Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
...~ Sudut Pandang Dimas ~...
Lampu kristal di aula ballroom hotel bintang lima ini memantulkan cahaya yang terlalu terang bagi mata ku yang sudah terbiasa dengan temaram lampu apartemen nomor 404. Aku berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam slim-fit yang baru saja aku pesan minggu lalu, memegang segelas jus jeruk yang terasa hambar. Di saku jas sebelah dalam, sebuah piagam kecil bertuliskan "Head of Regional Logistics" terasa berat bukan karena fisiknya, tapi karena maknanya.
“Kenaikan pangkat,” Keluh ku sembari menatap kerumunan rekan kerja yang sibuk tertawa basa-basi. “Jabatan yang aku kejar selama lima tahun terakhir. Seharusnya aku merasa di puncak dunia. Tapi yang aku pikirkan hanyalah: apakah uang tunjangannya cukup untuk membeli stok daging rusa premium yang diminta Bibi Sari? Apakah asuransi kesehatan baru ku mencakup biaya persalinan sihir di lereng Merapi?”
Dunia ku sudah bergeser. Prestasi profesional ini terasa seperti aksesori tambahan dalam sebuah drama fantasi yang jauh lebih besar. Namun, malam ini adalah perayaan. Perusahaan merayakan ekspansi besar, dan aku adalah salah satu "pahlawan" yang dipanggil ke atas panggung tadi.
"Selamat, Dimas! Pak CEO tadi benar-benar terkesan dengan presentasi efisiensi mu," suara melengking itu membuyarkan lamunan ku. Shinta. Ia berdiri di sana, mengenakan gaun merah pendek yang aroma parfumnya, masih lily of the valley, membuat ku refleks mundur selangkah.
"Terima kasih, Shinta. Ini kerja keras tim," jawab ku datar, menjaga jarak aman dua meter sesuai janji suci yang aku buat pada Linda tempo hari.
"Oh, ayolah, jangan terlalu formal. Kita kan sudah naik jabatan bersama," Shinta mencoba mendekat, matanya berkilat penuh maksud. "Ngomong-ngomong, mana istri mu? Katanya dia mau datang? Aku penasaran, wanita seperti apa yang bisa membuat 'Si Robot Logistik' ini jadi begitu... tertutup belakangan ini?"
Baru saja aku hendak menjawab, pintu besar aula terbuka. Suasana yang tadinya bising oleh musik jazz ringan dan obrolan kantor mendadak sunyi. Seolah-olah seseorang baru saja menekan tombol mute pada seluruh ruangan.
Aku menoleh, dan jantung ku seolah berhenti berdetak.
Linda berdiri di sana. Dia tidak memakai kebaya desa atau daster longgar yang biasa aku lihat di "sarang bantal". Dia mengenakan gaun malam bodycon berwarna hijau zamrud yang memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Gaun itu sangat ketat, menonjolkan perutnya yang mulai membuncah cantik, sebuah pengumuman bangga akan kehamilannya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, berkilau seperti sutra di bawah lampu, dan matanya... matanya yang hijau menyapu ruangan dengan keangkuhan seorang ratu yang sedang memeriksa wilayah jajahannya.
“Astaga, Linda,” Keluh ku, tenggorokan ku mendadak kering. “Dia benar-benar melakukannya. Dia tampil sebagai predator puncak di tengah kawanan domba kantoran. Dia cantik, dia berbahaya, dan dia membawa aura yang membuat setiap pria di ruangan ini lupa cara bernapas.”
Linda berjalan mendekati ku. Setiap langkahnya penuh ritme, pinggulnya bergerak dengan keanggunan yang tidak manusiawi. Aku bisa mendengar bisikan-bisikan tertahan di sekitar ku.
"Itu istrinya Dimas?"
"Gila, dia sedang hamil tapi auranya... seperti model internasional."
"Siapa dia? Kenapa aku merasa ingin membungkuk padanya?"
Linda sampai di hadapan ku. Dia mengabaikan Shinta sepenuhnya, seolah rekan kerja ku itu hanyalah perabot ruangan yang tidak penting. Dia melingkarkan tangannya di lengan ku, dan aku bisa merasakan ekor-ekornya, yang secara visual tersembunyi oleh sihir atau lipatan gaun yang cerdas, melilit kaki ku di bawah sana.
