"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Malam Kelulusan dan Insiden
[POV: Vaya]
Dentuman musik EDM memenuhi aula hotel tempat pesta kelulusan angkatan kami digelar. Lampu warna-warni berputar liar, membuat kepalaku yang sudah terasa berat menjadi makin berdenyut. Di tanganku, sebuah gelas plastik berisi cairan kuning keemasan yang berbusa tampak sangat menggoda.
"Ayo, Vaya! Masa di malam terakhir kita sekolah lo mau jadi anak baik terus?" seru Salsa, sahabatku, sambil menyenggol lenganku.
Aku menatap gelas itu ragu. "Tapi Sal, aku nggak pernah minum bir. Nanti kalau aku mabuk gimana?"
"Cuma dikit, Vaya! Lagian si Menara Pengawas itu lagi nggak ada di sini, kan? Dia tadi gue liat lagi dikerubungin anak-anak basket di pojokan sana," Salsa tertawa, menunjuk ke arah kerumunan di ujung ruangan.
Aku melirik ke arah yang ditunjuk Salsa. Benar saja, Narev berdiri di sana, menjulang tinggi seperti biasanya, tampak bosan meski dikelilingi banyak orang. Dia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka—tampilan yang jarang sekali kulihat.
Sekali ini saja, aku mau bebas dari pengawasannya, batinku nekad.
Aku meneguk isi gelas itu. Rasanya pahit dan aneh di tenggorokan, tapi efeknya instan. Hanya dalam hitungan menit, lantai di bawah kakiku terasa seperti jelly.
"Sal... kok lampunya jadi ada lima?" gumamku sambil tertawa kecil. Pandanganku mengabur, dan aku merasa tubuhku sangat ringan.
Tiba-tiba, suasana di sekitarku mendingin. Sebuah tangan besar merampas gelas dari tanganku dan membantingnya ke meja terdekat.
"Apa yang kau lakukan, Anvaya?!"
Suara berat yang menggelegar itu membuatku tersentak. Aku mendongak, mencoba memfokuskan mataku. Di depanku, Narev berdiri dengan wajah merah padam karena marah. Matanya berkilat tajam, lebih menakutkan dari biasanya.
"Eh... Raksasa... kamu kok... punya dua kepala?" aku malah terkikik, mencoba menyentuh pipinya yang terasa panas.
"Kau mabuk, bodoh!" Narev menggeram. Dia menoleh ke arah Salsa dengan tatapan yang bisa membunuh. "Siapa yang memberinya minum?!"
Salsa langsung menciut. "Tadi... cuma satu gelas, Rev..."
"Satu gelas untuk ukuran tubuh sekecil dia itu sudah cukup buat bikin dia pingsan!" Narev menyambar tas kecilku, lalu tanpa aba-aba, dia merengkuh pinggangku dan mengangkat tubuhku ke atas bahunya seperti karung beras.
"Narev! Turunin! Aku mau joget!" aku memukul-mukul punggungnya yang lebar, tapi dia sama sekali tidak bergeming.
"Diam atau aku benar-benar akan meninggalkanmu di pinggir jalan!" ancamnya sambil melangkah lebar keluar dari aula, mengabaikan tatapan semua orang.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, aku terus meracau. Aku menyanyi lagu-lagu tidak jelas sambil sesekali memaki Narev karena tinggi badannya yang menyebalkan. Narev tidak membalas, dia hanya mencengkeram kemudi dengan erat, rahangnya terkatup rapat.
Sampai di depan rumahku, dia kembali menggendongku. Kali ini bukan di bahu, tapi dalam posisi bridal style. Kepalaku bersandar di dadanya yang bidang. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat.
"Narev... kenapa jantung kamu berisik banget?" gumamku lirih, mulai merasa mengantuk.
Narev tidak menjawab sampai kami masuk ke dalam kamarku. Suasana kamar yang remang hanya diterangi lampu jalan dari balik jendela. Dia berjalan menuju tempat tidur dengan langkah berat.
"Kau selalu saja menyusahkanku, Anvaya," bisiknya pelan. Suaranya tidak lagi marah, melainkan terdengar penuh... kelelahan? Atau mungkin sesuatu yang lain.
Narev hendak meletakkanku di tempat tidur, tapi kakinya yang panjang tidak sengaja menginjak boneka beruang besar yang tergeletak di lantai.
"Sial—!"
Narev kehilangan keseimbangan. Karena dia masih memelukku erat, tubuh besarnya ikut jatuh menimpaku di atas kasur. Wajah kami hanya berjarak satu inci. Aku bisa merasakan napasnya yang beraroma mint mengenai bibirku.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Tatapan Narev melunak, dia menatap bibirku dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tangannya yang besar masih mengunci tubuhku.
"Vaya... seandainya kau tahu..." gumamnya parau.
Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menjalar dari tempat jantung kami bertemu. Udara di dalam kamar terasa mendesing. Cahaya putih menyilaukan muncul dari celah-celah udara, menyelimuti kami berdua.
"Narev! Ada apa ini?!" teriakku ketakutan, rasa mabukku hilang seketika digantikan kepanikan.
"Pegang tanganku, Vaya! Jangan lepas!" Narev memelukku semakin erat, menyembunyikan wajahku di dadanya.
Duniaku terasa berputar hebat, seperti ditarik ke dalam lubang hitam yang tak berujung. Rasa mual menghantamku, dan perlahan-lahan kesadaranku mulai meredup, meninggalkan kegelapan total.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa