Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara pecahan kaca menggema di sudut Oasis Club, salah satu bar paling elite di pusat kota. Alunan musik EDM yang biasanya memekakkan telinga mendadak terasa senyap oleh ketegangan yang tercipta.
Anya berdiri dengan napas memburu. Rambut pendeknya yang dipotong wolf-cut berantakan, dan kemeja putih seragam pelayannya sedikit kusut. Di depannya, Bos Miko—manajer bar tersebut—mengusap wajahnya yang baru saja terkena cipratan bir.
"Kamu gila, Anya?!" bentak Miko, wajahnya memerah karena marah. "Aku menyuruhmu ganti baju dan temani tamu di Meja 4! Mereka tamu penting! Berani-beraninya kamu melempar gelas?!"
"Aku melamar kerja di sini sebagai waitress, Bos! Tukang antar minuman dan bersih-bersih meja! Bukan sebagai LC (Lady Companion)!" balas Anya tak kalah sengit. Matanya menatap tajam, sama sekali tidak gentar meski dua bouncer (penjaga keamanan) berbadan besar mulai melangkah mendekatinya.
Anya memang tomboy. Ia lebih suka memakai celana kargo dan sepatu kets busuknya daripada gaun ketat atau heels. Namun, di balik gaya berantakannya, wajah Anya memiliki pesona alami yang luar biasa. Kulitnya bersih, hidungnya bangir, dan matanya bulat tajam. Miko sudah lama mengincar Anya untuk dijadikan wanita penghibur VIP karena banyak pelanggan hidung belang yang penasaran dengan "si pelayan tomboy yang manis".
"Jangan naif, Anya! Kamu butuh uang untuk bayar kos dan utang ayahmu, kan?! Sekali menemani mereka, gajimu sebulan tertutup!" Miko mencengkeram lengan Anya paksa.
"Lepas! Atau kupatahkan tanganmu!" ancam Anya, bersiap memasang kuda-kuda bela diri jalanan yang ia pelajari secara otodidak.
Keributan itu semakin memanas. Para bouncer bersiap meringkus Anya yang meronta hebat. Anya sudah mengepalkan tinjunya, bersiap menghajar rahang siapa pun yang berani menyentuhnya lagi.
Namun, sebelum tinju itu melayang, pintu utama Oasis Club terbuka lebar.
Hawa dingin seolah ikut masuk bersamaan dengan derap langkah sekelompok pria berjas hitam. Musik seketika dimatikan oleh DJ yang pucat pasi. Suasana berubah mencekam.
Di tengah barisan pria berjas itu, berdirilah Kaelan.
Pemimpin klan mafia terbesar di kota ini. Wajahnya bak pahatan dewa Yunani yang sempurna, namun sorot matanya sedingin es. Aura mematikan menguar dari tubuhnya yang dibalut setelan jas mahal berwarna hitam gelap.
Miko yang tadinya garang, langsung gemetar hingga lututnya lemas. Ia melepaskan Anya dan membungkuk 90 derajat. "T-Tuan Kaelan... Selamat datang di Oasis."
Kaelan tidak memedulikan sapaan Miko. Mata elangnya menatap lurus ke arah kekacauan di sudut ruangan. Pandangannya terkunci pada seorang gadis tomboy dengan kemeja kusut yang menatapnya balik tanpa rasa takut sedikit pun. Semua orang menunduk, tapi gadis itu—Anya—malah menatapnya dengan rahang mengeras.
"Aku benci keributan," suara Kaelan berat, dalam, dan serak. Cukup untuk membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
"M-Maafkan kami, Tuan. Ini hanya pelayan pemberontak. Kami akan segera membereskannya—"
"Tidak perlu," potong Kaelan dingin. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin perak terangkat, menunjuk tepat ke wajah Anya. "Gadis itu. Bawa dia ke ruang VIP-ku. Aku hanya ingin dia yang melayaniku malam ini. Yang lain, keluar."
Anya melebarkan matanya. Sialan, keluar kandang singa, malah masuk kandang T-Rex! batinnya panik.
....
Ruang VIP itu kedap suara, remang-remang, dan beraroma cerutu mahal yang dicampur peppermint.
