NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11: Topeng di Balik Tangisan

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan setelah teman-teman Karin pergi. Pecahan gelas berkilauan di lantai, memantulkan cahaya matahari yang seolah mengejek kekacauan di sana.

Nara masih berdiri di tempatnya, menatap Karin dengan tatapan yang sulit diartikan perpaduan antara ketegasan dan rasa iba yang mendalam.Karin, yang biasanya meledak-ledak, tiba-tiba terdiam.

Napasnya memburu. Ia melihat tangan Nara yang mulai memunguti pecahan kaca dengan tisu, tanpa sedikit pun mengeluh. Rasa kalah itu membakar dada Karin lebih perih daripada tamparan fisik.

"Berhenti!" teriak Karin. "Jangan sok jadi pahlawan di depanku!"

Nara berhenti sejenak, lalu menatap Karin. "Saya tidak sedang menjadi pahlawan, Karin. Saya hanya sedang membersihkan bahaya agar kamu tidak terluka. Itu tugas seorang guru, bukan?"

"Guru?" Karin tertawa pahit, air mata kemarahan mulai mengalir. "Kamu itu cuma tawanan Kak Danu! Kamu itu sampah yang dibeli dengan biaya rumah sakit!"

Karin melihat siluet kakaknya, Danu, berjalan di koridor menuju arah mereka. Otak liciknya bekerja secepat kilat. Ia tahu, jika ia terus berteriak, Danu mungkin akan mulai merasa malu pada sikapnya yang kasar. Ia butuh senjata yang lebih kuat dari sekadar makian. Ia butuh simpati.

Seketika, ekspresi wajah Karin berubah. Amarah yang membara di matanya meredup, digantikan oleh sorot kekosongan yang drastis. Ia menjatuhkan diri ke sofa, meringkuk seperti janin, dan mulai terisak pelan suara tangisan yang terdengar sangat rapuh dan menderita.

"Karin?" Nara mendekat, merasa ada yang aneh dengan perubahan mendadak ini.

"Jangan sentuh aku... hiks... pergi... kamu jahat..." gumam Karin dengan suara bergetar. Ia mulai menarik-narik rambutnya sendiri, menciptakan kesan sedang mengalami serangan kecemasan hebat.

Tepat saat itu, pintu terbuka. Danu melangkah masuk dengan wajah yang gelap. Ia melihat adiknya yang biasanya sombong kini tampak hancur di sudut sofa, dikelilingi pecahan kaca dan air yang tumpah.

"Karin! Apa yang terjadi?" Danu berlari mendekat, mendorong bahu Nara hingga wanita itu hampir terjatuh ke arah pecahan gelas

Danu memeluk adiknya. Karin langsung membenamkan wajahnya di dada Danu, tubuhnya bergetar hebat. "Kak... tolong aku... aku nggak kuat... Guru ini... dia bilang aku monster... dia bilang lebih baik aku mati saja supaya Kakak nggak repot... hiks..."

Nara terbelalak. "Pak Danu, itu tidak benar. Saya tidak pernah mengatakan hal itu."

"DIAM!" bentak Danu.

Suaranya menggelegar di ruang itu. Matanya yang merah menatap Nara dengan kebencian yang murni. "Aku sudah melihat cukup banyak kekacauan di sini, Nara! Kamu bilang kamu di sini untuk mendidik, tapi lihat apa yang kamu lakukan pada mental adikku!"

Karin mulai berakting lebih jauh. Ia menatap kosong ke arah dinding, matanya tidak berkedip, air matanya terus mengalir.

"Gelap... Kak, semuanya gelap... Aku takut sama dia... Dia mau bunuh aku pelan-pelan pakai kata-katanya..."

"Panggil dokter pribadi sekarang!" perintah Danu pada pelayan yang mengintip di pintu.

Danu menggendong Karin keluar dari ruangan itu. Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti di depan Nara.

Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Nara. "Jika terjadi sesuatu pada kesehatan mental adikku, Nara... aku bersumpah, bukan hanya pekerjaanmu yang hilang, tapi aku akan memastikan ayahmu tidak akan pernah keluar dari rumah sakit itu dalam keadaan hidup."

Nara terpaku. Ia merasa seluruh oksigen di ruangan itu tersedot keluar. Ia melihat kepergian mereka, lalu menatap lantai yang masih berserakan kaca. Di salah satu sudut, ia melihat Karin sempat meliriknya sekilas dari balik bahu Danu sebuah seringai kemenangan yang sangat tipis sebelum ia kembali berakting pingsan.

Dia memanipulasinya, batin Nara perih. Dan Danu... dia terlalu buta oleh rasa sayangnya untuk melihat kebenaran.

