Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Bang Tigor menguatkan diri dan berkata dengan suara hati-hati. Ia tidak berani menyinggung Bima, tapi di sisi lain, Prawira Group juga bukan pihak yang bisa ia remehkan begitu saja. Jika hari ini masalah ini tidak diselesaikan dengan baik, Bang Tigor tahu masa depannya di Jakarta akan tamat.
“Hm? Kesalahpahaman?” Bima meliriknya dengan tatapan datar.
“Menerima uang orang untuk menyingkirkan masalah mereka. Dimas juga sudah mendapat pelajaran. Menurut aturan dunia hitam… kalau sudah seperti ini, sebaiknya kita anggap selesai saja.”
Bang Tigor bahkan tidak berani menatap mata Bima. Ia hanya bisa mencoba mengatakan beberapa hal baik, setidaknya agar nanti jika Prawira Group mencari masalah, ia masih bisa berdalih bahwa Dimas diserang oleh Bima.
“Aturan dunia hitam?” Bima tersenyum tipis. “Di wilayahku, akulah aturannya.”
Tatapan dinginnya membuat Bang Tigor langsung menutup mulut. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun lagi.
“Kalau Prawira Group mencarimu, katakan saja aku yang menyuruh.”
“Baik!” Mata Bang Tigor langsung berbinar dan ia mengangguk cepat.
Setelah memukul Dimas tadi, Bang Tigor jelas tidak bisa menutup-nutupi apa pun. Jika ia masih ingin bertahan hidup di Jakarta, ia hanya bisa berdiri di pihak Bima.
“Sekarang… saatnya aku menyelesaikan urusan pribadi dengan Dimas.” Bima menyipitkan mata dan berjalan perlahan ke arah Dimas yang tergeletak di lantai.
“Kau… kau mau apa!” Dimas berteriak panik. Mulutnya sudah kehilangan hampir semua gigi, sehingga kata-katanya terdengar tidak jelas. “Kalau kau berani menyentuhku, aku tidak akan pernah melepaskanmu!”
“Mau apa aku?” Bima berjongkok di depannya sambil tersenyum. “Bukankah aku sudah memperingatkanmu sejak lama untuk tidak menggunakan cara kotor terhadap Sari? Apa kata-kataku kau anggap angin lalu?”
“A-apa yang kau inginkan? Aku bisa memberimu uang! Berapa pun yang kau mau! Dan… aku janji, mulai sekarang aku tidak akan pernah mengganggu Sari lagi!”
Tatapan Bima membuat hati Dimas gemetar ketakutan.
“Baru sekarang berkata begitu? Sudah terlambat.” Bima terkekeh. “Tenang saja, aku tidak akan memukulmu lagi. Aku dengar kau paling suka bermain dengan wanita, ya? Dan juga suka memberi obat pada mereka. Barang seperti itu pasti selalu kau bawa, bukan?”
Ia menoleh. “Tigor, periksa dia.”
Bang Tigor segera maju dan menggeledah saku Dimas. Sekarang ia sudah benar-benar memutuskan untuk berada di pihak Bima. Dimas menyadari sesuatu dan berjuang mati-matian, tetapi dari sakunya Bang Tigor menemukan sebuah bungkus plastik klip kecil berisi serbuk putih.
Di dalamnya berisi Star scream—obat perangsang mengerikan yang susah payah ia dapatkan dari pasar gelap, terkenal karena efeknya yang sangat brutal.
Bima membuka bungkus obat itu, memeriksanya sebentar, lalu berkata dengan tenang: “Berikan semua padanya.”
“Bima, jangan! Jangan! Asalkan kau melepaskanku, apa pun akan kuberikan! Jangan paksa aku meminum itu!” Dimas ketakutan setengah mati. Ia sering menggunakan obat itu, jadi ia tahu betul efeknya. Jika seluruh paket itu ditelan, tubuhnya mungkin tidak akan sanggup menahannya.
Namun protesnya tidak berarti apa-apa. Bang Tigor memanggil beberapa anak buahnya untuk menahan Dimas, lalu dengan tangannya sendiri menuangkan seluruh isi plastik itu ke dalam mulutnya. Bahkan dengan “baik hati” menuangkan beberapa teguk air mineral agar Dimas tidak tersedak.
Tak lama kemudian, obat itu mulai bereaksi.
