“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencicipi Karya Sinta
Selasa malam di apartemen seharusnya menjadi waktu istirahat yang tenang, namun bagi Sinta, dapur telah berubah menjadi laboratorium eksperimen yang menegangkan. Sesuai dengan pembagian tugas yang mereka sepakati di bawah tekanan orang tua tempo hari, malam ini adalah gilirannya untuk memasak. Masalahnya satu: Sinta lebih akrab dengan grafik rasio kredit perbankan daripada dengan takaran garam dan bumbu dapur.
Di atas meja dapur yang biasanya bersih mengilap, kini berserakan potongan bawang merah yang ukurannya tidak beraturan, kulit bawang putih yang terbang tertiup angin AC, dan sebuah buku resep digital yang layarnya terus meredup di ponselnya. Sinta sedang mencoba membuat Ayam Garang Asem—masakan favorit almarhumah neneknya yang katanya bisa meluluhkan hati pria paling keras sekalipun.
"Oke, santan masuk... belimbing wuluh masuk... cabai rawit utuh... jangan sampai pecah nanti Jingga kepedasan," gumam Sinta pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak sibuk, sesekali menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan yang masih berlumur tepung.
Sementara itu, di ruang tengah, Jingga duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Secara fisik, ia sedang meninjau laporan audit triwulan, namun indra penciumannya terus-menerus terdistraksi oleh aroma yang merayap dari arah dapur. Bau tumisan bawang putih yang gurih bercampur dengan aroma segar daun salam dan serai mulai memenuhi ruangan.
Jingga mencoba fokus. Ia membetulkan letak kacamatanya dan mengetik beberapa baris angka, namun suara dentingan sudit yang beradu dengan wajan membuatnya menoleh. Ia melihat punggung Sinta yang dibalut celemek merah muda bermotif bunga—celemek yang sebenarnya milik Jeng Lastri yang tertinggal saat kunjungan terakhir. Sinta tampak begitu serius, rambutnya dicepol asal-asalan, dan ada noda kunyit kecil di pipi kirinya.
"Woy, gosong nggak tuh?" seru Jingga dengan nada datar andalannya, mencoba menutupi rasa penasarannya.
Sinta tersentak kecil, hampir menjatuhkan tutup panci. Ia menoleh dengan tatapan galak. "Berisik lu! Fokus aja sama audit lu itu. Jangan berani-berani komplain sebelum makanannya sampai di meja!"
Jingga hanya mendengus, namun sudut bibirnya berkedut hampir membentuk senyuman. Ia kembali ke layar laptopnya, meski perutnya mulai memberikan sinyal protes yang tidak bisa diabaikan.
Satu jam kemudian, Sinta membawa sebuah mangkuk besar berisi kuah santan pucat dengan potongan ayam dan irisan belimbing wuluh yang mengapung cantik. Uap panas mengepul, membawa aroma asam-pedas yang menggoda selera.
"Makan," ucap Sinta pendek sambil menaruh mangkuk itu di tengah meja makan. Ia juga menyiapkan dua piring nasi hangat yang masih mengepul.
Jingga menutup laptopnya dengan perlahan, seolah tidak terlalu lapar, padahal liurnya sudah hampir menetes. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk berhadapan dengan Sinta. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam. Jingga memperhatikan noda kunyit di pipi Sinta, lalu beralih ke masakan di depannya.
"Penampilannya... lumayan. Nggak separah telur gosong minggu lalu," komentar Jingga sambil mengambil sendok.
"Makan aja, bawel," balas Sinta, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa lebih gugup menunggu penilaian Jingga daripada menunggu keputusan kenaikan jabatan dari Pak Adrian.
Jingga mengambil sepotong ayam dan sedikit kuah, lalu menyuapkannya ke dalam mulut bersama nasi. Sinta menahan napas. Ia memperhatikan setiap pergerakan di wajah Jingga. Apakah akan ada kerutan di dahi? Apakah pria itu akan langsung menyambar air minum karena terlalu asin?
Jingga mengunyah dengan perlahan. Matanya sedikit membelalak saat rasa asam segar dari belimbing wuluh meledak di lidahnya, diikuti oleh rasa gurih santan yang pas dan sensasi hangat dari jahe serta cabai. Tekstur ayamnya pun lembut, meresap hingga ke tulang.
"Gimana?" tanya Sinta, suaranya terdengar sedikit terlalu bersemangat.
Jingga tidak langsung menjawab. Ia mengambil suapan kedua, lalu ketiga, kali ini dengan porsi yang lebih besar. Ia seolah lupa bahwa ia sedang berperan sebagai suami yang ketus dan acuh tak acuh.
"Lumayan," ucap Jingga akhirnya setelah menelan suapannya. Namun, tangannya kembali mengambil potongan ayam lagi.
Sinta mendengus, meski hatinya terasa sangat lega. "Lumayan doang? Gue masak ini sampai mau nangis kena uap cabai, dan lu cuma bilang lumayan?"
Jingga menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap Sinta yang sedang merengut. "Oke, oke. Sejujurnya... ini enak. Banget."
Sinta terpaku. Ia tidak salah dengar? Pria sombong di depannya ini baru saja bilang "enak banget"? Tanpa sadar, sebuah senyum lebar merekah di wajah Sinta—senyum tulus yang jarang ia perlihatkan di rumah ini.
"Serius? Lu nggak bohong biar gue nggak lapor ke Ayah kan?"
"Gue nggak pernah bohong soal makanan, Sin. Kalau nggak enak, gue bakal bilang sampah. Tapi ini... rasanya mirip masakan nyokap gue. Asamnya pas, nggak bikin enek," puji Jingga, kali ini dengan nada bicara yang lebih manusiawi.