"Maaf aku terlambat, Sayang," bisik Linda, suaranya yang rendah dan serak mengirimkan getaran ke seluruh saraf ku. "Elkan tadi sedikit rewel, dia tidak suka aku memakai sepatu hak tinggi ini. Tapi aku bilang padanya, ayahnya sedang merayakan kemenangan, jadi kami harus tampil maksimal."
"Kau... kau terlihat luar biasa, Linda," kata ku jujur, mengabaikan fakta bahwa aku merasa harus melindungi setiap jengkal tubuhnya dari tatapan lapar para pria di sana.
Shinta berdehem, wajahnya yang tadinya ceria kini tampak pucat dan kecut. Rasa iri terpancar jelas dari caranya memandang gaun Linda. "Halo, aku Shinta. Rekan kerja Dimas."
Linda menoleh perlahan. Dia menatap Shinta dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang bisa membekukan air terjun. "Aku tahu siapa kau. Bau parfum mu... bisa tercium dari jarak lima blok."
Shinta tersentak. "Maaf?"
"Dimas, ayo kita cari tempat duduk yang lebih privat," Linda memotong pembicaraan, menarik ku menjauh tanpa memberi Shinta kesempatan untuk membela diri. "Aku tidak suka cara wanita itu menatap jas yang baru saja aku setrika."
Kami duduk di meja bundar yang sedikit terpisah. Linda terus menggenggam tangan ku, kukunya sedikit menekan kulit ku, tanda bahwa sifat posesifnya sedang aktif 110%.
“Lihatlah mereka,” Keluh Linda di dalam kepala ku (dia mulai sering melakukan telepati belakangan ini jika sedang malas bicara keras). “Para pria itu menatap ku seolah ingin memangsa ku, dan para wanita itu menatap ku seolah ingin menusuk ku dengan garpu mereka. Mereka tidak tahu bahwa di dalam rahim ini, ada sesuatu yang bisa menghancurkan gedung ini jika aku melepaskan kendali ku.”
"Linda, tenanglah," bisik ku sambil mengusap tangannya. "Ini hanya pesta kantor. Nikmati saja makanannya."
"Makanannya hambar, Dimas. Aku ingin daging yang lebih... segar," Linda mendengus, namun kemudian dia tersenyum saat Pak CEO mendekati meja kami.
"Dimas! Dan ini pasti Nyonya Dimas?" Pak CEO, seorang pria tua yang biasanya sangat tegas, tampak sedikit kikuk di hadapan Linda. "Luar biasa. Anda beruntung memiliki istri secantik ini, Dimas. Dan selamat atas kehamilannya!"
Linda tersenyum manis, senyum palsu yang paling mematikan yang pernah aku lihat. "Terima kasih, Pak. Dimas sering bercerita betapa baiknya Bapak. Dia bilang, Bapak adalah satu-satunya manusia di kantor ini yang punya... integritas."
Pak CEO tertawa bangga, tidak menyadari sindiran halus Linda pada staf kantor lainnya. "Tentu, tentu! Dimas adalah aset berharga kami. Dengan kenaikan pangkat ini, saya harap Dimas bisa lebih berdedikasi."
"Oh, tentu," Linda menyela sambil mengelus perutnya. "Asalkan jam kerjanya tidak mengganggu waktu 'sarang' kami. Anak kami sangat posesif terhadap ayahnya, Bapak tahu sendiri kan bagaimana rasanya?"
Pak CEO mengangguk-angguk canggung lalu pamit undur diri. Aku hanya bisa menghela napas. "Linda, kau baru saja hampir mengancam bos ku."
"Aku tidak mengancam, aku menetapkan batasan," Linda menyesap segelas air mineral dengan anggun. "Lagi pula, kenaikan pangkat ini berarti kau akan lebih sibuk. Aku harus memastikan mereka tahu bahwa kau bukan milik perusahaan sepenuhnya."
Suasana pesta berlanjut, dan Linda tetap menjadi pusat gravitasi. Setiap kali ada rekan kerja pria yang mencoba mendekat untuk sekadar mengucapkan selamat, aura Linda menajam. Dia tidak perlu bicara; hanya dengan satu tatapan matanya yang hijau, para pria itu akan merasa seolah-olah mereka sedang berdiri di depan tebing yang curam. Mereka akan memberikan selamat dengan cepat lalu lari menjauh.
Di sisi lain, para wanita di departemen pemasaran dan keuangan berkumpul di pojok, berbisik-bisik sambil menatap Linda dengan rasa iri yang kental. Mereka membicarakan bagaimana kulit Linda bisa begitu bercahaya tanpa noda, bagaimana rambutnya bisa tampak begitu tebal, dan tentu saja, bagaimana dia bisa tetap memakai gaun seketat itu saat hamil besar.
