DUDA PEMILIK MALAMKU
"Tidak! tolong! saya bukan pemuas nafsumu! Tuan! Jangan lakukan itu padaku!" jerit penuh ketakutan seorang perempuan muda berusia 20 tahun yang sedang bekerja di salah satu hotel bintang lima itu meringkuk di bawah kungkungan seorang laki-laki bertubuh besar nan atletis dengan pahatan wajah bak seorang dewi yunani.
Laki-laki itu terus menyesap leher seputih susu milik perempuan muda itu dengan rakus. Tangannya tidak diam, ia terus meraba-raba paha jenjang milik perempuan yang ada di bawah kungkungannya itu.
Deana Ailana Yashfa, ya panggil saja perempuan itu Deana, Deana mencoba menendang dan mendorong bahu yang membusung ke arahnya itu ke belakang dengan sekuat tenaganya.
Semakin berusaha menolak, laki-laki itu semakin memberikan sorotan tajam pada Deana setajam elang yang ingin memangsa lawannya.
"Tidak! sadarlah Tuan!" Deana kehilangan tenaganya. Tubuh laki-laki itu tidak sebanding dengan tubuhnya yang kecil dan pendek. Deana menggigit daun telinga laki-laki itu dengan giginya.
"Akh!" laki-laki itu tersenyum smirk, "Apa kamu sudah tidak sabar gadis kecil? bersabarlah, aku akan memuaskanmu malam ini." bisiknya lembut lalu menjilat leher Deana.
Deana semakin tak berdaya dibuatnya, kedua tangannya dicekal ke atas, ia semakin tidak bisa melakukan apa-apa lagi, ia hanya bisa pasrah, semoga takdir membawanya dalam kebaikan. Pikir Deana.
"Hiks, hiks, hiks...." hanya isak tangis yang terdengar pilu dari mulut Deana. Dia masih muda, mimpi yang kemarin ingin kuliah sudah ia kubur dalam-dalam karena keterbatasan ekonomi dan kini... laki-laki asing di atasnya ingin merebut kesuciannya. Kehidupan seperti apa yang Tuhan gariskan untukku? bisik Deana dalam hatinya.
Tangan laki-laki itu semakin nakal, semakin naik hingga merobek seluruh pakaian Deana hingga terkoyak dan membuangnya ke sembarang arah.
"Akh~ eughh~" lenguh Deana menggila saat laki-laki itu mulai menyesap kedua bukit kembarnya, tangan kanannya masih di atas mencekal kedua tangannya sementara tangan kirinya mulai bermain di intinya, memasukkannya dan mengeluarkannya hingga Deana menjerit kenikmatan.
Baru kali ini ia begitu intim dengan lawan jenisnya. Rasanya berdosa sekali. Ingin kabur dan melawan seperti apapun sudah ia lakukan tapi tidak ada hasil yang memuaskan.
"Akh!" Deana meremas kedua tangannya ketika laki-laki itu berhasil membobol kesuciannya yang selama 20 tahun ini ia jaga untuk suaminya nanti.
"Hiks, hiks, jahat!" Deana menangis, ia membuang wajahnya ke sembarang arah, enggan menatap laki-laki tampan dan perkasa yang sedang mendesis kenikmatan yang ada di depannya itu. Sungguh menjijikan bagi Deana.
***
Pagi hari tiba, Deana membuka matanya perlahan, ia melihat laki-laki semalam masih tertidur nyenyak di sampingnya. Dengkuran halus dengan nafas yang segar itu terasa menyapu halus di wajahnya.
Laki-laki itu tidur memeluk Deana dari belakang setelah puas bermain dengan tubuh Deana hingga menjelang pagi.
Tubuh Deana terasa tidak bertenaga, perutnya pun kini sangat lapar.
"Ibu...." gumam Deana. Ia mengingat Ibunya, pasti Ibunya menunggu kepulangannya di rumahnya. Deana anak yatim, Ayahnya meninggal sejak ia masih kecil, sekarang ia tinggal bersama Ibu dan adik laki-lakinya, Tio.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar hotel itu terketuk begitu kencang, mengganggu pendengaran laki-laki yang sedang tidur itu.
Deana menghempaskan tangan besar berotot milik laki-laki itu ke samping saat melihat mulai membuka matanya. Hatinya teriris perih, ia ingin sekali menampar wajah laki-laki itu sekuat tenaganya, namun untuk sekarang jangankan menampar, rasanya untuk bangun pun ia tidak memiliki tenaga lagi.
