NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Salep Penyamar Luka dan Fajar di Ujung Pedang

​Malam turun di Puncak Pedang Patah bagaikan jubah sutra yang dikoyak oleh embusan angin musim semi yang dingin. Cahaya bulan purnama menyusup lewat celah-celah atap jerami, menyorot sesosok tubuh yang duduk bersila dalam diam.

​Di dalam gubuknya yang gelap, Shen Yuan melepaskan seragam raminya yang telah hancur dan lengket oleh darah kering.

​Tubuh bagian atasnya dipenuhi oleh garis-garis luka cambuk yang mengerikan. Kulitnya menganga, memperlihatkan daging yang kemerahan, sementara di sekitar tepi luka tersebut, urat-urat halus berwarna hijau pekat menjalar layaknya akar beracun. Itu adalah sisa racun kelumpuhan dari cambuk Lu Chen siang tadi.

​Bagi murid biasa, racun ini membutuhkan penawar khusus dari Paviliun Alkimia dan istirahat selama satu bulan penuh agar meridian mereka tidak membusuk.

​Namun, mata Shen Yuan tetap setenang telaga beku. Tidak ada ringisan kesakitan.

​"Racun pada dasarnya hanyalah Qi alam yang telah diubah sifatnya menjadi sangat agresif dan merusak," gumam Shen Yuan pelan, menganalisis kondisinya sendiri. "Dan bagi Kitab Penelan Surga, tidak ada energi yang terlalu kotor untuk dikunyah."

​Ia menutup mata dan memutar Benih Hitam di dalam Dantian-nya.

​Bukan pusaran hisap raksasa yang ia lepaskan kali ini, melainkan puluhan benang energi emas gelap setipis jaring laba-laba. Benang-benang Qi itu merayap dari perutnya, menyebar ke seluruh jaringan otot di punggung dan bahunya, lalu melilit urat-urat hijau beracun tersebut.

​Ssshhhh...

​Suara desisan halus terdengar dari balik kulitnya, seolah ada air mendidih yang disiramkan ke atas es. Racun mematikan Lu Chen ditarik paksa dari aliran darahnya, digiring masuk ke dalam Benih Hitam, dan digiling tanpa ampun. Racun itu dipecah, dibersihkan dari sifat merusaknya, dan diubah menjadi untaian energi murni yang kemudian dikembalikan untuk merajut sel-sel daging Shen Yuan yang terkoyak.

​Hanya dalam waktu sebatang dupa, garis-garis hijau di sekitar lukanya memudar sepenuhnya. Daging yang menganga mulai merapat, menyisakan keropeng tipis yang akan mengelupas dalam satu hari.

​Shen Yuan menghela napas panjang, membuka matanya. Rasa kebas di tubuhnya telah lenyap. Ia kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan setengah keping Batu Roh Tingkat Menengah yang ia simpan dari pasar gelap.

​Malam ini, ia tidak menyerapnya untuk mendobrak batasan. Ia menyerapnya perlahan, membiarkan energi biru yang sejuk mengaliri meridiannya, menajamkan ujung-ujung Qi Lapisan Keenamnya agar sekeras berlian dan setajam ujung tombak. Persiapannya harus absolut.

​Tok... Tok... Tok...

​Ketukan pelan dan terburu-buru di pintu kayu gubuknya memecah kesunyian malam.

​Shen Yuan segera menarik kembali aura emas gelapnya, menyembunyikan sisa Batu Roh ke dalam saku, dan mengatur napasnya agar terdengar sedikit serak dan tertahan.

​"Masuk," sahut Shen Yuan lemah.

​Pintu reyot itu berderit terbuka. Sesosok bayangan menyelinap masuk dengan cepat sebelum kembali menutup pintu rapat-rapat. Itu Li Mu. Pemuda berwajah kuda itu terlihat berantakan, napasnya memburu, dan tangannya menyembunyikan sesuatu di balik jubahnya.

​"Yuan, kau masih hidup?" bisik Li Mu panik, melangkah mendekat. Dalam kegelapan, ia bisa mencium bau anyir darah yang kuat dari arah temannya.

​"Masih, Mu. Hanya sedikit perih," jawab Shen Yuan, bersandar ke dinding jerami dengan posisi yang terlihat lelah.