"Dimas," bisik Linda di telinga ku, napasnya terasa panas. "Aku bosan. Terlalu banyak emosi negatif di ruangan ini. Rasa iri mereka membuat Elkan merasa tidak nyaman. Dia mulai menendang-nendang lagi."
Aku meletakkan tangan ku di perutnya. Benar saja, ada denyutan energi kinetik yang mulai bergetar di balik kain hijau zamrud itu. Gelas air di atas meja kami mulai bergetar pelan.
“Gawat,” pikir ku. “Jika Elkan melepaskan 'Sihir Tendangan Pertama' di sini, lampu kristal itu bisa jatuh menimpa kue tart raksasa di tengah aula. Aku harus segera membawanya keluar.”
"Baiklah, kita pergi sekarang. Aku sudah menunjukkan wajah ku, piagam sudah di tangan," kata ku sambil berdiri.
Kami berjalan keluar dari aula. Aku merasa seperti mengawal seorang permaisuri yang sedang melakukan kunjungan singkat ke pemukiman kumuh. Saat kami melewati Shinta yang masih berdiri dengan wajah cemberut, Linda berhenti sejenak.
"Shinta," panggil Linda lembut.
Shinta menoleh. "Ya?"
"Ganti parfum mu. Bau itu tidak cocok untuk wanita yang ingin naik jabatan. Terlalu... putus asa," kata Linda dengan senyum kemenangan, lalu menarik ku pergi sebelum Shinta sempat bereaksi.
Begitu kami sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil, Linda langsung menghela napas lega. Dia melepas sepatu hak tingginya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ekor-ekornya mendadak muncul, memenuhi kabin mobil dengan bulu-bulu halus yang hangat.
"Ahhh... akhirnya. Aku benci sepatu itu," keluhnya, wajah angkuhnya menghilang, digantikan oleh Linda yang manja yang aku kenal.
"Kau luar biasa tadi, Sayang. Benar-benar menghancurkan moral seluruh kantor," aku tertawa sambil menyalakan mesin mobil.
"Aku hanya ingin mereka tahu posisi mereka, Dimas. Terutama wanita parfum itu. Dia menatap mu seolah kau adalah hidangan penutup di prasmanan," Linda melilitkan salah satu ekornya ke leher ku dengan lembut. "Sekarang, karena kau sudah jadi 'Head of Regional Logistics', apa hadiah untuk istri mu yang sudah bersusah payah memakai gaun ketat ini?"
"Hadiah?" aku tersenyum. "Bagaimana kalau kita pulang, masuk ke sarang bantal, dan aku memesankan mu sate kambing muda paling empuk di Jakarta?"
"Dan kau harus memijat kaki ku selama satu jam," tambahnya.
"Dua jam pun boleh."
“Kenaikan pangkat ini hanyalah awal,” Keluh terakhir ku saat mobil kami meninggalkan hotel mewah itu. “Tanggung jawab ku sekarang berlipat ganda. Menjaga logistik regional adalah mainan anak-anak dibanding menjaga ego dan keselamatan ratu rubah yang sedang hamil ini. Tapi melihat senyum puas di wajahnya malam ini... aku sadar bahwa kesuksesan sejati bukan pada piagam di saku jas ku, tapi pada fakta bahwa aku adalah satu-satunya pria yang diizinkan masuk ke dalam 'sarang' dewi yang baru saja membuat seluruh kantor gemetar.”
Besok, aku akan mulai merencanakan transisi pekerjaan ke luar kota. Aku akan menggunakan jabatan baru ini untuk meminta penempatan di area Jawa Tengah, dekat dengan lereng Merapi. Bibi Sari benar, dunia manusia ini terlalu berisik dan penuh dengan bau parfum yang salah. Keluarga kecil ku butuh ketenangan hutan.
"Dimas?"
"Ya, Linda?"
"Aku mencintai mu. Meskipun jas mu ini baunya masih sedikit tercemar bau kantor."
"Aku juga mencintai mu, Nyonya Head of Logistics."
Kami berkendara membelah malam, meninggalkan gemerlap pesta menuju perlindungan apartemen nomor 404 kami. Hari terus bergulir, dan aku mulai menyadari bahwa setiap langkah baru dalam karier ku, hanyalah sarana untuk memastikan kebahagiaan makhluk-makhluk luar biasa yang kini menjadi napas hidup ku.
100000/10
would recommend
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