Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendok Miring dan Rahasia di Balik Kerah
Setelah sesi berkuda yang menguras emosi dan membuat jantung Shaneen hampir copot karena kedekatan fisik yang terlalu intim, Matthias menuntun Ares kembali ke istal. Shaneen turun dengan bantuan tangan Matthias—yang kali ini dia terima tanpa protes karena kakinya masih sedikit lemas.
"Kau butuh asupan gula, Shaneen. Wajahmu pucat," ujar Matthias sambil memberikan isyarat pada pelayan klub.
Matthias membawa Shaneen ke area VIP paviliun klub yang menghadap langsung ke arah danau buatan. Tempat itu sangat tenang, hanya ada mereka berdua di meja bundar dengan taplak putih bersih.
Tak lama, pelayan datang membawakan nampan berisi teh Earl Grey dan beberapa kudapan manis. Namun, saat pelayan itu meletakkan cangkir dan peralatan makan, dia melakukannya dengan sedikit terburu-buru.
Shaneen terdiam. Matanya terpaku pada meja. Garpu dan sendok di sebelah piringnya diletakkan sedikit miring—sekitar lima derajat dari garis lurus taplak meja. Belum lagi posisi cangkir tehnya yang tidak sejajar dengan piring kecil di bawahnya.
Seketika, fokus Shaneen pada Matthias hilang total. Dunianya kini hanya berisi kekacauan di atas meja itu.
"Ninin? Kau mendengarku?" Tanya Matthias yang sedang menjelaskan tentang rencana pacuan kuda bulan depan.
Shaneen tidak menjawab. Tangannya secara otomatis bergerak. Dengan gerakan yang sangat telaten, presisi, dan hampir terlihat seperti ritual, dia menggeser sendoknya hingga lurus sempurna. Lalu dia memutar cangkirnya agar pegangannya menghadap tepat ke arah pukul tiga. Terakhir, dia merapikan posisi serbet hingga sejajar dengan pinggiran meja.
Klik. Pas. Sempurna.
Shaneen menghela napas lega, bahunya yang tegang mendadak rileks.
Matthias memperhatikan setiap gerakan itu tanpa berkedip. Bukannya merasa aneh, dia justru merasa itu sangat... menggemaskan. "Kau benar-benar tidak bisa melihat sesuatu yang berantakan, ya?"
Shaneen tersentak, baru sadar kalau dia baru saja memamerkan sisi OCD-nya di depan pria paling menyebalkan sedunia. "Itu... itu hanya masalah efisiensi, Tuan Falken. Sesuatu yang rapi lebih mudah digunakan."
"Benarkah?" Matthias mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu dengan sengaja... dia menggeser sendok Shaneen kembali menjadi miring.
"MATTHIAS!" Seru Shaneen spontan, matanya melotot. Dia langsung menarik sendok itu kembali ke posisi lurus. "Jangan berani-berani mengacaukannya! Itu menyakitkan mataku!"
Matthias tertawa rendah, suara tawa yang sangat renyah. "Jadi, kedepannya aku harus bersikap simetris agar bisa diterima olehmu? Baiklah, aku akan mencatatnya dalam strategi penaklukanku."
Suasana menjadi sedikit lebih santai setelah Matthias berhenti menjahili sendok Shaneen. Karena udara di paviliun mulai terasa hangat, Shaneen membuka satu kancing teratas kemeja berkudanya agar bisa bernapas lebih lega.
Saat dia menunduk untuk menyesap tehnya, sebuah benda berkilau keluar dari balik kerahnya. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk huruf "N" yang didesain sangat unik—setengah berbentuk not balok, setengah berbentuk inisial.
Mata tajam Matthias menangkap benda itu. Inisial "N".
Pikiran Matthias langsung melayang ke laporan tren musik yang sering dibahas oleh ajudannya. Nama "Nin", produser musik misterius yang jenius, perfeksionis, dan tidak pernah menampakkan wajahnya. Matthias teringat rumor bahwa "Nin" berasal dari keluarga bangsawan dan memiliki gaya musik yang sangat matematis dan rapi.
Rapi. Perfeksionis. Ninin.
"Kalung yang bagus," ujar Matthias tiba-tiba, matanya menatap leher Shaneen dengan intensitas yang berbeda. "N... untuk Ninin? Atau untuk sesuatu yang lain?"
Shaneen membeku dan melirik kearah lehernya. Dia segera memasukkan kalung itu kembali ke balik kemejanya dengan gerakan cepat. "Bukan apa-apa. Hanya pemberian dari Kak Stellan saat aku lulus."
"Hmm," Matthias menyandarkan punggungnya, menatap Shaneen seolah sedang membedah sebuah kode rahasia. "Kau tahu, ada seorang produser musik jenius bernama 'Nin' yang karyanya sangat populer di kalangan militer karena ketukannya yang sangat presisi. Dia disebut perfeksionis gila."
Shaneen mencoba tetap tenang, menyesap tehnya dengan anggun meski tangannya sedikit bergetar. "Oh ya? Aku tidak terlalu mengikuti musik modern. Aku lebih suka klasik."
Matthias tersenyum tipis, senyum yang membuat Shaneen merasa seperti mangsa yang sedang diawasi singa. "Begitukah? Padahal menurutku, kau punya telinga yang sangat peka terhadap ketukan yang meleset, Ninin. Sama seperti caramu meletakkan sendok tadi."
Shaneen menatap Matthias tajam. "Tuan Falken, berhenti menganalisisku seolah aku ini tawanan perangmu."
"Aku tidak menganalisis tawanan, Shaneen," balas Matthias sambil berdiri, menghampiri sisi kursi Shaneen dan membungkuk sedikit untuk berbisik di telinganya. "Aku sedang mencoba memahami calon istriku. Dan semakin aku tahu, semakin aku menyadari bahwa kau menyimpan lebih banyak 'senjata' daripada yang kau perlihatkan."
Shaneen menahan napas. Matthias sudah sangat dekat. Rahasianya sebagai produser "Nin" terancam, dan dia tahu pria ini tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban.
"Ayo pulang," ujar Shaneen cepat, berdiri mendahului Matthias. "Ayah tidak suka kalau aku pulang terlambat."
Matthias hanya mengikuti dari belakang dengan langkah tenang. Dia tidak butuh jawaban sekarang. Dia punya cara lain untuk membuktikan kecurigaannya.
‘Nin... Ninin...’ batin Matthias. ‘Kau benar-benar rubah kecil yang penuh rahasia, Shaneen von Asturia.’