sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: KOTA TULANG
Perjalanan menuju Kota Tulang memakan waktu tiga hari.
Tiga hari melewati lorong-lorong batu yang tak pernah berujung, menyeberangi sungai lava yang memancarkan panas menyengat, dan merayap di tepi jurang-jurang dalam yang dasarnya tidak terlihat. Tiga hari tanpa tidur—karena Varyn bilang tidur di luar gua aman sama dengan bunuh diri.
Tiga hari Aldric belajar bertahan hidup.
Varyn mengajarinya banyak hal selama perjalanan. Cara membaca jejak makhluk di batu. Cara membedakan jamur beracun dan jamur yang bisa dimakan. Cara mendengar bahaya dari kejauhan—suara langkah kaki yang terlalu teratur, bisikan yang terlalu pelan, atau tiba-tiba sunyi yang tidak wajar.
"Sunyi adalah tanda paling berbahaya di sini," kata Varyn suatu saat. "Jika tiba-tiba semua suara berhenti, itu artinya sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan sedang lewat. Atau sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan sedang mengintai."
Aldric menyimpan semua pelajaran itu dalam ingatannya yang kini tajam.
Tubuhnya juga berubah selama tiga hari ini. Luka-luka kecil sembuh dalam hitungan menit. Otot-ototnya terasa lebih padat, lebih kuat. Ia bisa berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, dan melihat dalam gelap hampir seterang siang.
Tapi perubahan terbesar ada di dalam.
Ia tidak lagi merindukan atas. Tidak lagi memikirkan Liana dengan perasaan hancur. Kenangan tentang mereka masih ada—masih jelas—tapi seperti lukisan di dinding. Ia bisa melihatnya, tapi tidak bisa merasakannya.
Mati rasa.
Itulah kata yang tepat.
Mati rasa terhadap segalanya kecuali satu hal: dendam.
"Kita hampir sampai."
Suara Varyn memecah keheningan. Iblis tua itu berhenti di tepi tebing, menunjuk ke bawah.
Aldric mendekat dan menahan napas.
Di bawah mereka, di sebuah lembah raksasa yang dasarnya tidak terlihat, terbentang sebuah kota. Bukan kota biasa—kota ini dibangun dari tulang.
Tulang-tulang raksasa menjulang sebagai menara dan tiang penyangga. Rumah-rumah terbuat dari rusuk-rusuk makhluk besar, beratap tengkorak raksasa. Jalan-jalan utama adalah tulang belakang makhluk sepanjang ratusan meter, dengan ruas-ruas yang menjadi undian alami.
Dan di seluruh kota, cahaya biru-hijau dari jamur bercahaya menerangi segalanya dengan nuansa magis dan mengerikan.
"Kota Tulang," kata Varyn dengan nada bangga. "Ibu kota dunia bawah. Pusat perdagangan, informasi, dan kejahatan. Di sini, kau bisa membeli apa pun—senjata, budak, rahasia, bahkan nyawa seseorang. Asal kau punya harga yang tepat."
"Manusia juga tinggal di sini?" tanya Aldric, matanya mengamati kerumunan di bawah.
"Tentu. Manusia yang jatuh, manusia yang lahir di sini, manusia yang dijual sebagai budak—semua ada. Tapi di sini, manusia bukan spesies dominan. Mereka hanya satu dari ribuan."
Varyn mulai turun, dan Aldric mengikuti.
Memasuki Kota Tulang seperti memasuki dunia lain.
Aroma di sini campur aduk—bangkai, rempah-rempah aneh, asap, dan sesuatu yang manis busuk. Suara-suara bergemuruh dari segala arah: tawar-menawar dalam bahasa yang tidak dimengerti Aldric, teriakan pedagang, raungan binatang, dan dari suatu tempat, suara musik aneh dengan irama menghentak.
Makhluk-makhluk lalu lalang di sekeliling mereka. Ada yang mirip manusia tapi dengan kulit bersisik. Ada yang berkepala banyak. Ada yang melayang di atas tanah tanpa kaki. Ada yang tubuhnya transparan seperti hantu. Semua sibuk dengan urusan masing-masing, hanya melirik sekilas pada Varyn—dan langsung menunduk hormat.
"Mereka kenal kau," bisik Aldric.
"Aku sudah hidup di sini ribuan tahun, Nak. Aku bukan siapa-siapa, tapi aku juga bukan mainan." Varyn tersenyum puas. "Namunku cukup untuk membuat mereka berpikir dua kali sebelum macam-macam."
