Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 27: Sabotase
Pintu lift tertutup dengan denting halus, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kabin. Begitu sampai di lantai empat puluh, atmosfer penthouse terasa sepadat timah.
Daniel, yang rupanya sudah berada di sana untuk menunggu tanda tangan dokumen malam, berdiri dengan postur kaku di dekat meja makan marmer. Ia menunduk hormat saat aku dan Rayan melangkah keluar dari lift.
Aku tidak memedulikan kehadiran Daniel. Aku melempar tas kainku ke atas sofa, lalu berbalik menatap Rayan yang sedang membuka kancing jasnya dengan gerakan lambat yang penuh ancaman.
"Audit keamanan?" tanyaku, memecah kesunyian dengan nada rendah namun setajam silet. "Alasanmu benar-benar tidak kreatif, Rayan."
Rayan meletakkan jasnya di sandaran kursi. Matanya menatapku dengan sorot segelap malam tanpa bintang. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat di lehernya terlihat samar.
"Saya tidak berurusan dengan alasan, Nara. Saya berurusan dengan fakta," balas Rayan, suaranya sedingin es di kutub. "Faktanya, Anda menghabiskan waktu empat puluh lima menit di ruang publik terbuka, berinteraksi dengan pihak eksternal, tanpa memberikan clearance keamanan pada tim saya."
"Pihak eksternal?" Aku mendengus sinis, melangkah maju. "Namanya Dito. Dia teman SMP saya. Kami minum es kopi susu seharga dua puluh ribu rupiah dan membahas tentang susahnya mencicil rumah subsidi. Bagian mana dari interaksi itu yang membahayakan kerahasiaan dokumen miliaranmu?"
"Semuanya," desis Rayan. Ia ikut melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. "Anda adalah Nyonya Adristo. Setiap orang yang berinteraksi dengan Anda memiliki potensi untuk menggali informasi. Anda bisa saja terpancing menceritakan fasilitas fiktif Anda, atau mengeluhkan rutinitas Anda. Saya tidak mentoleransi variabel yang tidak terukur."
"Saya bukan orang bodoh yang akan membeberkan rahasia kebohongan kita di kedai kopi!" suaraku mulai meninggi, kehilangan kesabaran terhadap arogansi pria ini. "Dan tolong dicatat, di dalam kontrak Pasal Tiga, tidak ada larangan bagi Pihak Kedua untuk bersosialisasi di luar jam kerja operasional. Kamu melanggar batas pribadiku!"
"Batas pribadi Anda tidak berlaku ketika keamanan aset perusahaan saya menjadi taruhannya!" bentak Rayan, suaranya akhirnya naik, menggema di dinding-dinding penthouse yang luas.
Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang memancarkan emosi yang rumit. Nafasku memburu. Logikaku menyusun kepingan-kepingan sikapnya hari ini.
"Ini bukan tentang aset perusahaan," kataku perlahan, nadaku turun menjadi sangat pelan namun menohok. Aku menatapnya lurus-lurus. "Ini tentang egomu, Rayan. Kamu tidak sedang melindungi rahasia Adristo Group. Kamu hanya marah karena ada bagian dari hidupku yang tidak bisa kamu beli, tidak bisa kamu atur, dan tidak membutuhkan izinmu."
Mata Rayan sedikit melebar, kilatan kemarahan bercampur dengan sesuatu yang menyerupai keangkuhan yang terluka.
"Anda terlalu melebih-lebihkan diri Anda sendiri," desis Rayan.
"Kalau begitu jelaskan kenapa CEO sepertimu repot-repot memutar rute Maybach ke ruko kumuh hanya untuk menjemputku?" tantangku tanpa ragu. "Kamu benci melihatku bisa tertawa lepas dengan orang normal, sementara di sangkar emasmu ini, kita hidup seperti robot yang saling menunggu tanggal kedaluwarsa!"
"Nara"
"Bapak Rayan, mohon maaf..." Suara Daniel tiba-tiba terdengar. Asisten itu melangkah maju setengah langkah, wajahnya terlihat tegang melihat atasannya kehilangan kendali. "Mungkin Nyonya Nara memang hanya melakukan silaturahmi biasa. Interaksi tersebut sudah terhenti, dan tidak ada indikasi kebocoran"
"Diam, Daniel!" bentak Rayan dengan suara bariton yang meledak, menoleh dengan tatapan membunuh ke arah asistennya. "Ini bukan urusanmu! Jangan berani-berani menginterupsi saat saya sedang bicara!"
