NovelToon NovelToon
Rivalry In Our Story

Rivalry In Our Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ALIFA RAHMA LATIFA

Wajib Follow Sebelum Baca.



" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.

Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.

Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.

Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.

La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.

Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.

Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.

( Bismillah semoga rame 🙏)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB : 10 Kedekatan yang tidak terduga.

" Tak jarang kerja sama awalnya hanya soal tujuan, perlahan mengubah jarak diantara kita. saat batas antara tugas dan hati mulai sirna, itulah saat cinta menemukan cara untuk tumbuh - bukan sebagai halangan, melainkan sebagai alasan terindah untuk melanjutkan perjalanan bersama.

                   ...

Dr. Keenan memproyeksikan hologram di udara.

Diagram sistem mareka muncul.

" Baik, " ucap Dr. Keenan. " proyek kalian bagus bahkan terlalu bagus untuk ukuran anak SMA. "

Valerie tersenyum kecil.

Matthew tetap datar, tapi matanya fokus.

" Tapi, " lanjut Dr. Keenan, " masih ada satu masalah besar. "

Valerie langsung serius.

" Masalah apa, Dok? " tanya Valerie.

Dr. Keenan menujuk bagian diagram.

" Stabilitas daya saat air filter bekerja penuh sistem kalian masih drop di minit ke -15"

Matthew menangguk.

" Karena output BioVolt nggak bisa keep up. "

Valerie langsung menyela.

" bukan nggak bisa, tapi belum maksimal. "

Matthew menoleh ke Valerie.

" Kenyataan sama. "

Valerie melirik tajam.

" Lo jangan nyolot. "

Matthew menahan senyum.

Dr. Keenan menatap mareka dengan tatapan lelah.

" kalian berdua.. kenapa selalu debat? "

Valerie menjawab cepat.

" Karena dia, nyebelin, Dok. "

Matthew menjawab santai.

" karena dia sensitif, Dok. "

Valerie langsung menatap Matthew.

" SENSITIF!? "

Matthew meangkat alis.

" Ya, sensitif. "

Dr. Keenan menepuk meja pelan.

" STOP. Fokus. "

Valerie menarik napas.

Matthew menghela napas juga.

Namun saat Valerie menduduk menatap tablet...

Matthew melirik nya diam-diam.

Bibirnya mengerucut karena kesal.

Dan Matthew.

Mendadak ingin tersenyum.

...

Setelah satu jam diskusi, Dr. Keenan pergi ke ruang sebelah untuk rapat virtual.

Lab 7 kembali sepi.

Hanya ada mareka berdua.

Valerie berdiri didepan meja eksperimen.

la membuka panel BioVolt dan mulai membongkar bagian kecil didalamnya.

Tanganya cekatan.

Matthew menatap dari kursi.

" Lo yakin mau bongkar sendiri? " tanya Matthew.

Valerie tidak menoleh.

" Gue bisa. "

Matthew berdiri dan mendekat.

Valerie masih fokus.

Namun Matthew berdiri terlalu dekat.

Valerie bisa merasakan aroma parfumnya lagi.

Aroma clean yang sama.

Valerie menahan napas.

" Matthew, " ucap Valerie datar.

" Apa? " jawab Matthew.

" Lo bisa nggak.. jangan berdiri kayak gitu? "

Matthew meangkat alis.

" Kayak gimana? "

Valerie menatapnya tajam.

" Kayak.. ngintip. "

Matthew tersenyum tipis.

" Gue bukan ngintip.Gue cuma ngawasin. "

Valerie mendengus.

" Ngawasin apa? Gue bukan bocah. "

Matthew menatap tangan Valerie yang sedang memegang obeng kecil.

" Lo bisa aja salah. "

Valerie menahan emosi.

" Gue nggak akan salah. "

Matthew mendekat sedikit lagi.

" Kalau lo salah, proyek kita hancur. "

Valerie membalikan badan cepat.

Wajah mareka kini dekat.

Sangat dekat.

Valerie bisa melihat jelas mata Matthew yang gelab.

Valerie mendesis.

" Lo tuhh.. paranoid. "

Matthew menatap Valerie lama.

Dan entah kenapa.

