Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu, suasana di kantor pusat Jati Pratama terasa dingin dan tegang.
Jati baru saja menyelesaikan tinjauan laporan keuangan bulanan saat pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan yang sopan.
Mila melangkah masuk dengan gaya angkuh, meskipun raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kelelahan dan rasa iri yang mendalam setelah melihat berita pernikahan Jati di media sosial.
Jati tidak tampak terkejut. Ia menutup laptopnya dengan tenang, lalu bangkit dari kursi kebesarannya.
Alih-alih mengusir, ia justru berjalan menuju sofa tamu dan duduk tepat di hadapan mantan istrinya itu.
Di atas meja marmer, Jati meletakkan sebuah amplop cokelat tebal berisi dokumen dan cek tunai.
"Ini hasil penjualan rumah lama kita, Mila," ucap Jati dengan nada datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Sesuai kesepakatan awal saat kita menikah dulu bahwa rumah itu aset bersama, aku membaginya secara adil. Kamu setengah, aku setengah. Nilainya cukup untuk kamu membeli apartemen mewah di pusat kota."
Mila melirik amplop itu dengan tatapan meremehkan.
Ia tidak menyentuhnya sama sekali. Sebaliknya, ia menyilangkan kaki dan menatap Jati dengan senyum sinis yang dipaksakan.
Mila menggelengkan kepalanya perlahan. "Kamu pikir aku akan puas hanya dengan uang remahan ini, Jati?"
"Itu hakmu secara hukum untuk aset rumah itu, Mila," balas Jati tegas.
"Jangan naif," desis Mila, suaranya mulai meninggi.
"Bukankah masih ada harta gono-gini lainnya? Perusahaan ini berkembang pesat saat aku masih berstatus istrimu. Saham-sahammu, koleksi mobil mewahmu, dan tabungan pribadimu, aku punya hak atas setengah dari semua itu!"
Jati menyandarkan punggungnya, menatap Mila dengan tatapan kasihan.
"Kamu lupa satu hal, Mila. Perjanjian pra-nikah yang kita tandatangani menyatakan bahwa aset perusahaan dan warisan keluarga adalah harta bawaan yang tidak bisa diganggu gugat. Dan jangan lupakan bukti perselingkuhanmu dengan Andre yang sudah ada di tangan pengacaraku."
Mila tertawa hambar, meskipun tangannya sedikit gemetar.
"Bukti itu tidak akan berarti apa-apa jika aku menuntutmu atas dasar penelantaran istri selama kamu cacat. Aku akan menyeret namamu dan wanita 'pijat' itu ke lumpur jika kamu tidak memberiku lebih!"
Jati bangkit berdiri, auranya mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi.
"Silakan coba, Mila. Tapi ingat, setiap sen yang aku berikan hari ini adalah bentuk kemurahan hatiku. Jika kamu memilih jalur perang, aku pastikan kamu akan keluar dari ruang pengadilan tanpa membawa sepeser pun, bahkan amplop ini akan aku tarik kembali."
Mila terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Jati yang ada di depannya bukan lagi pria lemah yang bisa ia injak-injak saat duduk di kursi roda.
Siang itu, lobi utama gedung perkantoran Jati yang megah tampak sibuk.
Lintang melangkah masuk dengan penampilan yang jauh berbeda; ia mengenakan setelan tunik modern yang anggun, rambutnya tertata rapi, dan di tangannya ia menjinjing tas bekal berisi masakan kesukaan Jati.
Langkah Lintang terhenti tepat di depan pintu lift saat pintu berdenting terbuka.
Dari dalam lift, Mila melangkah keluar dengan wajah merah padam, sisa amarahnya setelah bertemu Jati masih terlihat jelas.
Keduanya terpaku, saling berhadapan di tengah lobi yang ramai.
Mila menatap Lintang dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.
"Lihat siapa yang datang. Si tukang pijat yang sekarang merasa jadi nyonya besar," desis Mila sinis, suaranya cukup keras hingga membuat beberapa karyawan menoleh.
"Kamu pikir dengan tas bekal murahan itu kamu bisa menggantikan posisiku? Kamu hanyalah pemulung yang memungut barang sisa yang sudah kubuang!"
Lintang menarik napas panjang, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu.
Ia teringat pesan Jati untuk selalu berdiri tegak. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia menatap mata Mila.
"Mbak, maaf," ucap Lintang dengan nada sabar namun tegas.
"Saya bukan perebut, tapi Mbak sendiri yang sudah melepaskan Mas Jati. Saat Mas Jati sedang di titik terendahnya, Mbak memilih pergi dan bersama laki-laki lain. Saya hanya wanita yang ada di sana untuk menemaninya bangkit."
Wajah Mila semakin menegang, ia tak menyangka Lintang akan berani menjawab sesopan itu.
"Sekarang Mas Jati adalah suami saya yang sah," lanjut Lintang sambil sedikit mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan kilauan berlian pemberian Jati yang jauh lebih mewah dari apa pun yang pernah Mila miliki.
