Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Langkah Enzo terasa berat, setiap inci tubuhnya seperti menolak untuk digerakkan. Rasa nyeri menjalar dari luka di perutnya hingga ke punggung, membuat napasnya sesekali tersendat. Namun, rasa penasaran atau mungkin sesuatu yang lebih dari itu memaksanya tetap berdiri dan berjalan mendekati Evelyn.
Lampu meja yang redup menerangi sosok wanita itu. Evelyn duduk dengan posisi sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, menciptakan bayangan lembut di pipinya.
Enzo berhenti tepat di depan meja itu.
Beberapa detik ia hanya diam, memperhatikan.
Suara dengkuran halus terdengar jelas. Teratur. Tenang.
Evelyn benar-benar tertidur.
“Dia benar-benar tidak mau memeriksaku…” gumam Enzo pelan, ada nada tidak percaya bercampur kesal dalam suaranya.
Namun anehnya, kekesalan itu tidak bertahan lama.
Tatapan Enzo perlahan berubah. Ia mengamati lebih seksama wajah Evelyn, lingkaran hitam samar di bawah matanya, napasnya yang sedikit berat, serta tangan yang masih menggenggam pena seolah ia tertidur di tengah pekerjaannya.
Pria itu menghela napas panjang.
“...atau mungkin dia terlalu lelah,” lanjutnya lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Tubuh Enzo sedikit goyah. Ia refleks menahan meja dengan satu tangan, wajahnya meringis menahan sakit. Luka yang belum sepenuhnya ditangani itu kembali berdenyut, seakan memprotes tindakan nekatnya turun dari ranjang.
Matanya kembali tertuju pada Evelyn.
Kali ini Enzo melihat wanita itu bukan sebagai dokter yang menyebalkan dan keras kepala, tapi sebagai seseorang yang… manusiawi.
Lelah dan rapuh.
Tanpa sadar, tangan Enzo terulur. Ia hendak membangunkan Evelyn, namun gerakannya terhenti di udara. Jemarinya menggantung beberapa sentimeter dari bahu wanita itu.
Namun Enzo secara perlahan Enzo menarik tangannya kembali.
“Tidurlah…” gumamnya lirih.
Alih-alih membangunkan, ia justru menoleh ke sekeliling ruangan. Pandangannya berhenti pada jas dokter yang tergantung di sandaran kursi, lalu pada selimut tipis yang terlipat rapi di sudut sofa.
Dengan langkah tertatih, Enzo berjalan mengambil selimut itu. Setiap langkahnya meninggalkan jejak rasa sakit yang semakin menjadi, namun ia tetap memaksakan diri.
Kembali ke meja, ia berdiri di samping Evelyn.
Perlahan, sangat hati-hati, Enzo menyelimuti tubuh wanita itu. Selimut itu menutupi punggung dan bahunya, membuat Evelyn sedikit bergerak, namun tidak terbangun.
Enzo terpaku sejenak.
Wajahnya kini begitu dekat. Ia bisa melihat dengan jelas bulu mata Evelyn yang panjang, kulitnya yang pucat karena kelelahan, dan bibirnya yang sedikit terbuka saat bernapas.
Deg.
Ada sesuatu yang aneh bergetar di dalam dada Enzo. Perasaan yang tidak ia kenali. Perasaan yang tidak seharusnya ada.
Pria itu segera mengalihkan pandangannya, seperti mencoba melarikan diri dari sesuatu yang tiba-tiba muncul tanpa izin.
“Berisik…” gumamnya pelan, seolah menyalahkan jantungnya sendiri yang berdetak tidak teratur.
Namun saat ia hendak berbalik, tiba-tiba—
“Jangan bergerak…”
Suara itu membuat tubuh Enzo menegang.
Wanita itu belum membuka mata sepenuhnya, tapi tangannya sudah lebih dulu bergerak, mencengkeram pergelangan tangan Enzo dengan lemah namun pasti.
“Luka kamu… belum diobati,” lanjutnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Enzo terdiam beberapa detik, ia hanya menatap tangan yang menggenggamnya.