Matthew tidak bisa mengalihkan pandangan.

Bibir Valerie sedikit terbuka karena napasnya cepat.

Pipinya sedikit memerah.

Dan untuk sesaat..

Matthew lupa cara bernapas.

Valerie menyadari Matthew menatap terlalu lama.

Valerie mengerutkan kening.

" Apa? " tanya Valerie tajam.

Matthew tersentak.

" Apaan? "

Valerie menujuk wajah Matthew.

" Lo bengong. "

Matthew langsung memalingkan muka.

" Gue nggak bengong. "

Valerie menyipitkan mata.

" Lo beneran aneh akhir-akhir ini. "

Matthew menelan ludah.

Valerie melanjutkan, suaranya mengejek.

" Jangan-jangan lo sakit. "

Matthew melirik Valerie.

" Sakit Apaan? "

Valerie meangkat bahu.

" Gue nggak tau.mungkin otak lo error. "

Matthew tertawa kecil.

Tawa yang sangat pelan.

Valerie membeku.

Karena Matthew jarang tertawa.

Matthew menyadari Valerie menatapnya.

Matthew langsung kembali datar.

" Udah, lanjut. "

Valerie menggeleng kecil.

Cowok ini makin aneh.

...

Valerie kembali fokus membongkar alat.

Namun saat ia menarik salah satu kabel, kabel itu tiba-tiba tersangkut.

Valerie menarik sedikit lebih keras.

Dan_

TARIK!

Kabel terlepas mendadak.

Valerie kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya olang ke belakang.

" Shit_"

Dalam reflek cepat..

Matthew menangkap pinggang Valerie.

Satu tangan menahan bahunya.

Valerie membeku.

Matthew juga membeku.

Waktu seperti berhenti.

Valerie bisa merasakan tangan Matthew hangat di pinggangnya.

Dan Matthew.

Bisa merasakan tubuh Valerie begitu dekat.

Terlalu dekat.

Valerie menatap Matthew.

Matthew menatap Valerie.

Jarak mareka hanya berapa santi.

Napas mareka bercampur.

Matthew menelan ludah.

Untuk pertama kalinya..

Matthew tidak ingin melepas.

Bukan karena refleks.

Tapi karena...

Ia suka rasanya.

Valerie menatapnya tajam.

Wajahnya merah.

" Lepasin, gue, " bisik Valerie.

Matthew tersentak.

Ia langsung melepas Valerie cepat, mundur selangkah.

" Ya udah. gue lepasin. "

Valerie berdiri tegak.

Jantungnya berdetak keras.

Valerie mengusap pinggangnya seolah ingin menghapus bekas sentuhan itu.

Namun rasanya tetap ada.

Matthew mengalihkan pandangan.

Wajahnya tetap dingin.

Tapi dalam pikirannya kacau.

Kenapa jantung gue kayak gini?

Valerie menatap Matthew.

" Lo... sengaja ya? " tanya Valerie, suaranya mencurigai.

Matthew menoleh cepat.

" Hah? "

Valerie menujuk kabel.

" Lo tau kabel itu bakal nyangkut. "

Matthew mendengus.

" Gue bukan cenayang. "

Valerie mendekat.

" Terus kenapa lo cepat banget nangkep gue? "

Matthew terdiam.

Valerie menyipitkan mata.

" Apa lo latihan nangkep cewek tiap hari? "

Matthew langsung menatap Valerie tajam.

" Lo ngomong apa sih? "

Valerie menatapnya dengan ekpresi kesal campur malu.

Matthew menarik napas panjang.

Lalu ia berkata pelan, lebih dingin dari biasanya.

" Gue cuma nggak mau proyek ini hancur karena lo jatuh. "

Valerie terdiam.

Tapi Matthew tahu...

Itu bohong.

Bukan proyek yang Matthew pikirkan.

Itu Valerie.

             _TBC_

...----------------...

Happy Reading All! selamat membac semoga suka.

1
Arif RACHMAN
🥰🥰 aku suka banget sama semua karya mu thor.sukses selalu
Arif RACHMAN
suka banget.sukses selalu
Fluffylfy
❤❤ suka banget
Fluffylfy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!