Mereka berjalan melewati deretan kios. Di satu kios, seorang makhluk berkepala serigala menjual daging segar—daging yang masih bergerak-gerak. Di kios lain, seorang wanita dengan rambut ular menjual ramuan dalam botol-botol kecil, cairannya berkilauan aneh.
Seekor makhluk kecil—seperti tikus tapi sebesar anjing—menabrak kaki Aldric dan memekik minta maaf sebelum lari terbirit-birit.
Aldric hanya melangkah melewatinya tanpa ekspresi.
"Kau cepat beradaptasi," komentar Varyn.
"Aku belajar dari yang terbaik."
Varyn tertawa.
Mereka berhenti di sebuah bangunan yang berbeda dari yang lain. Bangunan ini terbuat dari batu hitam—bukan tulang—dengan ukiran-ukiran aneh di setiap sudutnya. Di atas pintu, sebuah tengkorak dengan tiga pasang mata menyala merah.
"Ini tempat seorang kenalan," kata Varyn. "Dia punya informasi yang kau butuhkan."
"Apa kau yakin dia bisa dipercaya?"
Varyn menatapnya dengan mata merah berbinar. "Di sini, tidak ada yang bisa dipercaya. Tapi dia berutang padaku. Dan di dunia bawah, utang adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas."
Mereka masuk.
Di dalam, suasana lebih gelap. Beberapa meja tersebar, dengan makhluk-makhluk aneh duduk minum dari cawan-cawan logam. Di sudut, sekelompok iblis kecil sedang berjudi dengan dadu yang terbuat dari tulang jari.
Di belakang ruangan, di balik meja panjang, duduk sesosok makhluk yang sulit dideskripsikan. Ia—atau dia—atau itu—berbentuk humanoid, tapi kulitnya abu-abu gelap, matanya putih tanpa pupil, dan dari kepalanya tumbuh tanduk-tanduk kecil berjumlah ganjil.
"Varyn," sapa makhluk itu dengan suara seperti batu bergesek. "Sudah berapa lama? Seribu tahun? Dua ribu?"
"Mora." Varyn mengangguk. "Kau tampak... sama seperti dulu."
Mora—makhluk itu—tertawa. Tawanya seperti batuk kering. "Aku tidak bisa berubah, kau tahu itu." Matanya yang putih beralih ke Aldric. "Ini dia? Murid barumu? Manusia?"
"Dia yang kubicarakan."
Mora mengamati Aldric dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya yang putih—meski tanpa pupil—terasa seperti bisa menembus kulit.
"Darah Veynheart," gumamnya. "Masih terasa. Tapi sudah tercampur. Kau memberinya kekuatanmu, Varyn?"
"Sebagian."
"Bodoh." Mora menggeleng. "Dia bisa memberontak. Membunuhmu. Mengambil alih."
Varyn tersenyum lebar. "Biarlah. Aku bosan hidup ribuan tahun."
Aldric hanya diam, mendengarkan percakapan mereka. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia tahu ini tentang dirinya.
"Duduk," perintah Mora, menunjuk dua kursi di depan mejanya. "Kau bilang butuh informasi. Tentang apa?"
Varyn duduk. Aldric duduk di sampingnya.
"Tentang dunia atas. Tentang keluarga Veynheart. Tentang kudeta sepuluh malam lalu."
Mora mengangkat alis—atau setidaknya gerakan di dahinya yang mirip mengangkat alis. "Informasi mahal, Varyn."
"Kau masih berutang padaku."
"Utang itu sudah seribu tahun. Bunga dan dendanya sudah lebih besar dari informasi mana pun."
Varyn menghela napas. "Baik. Apa maumu?"
Mora menatap Aldric lagi. Lebih lama kali ini. Lebih intens.
"Dia," katanya akhirnya. "Aku ingin dia melakukan satu tugas untukku."
Aldric menegang. "Tugas apa?"
"Ada sesuatu yang hilang dariku. Dicuri oleh bandit Ghoul beberapa hari lalu. Aku ingin kau mengambilnya kembali."
"Mora—" Varyn memotong.
"Ini tawaranku. Ambil atau tinggalkan."
Varyn menatap Aldric. Aldric menatap Varyn.
"Informasi tentang keluargaku seharga mengambil barang curian?" tanya Aldric. "Kedengarannya terlalu mudah."
Mora tersenyum—senyum yang mengerikan, memperlihatkan gigi-gigi runcing dalam jumlah ganjil. "Tugasnya mudah. Yang sulit adalah kau harus pergi ke wilayah Ghoul sendirian. Tanpa Varyn."
