NovelToon NovelToon
"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.

Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.

Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : Usulan Pembatalan yang Tidak Bisa

Setelah selesai berbicara dengan Siti di depan gerbang stasiun, Rania merasakan bahwa tubuhnya semakin lelah akibat perjalanan panjang dan pertemuan yang melelahkan. Namun, ketika mereka berjalan menuju area parkir untuk mencari taksi lain pulang, sebuah suara yang tidak terduga terdengar dari belakang mereka.

“Bu Rania! Tunggu sebentar!”

Rania berbalik dan melihat seorang pria muda dengan jas biru muda berlari menghampiri mereka—dia mengenal wajahnya dari rapat tadi siang. Pria tersebut adalah Bima Wijaya, anggota tim dari Inovasi Nusantara yang juga hadir dalam rapat pagi itu.

“Permisi, Bu,” ucap Bima dengan napas terengah-engah. “Saya baru saja mendapat panggilan dari kantor—ada informasi penting tentang proyek yang mungkin perlu kita bahas segera.”

Rania melihat ke arah Siti yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda lelah. “Kita bisa berbincang sebentar di sini saja ya, Pak Bima. Kita harus segera pulang ke Medan malam ini juga karena ada banyak hal yang harus disiapkan sebelum kunjungan mereka minggu depan.”

“Baiklah, Bu,” jawab Bima dengan senyum. “Saya hanya ingin mengatakan bahwa setelah melihat presentasi Anda tadi, tim kami merasa sangat terkesan dengan pemahaman Anda tentang kondisi UMKM lokal. Khususnya tentang bagaimana kita bisa menyelaraskan teknologi dengan kebutuhan mereka tanpa harus mengubah esensi dari usaha mereka.”

Rania merasa sedikit lega mendengar hal itu. “Terima kasih banyak. Kita selalu berusaha untuk menjaga karakteristik setiap usaha karena itu adalah nilai utama yang membuat mereka berbeda.”

Sementara itu, suara suara dari sekitar mulai memudar dan digantikan oleh kedatangan kereta yang akan menjemput mereka menuju stasiun pusat. Bima mengangguk dan mengucapkan selamat jalan sebelum kembali ke arah gedung kantornya.

“Mari kita pergi sekarang, Siti,” ucap Rania dengan cepat. “Kita harus segera menuju kereta jika tidak ingin terlambat kembali ke Medan.”

Setelah sampai di stasiun dan memasuki gerbong kereta yang hampir penuh, mereka menemukan tempat duduk di bagian pojok yang cukup luas untuk dua orang. Rania segera membuka laptopnya untuk menyusun catatan penting dari rapat tadi, sementara Siti mulai menjelajahi aplikasi kereta untuk memesan makanan ringan sebelum perjalanan panjang dimulai.

“Saya pesan es buah untuk Anda, Bu,” ucap Siti sambil memberikan mangkuk kecil berisi potongan buah segar. “Setelah makan yang banyak di Jakarta, rasanya enak juga makan sesuatu yang segar.”

Rania tersenyum dan menerima mangkuk tersebut. Saat dia mulai menikmati buah segar yang menyegarkan tenggorokan, pikirannya kembali ke pertemuan dengan Reza tadi siang. Meskipun dia mencoba fokus pada pekerjaan, ada rasa ingin tahu yang tidak bisa dia tahan—mengapa nama Bima Wijaya muncul dalam daftar anggota tim mereka? Apakah ini hanya kebetulan atau ada hubungan yang lebih dalam?

“Siti,” ucap Rania pelan sambil menutup laptopnya sebentar. “Kamu tahu tidak, nama Bima Wijaya juga muncul dalam beberapa dokumen lama tentang usaha kecil di sekitar Medan beberapa tahun yang lalu.”

Siti mengangkat alisnya dengan heran. “Benarkah? Saya tidak pernah mendengar nama itu sebelum hari ini.”

