Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Merah di Tengah Hujan Kaca
Aula pesta Feng Sky Tower yang tadinya dipenuhi tawa elegan, dalam sekejap berubah menjadi arena horor digital. Begitu lampu padam dan suara "The Architect" menggema, kepanikan masal meledak. Ratusan tamu undangan—para penguasa ekonomi kota—berjatuhan satu per satu, memegangi kepala mereka yang seolah sedang dibor oleh suara dengungan frekuensi tinggi dari ponsel masing-masing.
"Diya, jangan sentuh ponselmu!" bentak Feng Yan. Ia menarik Lin Diya ke balik pilar marmer yang kokoh, lalu dengan satu lambaian tangan, ia menciptakan kubah energi emas transparan yang meredam suara dengungan tersebut.
"Tuan Feng... ini serangan saraf!" Diya berteriak di tengah kebisingan. "Secara logika medis, jika frekuensi ini mencapai titik puncak dalam dua menit, otak mereka akan mengalami overload permanen!"
"Aku tahu!" Feng Yan menoleh ke arah Reyhan yang sedang berusaha menenangkan massa dengan seragam polisi yang entah kapan ia ganti. "Reyhan! Gunakan pengeras suara darurat! Perintahkan semua orang untuk membuang perangkat elektronik mereka ke kolam hias di tengah aula! Air akan meredam rambatan sinyalnya!"
Sementara itu, di lantai dansa yang kini berantakan, Anitha baru saja akan melepaskan pegangan tangannya dari Chen Lian. Namun, tiba-tiba langit-langit kaca aula pecah berkeping-keping.
PRANKKKK!
Belasan sosok berbaju zirah taktis hitam dengan logo ular melilit menara (Klan Ouroboros) meluncur turun menggunakan tali rappel. Mereka tidak membawa senjata api, melainkan tongkat pendek yang memancarkan arus listrik biru.
"Tuan Hantu! Sepertinya dansa kita harus ganti genre jadi Mixed Martial Arts!" seru Anitha. Ia merobek belahan gaun merahnya hingga ke pangkal paha agar bisa bergerak lebih bebas. "Secara intelijen, mereka mengincar para pemegang saham utama untuk diculik!"
Chen Lian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik dasi kupu-kupunya, membuangnya ke lantai, dan menghunus belati hitam yang sedari tadi disembunyikan di balik jasnya.
Salah satu anggota Ouroboros menerjang Anitha dengan tongkat listrik. Anitha melakukan gerakan limbo yang sangat ekstrem untuk menghindari serangan itu, lalu membalas dengan tendangan berputar tepat di dagu lawan.
"Gaun ini harganya setara gajiku tiga bulan, dasar ular sirkuit!" omel Anitha sambil menghajar lawan berikutnya.
Chen Lian bergerak di sampingnya seperti bayangan yang tak tersentuh. Setiap kali anggota Ouroboros mencoba mendekati Anitha dari belakang, Chen Lian sudah lebih dulu melumpuhkan mereka dengan totokan saraf yang mematikan.
"Anitha, fokus!" perintah Chen Lian datar. "Jangan pikirkan gaunmu. Pikirkan bagaimana kita mencapai atap sebelum pemancar utama mencapai fase kedua."
"Aku sedang berusaha, Tuan Hantu! Tapi sepatu ini menyiksa!" Anitha menendang sepatu hak tingginya ke arah wajah seorang musuh—sebuah serangan proyektil yang tidak logis tapi efektif—lalu ia berlari bertelanjang kaki di atas lantai yang penuh pecahan kaca tanpa luka sedikit pun (berkat latihan fisik intelijennya).
Di sudut lain, Feng Yan menyadari bahwa "The Architect" tidak hanya mengincar data, tapi juga menguji kekuatannya. "Diya, kau harus ke ruang server pusat bersama Rendy via jalur rahasia. Aku akan menahan mereka di sini."
"Tapi Tuan Feng—"
"Tidak ada debat hukum kali ini, Mutiara," potong Feng Yan, matanya berkilat emas terang. "Secara logika perlindungan, kau adalah aset paling berharga di ruangan ini. Pergi!"
Feng Yan melangkah maju ke tengah aula. Ia mengangkat kedua tangannya, dan tiba-tiba seluruh sisa lampu kristal di langit-langit meledak, melepaskan ribuan serpihan kaca yang melayang di udara karena kendali energinya.
"Kalian ingin bermain dengan Arsitek?" Feng Yan menyeringai mematikan ke arah pasukan Ouroboros. "Mari kita lihat apakah Arsitek kalian bisa membangun kembali tubuh kalian setelah aku mencincangnya dengan kaca-kaca ini!"
Di saat Feng Yan mengamuk dengan badai kacanya, Anitha dan Chen Lian berhasil mencapai pintu tangga darurat menuju atap.
"Siap untuk tantangan di puncak, Tuan Hantu?" tanya Anitha sambil mengisi peluru pistolnya yang ia ambil dari selipan paha.
Chen Lian menatap pintu itu, lalu melirik Anitha sesaat. "Selama kau tidak mengeluh soal rambutmu yang berantakan nanti."
"Hahaha, deal!"
Mereka berdua menghilang di balik pintu, memulai pendakian maut menuju menara transmisi yang nantinya menjadi ajang pertarungan kedepannya.