"Mora!" Varyn bangkit, mata merahnya menyala terang. "Dia baru tiga hari di sini! Ghoul akan mencabik-cabiknya!"
"Maka kau bisa memilih tidak jadi ambil informasi." Mora mengangkat bahu. "Atau kau bisa bayar dengan yang lain. Tapi kau tahu aku tidak butuh apa-apa selain—"
"Baik."
Dua makhluk itu menoleh ke arah Aldric.
Aldric berdiri. Wajahnya datar. Matanya—abu-abu dengan semburat merah—tidak menunjukkan ketakutan.
"Aku akan ambil barangmu. Tunjukkan di mana Ghoul itu berada."
Varyn menatapnya tidak percaya. "Kau gila? Ghoul bukan Vermok. Mereka cerdas, kejam, dan punya hierarki. Kau akan mati!"
"Mungkin." Aldric menatap Varyn. "Tapi aku butuh informasi itu. Aku tidak bisa menunggu seribu tahun seperti kau."
Varyn membeku. Untuk pertama kalinya, iblis tua itu tampak kehilangan kata-kata.
Mora tertawa terbahak-bahak. "Dia punya nyali, Varyn! Aku suka dia!"
Ia melemparkan sesuatu ke arah Aldric—sebuah batu kecil berwarna merah. Aldric menangkapnya.
"Batu ini akan menuntunmu ke sarang Ghoul. Ikuti cahayanya." Mora mencondongkan tubuh. "Barang yang hilang adalah kalung. Kalung dengan liontin mata kucing hitam. Bawa kembali, dan kau dapat informasimu."
Aldric menggenggam batu itu. Batu itu mulai bersinar samar.
"Bagaimana aku tahu kau tidak akan mengingkari janji?"
Mora tersenyum lebar. "Kau tidak tahu. Tapi kau tidak punya pilihan, bukan?"
Aldric menatapnya lama. Lalu berbalik.
Varyn bangkit mengikutinya. "Nak, ini gila. Biar aku—"
"Tidak." Aldric berhenti di pintu, menoleh. "Ini urusanku. Kau sudah cukup membantuku."
"Tapi—"
"Aku akan kembali." Untuk pertama kalinya, sesuatu yang mirip senyum muncul di wajah Aldric. Senyum tipis, dingin, tanpa kehangatan. "Atau tidak. Tapi setidaknya aku mencoba."
Ia melangkah keluar, meninggalkan Varyn yang terpaku.
Di luar, Kota Tulang tetap ramai seperti sebelumnya. Makhluk-makhluk lalu lalang, tidak peduli pada manusia muda yang baru saja keluar dari bangunan Mora.
Aldric membuka telapak tangannya. Batu merah itu bersinar, dan di dalam pikirannya, ia bisa merasakan tarikan samar ke arah timur laut.
Wilayah Ghoul.
Ia mulai berjalan. Langkahnya mantap. Hatinya kosong.
Di dalam, ia tahu ini gila. Tapi di dalam juga, ia tidak peduli.
Mungkin aku mati di sini, pikirnya. Mungkin aku berhasil. Yang jelas, aku tidak akan menunggu.
Karena menunggu berarti memberi Darius dan Elara lebih banyak waktu untuk bahagia.
Dan itu—itu tidak bisa ia biarkan.
Di atas bangunan Mora, di atap yang gelap, dua sosok mengamati Aldric yang menjauh.
"Dia menarik," gumam Mora. "Sudah mati di dalam, tapi masih bergerak. Seperti mayat hidup."
Varyn berdiri di sampingnya, mata merahnya menyala. "Jika dia mati, Mora, aku akan—"
"Kau akan apa? Membunuhku?" Mora tertawa. "Sudah ribuan tahun, Varyn. Kau bosan, aku bosan. Setidaknya sekarang kita punya hiburan."
Varyn tidak menjawab. Ia terus menatap sosok kecil yang perlahan menghilang di antara kerumunan Kota Tulang.
"Jangan mati, Nak," bisiknya. "Kau masih punya hutang padaku."
Aldric berjalan melewati gerbang timur Kota Tulang, meninggalkan keramaian menuju kegelapan yang lebih pekat. Di tangannya, batu merah terus bersinar, menuntunnya ke arah yang tidak diketahui.
Di belakangnya, Kota Tulang bergemuruh dengan kehidupannya sendiri.
Di depannya, hanya gelap dan janji informasi.
Dan mungkin kematian.
Tapi kematian sudah kukenal, pikir Aldric. Dia tidak menakutkan lagi.
Yang menakutkan adalah hidup tanpa tujuan.
Dan aku punya tujuan.
Dendam.