Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong Basalt dan Kegagalan Sang Mayor
Suara desis panjang dari katup pelepas tekanan hidrolik bergema di dalam lorong transisi. Pintu baja palka DSV Nanggala-X bergeser menutup di belakang mereka, menyegel Rayyan dan Lyra di dalam airlock (ruang kedap udara) pertama dari struktur pra-sejarah di dasar Laut Banda tersebut.
Saat pintu batu di depan mereka terbuka dengan lambat, udara purba yang telah terkurung selama ribuan tahun berhembus keluar. Udaranya terasa dingin, lembap, dan berbau seperti garam laut pekat yang bercampur dengan logam berkarat.
Rayyan melangkah keluar terlebih dahulu, senapan serbu taktis khusus bawah airnya berada dalam posisi siaga tinggi. Ia menahan lengan Lyra dengan tangan kirinya, memastikan Lyra berjalan tepat di belakang bayangannya.
Ruangan di balik gerbang itu tidak gelap gulita. Dinding-dindingnya yang terbuat dari balok basalt raksasa—batuan vulkanik hitam yang jauh lebih keras dari andesit—ditumbuhi oleh lapisan lumut bioluminesensi laut dalam. Lumut itu memancarkan pendaran cahaya hijau kebiruan yang redup dan berkedip layaknya bintang-bintang kecil yang terperangkap di bawah air.
Di tengah ruangan melingkar itu, Letnan Jati dan Mayor Sarah Kamila sudah menunggu. Mereka sedang memeriksa sebuah panel batu yang dipenuhi ukiran aneh.
Mendengar langkah sepatu bot Rayyan, Sarah menoleh. Postur tubuh sang intelijen wanita itu langsung berubah, dari mode inspeksi menjadi mode yang sangat reseptif. Sarah memutar tubuhnya, membiarkan Jati melanjutkan pekerjaannya, lalu melangkah menghampiri Rayyan dengan ayunan pinggul yang terlalu anggun untuk ukuran sebuah misi militer maut.
“Clear area, Komandan,” lapor Sarah. Suaranya di atur pada oktaf yang lebih rendah, sedikit serak dan menggoda.
Sarah berhenti tepat di depan Rayyan, jaraknya nyaris melanggar batas ruang personal. Tanpa meminta izin, wanita itu mengulurkan kedua tangannya ke arah dada Rayyan. Jemari lentiknya yang terbungkus sarung tangan taktis meraba tali kekang tabung oksigen cadangan di dada pria itu.
“Tali pengamanmu sedikit longgar di sebelah kiri, Yan,” gumam Sarah sambil menarik pelan tali tersebut, matanya menatap langsung ke rahang kokoh Rayyan. “Tekanan udara di dalam sini berbeda. Sama seperti saat kita terjebak di bunker bawah tanah di perbatasan dulu. Ingat? Saat itu kau juga menolak memeriksa perlengkapanmu sampai aku yang harus memaksa memasangkannya.”
Itu adalah sebuah langkah tingkat tinggi. Sarah tidak hanya mencoba menginvasi ruang fisik Rayyan, tetapi juga menggunakan kenangan masa lalu untuk menciptakan ilusi keintiman di depan Lyra. Sebuah pesan tersirat yang berteriak: Kita memiliki sejarah yang tidak akan pernah bisa disentuh gadis sipil itu.
Namun, Kolonel Rayyan Aksara bukanlah pria yang bisa dijebak oleh manuver murahan.
Rayyan tidak merespons dengan amarah, tidak juga dengan bentakan. Reaksinya jauh lebih menyakitkan: Ketidakpedulian.
Wajah Rayyan tidak berubah ekspresi sedikit pun. Ia bahkan tidak menatap mata Sarah. Dengan gerakan yang sangat halus namun sekeras baja, Rayyan mengangkat sebelah tangannya dan menyingkirkan kedua tangan Sarah dari dadanya.
“Harness-ku sudah dikalibrasi sesuai standarku, Mayor,” potong Rayyan dengan nada bariton yang begitu datar dan dingin, hingga lumut bioluminesensi di dinding terasa lebih hangat darinya. “Fokuslah pada perimeter keamanan. Tinggalkan urusan perlengkapanku.”
Sarah mengerjap. Senyum di bibirnya sedikit menegang, namun ia berusaha menutupinya dengan cepat. “Tentu. Aku hanya memastikan partnerku berada dalam kondisi prima.”
“Partner operasionalku di lapangan adalah Letnan Jati,” ralat Rayyan tajam, tanpa ampun memutuskan benang ilusi yang coba di rajut Sarah.
Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Rayyan memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, membelakangi Sarah sepenuhnya. Seluruh aura dingin dan mematikan yang tadi ia pancarkan lenyap seketika, menguap ke udara saat ia menunduk menatap Lyra yang berdiri di belakangnya.
Mata tajam sang komandan langsung melembut, memancarkan kehangatan yang kontras dengan suhu ruangan. Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya yang besar kini bertengger dengan sangat protektif di kedua sisi bahu Lyra.
“Udara di sini cukup tipis, Lyra,” suara Rayyan merendah menjadi bisikan parau yang sangat intim, hanya di tujukan untuk telinga gadis itu. Ia memeriksa selang nasal cannula darurat yang menempel di kerah seragam Lyra dengan kelembutan yang luar biasa. “Kamu merasa sesak? Inhalermu mudah dijangkau?”
Lyra, yang sejak tadi mengamati interaksi itu dalam diam, merasakan jantungnya meledak oleh kebahagiaan dan kelegaan. Dinding es yang ia bangun runtuh tak tersisa. Pria baja ini benar-benar tidak memberikan celah sekecil apa pun bagi wanita lain.
Lyra mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Rayyan. Ia memberikan senyum tulus yang sangat manis.
“Aku baik-baik saja, Rayyan,” bisik Lyra, membalas tatapan pria itu dengan kelembutan yang sama. Ia mengangkat tangannya, menepuk dada Rayyan pelan—sebuah sentuhan yang sangat natural dan penuh klaim kepemilikan. “Udara di sini murni. Sistem filter kuno mereka masih bekerja.”
“Beritahu aku jika kamu merasa pusing sedetik pun. Mengerti?” Tuntut Rayyan, ibu jarinya tanpa sadar mengusap pelan pundak Lyra.
“Mengerti, Komandan,” balas Lyra dengan kekehan pelan yang menenangkan.
Di belakang mereka, Sarah berdiri kaku. Rahang wanita itu mengeras. Mayor Sarah Kamila adalah lulusan terbaik di angkatannya, penembak jitu yang ditakuti, dan wanita yang bisa menundukkan puluhan pria hanya dengan satu kedipan mata. Namun berdiri di ruangan purba ini, menatap punggung Rayyan yang melengkung protektif di sekitar seorang arkeolog sipil yang memakai kacamata retak… Sarah merasa benar-benar tak terlihat. Tidak relevan. Ia telah kalah telak sebelum medan pertempuran belum dimulai.
“Kolonel, Dokter,” Jati memecah kecanggungan itu dari arah ujung ruangan. “Kami menemukan dua lorong di ujung aula ini. Semuanya gelap.”
Rayyan melepaskan bahu Lyra, namun tangan kirinya segera turun, menggenggam erat tangan kanan Lyra saat mereka jalan menghampiri Jati. Rayyan sama sekalit tidak peduli jika tindakan itu melanggar protokol militer di depan bawahannya. Ia ingin Lyra tahu—dan ia ingin Sarah melihat—siapa prioritas utamanya.
Mereka berdiri di depan persimpangan. Lorong sebelah kiri tampak lebih lebar, dengan dinding yang dihiasi stalktit alami. Sementara lorong sebelah kanan lebih sempit dan dipenuhi oleh ukiran relief yang nyaris aus dimakan air laut.
Sarah langsung maju, insting intelijen taktisnya mengambil alih. Ia menyorotkan senter khusus bawah airnya ke lorong kiri.
“Lorong kiri memiliki aliran udara yang lebih stabil. Senterku tidak menangkap ada pantulan logam atau kawat pemicu di sana,” analisis Sarah cepat, menatap Rayyan. “Secara taktis, ini jalur flanking (menyamping) standar. Kita bisa bergerak cepat melalui sana dan menghindar ruang sempit di sebelah kanan yang rentan penyergapan.”
Sarah melangkah satu langkah ke arah lorong kiri, mengharapkan perintah Rayyan untuk mengikutinya.
“Tunggu.”
Suara itu bukan berasal dari Rayyan. Itu adalah Lyra.
Gadis mungil itu melangkah maju dari balik lengan Rayyan. Kepercayaan dirinya telah kembali sepenuhnya. Lyra merogoh sakunya, mengeluarkan senter ultraviolet (UV) arkeologinya, lalu menyorotkannya ke arah dinding lorong kanan yang sempit.
Di bawah sinar ungu yang pekat, relief-relief yang tadinya tampak seperti coretan tak bermakna itu tiba-tiba memantulkan pendaran kemerahan, memperlihatkan garis-garis presisi yang membentuk sebuah diagram raksasa.