“AAARGH!” Kulit Dimas memerah aneh, bahkan muncul bintik-bintik kecil yang membuatnya terlihat mengerikan. Matanya memerah liar, mulutnya mengigau tidak jelas. Ia mulai merobek pakaiannya sendiri.
Ia terus meraung, berguling-guling di lantai, mencakar tubuhnya sendiri. Tak lama kemudian tubuhnya sudah penuh luka dan memar. Bima hanya memandang dengan ekspresi dingin. Namun Bang Tigor dan anak buahnya di sampingnya tidak setenang itu. Mereka merinding dan menelan ludah berkali-kali.
Tatapan mereka kepada Bima kini dipenuhi rasa takut dan hormat. Metode ini… benar-benar bukan metode orang biasa.
Namun bagi Bima, semua ini belum selesai. Ia menoleh ke arah Bianca yang masih terbaring pingsan. “Biarkan gadis ini juga melampiaskan amarahnya. Supaya nanti dia tidak terus mencari masalah denganku.”
Memikirkan itu, ia berjalan mendekati Bianca. Bang Tigor membuka mata lebar-lebar, penasaran apa yang akan dilakukan Bima pada polwan itu.
“Kalau tidak ingin mati, jangan melihat.” Bima menoleh dan tersenyum tipis.
Bang Tigor langsung terkejut dan buru-buru memalingkan wajah. Ia dan anak buahnya menutup mata, tidak berani melihat lagi.
Bima berdiri di depan Bianca dan menatap wajah cantiknya. Ia tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan menarik sedikit kerah kemeja gadis itu. Beberapa kancing langsung terlepas dari atas ke bawah, memperlihatkan bra merah muda di dalamnya.
“Tidak kusangka tubuh gadis ini ternyata sangat bagus. Sepertinya benar-benar alami.” Bima menekan sebentar dengan dua jari, mencoba sensasinya. Kenyal dan padat—jelas asli. Mood-nya pun langsung membaik.
Setelah itu ia melepaskan tali yang mengikat Bianca, menekan ringan titik saraf di lehernya, lalu mundur dua langkah. Tak lama kemudian Bianca mulai sadar.
Ia tampak linglung sejenak. Ketika melihat Dimas meronta di lantai dan Bima di sampingnya, ingatan tentang apa yang baru saja terjadi perlahan kembali. Bima segera berbicara dengan wajah serius.
“Begini. Bajingan Dimas ini membuatmu pingsan dan memberimu obat. Dia berniat menghancurkanmu. Untungnya pada saat kritis aku membujuk mereka.” Ia menunjuk Bang Tigor dan yang lain. “Mereka juga merasa Dimas terlalu kejam, jadi mereka memukulnya dan menyelamatkanmu.”
Bang Tigor langsung mengangguk seperti ayam mematuk nasi. “Benar! Benar sekali! Kami semua tergoda uang sehingga membantu sampah seperti Dimas. Untung Tuan Bima menyadarkan kami. Kami benar-benar menyesal!”
“Memang benar dia tadi berbicara sangat kotor.” Bianca mengangguk dengan wajah dingin. Ia melirik pakaiannya yang sedikit terbuka dan menjadi semakin marah. “Binatang ini… berani-beraninya memikirkan hal seperti itu padaku!”
Ia berjalan mendekati Dimas. Kemudian, dengan wajah dingin, ia mengangkat sepatu hak tingginya—setidaknya delapan sentimeter—lalu menendang keras bagian selangkangan Dimas. Setelah itu, ia memutar tumitnya dengan kejam.
Tendangan legendaris: Bor Racun Naga Sakti!
Jeritan Dimas memekakkan telinga. Tubuhnya langsung melengkung seperti udang sebelum akhirnya pingsan.
Bima dan Bang Tigor tanpa sadar menutup bagian vital mereka sendiri, merasa ngilu melihatnya.
“Sadis banget!” Bima berseru spontan. “Untuk sampah seperti begini, memang harus pakai metode sekejam itu supaya akarnya benar-benar putus.”
Namun di dalam hatinya ia bergumam: gadis ini jauh lebih ganas daripada yang ia bayangkan. Jika suatu hari ia tahu bahwa dirinya sempat "menyentuhnya" tadi… apakah ia juga akan menggunakan teknik yang sama padanya?