​Li Mu berdecak kagum sekaligus ngeri. "Kau benar-benar gila siang tadi. Menggunakan tenaga murni untuk melompat sejauh itu... kau bisa saja mematahkan kakimu sendiri! Tapi gila, melihat wajah Lu Chen ditanam ke lantai pualam adalah pemandangan paling indah dalam hidupku."

​Li Mu kemudian merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan sebuah cepuk porselen kecil berwarna hijau kusam.

​"Aku menukar jatah ubi dan tiga keping tembagaku dengan seorang murid dapur untuk ini," Li Mu menyodorkan cepuk itu ke tangan Shen Yuan. "Ini Salep Daun Seribu kualitas rendahan. Rasanya seperti dibakar saat dioleskan, tapi ini bisa mencegah lukamu membusuk. Pakailah."

​Shen Yuan terdiam menatap cepuk kecil di telapak tangannya. Logikanya yang dingin dan penuh perhitungan tiba-tiba tersentuh oleh kehangatan yang sangat sederhana. Di dunia di mana ayah bisa membunuh anak demi sebuah pil spiritual, seorang pelayan miskin rela kelaparan demi menukar obat untuk temannya.

​"Terima kasih, Mu," ucap Shen Yuan tulus, suaranya sedikit melembut. "Aku akan mengingat hutang ini."

​"Persetan dengan hutang. Asalkan kau tidak mati besok, itu sudah cukup." Li Mu mendesah panjang. "Besok adalah Babak Utama. Tiga puluh dua peserta tersisa. Semuanya monster. Jika kau mendapat undian melawan Lapisan Kelima lagi... langsung saja menyerah, Yuan. Tidak ada yang akan menertawakanmu. Kau sudah membuktikan bahwa pelayan pun punya taring."

​"Aku mengerti," Shen Yuan mengangguk pelan. "Kembalilah tidur. Besok kau masih harus memikul air."

​Setelah Li Mu pergi, Shen Yuan membuka tutup cepuk tersebut. Bau menyengat herba murahan langsung memenuhi gubuk. Lukanya sebenarnya sudah menutup hampir sempurna berkat Kitab Penelan Surga, namun ia tetap mengoleskan salep itu ke punggung dan bahunya.

​Ini bukan sekadar untuk menghargai Li Mu. Ini adalah kamuflase yang sempurna.

​"Jika besok aku tampil tanpa luka dan tanpa bau obat, Instruktur Han dan para Tetua akan langsung curiga bagaimana seorang pelayan dengan kekuatan fisik bisa sembuh dalam semalam," analisis Shen Yuan dingin. "Bau herba murahan ini akan menutupi kesembuhan anormalku. Mereka akan berpikir aku menahan rasa sakit dengan obat jalanan yang asal-asalan."

​Di dunia kultivasi, kebohongan terbaik adalah kebohongan yang dibungkus dengan penderitaan palsu.

​Keesokan harinya, matahari terbit dengan warna merah saga, seolah meramalkan pertumpahan darah yang akan terjadi di Alun-Alun Pualam Putih.

​Babak Utama Ujian Evaluasi Sekte Luar dimulai.

​Suasana hari ini jauh berbeda dengan babak penyisihan. Tujuh arena telah disatukan menjadi satu Arena Utama raksasa di tengah alun-alun. Ribuan murid berdiri dalam diam, tidak ada lagi sorakan liar. Di tribun kehormatan, tidak hanya satu, melainkan tiga Tetua Sekte hadir untuk mengawasi. Ini adalah panggung di mana naga sejati akan dipilih untuk masuk ke Pelataran Dalam.

​Tiga puluh dua peserta yang lolos berdiri membentuk barisan melingkar di bawah arena, menunggu undian dari wasit kepala. Tiga puluh satu dari mereka mengenakan jubah putih sutra atau pelindung kulit tingkat tinggi, memancarkan aura pedang dan Qi yang menggetarkan udara.

​Dan di ujung barisan, berdirilah Shen Yuan.

​Ia masih mengenakan seragam pelayannya, namun kali ini telah dijahit kasar di bagian bahunya yang robek. Topi bambunya tetap bertengger di kepalanya. Bau herba menyengat menguar dari tubuhnya, membuat beberapa elit di sebelahnya menutup hidung dengan jijik. Ia berdiri diam seperti batu karang tua di tengah lautan sutra.

