Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema dalam Sunyi
Lantai kayu di sudut sanggar tua itu sudah mulai lapuk, mengeluarkan bunyi derit halus setiap kali ujung jemari kaki Laras menapak dengan presisi. Di ruangan yang hanya diterangi cahaya sore yang menyelinap dari celah ventilasi, Laras Maheswari sedang memahat udara. Tubuhnya meliuk, mengikuti irama gending yang hanya berputar di dalam kepalanya. Baginya, menari bukan sekadar menggerakkan anggota badan; menari adalah caranya bernapas di tengah dunia yang seringkali membuatnya sesak.
Laras adalah definisi dari kelembutan yang tersembunyi di balik ketegaran. Wajahnya oval sempurna dengan kulit kuning langsat yang bersih. Matanya yang teduh selalu tampak menyimpan rahasia, dan rambut hitam panjangnya yang disanggul asal-asalan menyisakan anak rambut yang basah oleh keringat di tengkuknya yang jenjang.
Satu putaran terakhir, selendang merah kusam yang ia lilitkan di pinggang berkibar pelan sebelum akhirnya jatuh lunglai seiring dengan posisi ngaras— kedua telapak tangan menyentuh lantai sebagai tanda penghormatan terakhir pada bumi.
Sunyi.
Laras mengembuskan napas panjang. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Di ruangan ini, ia merasa menjadi ratu. Namun, begitu ia melangkah keluar, ia kembali menjadi Laras yang tak punya siapa-siapa. Seorang yatim piatu yang orang tuanya pergi terlalu cepat, meninggalkannya dengan warisan berupa cinta yang terlampau besar pada seni tari— sebuah cinta yang sayangnya tidak bisa membayar tagihan listrik.
"Ras! Masih di sini kamu?"
Sebuah suara cempreng memecah kesunyian. Di ambang pintu, berdirilah Maya, sahabat sekaligus satu-satunya "keluarga" yang Laras miliki. Maya membawa dua kantong plastik berisi nasi bungkus dan botol air mineral.
Laras tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat orang di sekitarnya merasa tenang. "Sebentar lagi, May. Tanggung, gerakannya belum luwes di bagian transisi tadi."
Maya mendengus, masuk ke dalam sanggar sambil melepas alas kakinya. "Kamu itu lulusan S1 Seni Tari terbaik, Ras. Tapi kadang aku mikir, kamu ini terlalu idealis. Badanmu sudah kurus begitu, masih saja dipaksa latihan berjam-jam tanpa bayaran."
Laras terkekeh kecil sambil melepas selendangnya. "Seni itu nggak selalu soal bayaran, May."
"Iya, tapi perut kita nggak bisa makan seni, Sayangku," balas Maya telak. "Ayo pulang. Kosan kita sudah menanti, dan aku yakin Ibu Kos bakal nagih uang keamanan besok pagi."
*
Kamar kos mereka terletak di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta. Ukurannya hanya 3 kali 4 meter. Di dalamnya, dua tempat tidur single diletakkan berdampingan, menyisakan ruang sempit di tengah yang mereka gunakan untuk segala hal: makan, menyetrika, hingga tempat Laras meregangkan otot-ototnya sebelum tidur.
Dinding kamar itu dipenuhi dengan foto-foto Laras saat pentas di kampus dulu, serta beberapa sketsa gerakan tari yang ia buat sendiri. Di sudut ruangan, terdapat sebuah cermin besar retak di pojoknya— benda paling berharga milik Laras karena di sanalah ia mengoreksi setiap gerakannya.
Laras duduk di lantai, membuka nasi bungkusnya dengan rapi. "Tadi ada panggilan masuk, May?"
Maya yang sedang mengunyah kerupuk mengangguk cepat. "Ada. Tapi... yah, kamu tahu sendiri. Penari latar untuk video klip penyanyi dangdut baru. Bayarannya lumayan, tapi kostumnya..."
Laras terdiam. Ia tahu arah pembicaraan Maya. Seringkali, tawaran yang datang meminta Laras menari dengan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh secara berlebihan, bukan menonjolkan estetika geraknya. Sebagai penari tradisional kontemporer, Laras selalu berusaha menjaga martabat tariannya. Namun, kenyataan di negara ini seringkali pahit; seni tari sering dianggap hanya sebagai penghias, atau lebih buruk lagi, sekadar pemuas mata pria.
