Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Cermin yang Berbeda
Sukabumi, Maret 2017 – Kampus pagi hari.
Kehidupan kampus di Sukabumi tahun 2017 masih diwarnai dengan trend kemeja flanel, sepatu kanvas, dan obrolan tentang siapa yang bakal tampil di acara musik lokal akhir pekan nanti.
Namun bagi Della, pagi ini terasa seperti sedang membawa "bom waktu" di stang motornya.
Ia sengaja memarkirkan Scoopy-nya di sudut paling pojok, di bawah pohon beringin kecil yang jarang ditempati mahasiswa lain. Della buru-buru menyarungkan helm Bogonya ke spion kiri yang berkarat itu. Ia berharap helmnya bisa menyembunyikan penampakan spion tua yang pecah seribu tersebut.
"Del! Tumben parkir disini? Biasanya mau yang deket lobi biar nggak telat," sapa Vino, salah satu vlogger saingan Sasha, yang baru saja memarkirkan motor sport-nya.
"Lagi mau teduh aja, Vin," jawab Della singkat sambil buru-buru mengunci stang.
Vino, yang dasarnya memang kepo, malah mendekati motor Della. "Loh, itu spion kenapa, Del? Habis kecelakaan ya? Kok modifikasinya... vintage banget?"
Vino mencoba menyingkap helm Della untuk melihat spion itu.
"Jangan disentuh!" teriak Della refleks.
Vino terlonjak kaget, tangannya menggantung di udara. "Santai kali, Del. Gue cuma mau liat. Unik tuh, kayak barang antik."
"Itu... itu karatan, Vin. Bisa bikin tetanus," alibi Della sambil menarik tasnya. "Gue duluan ya, udah telat kelas Pak Gunawan."
Di dalam kelas, pikiran Della sama sekali tidak pada materi makroekonomi. Ia terus-terusan melihat telapak tangannya. Masih ada sisa rasa dingin dari air sungai Situ Gunung kemarin. Di sebelahnya, Sasha sedang sibuk mengedit foto sate maranggi semalam.
"Del, liat deh. Di foto ini, motor loe kelihatan agak... blur di bagian kiri. Padahal tangan gue nggak gemetar pas shoot," bisik Sasha sambil menyodorkan HP-nya.
Della melihat layar HP Sasha.
Benar saja.
Di foto itu, bagian spion kiri motor Della dikelilingi oleh distorsi cahaya seperti uap panas, padahal saat itu udara sangat dingin. Di dalam distorsi itu, samar-samar terlihat bayangan seorang pria tua sedang duduk di trotoar tepat di belakang motornya.
"Loe lihat pria ini?" tanya Della menunjuk ke layar.
Sasha mengernyit. "Pria mana? Ini mah cuma bayangan pohon, Del. Loe jangan mulai deh, gue masih trauma soal bubur rambut kemarin."
Della terdiam, Jadi hanya dia yang bisa melihatnya secara detail? Berarti spion itu benar-benar sudah menyatu dengan mata batinnya.
Sore hari – Perjalanan Pulang.
Della memutuskan untuk pulang sendirian karena Sasha ada urusan organisasi. Ia melewati jalanan Bhayangkara yang mulai padat oleh angkot-angkot ungu. Saat berhenti di lampu merah, Della secara tidak sengaja melirik ke spion kirinya.
Di dunia nyata, di belakangnya ada seorang ibu-ibu yang membonceng anaknya yang masih kecil memakai seragam TK. Anak itu sedang asyik makan es krim.
Namun, di dalam pantulan spion tua yang retak itu, Della melihat pemandangan yang berbeda.
Di belakang motornya bukan ibu-ibu dan anak TK, melainkan sebuah truk pengangkut pasir yang melaju sangat kencang, remnya mengeluarkan asap tebal, dan sopirnya tampak panik menginjak pedal rem yang blong. Truk itu meluncur tepat ke arah motor Della.
Della menoleh ke belakang dengan cepat, Tidak ada truk. Hanya ibu-ibu dan anak TK tadi yang sedang menunggu lampu hijau dengan tenang.
Della kembali melihat ke spion kiri. Truk di dalam spion itu sudah semakin dekat, hanya hitungan detik sebelum menghantam "bayangan" Della di dalam kaca.
Ini peringatan! batin Della.
Tanpa pikir panjang, saat lampu baru saja berubah kuning menuju hijau, Della langsung menghentak gasnya dalam-dalam dan membanting motornya ke arah trotoar kanan, menjauh dari jalur tengah.
"Woy! Neng! Kalau mau jalan liat-liat!" teriak ibu-ibu di belakangnya yang hampir tersenggol.
Dua detik kemudian...
BRAAAAAAA KKKKKK!!!
Suara dentuman logam yang luar biasa keras menghantam aspal. Sebuah truk pengangkut pasir yang tadinya tidak ada seolah muncul dari udara tipis tiba-tiba melesat dari tikungan belakang dengan kecepatan tinggi. Remnya blong total, Truk itu menghantam pembatas jalan dan menabrak tiang listrik tepat di posisi Della berhenti tadi.