Rania mengangguk perlahan. “Ya, saya juga baru menyadari saat melihat profil anggota tim mereka di situs perusahaan. Ternyata dia pernah bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi sebelum bergabung dengan Inovasi Nusantara.”

Ketika kereta mulai bergerak perlahan keluar dari stasiun Jakarta, pemandangan kota mulai bergeser dari gedung-gedung tinggi menuju pemandangan yang lebih terbuka. Rania melihat ke luar jendela dan melihat hamparan sawah yang terbentang luas sebelum akhirnya berubah menjadi rel kereta yang menjauh ke arah utara.

Perjalanan kereta malam ini jauh lebih sepi dibandingkan ketika mereka pergi ke Jakarta. Banyak penumpang yang sudah terlelap dengan kepala mereka menyandar pada jendela atau bahu teman mereka. Rania sendiri merasa mata semakin berat namun pikirannya tetap terjaga—dia tahu bahwa dia harus segera menyusun ulang rencana kerja setelah kembali ke Medan.

“Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini, Siti,” ucap Rania pelan sambil menatap ke luar jendela. “Kolaborasi dengan perusahaan besar memang baik untuk skala proyek, tapi saya khawatir mereka akan mengesampingkan kebutuhan UMKM lokal yang sebenarnya lebih kompleks dari yang terlihat.”

Siti mengangguk dengan pengertian. “Saya mengerti kekhawatiran Anda, Bu. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata dari peluang besar ini. Kita bisa belajar banyak dari mereka, dan mungkin juga bisa menunjukkan bahwa pendekatan lokal kita justru lebih efektif untuk sebagian besar UMKM di daerah.”

Rania mengangguk perlahan. “Kamu benar sekali. Kita harus tetap fokus pada tujuan utama kita: membantu mereka yang benar-benar membutuhkan. Bukan hanya untuk warung Nenek atau perusahaan kita sendiri, tapi untuk semua usaha kecil yang berjuang setiap hari.”

Setelah beberapa jam perjalanan, suara siulan kereta mulai terdengar lebih pelan saat memasuki area perbukitan di luar kota besar. Rania melihat beberapa rumah kecil yang tersebar di lereng bukit—beberapa dengan taman kecil yang terawat rapi, yang lain terlihat lebih sederhana dengan kebun sayuran di sekitar rumahnya.

“Sampai di sini kita bisa melihat bagaimana kehidupan mereka berjalan jauh dari keramaian kota,” ucap Siti sambil mengikuti pandangan Rania. “Banyak dari mereka mungkin tidak punya akses sama sekali ke teknologi modern.”

Rania mengangguk perlahan. “Itulah mengapa proyek ini begitu penting, Siti. Banyak yang punya potensi besar tapi tidak tahu cara mengakses peluang yang ada di depan mata mereka.”

Ketika malam mulai menjelma dan lampu-lampu kecil di rumah-rumah mulai menyala satu per satu, Rania merasa kerinduan mendalam pada Medan. Meskipun Jakarta memiliki banyak fasilitas modern, tidak ada yang bisa menggantikan rasa hangat dari rumah sendiri.

“Sampai di Medan nanti kita harus segera berkonsultasi dengan tim lokal kita,” ucap Rania dengan suara yang lebih tegas. “Kita perlu mempersiapkan segala sesuatu sebelum kedatangan tim dari Jakarta minggu depan. Mulai dari dokumentasi UMKM hingga presentasi yang akan kita berikan saat mereka tiba.”

Siti mengangguk dan mulai memeriksa jadwal kembali. “Ya, kita punya waktu tiga hari untuk mempersiapkan kunjungan lapangan minggu depan. Kita bisa mulai dengan mengunjungi beberapa UMKM yang sudah kita kenal dan beberapa yang baru untuk mendapatkan data yang lebih variatif.”

