Yu-nian adalah putri dari seorang bangsawan di kerajaan Tangyu, suatu ketika dia terpaksa mengantikan kakaknya yang kabur untuk menikah dengan seorang menteri yang sangat berkuasa. Berbeda usia membuat Yu-nian selalu berbeda pemikiran. dengan sang menteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin hadiah.
Beberapa hari kemudian.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa dua minggu sudah berlalu, Yu-nian tinggal di kediaman jenderal seperti seorang ratu, Ia diperlakukan begitu luar biasa, dengan semua fasilitas yang dia dapatkan. Sayangnya apa yang ada di pikirannya masih tetap sama, dia harus segera kabur dari tempat itu.
Pagi itu seorang wanita menatap Yu-nian dengan tatapan mata yang begitu tidak suka, dia terus mencibirnya karena dia begitu beruntung mendapatkan jenderal Feng. Apalagi pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, kamu baru bertemu jenderal Feng tapi sudah mendapatkan semuanya. Aku mencintainya selama ini namun sulit sekali mendapatkannya." beribu ketidaksukaan salah satu pembantu yang ternyata menyukai Feng Shiyan dari dulu.
Pakaian berharga mahal dengan beberapa aksesoris dan peralatan kecantikan. Yu-nian memandang itu semua dengan perasaan yang begitu kesal luar biasa. Bukan ini yang dia inginkan, dia hanya ingin bebas.
"Apa yang sedang nyonya lakukan?" tanya pelayan wanita bernama Yanyi yang baru masuk ke kamar Yu-nian . Dia menatap Nyonya besarnya dengan tatapan mata yang begitu tidak suka, di sana ada perhiasan dengan beberapa aksesoris seperti kalung, cincin, gelang dan lain sebagainya. ditambah lagi sepatu yang sudah berjajar di sana. Tanpa meminta Yu-nian langsung mendapatkan itu semuanya.
"Kok kamu yang datang, Yanyi? di mana Kak Naer?" tanya Yu-nian saat melihat Yanyi yang masuk ke kamarnya.
"Naer sedang keluar untuk memberi beberapa keperluan." jawabnya.
Yanyi terus memandang Yu-nian dari atas kepala sampai ujung kaki, hatinya begitu kesal, dia benar-benar tidak menyukai wanita yang di nikahi oleh majikannya.
"Oh.. jadi dia sedang keluar ya, dia membeli apa?" tanya Yu-nian.
"Dia sedang membeli beberapa keperluan dapur, Nyonya. Karena Naer adalah orang kepercayaan di rumah ini, jadi dia yang mengurus bagian dapur. kepala rumah tangga memintanya untuk memeriksa apa saja yang habis di dapur." jawabnya. Dalam menjawab Yanyi mungkin terlihat begitu santai, namun dalam hatinya benar-benar ingin menyingkirkan wanita yang ada di depannya.
"Enak banget mereka keluar dengan sangat mudahnya, lah.. aku mau keluar aja ditahan. apalagi si Fu Tian itu, dia diperintahkan untuk membuntuti aku kemana saja. Dia kira aku ini anak kecil apa terus dibuntuti. Ih jadi kesel banget." beribu kekesalan terus dikeluarkan oleh Yu-nian. Dia sangat kesal karena Fu Tian diperintahkan untuk selalu mengikutinya ke mana saja.
"Seharusnya Anda sangat senang, nyonya. karena tuan besar sangat mencintai nyonya, andaikata tuan besar hanya bermain-main dengan nyonya.. pastinya nyonya tidak akan mendapatkan semua ini." kata Yanyi yang kemudian menata barang yang berserakan di tempat Yu-nian.
Beberapa kata yang dikeluarkan oleh Yanyi membuat Yu-nian sedikit penasaran dengan apa yang dia maksudkan. Kata-katanya penuh penekanan, penuh sindiran bahkan bisa dibilang ada rasa iri yang sangat besar.
"Ya mungkin saja, Tuan besar mu itu kan bucin banget. Bahkan dia tidak membiarkan aku keluar sama sekali, dia memaksaku menikah dengannya secara tiba-tiba bahkan dia mengurungku seperti burung di dalam sangkar emas." Yu-nian yang malah memanas-manasi Yanyi.
"Lalu, Kenapa anda tidak bersyukur sama sekali, nyonya. Seharusnya Anda bersyukur karena tuan mencintai nyonya, coba tuan tidak mencintai nyonya, ya mungkin tuan akan menjadikan nyonya hanya sebagai barang pajangan saja." jawab Yanyi.
"Ini perempuan menjengkelkan banget, dia mengatakan hal itu di depan wajahku. sepertinya wanita ini mempunyai perasaan kepada suamiku, aku mau lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya. dari kata-kata dan tatapan matanya raja iri sudah menguasai dirinya." gumam Yu-nian dalam hati.
