Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Malam hari ini lebih terang dari gulita yang sebelumnya. Seperti biasa, Xiao Han duduk di meja belajarnya, buku catatan terbuka dan tangannya menulis.
...Chen Lili — Kelas 8...
...Bakat: analisis taktik, akurasi umpan, pembacaan taktik....
...Masalah: trauma sosial karena gender. Tidak ada tim putri. Pernah ditertawakan....
...Pendekatan: Wei Ying sebagai jembatan. Jangan paksa. Beri ruang. Biarkan dia melihat bahwa tim ini menerima siapa saja....
Dirinya memutar pulpen di ujung jari, memikirkan sesuatu. Chen Lili bukan tipe yang akan datang hanya karena diundang, sama seperti Jiang Tao. Dia butuh alasan. Butuh bukti bahwa tempat ini aman.
Mungkin latihan taktik, pikir Xiao Han. Kita belum pernah latihan formasi serius. Aku bisa meminta bantuannya menggambar papan taktik. Itu akan membuatnya merasa berguna.
Beep ... Beep ... Beep ...
Ponselnya bergetar.
Akhir-akhir ini Wei Ying lebih sering mengirim pesan.
| Kak Han, Chen Lili tadi tersenyum! Aku lihat! |
Xiao Han tertawa kecil.
| Jangan terlalu heboh. Nanti dia malu |
Balasannya juga cepat.
| Iya iya. Tapi besok dia pasti datang lagi. Aku yakin |
Xiao Han tidak membalas pesan terakhir Wei Ying. Tangannya juga menutup buku catatan, lalu mematikan lampu kamarnya. Di luar jendela, langit malam begitu cerah. Tak ada hujan maupun awan yang berkabung. Bintang-gemintang kemerlip samar di balik polusi cahaya kota Hangzhou.
Besok, pikir Xiao Han. Besok Chen Lili mungkin datang lagi. Jiang Tao mungkin tidak. Tapi itu tidak apa-apa. Progress tidak selalu tentang angka.
Dirinya ingat kata Shen Yuexi. Itu namanya progress, Han.
Ya. Progress. Kata yang bagus.
Namun, di dalam kamar yang digelapkan. Xiao Han justru membuka sistem.
Memasuki inventaris, dan melihat statistik Chen Lili saat bertatap muka dengannya.
Ding.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Nama: Chen Lili...
...Kelas: 8...
...Posisi: CM / CDM (Potensi)...
...Rating: A-...
...Speed: 65...
...Shooting: 55...
...Dribbling: 70...
...Stamina: 60...
...Teamwork: 85...
...Talent: Akurasi Umpan, Visi Permainan, Pembacaan Taktik...
...Potential: A...
...Growth Rate: E...
...Catatan Sistem: Bakat besar yang tidak pernah berkembang karena kurangnya lingkungan pendukung. Perlu stimulasi taktik dan kepercayaan diri....
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
Layar biru keemasan muncul.
“Cukup berbakat, untuk seukuran gadis kecil.”
Growth Rate E. Xiao Han menatap angka itu lama. Potensi A, tapi Growth Rate E. Artinya, bakatnya luar biasa, tapi tanpa lingkungan yang tepat, ia tidak akan pernah berkembang.
Dirinya menutup sistem.
Tidak seperti Wei Ying yang Growth Rate B, pikir Xiao Han. Wei Ying akan tumbuh di mana pun. Tapi Chen Lili butuh tempat yang aman. Butuh alasan untuk percaya bahwa usahanya tidak sia-sia.
Anggota ekstrakurikuler saat ini hanya berisi, 6 yang lama, ditambah 2 teman sekelas Wei Ying, dan jika Chen Lili resmi akan bertambah 1. Jiang Tao? Entahlah, dia belum menentukan.
Ahh iya, batin Xiao Han. Zhao Peng juga.
Tapi malam ini, Xiao Han tidak terlalu memikirkan angka. Dia memikirkan Chen Lili yang tersenyum di bangku panjang lapuk lapangan beton itu, Wei Ying yang tanpa diminta menjadi temannya, dan Jiang Tao yang mungkin sedang membolos di suatu tempat, sendirian dengan bola kempisnya.
Progress, pikirnya. Itu namanya progress.
Terutama Chen Lili.
Bagaimana dengan laga uji coba? Aturan pendanaan pertandingan dilakukan oleh manajer? Bukankah ini bagus untuk akreditas ekstrakurikuler
“Chen Lili ... kah?” kata Xiao Han. “Untuk saat ini, aku hanya bisa mendukungnya sebagai manajer tim kami.” Dirinya mengerjap beberapa kali. “Dan jika nanti saatnya tiba, aku akan bilang, carilah sekolah yang punya tim putrinya.” Tanpa disadari, dia terlelap sendiri.