Daniel langsung menunduk dalam, bibirnya terkatup rapat. "Baik, Pak. Mohon maaf."
Aku memelototi Rayan, rasa muak tiba-tiba menguasai dadaku.
"Jangan membentak orang yang bahkan tidak ada hubungannya dengan masalah ini," kataku dingin, mengambil tas kainku dari sofa. "Malam ini kamu sudah membuktikan bahwa kamu bukan sekadar rekan bisnis yang kaku. Kamu adalah tiran arogan yang menyedihkan."
Tanpa menunggu balasannya, aku membalikkan badan dan berjalan cepat menuju Sayap Timur.
"Nara! Kita belum selesai bicara!" panggil Rayan dengan nada otoriter.
"Pembicaraan ini sudah selesai sejak kamu menggunakan kekuasaanmu untuk mengintimidasi," balasku tanpa menoleh.
Aku masuk ke kamarku, membanting pintu dengan keras hingga suaranya bergema, lalu memutar kuncinya.
Malam itu, dadaku terasa sesak. Pertengkaran ini berbeda dari adu argumen kami biasanya. Malam ini, ada batas rasa hormat yang terkoyak. Aku meringkuk di bawah selimut, membiarkan kemarahan dan rasa lelah menenggelamkanku dalam tidur yang tidak tenang.
Pukul 05:00 pagi.
Aku sudah terbangun. Rutinitasku sebagai Staf Analis Data tidak mengenal istilah 'patah hati' atau 'marah pada miliarder'. KRL rute Sudirman-Depok tidak akan menungguku.
Aku keluar dari kamar dengan kemeja katun rapi dan bersiap membuat sarapan cepat. Hatiku sudah membulatkan tekad: tidak ada ritual membagi kopi dan telur mata sapi pagi ini. Aku akan mengabaikannya seratus persen.
Namun, saat aku baru melangkah memasuki area Zona Demiliterisasi, pintu lift pribadi terbuka dengan kasar.
Daniel berlari keluar.
Ia tidak terlihat seperti Daniel yang biasanya presisi dan sempurna. Kemejanya berantakan, dasinya miring, dan wajahnya sepucat kertas HVS. Ia bahkan bernapas dengan terengah-engah, seolah baru saja berlari menaiki empat puluh lantai.
Rayan, yang sepertinya baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe (jubah mandi) berwarna gelap, keluar dari Sayap Barat dengan wajah berkerut tajam mendengar keributan itu. Pertengkaran semalam seketika terlupakan oleh kedatangan asistennya yang panik.
"Daniel? Apa yang terjadi? Kenapa Anda masuk tanpa memberikan notifikasi interkom?" tanya Rayan, suaranya kembali ke mode CEO yang sangat formal dan dingin.
"Bapak Rayan... mohon ampun atas kelancangan saya," Daniel berbicara dengan napas tersengal, berdiri di tengah ruang tamu. "Kita mengalami krisis tingkat merah. Red Alert."
Tubuh Rayan langsung menegang. Posturnya berubah menjadi tegak paripurna. "Jelaskan dengan efisien."
"Pengiriman laut logistik kita. Empat kapal kargo yang membawa bahan mentah untuk proyek konstruksi nasional di jalur Sumatera-Jawa... dihentikan secara paksa subuh ini," lapor Daniel, menelan ludah dengan susah payah.
Aku yang sedang berdiri di dekat dapur marmer seketika membeku. Pengiriman laut? Empat kapal kargo? Skala kerugiannya pasti bernilai triliunan.
Rayan memicingkan matanya. "Dihentikan oleh otoritas pelabuhan? Ada masalah cukai?"
"Bukan otoritas, Pak," jawab Daniel, suaranya sedikit bergetar. "Begal laut. Kelompok perompak bersenjata mencegat kapal-kapal kita di perairan Selat Sunda. Mereka melumpuhkan sistem navigasi kapal dan menahan seluruh awak. Kapal kita sekarang terombang-ambing tanpa bisa merapat ke pelabuhan mana pun."