“Katanya tidak mau memeriksaku,” sindir Enzo pelan, mencoba terdengar santai meskipun napasnya mulai berat.
Evelyn akhirnya membuka mata, meski hanya setengah. “Diam… dan duduk,” ucapnya singkat.
Tidak ada tenaga dalam suaranya, tapi entah kenapa… Enzo menurut.
Dengan susah payah, ia kembali ke ranjang dan duduk. Wajahnya terlihat pucat, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Evelyn bangkit perlahan dari kursinya. Ia mengusap wajahnya sebentar, mencoba mengusir sisa kantuk, lalu berjalan mendekati Enzo.
Langkahnya tidak sepenuhnya stabil, tapi tatapannya sudah kembali fokus. Dia harus profesional.
Begitu sampai di depan Enzo, ia langsung menyingkap bagian pakaian yang menutupi luka pria itu.
“Kalau mau mati, jangan di ruanganku,” ucapnya datar.
Enzo terkekeh pelan meski menahan sakit.
“Tenang saja, dok. Saya tidak akan mati semudah itu.”
Evelyn tidak menjawab. Tangannya mulai bekerja membersihkan luka, mengganti perban, dan memastikan tidak ada infeksi yang lebih parah.
Namun saat ia melihat kondisi luka itu lebih dekat, alisnya berkerut.
“Ini… harusnya dijahit ulang,” gumamnya pelan.
Enzo menatapnya. “Lakukan saja.”
Evelyn mengangkat wajahnya, menatap Enzo sejenak. Ada sesuatu di matanya, keraguan, atau mungkin kekhawatiran.
“Ini akan sakit.”
Enzo tersenyum tipis.
“Saya sudah terbiasa.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
Lalu tanpa banyak kata, Evelyn mulai bekerja.
Jarum menembus kulit, benang ditarik perlahan. Setiap gerakan membuat tubuh Enzo menegang, tapi pria itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Hanya napasnya yang semakin berat.
Evelyn menyadarinya.“Kalau sakit, bilang,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari lukanya.
Enzo menatap wajah serius wanita itu. “Kalau saya bilang sakit… kamu akan berhenti?”
Evelyn terdiam sesaat. “…tidak.”
Sudut bibir Enzo terangkat. “Kalau begitu, untuk apa bilang?”
Evelyn mendengus pelan, tapi kali ini ada sedikit senyum tipis yang nyaris tak terlihat di wajahnya.
Ruangan kembali hening.
Hanya ada suara napas, denting alat medis, dan detak waktu yang berjalan lambat.
Selang berapa lama akhirnya Evelyn berhasil menjahit ulang luka Enzo. Dia kembali merapihkan alat medis dan memasukkannya kedalam tempatnya.
Evelyn berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, wajahnya kembali dingin seperti biasanya. Tatapannya tajam mengarah pada Enzo yang kini duduk bersandar di ranjang, meskipun napasnya masih sedikit berat.
“Jangan terlalu banyak beraktivitas terlebih dahulu. Tunggu sampai lukamu benar-benar sembuh, baru boleh aktivitas yang berat-berat” ujar Evelyn tegas, nada suaranya tak memberi ruang untuk dibantah.
Enzo hanya mengangkat satu alis, menatapnya dengan ekspresi santai yang dibuat-buat.
“Dan jangan lupa,” lanjut Evelyn tanpa jeda, “kau belum membayar tagihan rumah sakit kemarin. Kalau mau pergi boleh, asal bayar tagihannya. Aku tidak mau membayar tagihan rumah sakitmu lagi.”
Ia melirik sinis ke arah Enzo, seolah pria itu adalah pasien paling menyebalkan yang pernah ia tangani.
Enzo terkekeh pelan, suara tawanya rendah namun jelas terdengar di ruangan itu.
“Maaf, tadi siang aku buru-buru, aku tidak sempat mengurus administrasinya terlebih dahulu.” ucapnya ringan.
Evelyn langsung mendengus kesal.
“Aku tidak mau memaafkanmu,” balasnya cepat, tanpa ragu. “Gara-gara membayar tagihanmu, uang tabunganku jadi berkurang.”