Rania mengangguk dan kembali melihat ke luar jendela. Saat kereta melaju melewati sebuah perlintasan kereta kecil yang menghubungkan desa dengan kota, dia melihat seorang anak kecil sedang mengejar ayam yang kabur dari kandangnya. Suasana pedesaan yang damai ini membuatnya merenung—betapa banyak orang yang berjuang untuk hidup sehari-hari tanpa kesempatan yang sama seperti yang mereka miliki sekarang.

“Kita harus memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil benar-benar bermanfaat bagi mereka yang paling membutuhkan,” ucap Rania dengan suara yang penuh tekad. “Bukan hanya untuk memenuhi target proyek, tapi karena itu adalah hal yang benar.”

Saat itu juga, sebuah notifikasi masuk di ponsel Rania—email dari Bapak Rio dengan lampiran jadwal kunjungan lapangan yang akan dilakukan bersama tim minggu depan. Dia membukanya dengan hati yang berdebar, tahu bahwa minggu depan akan menjadi awal dari segala sesuatu yang mungkin mengubah jalannya proyek dan kehidupannya sendiri.

Kereta terus melaju dengan suara mesin yang stabil di rel yang mengkilat karena hujan tadi. Di kejauhan, cahaya kota Medan sudah mulai terlihat jelas dengan kilatan lampu-lampu yang menyala di malam hari. Rania merasakan bahwa dia sudah hampir pulang ke rumahnya, namun juga tahu bahwa petualangan besar baru saja dimulai—baik untuk proyek yang akan mengubah hidup banyak orang, maupun untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang tersimpan dalam hatinya selama bertahun-tahun.

“Kita akan berhasil, Siti,” ucap Rania dengan suara yang lebih tenang namun penuh keyakinan. “Baik untuk mereka dan untuk semua orang yang mempercayakan usaha mereka pada kita.”

Siti mengangguk dengan senyum yang semakin meyakinkan. “Ya, Bu. Kita akan berhasil—karena kita tidak hanya bekerja untuk diri sendiri, tapi untuk banyak orang yang menunggu bantuan kita.”

Ketika kereta memasuki area sekitar stasiun Medan dengan lampu-lampu yang sudah menyala terang, Rania merasakan bahwa meskipun jalan yang ditempuh panjang dan penuh dengan hal yang tidak terduga, dia sudah siap menghadapi apa pun yang akan datang selanjutnya. Bukan hanya sebagai seorang pengusaha muda yang penuh semangat, tapi juga sebagai seseorang yang akhirnya punya kesempatan untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini belum terjawab.

Di luar jendela kereta yang semakin dekat dengan stasiun Medan, bulan sudah mulai muncul dengan jelas di langit malam yang sejuk. Cahaya bulan yang lembut menyinari rel kereta yang bersinar basah akibat embun malam. Rania mengambil napas dalam-dalam, merasakan bahwa dia sedang memasuki babak baru dalam hidupnya—baik untuk proyek yang akan mengubah banyak hidup, maupun untuk menghadapi masa lalunya yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depannya.

“Sampai di Medan kita akan langsung berkonsultasi dengan tim lokal kita dan mulai persiapan kunjungan lapangan minggu depan,” ucap Rania dengan suara yang semakin mantap. “Kita akan menunjukkan bahwa usaha kecil bisa bersaing dengan yang besar tanpa harus kehilangan jati diri mereka sendiri.”

Siti mengangguk dengan pandangan yang penuh keyakinan. “Semua akan baik-baik saja, Bu. Kita punya tujuan yang jelas dan banyak orang yang mendukung kita.”

Rania tersenyum perlahan, melihat wajah-wajah penumpang di sekitarnya yang sedang menikmati perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Dia tahu bahwa meskipun jalan yang ditempuh panjang dan penuh dengan hal tak terduga, setiap langkah yang diambil adalah untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Sebelum pintu kereta akhirnya terbuka di stasiun Medan yang sudah terlihat jelas di kejauhan, Rania merasakan bahwa dia sudah siap menghadapi semua tantangan yang akan datang. Baik untuk proyek yang akan mengubah kehidupan banyak orang, maupun untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!