Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaminan Berdarah
Malam di sudut kota itu selalu berbau karat, aspal basah, dan keputusasaan. Angin kencang menusuk hingga ke tulang, namun bagi Rebecca Sinclair, dinginnya cuaca tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di tengkuknya saat tiga pria berandal menyeretnya masuk ke gang buntu di belakang gudang tua.
"Tolong! Siapa pun, tolong!" jerit Rebecca. Suaranya serak, tenggorokannya perih karena terus berteriak sejak dua blok yang lalu.
"Berisik, jalang!" Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Rebecca, membuatnya tersungkur ke aspal yang kasar. Perih menjalar seketika, dan rasa amis darah mulai terasa di ujung bibirnya.
Pria berambut cepak yang memukulnya, yang tampak seperti pemimpin kelompok kecil itu, menyeringai lebar. "Ayahmu berhutang banyak pada bos kami. Dan karena dia tidak punya uang, dia memberikanmu sebagai gantinya. Anggap saja ini bunga dari pinjamannya."
"Ayahku tidak mungkin melakukan itu!" bantah Rebecca terisak, meskipun jauh di lubuk hatinya, dia tahu ayahnya adalah penjudi kelas kakap yang sanggup menjual apa saja demi satu putaran kartu lagi.
Dua pria lainnya tertawa kasar. Tanpa peringatan, mereka mencengkeram lengan Rebecca, memaksanya berdiri menghadap dinding bata yang lembap. Tangan-tangan kasar itu mulai bergerak liar. Rebecca meronta, menendang, dan mencakar, namun tenaganya bukan tandingan tiga pria dewasa yang sudah dirasuki nafsu dan adrenalin.
Srak!
Suara kain yang robek membelah kesunyian malam. Blus tipis yang dikenakan Rebecca terkoyak dari bahu hingga ke pinggang, memperlihatkan kulit putihnya yang kini bergetar hebat karena ketakutan dan hawa dingin.
"Lepaskan! Aku mohon, lepaskan!" tangisnya pecah.
Di tengah kekacauan itu, di balik bayang-bayang tumpukan peti kayu yang gelap, sebuah nyala api kecil memercik. Cahaya jingga itu menerangi sepasang mata yang sedingin es.
Maximilian berdiri di sana. Sosoknya tinggi menjulang, terbungkus setelan jas hitam custom-made yang tampak kontras dengan lingkungan kumuh tersebut. Dengan tenang, ia menyesap cerutunya, membiarkan asap tebal mengepul dari bibirnya yang kaku. Ia hanya diam, menyandarkan bahunya pada pilar beton, menonton adegan di depannya seolah-olah itu adalah pertunjukan teater yang membosankan.
Rebecca melihatnya. Mata mereka bertemu sekejap di antara celah tangan-tangan yang sedang menelanjanginya. "Tuan ... tolong ..." rintih Rebecca dengan sisa tenaganya.
Maximilian tidak bergerak. Ia melirik jam tangan Rolex-nya, lalu kembali menatap ke arah tiga berandalan itu. Ia mengenali tato di leher pria yang memimpin; mereka adalah anak buah kelompok Valenti, musuh bebuyutan yang sedang berebut wilayah pelabuhan dengannya.
Bukan urusanku, pikir Maximilian dingin. Membantu gadis itu berarti memicu keributan dengan Valenti malam ini, dan ia sedang tidak ingin mengotori tangannya untuk sesuatu yang tidak mendatangkan profit. Logikanya berkata untuk pergi sekarang, membiarkan gadis itu menjadi santapan para anjing liar ini.
"Lihat ini, Bos! Ada penonton," salah satu berandalan menunjuk ke arah Maximilian sambil tertawa mengejek. "Hei, kau! Mau ikut antre? Tapi setelah kami selesai, ya!"