Debu semen dan pasir berhamburan ke mana-mana, Orang-orang berteriak histeris. Ibu-ibu di belakang Della jatuh karena kaget, tapi untungnya tidak tertabrak.
Della gemetar hebat di atas motornya. Ia melihat ke spion kiri lagi.
Di dalam kaca yang retak itu, ia melihat sosok pria berjaket hujan transparan berdiri di samping truk yang hancur itu. Ia tidak lagi menatap Della dengan lapar. Kali ini, ia memberikan hormat kecil, sebelum perlahan-lahan menghilang menjadi kabut.
Spion itu baru saja menyelamatkan nyawanya.
Della masih terpaku, tangannya mencengkram erat handgrip Scoopy sampai buku-buku jarinya memutih. Bau ban terbakar dan debu pasir yang menyesakkan dada adalah bukti nyata bahwa maut baru saja lewat hanya seujung rambut darinya.
Orang-orang mulai berkerumun di sekitar truk yang ringsek. Suasana hiruk-pikuk; ada yang menelepon ambulans, ada yang berusaha menolong sopir truk yang terjepit.
Di tengah kekacauan itu, Della perlahan menurunkan pandangannya ke arah spion tua di stang kirinya.
Krak.
Suara itu sangat halus, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan, namun Della bisa merasakannya. Sebuah retakan baru muncul di permukaan kaca spion itu, membelah pantulan jalanan menjadi dua bagian yang tidak simetris.
"Neng... Neng nggak apa-apa?"
Suara itu membuyarkan lamunan Della. Ibu-ibu yang tadi membonceng anak TK kini berdiri di sampingnya, wajahnya masih pucat pasi tapi tampak lega. "Untung tadi Si Neng tiba-tiba ngebut ke kanan. Kalau enggak... aduh, saya nggak berani bayangin."
Della hanya bisa mengangguk kaku. Ia ingin bilang bahwa ia tidak melakukannya karena insting, melainkan karena melihat masa depan di kaca spion rongsokan ini. Tapi, siapa yang akan percaya?
Malam Harinya – Kamar Della.
Della duduk di tepi tempat tidur, menatap spion kiri motornya yang sengaja ia copot dan bawa masuk ke dalam kamar. Ia tidak berani membiarkan benda itu di garasi sendirian. Di bawah sinar lampu kamar yang kekuningan, retakan baru itu terlihat sangat tajam.
HP-nya bergetar. Sebuah notifikasi dari Geri.
Geri:
Del, lo denger berita kecelakaan di Bhayangkara? Itu pas banget jam loe pulang kan? Loe aman?
Della menghela napas, jemarinya mengetik dengan ragu.
Della:
Gue aman, Ger. Gue tadi di sana. Spion itu... dia kasih tau gue kalo truk itu mau dateng.
Butuh waktu beberapa menit sampai Geri membalas.
Geri:
Besok kita ketemu di bengkel. Jangan pergi ke mana-mana sendirian malam ini. Gue ada firasat, kalau benda itu sudah mulai 'ngelindungi' loe, berarti ada sesuatu yang jauh lebih besar yang lagi ngincer loe.
Della meletakkan HP-nya. Ia melirik kembali ke arah spion di atas meja belajarnya. Namun, kali ini ada yang aneh. Di dalam retakan kaca yang baru, ia tidak melihat pantulan kamarnya sendiri.
Ia melihat sebuah lorong gelap yang ia kenali: Pasar Pelita, pasar tua di pusat kota Sukabumi yang terkenal kumuh dan lembab. Di dalam pantulan itu, ia melihat Sasha sedang berjalan sendirian di antara kios-kios yang tutup, tampak kebingungan mencari jalan keluar.
"Sasha?" bisik Della.
Tiba-tiba, di dalam pantulan spion itu, muncul bayangan hitam besar yang merayap di langit-langit pasar, tepat di atas kepala Sasha. Bayangan itu bukan pria berjaket hujan. Ini sesuatu yang lain lebih primitif, lebih buas, dan tampak sangat lapar.
Della langsung menyambar HP-nya dan menelepon Sasha.
Tuuuut... tuuuut...
Tidak diangkat.
Della mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Della teringat hobi Sasha; malam ini ada festival kuliner kaki lima di sekitar Pasar Pelita. Sasha pasti sedang mencari konten hidden gem di sana tanpa menyadari bahwa dia sendiri yang akan menjadi mangsa.
Della menyambar jaketnya dan kunci motornya. Ia tidak punya pilihan. Spion itu tidak hanya menunjukkan bahaya bagi dirinya, tapi juga orang-orang yang ia sayangi.
Saat ia memasang kembali spion tua itu ke stang motornya di garasi, sebuah suara bisikan kembali terdengar, kali ini lebih berat dan penuh peringatan:
"Retak... yang... patah... tak... bisa... kembali..."
Della tidak peduli. Ia menghentak kick starter-nya. Malam ini, di bawah rintik hujan Sukabumi yang mulai turun lagi, Della harus berpacu dengan waktu sebelum retakan di spionnya bertambah satu lagi untuk nyawa sahabatnya.