. Tanpa pikir panjang membantu Zhara berdiri agar lebih stabil....
...“Apa urusanku?.” jawab Zhara matanya menatap kesal....
...“Kau harus tau, aku akan segera menikah dengan Alvaro Jerene... dan anak ini adalah anaknya Alvaro. Jadi aku datang untuk mengundangmu untuk datang di acara pernikahan kami.” ucapnya dengan tatapan sinis....
...“Ohh iya setelah kami menikah... kamu jangan dekat dekat lagi, dengan Alvaro suami saya.” tangannya mengulurkan surat undangan....
...“Pede sekali wanita jalang ini, menikah saja sana, Zhara tidak sudi datang ke pestamu dan sudah tidak ada urusannya denganmu dan pasanganmu itu.” ucapan Tiara menggelegar, tatapannya tajam....
...“Tentu saja, jangan berurusan lagi dengan calon suamiku. Kamu jangan harap, bisa mengganggu kebahagiaanku dengannya... agar dengan sadar pergi jauh jauh dari Alvaro.” ucapnya dengan mata mendelik....
...“Apakah jarak yang sudah ku buat, tidak cukup membuatmu hidup nyaman?”...
...“Iya masih tidak nyaman. Kamu jangan harap bisa mengganggu kebahagiaanku dengannya, jadi tolong sadar diri sebagai mantannya Alvaro.” ujar Viona tersenyum sinis....
...“Zhara... seperti jalang ini sudah gila, ternyata selama ini dia merasa korban?." ucapan Viona tajam dan merendahkan....
...“Lucu sekali,” ucap Zhara akhirnya, suaranya pelan tapi jelas....
...“Hai semua orang yang berada disini, keluarlah... lihat gadis yang sok lugu, ini sudah merayu calon suami saya.” Viona berbicara lantang, tangannya menunjuk Zhara....
...“Heh... apa yang kamu lakukan?” ucap Tiara marah....
...“Dasar jalang.” Zahra memegang tangan Tiara....
...Beberapa orang mulai menoleh, langkah kaki terdengar mendekat, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Viona justru tersenyum puas, merasa semua orang iba padanya....
...“Ada apa ini?”...
...Tanya kak Mega keluar, suara tegas itu memotong riuhnya kerumunan. wajahnya serius, sorot matanya menatap kerumunan, ke Viona, lalu berhenti pada Zhara....
...Viona terlihat terkejut, ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya, seolah menjadi korban yang penuh keluhan....
...“Dia... perempuan ini, sudah mengganggu calon suami saya!” ia menunjuk Zhara....
...Kak Mega tidak langsung menanggapi. Ia justru menatap Zhara lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat....
...“Begitu yah?” Kak Mega mengalihkan pandangannya ke Viona....
...“Kamu siapa berani datang membuat keributan?” tanya kak Mega mengkerutkan alis....
...“Saya Viona, calon istri Alvaro jarene” jawabannya percaya diri....
...“Alvaro itu, mantanmu kan Zhara?” Kak mega pmengalihkan wajahnya, menatap Zhara....
...“Iya mantan saya” jawab Zhara datar....
...“Katakanlah, apa kepentinganmu datang kesini?” Suara kak Mega terdengar dingin, tegas, tanpa emosi....
...“Saya ingin anda memecat wanita murahan itu, karena dia sudah menggoda calon suami saya, saya ingin melihat dia, mendapatkan sangsi yang sepadan dengan perbuatannya.” ucap Viona tersenyum puas....
...“Apa ada bukti? ” tanya kak mega dingin....
...“Saya memang tidak punya bukti fisik. Tapi dia sudah tau kalau kami akan menikah, dia malah mendekati calon suami saya. Saya sangat sedih.” ujarnya seperti korban....