​Di seberang lingkaran, berjarak sekitar dua puluh langkah, Lin Feng berdiri dengan keangkuhan seorang kaisar muda. Jubah birunya berkibar pelan tanpa tertiup angin. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus menembus kerumunan, mengunci tepat pada sosok Shen Yuan.

​Tatapan itu tidak lagi meremehkan. Tatapan itu adalah tatapan seorang algojo yang telah menetapkan target tebasannya.

​Lin Feng berjalan membelah barisan. Langkahnya pelan, elegan, namun setiap tapaknya mengeluarkan tekanan Qi Lapisan Keenam yang membuat murid-murid Lapisan Keempat di sekitarnya tanpa sadar menyingkir memberi jalan.

​Ia berhenti tepat lima langkah di depan Shen Yuan.

​Keheningan seketika menyelimuti seluruh pelataran. Semua mata, termasuk para Tetua di tribun, kini tertuju pada interaksi aneh antara Bintang Sekte Luar dan Pelayan Misterius.

​"Bau herba rendahan," ucap Lin Feng memecah kesunyian, suaranya merdu namun sedingin pedang es. "Kau mencoba menutupi luka cambuk dari anjing peliharaanku semalam? Usaha yang menyedihkan."

​Shen Yuan tidak mendongak, matanya tetap menatap ujung sepatu bersulam emas milik Lin Feng. "Luka di kulit akan sembuh, Tuan Muda Lin. Namun ada luka yang membusuk di dalam tulang, dan tidak ada salep yang bisa menyembuhkannya."

​Alis Lin Feng sedikit berkedut mendengar jawaban filosofis yang tajam itu. Beraninya seekor semut membalas kata-katanya?

​"Lidahmu cukup tajam untuk seorang pemegang sapu," senyum kejam terbentuk di bibir Lin Feng. "Aku telah memerintahkan semua pengikutku untuk mundur jika mereka mendapat undian melawanmu hari ini. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengambil kesenanganku."

​Lin Feng mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan mematikan yang dipenuhi aura pembunuh yang kental.

​"Berdoalah pada dewa manapun yang kau sembah, Pelayan. Karena saat nama kita dipanggil di arena itu... aku akan mencabik setiap lapis otot palsu yang kau banggakan, menghancurkan kultivasi Lapisan Keempatmu yang menyedihkan, dan membuatmu menyesal karena tidak mati membeku di musim dingin kemarin."

​Tekanan Qi memancar dari tubuh Lin Feng, mencoba menekan Shen Yuan agar berlutut di depan umum.

​Namun, Shen Yuan tetap berdiri tegak. Benih Hitam di dalam perutnya berdengung pelan, menetralisir semua tekanan itu sebelum menyentuh tulang punggungnya. Bau herba di tubuhnya menutupi ketenangannya yang absolut.

​Perlahan, Shen Yuan mengangkat kepalanya. Dari balik bayangan topi bambunya, mata hitamnya yang sekelam dasar samudra menatap langsung ke mata Lin Feng. Untuk pertama kalinya, Lin Feng merasakan hawa dingin yang tak bisa dijelaskan merayap di tengkuknya.

​"Saya hanya seorang pelayan, Tuan Muda Lin," jawab Shen Yuan tenang, suaranya mengalun pelan namun terdengar jelas oleh angin. "Namun pelayan ini belajar satu hal dari menyapu daun kering setiap pagi... Bahkan pohon tertinggi pun, pada akhirnya akan menyentuh debu di bawah kakinya."

​Teng... Teng... Teng!

​Suara gong raksasa membelah ketegangan yang nyaris meledak itu.

​Wasit kepala melompat ke atas panggung utama, memegang gulungan emas berisi daftar undian.

​"Babak Utama dimulai! Pertandingan Pertama!" suara wasit menggelegar ke seluruh penjuru gunung. Mata wasit itu melebar sesaat saat membaca dua nama teratas, sebelum akhirnya berteriak dengan lantang.

​"Murid Luar Lin Feng, melawan... Pelayan Shen Yuan! Naik ke atas Arena!"

​Takdir tidak repot-repot membuang waktu. Panggung berdarah telah disiapkan, dan teater kehancuran keluarga Lin secara resmi akan dibuka siang ini.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!