Satu jam kemudian, dokter pribadi keluarga Setiawan keluar dari kamar Karin. Danu menunggu di luar dengan cemas.

"Nona Karin mengalami depresi akut akibat tekanan psikologis yang berat, Tuan Danu," ucap sang dokter (yang sebenarnya sudah disogok oleh Karin melalui pesan singkat rahasia sebelumnya).

"Dia merasa sangat terancam dengan kehadiran orang baru yang bersikap otoriter padanya. Saran saya, jauhkan pemicu traumanya, atau setidaknya, buat pemicu itu tidak berdaya di hadapannya agar dia merasa kembali memegang kendali."

Danu mengepalkan tangannya. Ia berjalan menuju paviliun belakang dengan langkah yang seolah ingin menghancurkan bumi yang ia pijak.

Nara sedang bersujud di kamarnya saat Danu menendang pintu hingga terbuka.

"Berdiri!" bentak Danu.

Nara bangkit, merapikan mukenanya. "Pak Danu, tolong dengarkan penjelasan saya—"

"Aku tidak butuh penjelasan dari seorang pembunuh mental!" Danu melemparkan sebuah seragam baru ke arah Nara. Bukan seragam guru, melainkan seragam pelayan paling rendah di rumah itu berwarna abu-abu kusam dengan kain yang kasar.

"Mulai detik ini, kamu kehilangan hakmu sebagai guru di rumah ini," suara Danu kini terdengar sangat dingin dan tenang, yang justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.

"Kamu akan menjadi pelayan pribadi Karin. Kamu harus berada di depan kamarnya 24 jam. Kamu akan membersihkan kamarnya, mencuci pakaiannya dengan tanganmu sendiri, dan makan hanya dari sisa makanan yang dia tinggalkan."

Nara menatap seragam itu dengan hati yang hancur. "Ini bukan bagian dari kontrak, Pak Danu."

"Aku adalah kontrak itu sendiri!" Danu mendekat, menarik paksa jilbab Nara hingga wanita itu terpaksa menatap matanya.

"Adikku kehilangan semangat hidupnya karena kamu. Jadi, kamu akan menjadi 'keset' kakinya sampai dia merasa lebih baik. Jika kamu menolak, ambulans akan mengantar ayahmu kembali ke rumahmu yang reot itu malam ini juga. Pilih, Nara.

Kesombonganmu, atau nyawa ayahmu?"

Nara memejamkan mata. Air matanya jatuh mengenai tangan Danu yang mencengkeram jilbabnya. Panas air mata itu sempat membuat Danu tertegun sejenak, namun egonya segera menutup celah simpati itu.

"Saya akan melakukannya," bisik Nara.

Malam itu, Nara berdiri di depan kamar mewah Karin. Ia sudah mengenakan seragam pelayan yang kusam. Jilbabnya kini hanya menggunakan kain sederhana yang disematkan dengan peniti kecil.

Karin membuka pintu, ia mengenakan baju tidur sutra yang mahal. Wajahnya yang tadi "depresi" kini terlihat segar dan penuh kemenangan. Ia memegang sebuah nampan berisi piring yang hanya menyisakan tulang ayam dan sedikit nasi yang berantakan.

"Aku lapar tadi, tapi rasanya nggak enak. Jadi aku sisain buat kamu," ucap Karin sambil meletakkan nampan itu di lantai, tepat di depan kaki Nara.

"Makanlah, Pelayan Nara. Katanya nggak boleh mubazir, kan? Itu ajaran agamamu, bukan?"

Karin tertawa mengejek, lalu membanting pintu di depan wajah Nara.

Nara menatap makanan sisa itu. Perutnya memang lapar karena ia belum makan sejak pagi, tapi harga dirinya jauh lebih lapar akan keadilan. Ia tidak menyentuh makanan itu. Ia justru duduk di lantai dingin, bersandar pada dinding, dan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang sangat pelan.

Di ujung lorong, di balik bayangan pilar, Danu berdiri memperhatikan. Ia melihat Nara yang duduk di lantai mengenakan baju pelayan, namun anehnya, wanita itu tidak terlihat hina. Di matanya, Nara justru tampak seperti berlian yang meski diletakkan di dalam lumpur, tetap memancarkan cahaya yang berbeda.

Danu merasakan dadanya sesak. Ia ingin membenci wanita itu, ia ingin menghancurkannya demi Karin, tapi setiap kali ia melihat keteguhan Nara, ia justru merasa dialah yang sedang hancur.

"Mengapa kamu tidak menyerah, Nara?" gumam Danu lirih pada kegelapan.

"Mengapa kamu tetap terlihat begitu mulia meski aku sudah merendahkanmu sampai ke titik ini?"

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!