Laki-laki itu membuka matanya, menatap sekelilingnya. Yang ia lihat pertama adalah seorang perempuan dengan tubuh yang hanya dililit selimut tebal itu.
"Kamu... siapa?!" tanyanya terkejut, terlebih melihat noda merah yang tercetak jelas di atas sprei putih itu. Hatinya diselimuti rasa tidak percaya, namun keadaan yang membuatnya harus mempercayainya.
Deana melotot, sedetik kemudian Deana menunduk takut.
"Astaga!" laki-laki itu melihat ke arah jam dinding yang terpasang di dinding kamar itu, sudah pukul 07.00 pagi, seharusnya ia bekerja.
"Ceroboh sekali kau Reno." gumamnya memijat pelipisnya, berusaha untuk bangun. Ia belum sepenuhnya mengingat apa yang telah dilakukannya tadi malam.
Ya, dia adalah Reno Mahesa, seorang CEO muda diusianya yang masih 34 tahun. Reno merupakan anak kedua dari pasangan Tuan Samuel dan Nyonya Ellen. Ia memiliki seorang Kakak bernama Zavia dan seorang adik laki-lakinya bernama Bramano.
Reno seorang duda, memiliki satu anak dari pernikahannya yang pertama dengan Bella Olivia, ia beri nama Vellena Raeliv Mahesa. Putrinya yang cantik, kini berusia 5 tahun.
Reno berdiri, ia menatap bingung, pakaiannya lusuh dan ia hanya memakai celana pendek.
"Apa Tuan sudah mengingatnya? anda gila! hiks, hiks...." umpat Deana, ia semakin meremas kedua tangannya di selimutnya yang sedang dipegangnya itu.
Sepercik ingatan muncul di otak duda tampan itu. Kegiatan panas yang sudah lama ia tidak melakukannya selama menduda itu, sekarang ia melakukannya disaat ia sedang mabuk, bersama perempuan yang entah namanya pun ia tidak tahu.
Reno memijat pelipisnya, "Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku hah! kau yang seharusnya tahu diri! saya tidak pernah meminta seorang perempuan untuk tidur denganku! atau kau...." tunjuk Reno tepat di wajah Deana, "Kau yang sengaja masuk dan sengaja memintaku untuk menidurimu, dasar ja-lang! kau yang gila!" teriak Reno dengan amarah yang berapi-api.
Reno mengambil dompetnya yang masih ada di dalam tas kecilnya, ia menyerahkan sebuah ATM berwarna emas pada Deana, "02,01,99." ucapnya lalu memakai kembali pakaiannya yang tergorok di lantai.
"Hiks, hiks, kau pikir aku wanita bayaran!" teriak Deana emosi.
Reno menatap Deana, "Saya tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusimu. Tutup mulutmu, jangan sampai kau mengandung benihku, awas saja kalau kau berani macam-macam denganku, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu."
Reno berjalan keluar lalu menutup pintu kamar dengan keras.
Sudah ada asisten sekaligus sekretarisnya yang menunggu di depan kamar Tuannya.
"Perempuan?" gumam Jordi kaget, tak sengaja ia melihat seorang perempuan di dalam kamar yang dihuni oleh Tuannya. Sejak kapan Tuannya menjadi pela-cur seperti itu. Yang Jordi tahu, Tuannya hanya sibuk bekerja dan tidak ingin menikah apalagi bercinta. Sejak kapan Tuannya hobi bercinta dengan perempuan-perempuan kalangan bawah. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Jordi.
"Tutup mulutmu jika kau melihat sesuatu. Sebaiknya kita segera pulang Jo, kau tidak membangunkanku tepat waktu." ucap Reno ketika Jordi diam saja.
Jordi tergelak, "Ah em, maafkan saya Tuan muda, saya baru bangun pukul enam, saya begitu nyenyak tertidur, maafkan saya."
Reno tidak membalas ucapan Jordi, ia berjalan cepat menuju lift dan turun menuju lobby hotel. Sedangkan Jordi turun menuju bassement untuk mengambil mobilnya.
"Siapa wanita itu?" gumam Reno mende-sah pelan lalu memakai kacamata hitamnya karena matahari mulai menyorotinya di atas kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments