Aruna anak keturunan Atmadja juga brata kini menjalani masa remaja nya dengan penuh warna. pertemuan nya dengan seorang pria dewasa mampu membuat pria itu langsung jatuh cinta pada aruna si gadis kecil dan imut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK의 할루 아내, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nonton bioskop
"sorry....boleh kenalan.?" seorang pria datang mendekati aruna yang sedang duduk menunggu yudistira yang sedang mencetak tiket nonton mereka
"hah.." aruna terdiam saat ada yang menyapanya
"boleh kenalan..,?" ucapnya lagi kali ini sambil menyodorkan tangannya juga menyugarkan rambutnya dengan tangan satunya lagi dengan rasa penuh percaya diri
"ow... " jawaban singkat aruna, karena baru kali ini aruna di datangi seorang pria untuk berkenalan, membuat si pria terdiam karena tanggapan dingin dari aruna yang sama sekali tak terpengaruh dengan wajah nya
Sebelum-sebelum nya aruna memang tak pernah pergi sendirian, minimal bersama sang kakak atau bersama saudara nya yang lain, jadi kejadian seperti ini pun tak pernah ia temui selama 17 tahun ia hidup
"gw Rafi, nama loe siapa..?" tanyanya saat tangan aruna menempel sedikit ujung jarinya untuk berkenalan dengannya walau niat aruna hanya tak ingin terlalu membuat malu si pria
"Aruna..." jawab aruna singkat tanpa penuh minat sambil mencari sosok pria yang datang bersamanya
"sendirian?" tanya pria bernama rafi. Ia sangat berusaha mengajak aruna mengobrol, apalagi saat ini penampilan aruna sangat menawan padahal hanya mengenakan pakaian sederhana dengan harga W.O.W
"engga berduaan.." singkat aruna lagi dan matanya menangkap sosok yudistira yang berjalan ke arahnya
"ow... Sama siapa..?" kini matanya melihat sekeliling seolah tau siapa yang sedang ia cari
"sayang udah selesai..?" tanya aruna dengan suara agak keras dan dengan mata berbinar dan juga kelegaan saat melihat yudistira
Deg....
Panggilan tak terduga keluar dari mulut aruna, membuatnya memegang jantungnya agar tidak bertingkah berlebihan
"sudah..." yudistira mengangkat 2 tiket di tangannya sedang tangan 1 nya memegang 2 minuman dan popcorn yang di susun agar bisa ia bawa bersamaan, ia pun juga sudah mengatur jantungnya agar tetap aman
"ow.. loe sama kakak loe..?" ujar rafi tak tau malu saat melihat yudistira datang. Padahal aruna memanggil yudis dengan panggilan sayang namun tak ia hiraukan karena Ia agak minder saat melihat badan yudistira yang bidang tipe cowo gym
"siapa bilang dia kakak gw... Dia ini pacar gw tau... Udah sana loe pergi, makasih karena sudah mengganggu waktu gw tadi" sinis aruna sambil mengapitkan tangannya di lengan yudistira, membuat yudistira terdiam mencoba mencerna dan memahami situasi
"ada apa ini sayang" tanya yudistira saat sudah sedikit tau situasi apa yang sedang terjadi, ia pun malah balik memanfaatkan situasi
"dia ngajak kenalan, pas aru nunggu tadi..." suara manja aruna sedikit menggelitik telinga yudistira namun ia sangat menyukai sikap aruna yang seperti ini
"ow..." suara tertahan yudistira serta tatapan tajamnya membuat Rafi sedikit ciut dan memutuskan untuk segera pergi dari sana
"eh.. Eng.. Engga koq, tadi cuma iseng nemenin soalnya saya juga nunggu temen... Ya udah gw cabut ya bang..." pamit rafi dan langsung ambil langkah seribu
"ya udah yuk kita masuk sayang, studio nya udah di buka tuh" ujar yudistira membuat wajah aruna memerah
"kakak apa-apa'an sih.. Aruna kan cuma bercanda" bisik aruna dan yudistira malah tertawa sambil berjalan
"hahahaha... Iya...iya kakak tau koq..." jawab yudistira "sering-sering aja kamu dapet kejadian kaya gini biar kamu semakin butuh aku dan sadar rasa suka ini cuma buat kamu'" batin yudistira senang
.