Nada suaranya penuh perhitungan. Tidak ada sedikit pun rasa sungkan.
Alih-alih tersinggung, Enzo justru kembali terkekeh. Pria itu terlihat menikmati setiap reaksi yang diberikan Evelyn.
Perlahan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet hitam elegan. Dengan gerakan santai, ia membukanya, lalu menarik salah satu kartu dari dalamnya.
Kartu itu tampak berbeda, lebih tebal, dengan warna hitam.
Enzo mengulurkannya ke arah Evelyn.
“Ini untuk mengganti uangmu,” ucapnya singkat.
Evelyn tidak langsung mengambilnya. Ia justru mengerutkan kening, menatap kartu itu dengan curiga, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Enzo.
“Berapa isinya?” tanyanya datar.
Enzo tidak langsung menjawab, hanya menatapnya seolah menunggu reaksi selanjutnya.
“Kalau isinya cuma tiga ratus ribu, aku tidak mau,” lanjut Evelyn tanpa basa-basi. “Itu tidak cukup untuk membayar hutangmu.”
Enzo menghela napas pelan, tangannya masih menggantung sambil memegang kartu itu.
“Sepertinya…kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu pegang.” gumamnya dengan nada tipis.
Evelyn mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Enzo menatap lurus ke matanya, ekspresinya berubah sedikit lebih serius, meskipun masih ada sisa-sisa senyum di sudut bibirnya.
“Isinya tiga miliar.” Kalimat itu jatuh begitu saja.
Evelyn membeku. Matanya membesar, bibirnya sedikit terbuka tanpa suara. Untuk beberapa detik, ia benar-benar kehilangan kemampuan untuk merespons.
“Tiga… miliar?” ulangnya pelan, hampir seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Enzo mengangguk santai. “Iya.”
Evelyn langsung menatap kembali kartu di tangannya, yang entah sejak kapan sudah ia ambil tanpa sadar.
Kartu itu kini terasa berbeda. Seolah bukan sekadar kartu, tapi sesuatu yang… berbahaya.
Ia menelan ludah. “Kamu… serius?” tanyanya lagi, suaranya kali ini lebih pelan.
Enzo menyandarkan tubuhnya lebih nyaman, meski wajahnya sedikit meringis karena luka yang masih terasa.
“Aku tidak pernah bercanda soal uang.”
Evelyn terdiam. Otaknya berputar cepat, mencoba memproses situasi ini. Dalam hitungan detik, ia mengingat kembali semua yang ia katakan barusan, tentang tiga ratus ribu, tentang keluhan, tentang omelannya yang tanpa filter.
Dan sekarang… Pria di depannya dengan santai memberikan kartu berisi tiga miliar.
Evelyn perlahan menutup mulutnya, lalu menarik napas panjang.
“Kalau begitu…” gumamnya, mencoba mengembalikan ekspresi datarnya, meskipun masih terlihat sedikit goyah. “Aku akan… menganggap ini sebagai pembayaran lunas.”
Enzo menyeringai tipis.
“Ambil saja sisanya.”
Evelyn langsung menatap tajam.
“Aku bukan pencuri.”
“Anggap saja bonus,” balas Enzo santai.
“Tidak perlu.”
Tanpa ragu, Evelyn meletakkan kartu itu kembali ke tangan Enzo. Gerakannya tegas, seolah menolak sesuatu yang bisa menggoyahkan prinsipnya.
“Aku hanya mengambil yang menjadi hakku.”
Enzo sedikit terkejut. Bukan karena uangnya ditolak, itu hal yang jarang terjadi, tapi karena cara Evelyn mengatakannya.
Tatapan Enzo berubah. Untuk sesaat, ia benar-benar menatap wanita itu dengan cara yang berbeda.
“Menarik…” gumamnya pelan.
Evelyn mengernyit.
“Apa?”
Enzo hanya tersenyum tipis, lalu memasukkan kembali kartu itu ke dalam dompetnya.
“Tidak ada.”
Namun dalam hatinya, ia tahu… Wanita di depannya ini bukan tipe yang bisa dibeli dengan uang.
Dan entah kenapa, Itu justru membuatnya semakin tertarik.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