Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21.
Begitu pintu gerbang asrama tertutup kembali dan sosok Alana benar-benar hilang dari pandangan, senyum lembut di wajah Aslan lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin dan tegas yang hanya muncul ketika ia sedang menghadapi masalah serius. Ia berjalan cepat menuju mobilnya, masuk ke dalam, dan langsung mengambil ponsel yang tadi ia biarkan terbalik di konsol tengah. Jari-jemarinya bergerak cepat, menekan nomor Argon tanpa ragu. Kali ini, tidak ada alasan untuk bersembunyi atau menahan suara.
Panggilan hanya berdering dua kali sebelum tersambung. Suara riuh musik dan tawa masih terdengar kencang di latar belakang, namun kini nada suara Argon berubah ketika menyadari bahwa panggilan itu akhirnya diangkat.
"Akhirnya kau angkat juga!" seru Argon, berusaha berteriak agar suaranya terdengar melewati keributan. "Aku kira kau sudah berubah menjadi orang suci dan membuang nomor lamamu, Aslan. Dengar, apa yang aku katakan tadi itu serius. Ada orang yang memegang foto-foto itu—foto kau berciuman mesra dengan wanita pirang itu, Elara, di sudut VIP klub L'Étoile sekitar tiga bulan lalu. Foto-fotonya jelas sekali, wajahmu tidak bisa disangkal. Orang itu berniat menjualnya ke tabloid gosip kelas atas atau bahkan menjualnya langsung ke media keuangan untuk menodai reputasi keluarga Lenoir."
Aslan menyandarkan punggungnya ke kursi pengemudi, matanya menatap lurus ke jalanan yang mulai diterangi lampu jalan, namun pikirannya tajam seperti pisau. "Siapa orangnya? Dan bagaimana dia bisa mendapatkan foto itu?" tanya Aslan, suaranya rendah namun penuh dengan otoritas yang membuat suasana di seberang talian seketika menjadi lebih tenang.
"Itulah yang aku selidiki," jawab Argon, nadanya kini lebih serius. "Aku membayar beberapa informan di lingkaran media dan keamanan klub. Ternyata, ini bukan sekadar orang iseng atau fotografer amatir. Ada pihak ketiga yang menyewa orang-orang ini untuk mengorek informasi dan mencari celah. Mereka tidak hanya ingin uang, mereka sepertinya memang ingin menjatuhkan nama baik keluargamu."
Argon berhenti sejenak, seolah sedang memastikan tidak ada orang yang mendengarnya. "Menurut informasi yang aku dapat, orang yang membiayai semua ini adalah seorang bernama Owen Reaves. Kau pasti ingat nama itu, kan? Dia adalah pemilik perusahaan investasi yang dulu bangkrut karena persaingan keras dengan grup perusahaan Ayahmu sekitar sepuluh tahun lalu. Kabarnya, dia menyimpan dendam yang sangat dalam dan selama ini terus mencari cara untuk membalas dendam pada keluarga Lenoir. Dia tahu tentang kebiasaanmu dulu, dan dia sengaja mengirim orang untuk memantau tempat-tempat yang sering kau kunjungi. Wanita pirang itu, Elara, mungkin juga hanya bagian dari rencananya atau sekadar kebetulan yang dimanfaatkan dengan cerdik oleh Reaves."
Dengar nama itu, rahang Aslan mengeras. Ia tentu ingat Owen Reaves. Ayahnya, Marcel, pernah bercerita tentang pria itu sebagai pengusaha yang tidak jujur yang akhirnya hancur karena strategi bisnisnya sendiri, namun selalu menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Jadi ini bukan masalah skandal asmara belaka, ini adalah serangan terhadap keluarganya. Dan sekarang, ketika ia sedang membangun masa depan bersama Alana, pria itu mencoba menggunakan masa lalunya yang kelam sebagai senjata.
"Aku mengerti," jawab Aslan dingin. "Terima kasih atas informasinya, Argon. Ini yang terakhir kalinya kau perlu mengurusi masalah seperti ini untukku. Mulai sekarang, aku yang akan menyelesaikannya."
"Yakin kau bisa menanganinya sendiri?" tanya Argon, sedikit ragu. "Reaves itu orang yang licik."
"Aku tidak akan melakukannya sendiri, tapi aku akan menggunakan jalur yang tepat dan profesional," jawab Aslan tegas. "Dan Argon... ini juga menjadi peringatan bagiku dan bagimu. Dunia pesta dan kehidupan sembarangan itu sudah berakhir bagiku. Aku punya seseorang yang sangat berharga untuk dijaga sekarang. Jadi, tolong hormati keputusanku dan jangan hubungi aku lagi untuk hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan lamaku."
Di seberang talian, Argon terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Baiklah, Kawan. Aku mengerti. Aku melihat perubahanmu, dan aku tidak akan menjadi penghalang. Semoga berhasil, Aslan."
Panggilan terputus. Aslan tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi seseorang yang spesial—seorang ahli keamanan digital dan fisik yang dipercaya oleh keluarga Lenoir untuk menangani masalah-masalah sensitif, bernama Kael. Kael adalah orang yang bisa membuat sesuatu hilang seolah tidak pernah ada, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Setelah menjelaskan situasinya secara singkat dan memberikan semua informasi yang didapat dari Argon, Aslan memberikan perintah tegas. "Aku ingin semua foto itu, salinan digitalnya, file aslinya, dan siapa pun yang memegangnya agar menyerahkan semuanya dan menandatangani perjanjian kerahasiaan yang ketat. Aku tidak ingin satu piksel pun tersisa. Dan berikan peringatan keras kepada Owen Reaves bahwa jika dia berani mengganggu hidupku atau keluargaku sekali lagi, aku akan memastikan dia tidak hanya bangkrut, tapi juga tidak akan bisa berbisnis di mana pun lagi di dunia ini."
"Terserah, Tuan Aslan. Ini akan selesai dalam waktu dua puluh empat jam," jawab Kael dengan yakin.
Benar saja, keesokan harinya, Kael melaporkan bahwa misinya telah selesai. Semua foto telah diambil alih dan dimusnahkan, baik yang ada di perangkat digital maupun cetakan fisik. Orang-orang bayaran yang disewa Owen Reaves telah menyerahkan semua data dan menerima peringatan, sementara Reaves sendiri menerima surat hukum yang cukup kuat untuk membuatnya takut dan mundur jauh-jauh, menyadari bahwa keluarga Lenoir tidak lagi memiliki anak muda yang ceroboh yang bisa dimanipulasi, melainkan seorang pria yang siap melindungi apa yang menjadi miliknya. Masalah itu akhirnya selesai, ditutup rapat dan dikubur selamanya.
Setelah memastikan bahaya itu telah diatasi, beban berat di dada Aslan terangkat. Ia pun mengambil ponselnya sekali lagi, kali ini untuk menekan nomor yang paling ia cintai selain nomor Alana—nomor ibunya, Annabelle Lenoir.
"Halo, Sayangku!" suara Annabelle terdengar ceria dan hangat seketika panggilan tersambung, seolah ia sudah menunggu panggilan itu. "Ayahmu baru saja meneleponku dan menceritakan segalanya! Apakah ini benar? Apakah Alana sudah bersedia?"
"Benar, Ma," jawab Aslan, dan untuk pertama kalinya sejak panggilan dari Argon kemarin, senyumnya kembali muncul, kali ini lebih tulus dan lebar. "Alana bersedia melanjutkan rencana ini, tapi dengan syarat kami butuh waktu untuk saling mengenal lebih dulu. Dan Ayah... Ayah sudah menyerahkan semua keputusan kepada kami."
Terdengar suara isak tangis bahagia dari seberang talian. "Ya Tuhan, akhirnya. Aku sudah berdoa agar hal ini terjadi. Aku tahu kau akan berubah, Aslan. Aku tahu di hatimu ada kebaikan yang besar yang hanya menunggu orang yang tepat untuk memunculkannya. Alana... dia adalah putri sahabat baikku dan Ayahmu, Samuel dan istrinya. Kami sudah menjodohkan kalian dalam hati kami sejak kalian masih kecil. Aku sangat senang akhirnya takdir ini mulai berjalan."
Annabelle terdiam sejenak, lalu suaranya melembut, penuh dengan kerinduan. "Aku sangat merindukanmu, Nak. Sudah terlalu lama kita tidak bertemu. Mendengar kabar baik ini membuatku ingin segera melihatmu dan juga bertemu dengan gadis yang berhasil mengubah hidupmu. Ayahmu masih di Swiss, kan? Baiklah, aku akan menyusul ke sana. Aku akan terbang sesegera mungkin. Aku ingin bertemu Alana secara langsung."
Mata Aslan berbinar. "Itu ide yang bagus sekali, Ma. Aku yakin Alana juga akan sangat senang. Dia orang yang baik, kau akan menyukainya."
Beberapa hari kemudian, di bandara internasional Jenewa, Aslan dan Alana berdiri menanti kedatangan Annabelle. Alana tampak sedikit gugup, tangannya menggenggam lengan Aslan erat-erat.
"Apa dia akan menyukaiku, Aslan?" bisik Alana. "Aku dengar dia adalah wanita yang sangat anggun dan berkelas."
Aslan mencium puncak kepala Alana lembut. "Dia akan menyukaimu lebih dari yang kau bayangkan. Percayalah."
Ketika sosok wanita elegan dengan wajah yang mirip dengan Aslan namun dengan garis wajah yang lembut dan mata yang penuh kehangatan muncul dari pintu kedatangan, Annabelle langsung berjalan cepat. Matanya langsung tertuju pada putranya, namun kemudian beralih ke gadis yang berdiri di sampingnya.
"Alana!" seru Annabelle, suaranya penuh kegembiraan. Ia tidak menyia-nyiakan waktu, langsung menarik gadis itu ke dalam pelukan hangat. "Wahai, kau bahkan lebih cantik dan manis daripada apa yang diceritakan oleh ibumu dan juga Aslan. Rasanya kita sudah saling kenal seumur hidup, bukan?"
Alana yang awalnya gugup seketika merasa tenang oleh kehangatan pelukan itu. Ia tersenyum lebar. "Iya, Tante... eh, Ibu Annabelle. Rasanya sangat akrab."
"Panggil saja aku Mama atau Ibu, Sayang," kata Annabelle sambil melepaskan pelukan dan menatap wajah Alana dengan mata yang berbinar. "Lagipula, tak lama lagi kita akan menjadi keluarga sungguhan."
Aslan berdiri di samping mereka, menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang penuh kebahagiaan. Ibu dan pujaan hatinya bergaul dengan begitu baik, seolah memang ditakdirkan untuk saling menyayangi. Tidak ada kecanggungan, tidak ada jarak.
Beberapa hari berikutnya, Annabelle mengajak Alana berkeliling Jenewa. Mereka pergi ke butik-butik mewah di pusat kota, di mana Annabelle dengan murah hati membelikan gaun-gaun indah dan perhiasan cantik untuk Alana, mengatakan bahwa gadis itu harus tampak mempesona untuk masa depannya bersama Aslan. Namun lebih dari itu, mereka juga mengunjungi kafe-kafe kecil yang nyaman, berbagi cerita sambil menyeruput kopi dan cokelat panas khas Swiss.
Annabelle mendengarkan cerita Alana tentang magangnya di rumah sakit, tentang impiannya menjadi dokter yang handal, dan tentang bagaimana perasaannya berubah terhadap Aslan dari rasa takut menjadi cinta. Dan setiap kali Alana berbicara, atau setiap kali Aslan yang datang menjemput mereka dan secara otomatis menggenggam tangan Alana atau memastikan gadis itu selalu nyaman, Annabelle akan tersenyum bahagia.
Ia melihat keharmonisan di antara mereka—bukan hanya sekadar perjodohan yang dipaksakan, melainkan hubungan yang dibangun di atas rasa saling menghormati, pengertian, dan cinta yang tumbuh dengan indah. Ia melihat putranya yang dulu suka berkelana dan hidup sembarangan kini berubah menjadi pria yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Dan di wajah Alana, ia melihat ketenangan dan kebahagiaan yang ia harapkan untuk putrinya sendiri jika ia memilikinya.
Di sore hari ketika mereka duduk di teras restoran yang menghadap ke danau, Annabelle menatap kedua anak muda itu yang sedang bercakap-cakap dengan pandangan mata yang saling melekat, seolah dunia di sekitar mereka tidak ada. Annabelle mengangkat cangkir tehnya perlahan, senyumnya semakin lebar. Ia tahu, semua doa dan harapannya, serta kesepakatan lama bersama sahabatnya Samuel, kini telah berbuah menjadi kenyataan yang indah. Masa depan keluarga Lenoir dan keluarga Hadinata ada di tangan mereka, dan Annabelle merasa damai dan bahagia menyaksikan kebahagiaan sang putra .