"Saya tidak mengambil apa yang menjadi hak Mbak, karena Mbak sendirilah yang membuang hak itu demi kesenangan sesaat."
Mila terdiam membeku, kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Ia merasa dipermalukan di depan umum, bukan oleh makian, melainkan oleh kebenaran yang diucapkan Lintang dengan begitu tenang.
"Permisi, Mas Jati sudah menunggu saya untuk makan siang," pungkas Lintang.
Ia melangkah melewati Mila dengan kepala tegak, meninggalkan mantan istri suaminya itu yang berdiri sendirian di lobi, menyadari bahwa takhta yang ia sia-siakan kini telah menemukan ratu yang jauh lebih pantas.
Jati yang sejak tadi memantau layar monitor di ruang kerjanya tidak bisa tinggal diam.
Begitu melihat Mila mengadang Lintang di lobi, ia langsung menyambar jasnya dan melangkah lebar menuju lift privat.
Amarahnya memuncak melihat mantan istrinya masih berani mengusik wanita yang paling ia hormati.
Pintu lift terbuka tepat saat Lintang hendak melangkah masuk.
Jati segera keluar dan langsung merangkul pundak Lintang dengan sangat protektif di depan semua orang.
"Sayang," panggil Jati dengan suara berat yang penuh perhatian.
Ia mengabaikan Mila yang masih berdiri mematung tak jauh dari sana.
Jati menatap mata Lintang dengan cemas, memeriksa wajah istrinya.
"Apa dia mengancammu? Apa dia menyakitimu?" tanya Jati tegas, suaranya menggema di lobi yang mendadak sunyi senyap.
Lintang tersenyum menenangkan, ia mengelus lengan suaminya yang tampak tegang. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Mas. Kami hanya sedikit bicara tadi. Sudah, tidak apa-apa. Ayo sekarang Mas makan siang dulu, nanti keburu dingin masakannya."
Jati mengembuskan napas lega, namun matanya sempat melirik tajam ke arah Mila seolah memberi peringatan terakhir sebelum ia memutar tubuh Lintang untuk kembali masuk ke lift.
Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, suasana kantor mendadak heboh.
Para karyawan yang berada di lobi saling berbisik dan mencuri pandang.
Mereka selama ini hanya tahu bahwa bos mereka yang dingin itu sudah bercerai dengan Mila, namun mereka belum tahu siapa wanita anggun yang dibawakan bekal dan dipeluk begitu mesra oleh Jati.
"Siapa wanita itu? Cantik sekali, sopan lagi."
"Bukannya itu yang dulu sering antar jemput Pak Jati pakai taksi online ya?"
"Wah, lihat tatapan Pak Jati... beda banget sama waktu masih sama Bu Mila."
Sesampainya di ruangan, Jati langsung mengunci pintu. Ia mengambil tas bekal dari tangan Lintang dan meletakkannya di meja, namun ia justru menarik Lintang ke dalam pelukannya lagi.
"Mas, makan dulu..." protes Lintang lembut.
"Sebentar, Sayang. Mas hanya ingin memastikan pahlawan kecilku ini baik-baik saja," bisik Jati sambil mengecup kening Lintang.
"Terima kasih sudah menghadapinya dengan sabar. Mas bangga punya istri seperti kamu."
Lintang tersipu, ia mulai membuka kotak bekalnya.
"Sudah tugas saya, Mas. Sekarang ayo makan, setelah ini Mas harus lanjut kerja lagi kan?"
Jati duduk di sofa, memperhatikan Lintang yang dengan telaten menyiapkan piring untuknya.
Di dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan; besok ia akan mengumumkan secara resmi di rapat besar perusahaan bahwa Lintang Mentari adalah Nyonya Jati Pratama yang baru, agar tidak ada lagi karyawan atau orang luar yang berani memandangnya sebelah mata.
Sebelum mereka benar-benar duduk untuk makan siang, Jati meraih tangan Lintang.
Ada kilat tekad di matanya. Ia tidak ingin istrinya dianggap sebagai tamu misterius atau sekadar "wanita yang membawakan bekal."
Ia ingin seluruh gedung ini tahu siapa pemegang tahta di hatinya.
"Ikut Mas sebentar, Sayang," bisik Jati.
Jati membimbing Lintang menuju ruang konferensi utama, di mana para direksi dan staf ahli baru saja menyelesaikan rapat koordinasi.
Begitu pintu terbuka, suasana ruangan yang tadinya bising dengan diskusi mendadak hening. Semua mata tertuju pada sosok Jati yang berdiri tegap—tanpa kursi roda—sambil menggenggam erat tangan seorang wanita anggun di sampingnya.
"Selamat siang, semuanya. Maaf mengganggu waktu istirahat kalian sejenak," suara Jati bergema, berat dan penuh otoritas.
Para staf dan direksi berdiri dengan hormat, namun tatapan mereka tak lepas dari Lintang.