Suasana di meja makan yang biasanya dingin dan penuh sindiran, mendadak mencair. Kehangatan masakan rumahan itu seolah merambat ke dalam hubungan mereka. Jingga makan dengan lahap, menambah nasi sekali lagi, sementara Sinta memperhatikan dengan rasa puas yang tak terlukiskan. Ada kebanggaan tersendiri melihat hasil karyanya dihargai oleh seseorang yang biasanya hanya tahu cara mengkritik.
"Sini pipi lu," ucap Jingga tiba-tiba di tengah makan malam mereka.
Sinta mengernyit. "Hah? Apaan sih?"
Tanpa menunggu persetujuan, Jingga menjulurkan tangannya melintasi meja. Ibu jarinya yang hangat menyentuh pipi kiri Sinta, menghapus noda kunyit yang menempel di sana dengan gerakan lembut. Sentuhan itu hanya berlangsung tiga detik, namun bagi Sinta, waktu seolah berhenti berputar. Aroma sabun cuci tangan Jingga yang maskulin tercium samar saat tangan pria itu berada di dekat wajahnya.
Jingga segera menarik tangannya kembali, tampak sedikit salah tingkah. "Ada noda kunyit. Jorok."
Sinta berdehem, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba melompat tak beraturan. "Oh... thanks. Tadi kecipratan pas numis."
Mereka kembali makan dalam diam, namun diam kali ini terasa jauh lebih nyaman. Tidak ada bayangan Adrian, tidak ada bayangan Luna, dan tidak ada tuntutan pekerjaan. Hanya ada mereka berdua dan sepiring masakan yang menjadi jembatan perdamaian.
"Besok mau masak apa?" tanya Jingga setelah piringnya bersih tak bersisa.
Sinta yang sedang menyeruput air mineral hampir tersedak. "Besok? Emang lu mau gue masak lagi?"
Jingga berdiri, mengambil piring kotornya dan piring kotor Sinta—sesuai kesepakatan bahwa dialah yang bertugas mencuci piring. "Ya daripada kita beli makan di luar terus, boros. Lagipula, masakan lu nggak bikin perut gue bermasalah kayak udang kemarin."
Sinta tersenyum tipis sambil memperhatikan punggung Jingga yang kini sibuk di depan wastafel. "Gue liat-liat nanti di supermarket ya. Kalau ada bahan yang oke, gue masak."
"Bikin yang ada kuahnya lagi. Seger," gumam Jingga di sela suara kucuran air.
Malam itu, tugas mencuci piring terasa lebih ringan bagi Jingga. Sementara bagi Sinta, dapur tidak lagi terasa seperti medan perang yang mengerikan. Ia menyadari bahwa di balik sikap kaku dan kata-kata tajam Jingga, pria itu sebenarnya sangat mudah dipuaskan jika ia merasa diperhatikan.
Sinta duduk di meja makan, memperhatikan punggung Jingga sekali lagi. Ia teringat bagaimana Adrian selalu mengajaknya ke restoran mewah dengan pelayan berseragam rapi, di mana rasa makanan tertutup oleh kemegahan suasana dan obrolan tentang target bank. Sangat kontras dengan apa yang baru saja terjadi: makan di meja kayu sederhana, dengan masakan buatan sendiri, dan pujian singkat yang terasa jauh lebih jujur.
"Jingga," panggil Sinta pelan.
"Hmm?" Jingga menoleh tanpa menghentikan tangannya yang sedang menyabuni piring.
"Besok pagi... gue mau coba bikin sesuatu yang beda sebelum kita berangkat kantor."
Jingga mengernyitkan dahi. "Apa? Nasi uduk? Jangan ribet-ribet, nanti kita telat."
"Bukan. Rahasia. Pokoknya lu bangun aja tepat waktu," balas Sinta dengan nada misterius yang membuat Jingga penasaran.
Setelah selesai mencuci piring, Jingga tidak langsung masuk ke kamar seperti biasanya. Ia duduk sebentar di meja makan, memutar-mutar gelas kosongnya. "Sin, soal tadi sore... pas gue hapus noda di pipi lu... maaf kalau lu nggak nyaman."
Sinta yang sedang merapikan ponselnya mendongak, terkejut dengan permintaan maaf yang tiba-tiba itu. "Oh, itu? Nggak apa-apa kok. Lu bener, itu emang jorok kalau dibiarin sampai besok."
Jingga mengangguk pendek, lalu berdiri. "Ya udah. Gue tidur duluan. Jangan tidur kemalaman, lu kalau kurang tidur suka marah-marah nggak jelas di kantor."
"Hih! Siapa juga yang marah-marah!" protes Sinta, namun Jingga sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
Sinta menghela napas panjang, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Ia kembali ke dapurnya yang sekarang sudah bersih berkat Jingga. Ia menyentuh pipinya yang tadi disentuh oleh Jingga. Masih ada sisa kehangatan di sana.
Malam itu, Sinta tidur dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Ia mulai menyadari bahwa menjalankan tanggung jawab rumah tangga ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Masakan yang sederhana ternyata bisa menjadi pembuka pintu yang selama ini terkunci rapat. Dan ia pun mulai berpikir, mungkin, hanya mungkin, pernikahan rahasia ini tidak melulu soal penderitaan dan sandiwara. Ada sisi manusiawi yang perlahan-lahan mulai ia temukan dalam sosok suaminya yang dingin itu—sisi yang hanya bisa ia lihat saat mereka berada di balik pintu apartemen ini.
Namun, di balik ketenangan itu, Sinta tahu bahwa esok hari ia harus kembali berhadapan dengan Adrian dan tatapan curiga Luna. Persaingan rasa di kantor akan kembali dimulai, namun setidaknya malam ini, di dapur kecil itu, Sinta merasa ia telah memenangkan satu pertempuran kecil melawan kekakuan hati Jingga.