"Bajak laut?" Rayan menggeram rendah, sebuah kemarahan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya semalam. "Di era navigasi satelit modern ini? Ini tidak logis. Penjaga pantai pasti akan mendeteksi anomali rute mereka dalam hitungan menit."
"Itu masalahnya, Pak," Daniel melangkah maju, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan titik-titik kordinat yang mati. "Navigasi mereka diretas dari dalam sesaat sebelum perompak itu naik. Dan intelijen lapangan kita baru saja memverifikasi sebuah informasi fatal."
Daniel menatap mata atasannya dengan sorot ketakutan.
"Kelompok perompak tersebut... berafiliasi dengan perusahaan keamanan bayangan (shadow security) milik Paman Haris. Ini bukan perompakan biasa. Ini murni sabotase internal."
Keheningan yang luar biasa mengerikan turun menyelimuti penthouse itu.
Rayan berdiri mematung. Rahangnya terkunci sangat rapat hingga aku takut giginya akan hancur. Paman kandungnya sendiri baru saja menyabotase jalur logistik laut perusahaannya sebuah tindakan ekstrem yang bisa menghancurkan kontrak triliunan Adristo Group dengan pemerintah. Jika kapal itu tidak bersandar hari ini, divisi logistik yang dipimpin Rayan akan dinyatakan gagal total, dan pemegang saham akan memecatnya siang ini juga.
"Haris benar-benar ingin menghancurkan divisiku dari dalam," desis Rayan, kepalan tangannya memutih. "Jika suplai bahan mentah itu tidak sampai pukul sepuluh pagi ini, penalti dari pihak kementerian akan membuat perusahaan kita berdarah-darah."
Daniel mengangguk lemah. "Tim keamanan kita sedang mencoba negosiasi, tapi mereka menuntut tebusan yang tidak masuk akal, dan birokrasinya akan memakan waktu berhari-hari. Kita kehabisan waktu, Pak."
Otakku yang sejak tadi hanya menjadi penonton, tiba-tiba berdengung.
Empat kapal kargo. Bahan mentah. Sistem navigasi diretas. Penalti waktu sandar.
Semua istilah itu berdenting di kepalaku layaknya sebuah database logistik yang terbuka lebar. Kemarahanku pada Rayan semalam menguap, digantikan oleh insting seorang analis data yang melihat teka-teki raksasa di depan matanya.
Aku melangkah maju, meninggalkan area dapur, berjalan mendekati Rayan dan Daniel.
Dua pasang mata itu menoleh ke arahku.
"Daniel," panggilku, suaraku datar, mengabaikan kecanggungan akibat pertengkaran semalam. "Apa muatan spesifik kapal itu, dan di mana kordinat terakhir mereka sebelum sistem navigasinya dimatikan?"
Daniel terlihat bingung, menoleh ke arah Rayan meminta persetujuan. Rayan menatapku lekat, mencari tahu apa yang sedang direncanakan oleh otak kalkulatifku.
Rayan mengangguk pelan pada Daniel. "Berikan datanya pada Nyonya Nara."
"Baja ringan, Nyonya. Kordinat terakhir di area lintasan komersial Selat Sunda, sekitar empat mil laut dari pelabuhan bongkar muat sekunder," jawab Daniel cepat.
Aku mengangguk. Mataku menatap lurus ke arah Rayan.
"Pamanmu mungkin menyewa begal laut untuk melumpuhkan kapal fisikmu, Rayan," kataku, nada suaraku berubah menjadi mode eksekutor. "Tapi di dunia logistik modern, barang yang tidak bergerak tetap memiliki jejak bayangan. Kalau kamu mau kapalmu sandar sebelum jam sepuluh, berhenti mengurus perompaknya. Kita urus datanya."
Rayan menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Aku butuh akses ke sistem manifes pelabuhan dan asuransi kargo milikmu sekarang juga," kataku, mengulurkan tangan meminta tablet dari Daniel. "Paman Haris mungkin bajingan yang kejam, tapi dia bodoh dalam hal efisiensi supply chain."