Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
.
.
.
Tibalah saat-saat yang sangat ditunggu oleh gadis itu, malam pesta dansa keluarga Fratellion. Dengan gaun biru muda dan hiasan bunga yang menghiasi surai hitamnya, penampilan gadis itu berhasil menarik perhatian para bangsawan yang hadir di pesta tersebut.
Saat Bella berjalan melewati kerumunan orang, ia dapat melihat beberapa orang yang melirik kearahnya dan berbisik-bisik. Bella tahu bahwa orang-orang itu sedang membicarakan kejadian penolakannya terhadap Lord Brandon Launters beberapa minggu lalu.
Dengan menghembuskan nafasnya lelah, Bella mencoba untuk menghiraukan semua yang dibicarakan orang-orang tentang dirinya dan berjalan menghampiri sahabat masa kecilnya, Darwin Buannico.
"Darwin Aku senang kau berada disini." Bella menghampiri pria berambut pirang itu dengan senyum terukir di wajahnya.
"Tentu saja aku akan hadir di pesta ini, aku tak akan membiarkanmu menghadapi masalah sendiri, Bella."
Mendengar perkataan sahabatnya itu, tak kiranya membuat perasaan gelisah di hatinya sedikit berkurang.
"Oh, Darwin... Kau memang sahabatku yang terbaik."
"Itu sudah pasti."
"Jadi, Apa yang akan kau lakukan nanti dengan para Launster bersaudara?" Tanya Darwin kepada teman gadisnya itu.
"Entahlah, Mungkin... Aku akan berbicara dengan mereka dan mencoba untuk menyelesaikan masalah diantara kami." Jawab Bella sedikit tidak yakin dengan kata-katanya.
Pria itu hanya dapat memandang gadis Winston itu dengan tatapan kasihan dan khawatir. "Apakah kau yakin, Bella. Kau tahu kan jika aku akan selalu membantu mu."
Bella hanya tersenyum mencoba meyakinkan sahabatnya itu "Terima kasih, Darwin. Dan kau jangan khawatir, aku pastikan semuanya akan berakhir baik."
"Baiklah, aku harap kau benar, Bella." Dengan menghela nafas, Darwin mencoba mempercayai sahabatnya itu.
Sejujurnya, Bella sungguh merasa bahagia karena sahabatnya itu selalu mendampinginya dan tak pernah meninggalkannya. Bahkan, ditengah-tengah semua kabar buruk yang menimpanya, pria itu tetap mempedulikannya dan terus membantunya.
Saat sebuah alunan musik lembut mulai terdengar, setiap orang yang hadir di pesta tersebut mulai berjalan menuju lantai dansa dan menari bersama pasangan mereka, begitu pula dengan Bella dan Darwin.
Sambil mengeluarkan tangannya dan membungkukkan badannya secara hormat, Darwin mencoba untuk mengajak Bella berdansa bersamanya di lantai dansa.
"Jadi, apa kau ingin memberikan ku kesempatan untuk mendapatkan dansa pertama mu malam ini, Miss Winston?"
"Tentu saja, Darwin." Bella pun menyambut ajakkan teman prianya itu.
Setelah selesai berdansa dengan teman prianya itu. Bella pun kini sedang duduk di salah satu sofa tamu yang di sediakan di tempat itu, dengan tatapannya yang terus memperhatikan setiap orang yang sedang menari di lantai dansa. Mencoba mencari sesosok pria yang telah menyita pikirannya sejak kemarin.
'Apakah dia tidak datang?' pikir Bella sambil terus melihat ke seluruh ruangan dengan alis yang berkerut.
Tiba-tiba saja sebuah perasaan sedikit kecewa kini mulai menghinggapi relung hatinya, saat menyadari tak adanya tanda-tanda kehadiran pria penyelamatnya itu di pesta dansa Fratellion.
'Sudahlah, lagipula pria gila itu mungkin, kini sedang bersenang-senang di tempat terkutuk itu.' pikir Bella yang membuat dirinya sedikit merasa kesal saat memikirkan hal itu.
Mencoba untuk menghapus semua bayangan pria misterius itu, Bella pun kini mulai menerima salah satu tawaran berdansa dari salah seorang pria bangsawan yang menghampirinya.
***
Di tengah derasnya hujan yang kembali mengguyur kota Vincent, tak membuat pria itu merasa khawatir. Mobilnya yang berwarna hitam melaju dengan cepat di tengah-tengah derasnya hujan di malam itu.
Di dalam mobil, terlihat pria itu sedang menyandarkan tubuhnya lelah, sambil melihat ke arah luar jendela yang terlihat buram karena tetesan-tetesan air hujan yang turun.
Entah mengapa, suasana hati Melvin saat ini terasa sedikit meragu. Setelah kehidupannya yang selalu berpergian kesana-kemari di beberapa kerajaan di daerah selatan selama empat tahun terakhir ini, membuat ia mulai sedikit merasa asing dengan segala kehidupan di daerah asalnya ini.
Jujur saja, sejak tadi perasaan gugup telah melanda nya. Bukan karena ia akan bertemu dengan Nona Winston atau menunjukkan kepulangannya kepada para masyarakat kalangan atas, tidak peduli dengan apa yang mereka katakan.
Hanya saja beberapa waktu sebelumnya Chevalier telah menciptakan sebuah tipu muslihat tentang Klub Darkangel. Dan kini Melvin harus mengikuti tipu muslihat itu, memainkan sebuah peran sebagai seorang pria kejam, Demon Duke.
Itulah konsekuensi yang harus ia terima, saat ia memberikan sumpah setianya pada organisasi Dragon Knight of Archangel dan memfokuskan segala kehidupannya pada tugasnya sebagai anggota dari organisasi tersebut. Dan mungkin pesta malam ini akan menjadi kali pertama baginya menerima konsekuensi keterlibatannya dalam organisasi tersebut.
Ia pun mencoba untuk mengenyahkan semua pikirannya itu, saat mobilnya telah memasuki perkarangan rumah milik keluarga Fratellion yang bagi Melvin terlihat cukup luas.
Saat mereka pun sampai tepat didepan karpet merah yang dijulurkan untuk menyambut para tamu yang datang. Pelayannya pun langsung turun berlari di tengah hujan, untuk membukakan pintu untuknya, dengan sebuah payung yang telah dibentangkan.
Melvin turun dari mobilnya, sambil merapikan jasnya dan lalu berjalan acuh tak acuh bersama pelayannya yang telah basah kuyup, karena memayunginya sampai tepat di beranda mansion keluarga Fratellion. Lalu, pelayannya itu membungkuk hormat untuk kembali ke belakang.
Dari kegelapan malam, Melvin melangkah memasuki mansion keluarga Fratellion tersebut, yang dipenuhi dengan interiornya yang menawan.
Menolak untuk menjadi pusat perhatian, Melvin melewati pintu masuk pesta tersebut, tanpa adanya pengumuman kedatangan dirinya. Berkat pekerjaannya itu, Melvin terbiasa untuk melakukan hal seperti itu. Membuatnya selalu dapat masuk ke tempat manapun yang ia inginkan, sebagai orang asing yang tak terlihat dalam setiap pesta, walaupun tak diundang.
Ia pun bertekad melakukan hal itu, tetap berjalan santai dan percaya diri di lantai pertama tanpa mempedulikan orang-orang yang meliriknya dengan rasa penasaran saat ia melewati orang-orang tersebut.
Lalu dengan cepat, kabar kedatangannya itu mulai tersebar di antara mereka yang telah mengenalnya. Dapat Melvin dengar segala bisik-bisik orang tentang dirinya saat berjalan menuju ruang dansa. Bahkan ia dapat melihat ekspresi kaget terpampang dari wajah mereka.
Melvin mengambil segelas Anggur merah dari salah satu nampan yang di bawa oleh seorang pelayan berpakaian rapi. Lalu, ia pun melewati dua ruang makan yang telah dipenuhi oleh meja-meja untuk acara makan malam ringan, yang sepertinya akan dihidangkan sebentar lagi.
Saat ia tepat berada di depan tangga menuju ruang dansa tersebut, Sang Duke of Rostock itu dapat melihat para pasangan yang menari di lantai dansa. Alih-alih menuruni setiap anak tangga dan ikut bergabung ke dalam pesta dansa tersebut, Melvin malah berjalan lambat di tepi tangga. Lalu, memindai setiap kerumunan tamu yang hadir di pesta tersebut.
***
cerita nya keren👍👍👍