"Saya ingin memperkenalkan secara resmi. Ini adalah Lintang Mentari, istri saya yang sah," ucap Jati dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Beliau adalah alasan mengapa saya bisa berdiri tegak di depan kalian hari ini. Saya harap kalian memberikan rasa hormat yang sama kepadanya sebagaimana kalian menghormati saya."
Lintang, meski merasa gugup karena ditatap oleh puluhan orang penting, perlahan melangkah maju.
Ia menundukkan kepalanya sedikit dengan gestur yang sangat santun—ciri khas kelembutan perempuan yang terdidik dengan adab yang baik.
"Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian. Mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu kesibukan di sini. Saya Lintang, senang bisa mengenal rekan-rekan kerja Mas Jati," ucap Lintang dengan suara yang lembut namun terdengar sangat tulus.
Keheningan itu pecah oleh gumaman kekaguman.
Para direksi yang biasanya kaku mulai tersenyum. Mereka melihat kontras yang luar biasa; jika dulu Mila selalu datang dengan aroma parfum yang menyengat dan teriakan yang memerintah, Lintang membawa ketenangan.
Cara bicaranya yang rendah hati dan senyumnya yang tulus seketika meluluhkan suasana tegang di ruangan itu.
"Wah, selamat Pak Jati. Ibu Lintang terlihat sangat bersahaja," puji salah satu direktur senior sambil menjabat tangan Jati.
"Terima kasih atas sambutannya," jawab Lintang lembut sambil mengangguk pada setiap orang yang menyapanya.
Setelah perkenalan singkat itu, Jati membawa Lintang kembali ke ruangannya.
Di sepanjang koridor, para karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat dengan senyum tulus, bukan karena takut, tapi karena mereka benar-benar terpesona oleh aura kelembutan sang "Nyonya Baru".
Sesampainya di ruangan, Jati menutup pintu dan menatap istrinya dengan senyum penuh arti.
"Nah, sekarang semua orang tahu. Tidak akan ada lagi yang berani macam-macam padamu."
Lintang mengembuskan napas lega. "Mas ini ada-ada saja. Saya jadi malu ditonton orang banyak."
"Kamu pantas mendapatkan itu, Lintang. Sekarang, ayo kita makan. Mas sudah lapar sekali," ajak Jati sambil menarik kursi untuk istrinya.
Jati menarik kotak bekal itu ke hadapannya dengan antusias.
Begitu tutupnya dibuka, uap hangat aroma masakan rumah yang menggoda langsung memenuhi ruangan—jauh lebih nikmat daripada menu restoran bintang lima mana pun yang pernah ia santap.
Di balik tutup kotak bekal itu, Jati menemukan selembar kertas kecil yang tertempel rapi. Tulisan tangannya halus dan rapi, mencerminkan kepribadian penulisnya.
"Selamat makan siang, suamiku tercinta. Semoga tenaganya pulih lagi setelah lelah bekerja. Jangan lupa jamunya ya Mas, diminum sampai habis supaya badannya tetap hangat dan sehat. Semangat kerjanya, Mas Jati!"
Jati membacanya sambil tersenyum simpul, matanya berkilat penuh haru.
Ia menganggukkan kepalanya perlahan, melirik ke arah botol kecil berisi cairan berwarna cokelat keemasan yang diletakkan Lintang di samping piring.
"Kamu sampai sedetail ini menyiapkan semuanya, Lintang," gumam Jati sambil menatap istrinya yang sedang menuangkan air putih untuknya.
"Itu jamu kunyit asam campur madu, Mas. Bagus untuk stamina dan melancarkan aliran darah Mas yang sempat kaku dulu," jawab Lintang lembut. "Saya buatkan khusus tadi pagi."
Jati segera mengambil botol jamu itu dan meminumnya hingga tandas tanpa ragu sedikit pun.
Rasanya segar, hangat, dan seolah memberikan energi instan ke seluruh tubuhnya.
"Enak sekali. Sepertinya Mas bakal ketagihan jamu buatanmu ini," puji Jati.
Ia kemudian mulai menyantap masakan favoritnya—oseng daging sapi pedas dan sayur bening bayam yang segar.
Setiap suapan terasa seperti ungkapan cinta. Jati makan dengan sangat lahap, membuat Lintang yang duduk di hadapannya merasa sangat bahagia melihat suaminya begitu menghargai masakannya.
"Mas, pelan-pelan makannya, nanti tersedak," tegur Lintang sambil tertawa kecil, tangannya terulur untuk mengusap sedikit noda saus di sudut bibir Jati dengan tisu.
Jati menangkap tangan Lintang, mengecup telapak tangannya di sela-sela makannya.
"Terima kasih, Sayang. Mas tidak menyangka, setelah semua badai yang Mas lewati, Mas bisa merasakan makan siang sehangat ini di kantor sendiri."
Suasana ruang kerja yang biasanya kaku dan penuh tekanan itu mendadak berubah menjadi oase yang penuh kemesraan.
Bagi Jati, Lintang bukan hanya istri, tapi sumber kekuatannya untuk menghadapi dunia bisnis yang keras di luar sana.