"eit... Tunggu sebentar" kakek tino menghentikan langkah yudistira yang baru saja masuk kedalamn rumah sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya hasil buruan aruna untuknya tadi
"ada apa kek" tanya yudistira bingung melihat sikap dan tatapan aneh sang kakek
"kamu dari mana..?" tanya kakek tino akhirnya sambil melihat penampilan sang cucu dari atas hingga ke bawah
"jalan-jalan, santai sebentar kek..." ucap yudistira
"pakai pakaian seperti ini..?" tangan kakek mengayun di depan badan sang cucu dari badan sampai kaki, masih merasa aneh dengan penampilan sang cucu yang kesehariannya tak lepas dari Jas juga kemeja
"sekali-kali yudis juga mau nikmatin hari santai yudis kek..." bela yudistira
"sama siapa..?" tanya kakek menyelidik
"aruna... Cewe yang nolong yudis" jawab yudistira jujur
"ow.... Hebat juga dia bisa bikin pria kaku kaya kamu jadi santai seperti ini, tapi jujur kakek suka sama gaya kamu yang seperti ini, tidak monoton seperti biasanya. Hahaha" ujar kakek senang melihat cucu kesayangannya
"do'a'in yang terbaik ya kek..." ucap yudistira mengambang sambil berlalu pergi dari hadapan kakek nya
"anak itu, ternyata ada juga gadis yang dia suka, semoga kebahagian akan datang dalam hidup kamu yudis " guman kakek sedih sambil menatap punggung cucu nya yang menjauh
"pa.. Tadi itu yudis..?" tanya pria paruh baya pada kakek tino
"iya" jawabnya singkat dan langsung duduk di sofa favoritnya
"tumben pakai pakaian santai, biasanya walau di rumah dia juga ngga sesantai itu, minimal pake celana bahan" ucapnya lagi
"kamu itu sebagai ayahnya masa ngga tau kalo anak kamu lagi jatuh cinta" kesal kakek tino pada anaknya
"hah... Emang yudis bisa suka sama cewe..? Apa pacarnya laki-laki" tebaknya asal dan langsung mendapat pukulan dari kakek tino menggunakan tongkat nya
"punya mulut ngga di jaga, kamu pikir cucu ku punya kelainan? Mangkanya ajak komunikasi biar ngga telat dapet kabarnya... Pokoknya kamu jangan pernah ganggu calon cucu menantu papa, dan jangan lagi mau menerima tawaran dari siapapun yang ingin menjodohkan anaknya dengan yudistira. INGAT ITU"
"iya pa... Kemarin-kemarin radit hanya mau bantu buat kenalin perempuan buat yudis aja. Emang papa udah tau siapa pacarnya yudis..? Udah pernah ketemu..,?" tanyanya penasaran
"huh... Papa ngga akan kasih tau kamu... Kalau mau tau sana tanya sendiri" pancing kakek tino
"papa tau sendiri sikap yudis sama radit gimana, belum mulai ngomong yudis udah ambil langkah seribu buat kabur" keluh ayah radit sambil menundukkan kepalanya sedih mengingat beberapa tahun belakangan ini
"hah... Kamu dan nadia coba dekati yudis pelan-pelan, kamu mau keluarga kamu seperti ini terus..? Walau ngga bicara papa tau kalau felix sebenarnya ingin sekali dekat dengan yudis tapi melihat sikap yudis pada kalian dia jadi mundur" ucap kakek tino
"radit tau itu pa. Nanti radit bilang sama nadia supaya kita bisa dekati yudis pelan-pelan"
"papa sangat menantikan itu, papa ngga pernah benci felix, hanya saja kalau ke adaan tetap seperti ini kamu pasti tau bagaimana sikap papa pada kedua anak kamu"
Radit mengangguk sambil bersandar dan menatap langit-langit rumah sang papa yang kini sudah jarang ia datangi karena masalah dengan sang anak sulungnya