"Aku tolak ya?" tanya Maya ragu.
Laras menatap nasi di depannya. Pikirannya melayang pada tumpukan tagihan dan kebutuhan mereka berdua. "Ambil saja, May. Tapi bilang, aku yang desain modifikasi kostumnya. Aku nggak mau terlalu terbuka."
Maya menghela napas, menatap sahabatnya dengan iba. Ia tahu betapa hancurnya hati Laras setiap kali harus mengkompromikan idealismenya demi sesuap nasi. Laras adalah perempuan yang tulus. Ia tidak pernah mengeluh meski harus memakai sepatu yang sudah dijahit berkali-kali. Baginya, asalkan ia bisa menari, ia akan bertahan.
"Kenapa ya, Ras? Padahal kamu itu cantik sekali. Kalau kamu mau jadi model atau main sinetron, aku yakin kamu langsung laku," ujar Maya jujur. Kecantikan Laras memang bukan kecantikan yang mencolok atau provokatif, melainkan kecantikan yang "mahal"—seperti lukisan klasik yang semakin lama dipandang semakin indah.
"Aku cuma mau dikenal sebagai penari, May. Itu saja," jawab Laras pelan namun tegas. Dia tersenyum lebar. Pendiriannya sekeras batu karang di tengah samudera, meski ombak kemiskinan terus menghantamnya.
***
Malam itu, hujan turun deras mengguyur Jakarta. Laras duduk di tepi tempat tidur, mengoleskan balsem pada pergelangan kakinya yang bengkak sambil memijatnya pelan. Menari kontemporer yang menggabungkan kekuatan balet dan keluwesan tradisi seringkali menyiksa fisiknya.
Tiba - tiba ponsel Maya berdering. Maya, yang bekerja serabutan sebagai penghubung bakat (talent scout) kecil-kecilan, segera mengangkatnya. Wajah Maya yang tadinya mengantuk tiba-tiba berubah tegang, lalu berangsur-angsur cerah.
"Hah? Serius? Malam ini juga? Tapi ini sudah jam sepuluh!" seru Maya.
Laras menoleh, firasatnya mulai tidak enak.
Setelah menutup telepon, Maya menatap Laras dengan mata berbinar sekaligus cemas. "Ras... ini tawaran besar. Sangat besar. Tapi lokasinya..."
"Dimana?"
"The Eagle. Club paling elit di Jakarta pusat. Mereka butuh penari opening untuk acara privat malam ini karena penari utama mereka mendadak kecelakaan. Bayarannya..." Maya menyebutkan sebuah angka yang setara dengan tiga bulan uang kos mereka.
Laras tertegun. The Eagle. Semua orang tahu tempat itu. Tempat para penguasa, pengusaha, dan orang-orang dengan kekuasaan tak terbatas berkumpul. Tempat yang gelap, mahal, dan berbahaya bagi wanita sepertinya.
"May, aku bukan penari club," tolak Laras halus.
"Aku tahu, Ras! Tapi mereka mintanya tari tradisional kontemporer. Mereka mau sesuatu yang 'berkelas' dan 'berbeda' untuk tamu VIP mereka malam ini. Kamu nggak perlu pakai baju seksi yang aneh-aneh. Kamu pakai kostummu sendiri, riasanmu sendiri, tarianmu sendiri. Cuma sepuluh menit, Ras. Sepuluh menit dan kita bisa bayar kos untuk setengah tahun ke depan!"
Laras menatap cermin retaknya. Di sana, ia melihat bayangan seorang perempuan yang cantik namun lelah. Lelah bersembunyi dari kenyataan bahwa perutnya butuh diisi. Lelah melihat Maya harus bekerja keras hingga larut malam demi membantunya.
Ketulusan Laras pada profesinya diuji. Apakah ia akan membiarkan tariannya masuk ke tempat "kotor" seperti club malam? Namun, bukankah tariannya suci? Jika ia menari dengan hati yang tulus, bukankah tempat itu tidak akan mengubah siapa dirinya?
"Oke," bisik Laras akhirnya. "Aku ambil."
Maya sumringah.
"Ayo cepat siap - siap. Aku bantu memasukkan baju - bajumu ya"