Anya berdiri kaku di dekat pintu, memeluk nampan minuman di dadanya seperti tameng. Di sofa kulit berwarna merah marun, Kaelan duduk menyilang kaki, menatap Anya dari atas sampai bawah.
"Letakkan minumannya dan duduk," perintah Kaelan.
"Aku tidak melayani hal macam-macam, Tuan Mafia," desis Anya waspada. "Kalau kau mau menyentuhku, botol bir ini akan mendarat di kepalamu."
Kaelan mendengus. Sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga nyaris tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. Bagi Kaelan, ancaman gadis itu terdengar seperti anak kucing yang sedang mengaum. Lucu.
"Duduk, Gadis Tomboy. Aku tidak tertarik menidurimu," ucap Kaelan sembari melemparkan sebuah map tebal ke atas meja kaca. "Baca itu."
Anya mengerutkan kening, melangkah ragu-ragu, lalu duduk di seberang Kaelan. Ia mengambil map tersebut. Di halaman pertama, tertulis huruf kapital bercetak tebal: PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.
Anya nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Kaelan seolah pria itu baru saja tumbuh tanduk di kepalanya. "Gila, ya? Kita baru bertemu lima menit yang lalu, dan kau melamarku?!"
Kaelan memijat pangkal hidungnya. Entah kenapa, kelancangan gadis ini membuatnya pusing tapi juga... lega. Ia butuh wanita yang tidak akan tunduk pada keluarganya.
"Itu bukan lamaran. Itu bisnis," Kaelan menatap mata Anya lekat-lekat. "Keluarga besarku, para tetua klan, terus-menerus menekan dan ingin menjodohkanku dengan putri dari keluarga mafia Italia. Aku muak diatur. Aku tidak mau dijodohkan dengan wanita ular mana pun pilihan mereka."
"Lalu? Apa hubungannya denganku?"
"Aku butuh tameng. Aku butuh seseorang yang bisa kubawa ke rumah utama besok malam dan kuperkenalkan sebagai istriku. Seseorang yang cukup tangguh, kasar, dan tidak tahu aturan, hingga membuat para tetua itu jantungan dan membatalkan perjodohan sialan itu." Kaelan menunjuk Anya. "Dan melihatmu mau memukul manajermu tadi... kau kandidat yang sempurna."
Anya mendelik tak percaya. "Kau mau menjadikanku istri bohongan untuk menakut-nakuti keluargamu? Ogah! Berurusan dengan mafia sama saja dengan mencari mati!"
"Satu miliar rupiah."
Anya yang tadinya hendak berdiri, kembali duduk dengan mulus. "A-apa?"
"Satu miliar rupiah saat kau menandatanganinya malam ini. Dan lima miliar lagi saat kontrak satu tahun kita selesai. Semua utang ayahmu akan kulunasi malam ini juga. Keamananmu terjamin di bawah namaku." Kaelan menyodorkan pulpen emasnya.
Anya menatap angka nol yang berderet di lembar kontrak itu. Otaknya berputar cepat. Ia sangat butuh uang itu. Manajer bar di luar sana pasti akan memecatnya, dan penagih utang ayahnya akan datang besok pagi.
Anya menatap wajah Kaelan. Di balik wajah dingin dan sangar itu, Kaelan justru terlihat sangat putus asa untuk menghindari perjodohannya. Anya mendengus geli dalam hati. Mafia kejam ini ternyata cuma cowok yang takut disuruh nikah paksa sama neneknya? Agak imut juga.
"Oke, Tuan Mafia," Anya mengambil pulpen itu dan membubuhkan tanda tangannya dengan cepat. Ia lalu melemparkan nampannya ke samping dan menatap Kaelan dengan senyum tengil khasnya.
"Mulai sekarang, panggil aku Istri, Kaelan."
Kaelan melihat gadis tomboy di depannya yang tersenyum tanpa dosa. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Sang Ketua Mafia merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Sial, apa aku baru saja membuat keputusan yang salah? batinnya.
"Bersiaplah. Besok kita belanja gaun. Kau tidak mungkin bertemu keluargaku dengan kemeja gembel dan sepatu buluk itu," ucap Kaelan dingin, menyembunyikan telinganya yang sedikit memerah.
Anya tertawa keras. Perjalanan gilanya sebagai istri kontrak si mafia imut baru saja dimulai.