Di sudut lain Feng Shiyan menatap Yu-nian yang sedang berbicara dengan salah satu pelayan kediamannya, pria itu nampak tersenyum, ketika dia keluar dengan semua amarah di hatinya namun ketika dia kembali ke kediamannya semua amarah itu seolah meluap, menghilang seperti tertiup angin.
"Kamu sudah bangun?" Feng Shiyan mendekati Yu-nian.
Suara yang begitu berat itu membuat Yu-nian menoleh, dia menatap Feng Shiyan sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Dia tidak masuk terlebih dahulu karena pria itu masih mempunyai tata krama walaupun Yu-nian adalah istrinya.
"Kamu kira aku ini wanita pemalas? tentu saja aku ini adalah gadis yang tahu waktu, jelas nanti aku di cerca sudah siang kok belum bangun." jawab Yu-nian yang kemudian berdiri.
"Hari ini aku akan mengajakmu berjalan jalan, setelah itu aku akan membawamu ke istana." Feng Shiyan mendekati Yu-nian sembari memberikan sesuatu yang dia inginkan beberapa hari ini.
"Benarkah?" tanya Yu-nian dengan penuh semangat.
Sebuah cincin dikeluarkan dari baju Feng Shiyan, dia membuka kotak itu. Cincin yang tidak terlalu mewah namun terlihat begitu mewah.
"Maaf karena aku baru memberimu cincin pernikahan, aku ingin kamu memakainya." ucap Feng Shiyan yang kemudian memakaikan cincin di jari Yu-nian.
"Wow..., ini pasti cincin berharga mahal." dua bola mata Yu-nian membulat sempurna ketika jarinya sudah melingkar cincin berlian.
"Walaupun cincin ini tidak terlalu mewah tapi aku yakin kamu suka dengan cincin ini." Feng Shiyan terus menggenggam tangan istrinya.
"Ya tentu saja suka cincin ini, Kalau dijual pasti harganya mahal." guman Yu-nian dalam hati yang terus melihat cincin yang ada di jarinya. dua bola matanya langsung bersinar seperti matahari yang terbit di siang hari.
Yanyi menatap Yu-nian yang terlihat begitu bahagia, Siapa yang tidak akan bahagia mendapatkan cincin yang berharga, rasa iri cemburu dan sakit hati menggerogoti hati Yanyi dia bersumpah serapah dalam hati dengan semua iri dengkinya.
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkan semua yang kamu dapatkan hari ini. Aku akan membuat jenderal Feng jatuh ke pelukanku." dalam hati Yanyi terus mencerca, mengumpat bahkan dia bersumpah untuk mendapatkan Feng Shiyan. Rasa iri bahkan sakit hati itu telat begitu luar biasa.
"Apa kamu mau ikut denganku?" tanya Feng Shiyan sembari mengulurkan tangannya.
Mendapat cincin giok dan gelang giok mahal itu membuat Yu-nian sedikit lupa keinginannya untuk kabur. "Oh ya, boleh tidak aku meminta sesuatu padamu?" dengan penuh harap Yu-nian ingin meminta sesuatu. Dengan penuh harap pula dia ingin suaminya mengabulkan permintaannya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Feng Shiyan.
"Sebenarnya aku ingin pulang, aku ingin pulang untuk mengambil sesuatu." jawab Yu-nian dengan penuh harap. Kedua bola matanya menatap Feng Shiyan dengan penuh harap.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarkan mu terlebih dahulu sebelum ke istana." jawab Feng Shiyan.
Mendengar jawaban dari suaminya membuat Yu-nian tersenyum begitu bahagia, dia langsung memeluk Feng Shiyan yang membuat pria itu sedikit terkejut.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat." salah satu tangan Yu-nian menarik tangan Feng Shiyan. Betapa bahagianya Yu-nian mendapatkan kebebasan hari ini, entah apa yang ada di pikiran gadis itu, mungkin dia ingin mengambil sesuatu yang berharga.
"Hemm..," senyum Feng Shiyan.
"Akhirnya..," senyum bahagia Yu-nian saat dia bisa keluar dari kediaman jenderal.
Ketika sampai di rumahnya Yu-nian meminta suaminya untuk menunggu di kereta kuda, dia keluar dari kereta kuda, berjalan menuju pintu rumah kediamannya. Pintu di buka dengan kasar, Yu-nian langsung masuk ke rumahnya. Dia berlari sangat kencang ketika dia sudah masuk ke rumahnya.
"Yu-nian!" seru salah satu pembantu yang ada di kediaman keluarga Mao.
"Bibi!" seru Yu-nian yang kemudian memeluk pembantu tua yang melihatnya. "Bibi..., aku sangat merindukanmu!!" raut wajah bahagia di tunjukkan oleh Yu-nian saat menemui wanita tua itu.
***Bersambung**