NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Mekanisme Pengkhianatan ​

​Gema dari surat Liora yang tersisa dari dasar sungai seolah-olah menciptakan lubang hitam di tengah Atelier Kalani. Sora masih terduduk di kursi kerjanya, jemarinya memutih karena mencengkeram pinggiran meja jati. Di depannya, baut emas kecil yang dikirim bersama mawar hitam itu berkilat di bawah lampu kerja, seolah-olah mengejek sepuluh tahun pengabdian butanya kepada seorang pria yang mungkin adalah pembunuh ayahnya.

​Hael berdiri di ambang pintu penghubung antara toko antik dan bengkel, bayangannya memanjang menutupi lantai. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras. Ia melangkah mendekat, mengambil baut emas itu dengan pinset, lalu meletakkannya di bawah lensa pembesar.

​"Baut ini memiliki ulir ganda, Sora. Teknik khas ayahmu, Aris Kalani," suara Hael terdengar berat. "Hanya ada satu mesin di dunia yang menggunakan komponen sekecil ini untuk menahan beban torsi yang abadi. The Infinite Spring. Jika baut ini ada di tangan seseorang sekarang, berarti mesin itu tidak pernah hancur. Ia dipreteli, bagian demi bagian, dan disuntikkan ke dalam jantung jam lain."

​Sora mendongak, matanya merah namun tidak ada air mata yang jatuh. Yang tersisa hanyalah amarah yang murni dan dingin. "Dia membakarnya, Hael. Ezra bilang dia menarikku keluar dari api sementara ayahku terjebak di dalam bersama mimpinya. Selama sepuluh tahun, aku merasa bersalah karena aku hidup sementara karya ayahku mati. Aku merasa berhutang nyawa padanya karena dia memilih menyelamatkanku daripada mesin itu."

​Sora tertawa pahit, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Ternyata dia tidak memilihku. Dia memilih mesin itu, mengambilnya, lalu membakar sisanya—termasuk ayahku—untuk menghilangkan jejak. Aku hanyalah 'bonus' yang dia pelihara agar tidak ada yang curiga. Aku adalah piala hidup atas pencuriannya."

​Hael mengepalkan tinjunya. "Dan keluarga Vance... mereka tidak mungkin tidak tahu. The Chronos Heart adalah jam yang mustahil secara fisika jika hanya menggunakan teknologi mereka sendiri. Safir biru yang melingkar itu bukan hanya hiasan, Sora. Itu adalah penutup untuk menyembunyikan getaran dari The Infinite Spring yang dicuri."

​"Itulah kenapa frekuensinya berubah saat aku menyentuhnya di dermaga," Sora tersentak menyadari sesuatu. "Jam itu bereaksi terhadap kehadiranku. Atau lebih tepatnya, terhadap cara aku menyentuhnya—teknik yang sama dengan yang diajarkan ayahku. Mesin itu mengenali pembuatnya."

​Sora berdiri, gerakannya mendadak taktis dan penuh tujuan. Ia menyambar sketsa The Chronos Heart yang pernah ia buat secara rahasia. Dengan pena merah, ia mencoret bagian poros tengahnya.

​"Kita akan mengadakan pameran itu, Hael. Tapi bukan untuk memamerkan keagungan Vance. Kita akan memancing Ezra keluar dari persembunyiannya di Austria. Dia sangat bangga pada status sosialnya. Jika pameran ini cukup besar dan prestisius, dia tidak akan tahan untuk tidak datang dan menunjukkan bahwa dialah pemilik sah dari jantung waktu itu."

​"Aku punya koneksi dengan Dewan Horologi Internasional," Hael menimpali, otaknya mulai bekerja cepat menyusun strategi. "Kita bisa melabeli pameran ini sebagai 'Penemuan Kembali Warisan Dunia'. Kita akan mengundang kurator dari Swiss dan jurnalis investigasi. Tapi Sora, risikonya besar. Jika mereka berani membunuh ayahmu, mereka tidak akan ragu untuk melenyapkanmu juga."

​Sora menatap mawar hitam yang tergeletak di meja. Ia mengambil gunting potong dan memenggal kepala bunga itu dalam satu gerakan cepat. "Mereka sudah membunuhku sepuluh tahun lalu, Hael. Selama ini aku hanya mayat yang berjalan mengikuti detak jam mereka. Kali ini, aku ingin mati sebagai manusia yang memegang kendali atas waktunya sendiri."

​Selama seminggu berikutnya, Atelier Kalani berubah menjadi pusat komando. Vanya Elara, yang merasa sangat jijik dengan kemungkinan keterlibatan kakaknya dalam pembunuhan, diam-diam mengirimkan dokumen finansial keluarga Vance dari brankas ibunya.

​"Kak Ezra selalu menerima kiriman dana misterius setiap tanggal kematian ayahmu, Ra," bisik Vanya lewat telepon terenkripsi. "Dana itu masuk ke rekening rahasia di Kepulauan Cayman. Namanya bukan Ezra, tapi 'The Watchmaker’s Heir'. Dia benar-benar mencuri identitasmu."

​Sora mendengarkan itu sambil merakit sebuah perangkat kecil berbentuk kancing baju. Perangkat ini adalah pemancar resonansi frekuensi tinggi. Jika didekatkan pada The Chronos Heart, perangkat ini akan memaksa mesin The Infinite Spring di dalamnya untuk bergetar di luar batas pelindung safirnya, menciptakan suara dengungan yang hanya bisa dihasilkan oleh karya Aris Kalani.

​Hael masuk ke bengkel membawa sebuah jas hitam elegan untuk Sora. "Undangan sudah dikirim. Ezra baru saja mengonfirmasi kehadirannya. Dia akan datang dengan pengawalan pribadi, membawa jam itu dalam kotak antikedap."

​"Dia pikir dia membawa trofi," Sora memakai jas itu, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lebih tirus, namun matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah dilihat Hael sebelumnya. "Dia tidak tahu bahwa dia sedang membawa barang bukti ke ruang sidang."

​Malam sebelum pameran, Hael menarik Sora ke sudut toko yang tenang. Ia menyerahkan sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk kunci jam kuno. "Ini bukan hanya perhiasan. Di dalamnya ada mikrokamera dan perekam suara yang terhubung langsung ke server cadanganku. Jika terjadi sesuatu padamu di dalam aula pameran..."

​Sora meletakkan jarinya di bibir Hael, menghentikan kalimat pria itu. "Terima kasih, Hael. Tapi aku tidak berencana untuk kalah. Aku sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menunggu. Besok, waktu akan berpihak padaku."

​Hael menatap Sora lama, lalu perlahan ia mengecup kening wanita itu—sebuah janji bisu bahwa ia akan berdiri di garis depan untuk melindunginya. "Maka biarkan dunia mendengar detak kebenaran besok malam, Sora Kalani."

​Di luar, badai mulai berkecamuk, persis seperti badai yang siap meledak di aula pameran esok hari. Sora menatap baut emas di mejanya untuk terakhir kali sebelum mematikan lampu bengkel. Detik demi detik berlalu, dan untuk pertama kalinya, Sora merasa setiap detak itu bukan lagi menuju kehampaan, melainkan menuju sebuah keadilan yang telah lama tertunda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!