“Arsitek peradaban ini tidak menggunakan taktik militer modern, Mayor,” ucap Lyra tenang, menatap Sarah dengan sorot mata yang cerdas dan tajam. “Mereka menggunakan hidrolika laut dalam. Lorong kiri yang Anda sebut aman itu memiliki aliran udara stabil karena itu bukan lorong jalan kaki. Itu adalah pipa pembuangan air.”
Lyra menunjuk ke arah diagram di lorong kanan. “Relief ini adalah peta tekanan. Jika kita masuk ke lorong kiri dan berat badan kita memicu sensor keseimbangan di lantai, pintu kedap air di atas kita akan terbuka. Puluhan ribu ton air laut bertenaga empat ribu meter tekanan hidrostatik akan masuk dan menghancurkan kita menjadi serpihan daging dalam hitungan detik. Senapan Anda tidak akan bisa menembak air, Mayor.”
Wajah Sarah sedikit memucat. Ia menatap diagram bercahaya ungu itu, lalu menatap Lyra. Intelijen taktisnya baru saja dimentahkan secara brutal oleh analisis sejarah.
Lyra kemudian memutar tubuhnya, menatap Rayyan. “Jalan utamanya ada di lorong kanan ini, Rayyan. Tapi ruangannya sangat sempit dan mungkin dipenuhi jebakan yang mengandalkan tuas fisik, bukan peluru.”
Rayyan menatap Lyra dengan rasa bangga yang meluap-luap di matanya. Rayyan menyunggingkan seringai kemenangan yang samar, sebuah seringai seolah berkata pada Sarah: Itulah sebabnya aku memilihnya.
“Kau dengan Dr. Andini,” suara Rayyan menggema penuh otoritas. Pria itu mengokang senapannya. “Kita ambil lorong kanan. Jati, point man (barisan depan). Mayor Sarah, kau berjaga di rear guard (barisan paling belakang).”
Mata Sarah membelalak tidak terima. “Rear Guard? Yan, kualifikasi menembakku lebih tinggi dari Jati. Aku seharusnya berada di garis depan bersamamu untuk membuka jalan—“
“Tugasku adalah melindungi aset terpenting dari misi ini,” potong Rayyan dengan suara mematikan. Ia menatap Sarah dengan dingin. “Dan aset terpenting kita adalah otak dari wanita yang baru saja menyelamatkan nyawamu dari jebakan hidrolik. Posisi Lyra adalah di tengah formasi. Tugasku melindunginya dari depan, dan tugasmu melindunginya dari belakang. Kau punya masalah dengan rantai komando itu, Mayor?”
Sarah menelan ludah, harga dirinya tergores dalam. Otoritas Rayyan tidak menyisakan ruang untuk berdebat. Dengan rahang yang mengeras, wanita itu mengangguk kaku. “Tidak ada masalah, Kolonel.”
Rayyan kembali menggenggam tangan Lyra, meremasnya lembut sebelum melepaskannya agar Lyra bisa memegang senternya dengan bebas. “Tetap di dekatku, Lyra. Pandu kami menembus neraka ini.”
“Selalu, Komandan,”Lyra membalas dengan senyum kecil yang penuh rahasia.
Tim kecil itu mulai bergerak memasuki lorong kanan yang sempit. Udara semakin berat dan pengap. Di barisan paling belakang, Mayor Sarah Kamila berjalan dalam diam. Senapannya terangkat waspada, tetapi matanya terus menatap ke arah punggung Rayyan yang berjalan tepat di depan Lyra.
Setiap kali Lyra tersandung sedikit saja pada batu yang menonjol, Rayyan akan refleks mengulurkan tangannya ke belakang tanpa perlu menoleh, menangkap lengan Lyra dan menstabilkan Lyra dengan penuh kelembutan.
Sarah menggigit bibir bawahnya. Sepanjang hidupnya, ia selalu memenangkan apa pun yang ia inginkan melalui kekuatan dan ketangguhannya. Namun di dasar palung yang gelap ini, melihat pria yang selalu ia kagumi telah menyerahkan seluruh jiwanya pada seseorang arkeolog rapuh berkacamata, Sarah akhirnya menyadari satu kebenaran yang pahit.
Beberapa pertempuran tidak diciptakan untuk di menangkan dengan peluru. Dan hati Kolonel Rayyan Aksara adalah sebuah benteng abadi yang kuncinya telah dibuang selamanya ke dalam genggaman Lyra Andini.