Maximilian tetap tidak bergeming. Ia hanya menyesap kembali cerutunya. Pikirannya menghitung risiko. Jika ia membunuh mereka, perang terbuka dimulai. Jika ia pergi, nuraninya—yang ia duga sudah mati bertahun-tahun lalu—memberikan sinyal gangguan yang aneh.
"Tolong ..." Rebecca menjerit lagi saat salah satu pria itu mulai menarik paksa pakaian dalamnya. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, tubuhnya gemetar hebat di atas aspal yang kotor.
Maximilian mengembuskan asap cerutu terakhirnya. Ia menatap wajah Rebecca yang kini basah oleh air mata, hancur, dan penuh luka. Ada sesuatu di sana—mungkin harga diri yang tetap bertahan meski di titik nadir—yang menyenggol sesuatu dalam diri Max.
"Cukup," suara Maximilian berat dan rendah, bergema di gang sempit itu seperti dentum lonceng kematian.
Ketiga berandalan itu berhenti. Si pemimpin menoleh, meludah ke samping. "Apa katamu, hah? Jangan cari mati. Ini urusan Valenti."
Maximilian melangkah keluar dari bayangan. Cahaya lampu jalan yang temaram mempertegas garis wajahnya yang keras. "Aku bilang ... cukup. Lepaskan gadis itu dan pergilah selagi kalian masih punya kaki untuk berjalan."
"Hah! Kau pikir kau siapa?" Pria berambut cepak itu menarik pisau lipat dari sakunya. "Habisi orang tua ini!"
Dua berandalan lainnya melepaskan Rebecca—yang langsung meringkuk mencoba menutupi tubuhnya yang terbuka—dan menerjang ke arah Maximilian.
Maximilian tidak gentar. Saat pria pertama melayangkan tinju, Max menghindar dengan gerakan minimalis namun efisien. Ia menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga terdengar bunyi krak yang memilukan, lalu menghantamkan sikunya tepat ke hidung pria itu. Darah menyembur, dan pria itu tumbang seketika.
Namun, pria kedua lebih cepat. Sebuah tendangan mendarat di pinggang Maximilian, membuatnya terhuyung sedikit. Max meringis, merasakan panas menjalar di rusuknya. Tanpa membuang waktu, ia membalas dengan pukulan hook kiri yang telak di rahang, menjatuhkan lawan keduanya ke tanah.
Si pemimpin, yang melihat kedua temannya tumbang, menjadi gelap mata. Ia menyerbu dengan pisau lipatnya, mengayunkannya secara membabi buta.
Lengan kemeja mahal Maximilian robek, dan garis merah darah muncul di kulitnya. Max tidak menunjukkan rasa sakit. Matanya justru berkilat marah. Ia menangkap tangan yang memegang pisau, lalu dengan kekuatan brutal, ia menghantamkan kepala pria itu ke dinding bata berkali-kali.
Bugh! Bugh! Bugh!
Dinding itu kini dihiasi bercak darah segar. Maximilian melepaskan cengkeramannya, dan si pemimpin jatuh lunglai tak sadarkan diri.
Napas Maximilian memburu. Jas hitamnya kini kotor oleh debu dan darah. Ia menyeka sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan yang sempat mendarat tadi. Matanya beralih ke arah Rebecca yang masih terduduk lemas di tanah, memeluk lututnya dengan pakaian yang compang-camping.
Maximilian berjalan mendekat. Rebecca gemetar, mencoba mundur karena takut pria yang menyelamatkannya ini jauh lebih mengerikan daripada mereka yang menyerangnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Maximilian melepas jas hitamnya yang mahal. Ia menyampirkan jas itu ke bahu Rebecca, menutupi tubuh gadis itu sepenuhnya. Aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal dari jas itu seketika menyelimuti Rebecca, memberikan rasa aman yang ganjil di tengah badai.
"Bisa berdiri?" tanya Maximilian dingin, suaranya tidak memiliki nada simpati, namun tindakannya berkata lain.
Rebecca mendongak, menatap mata Maximilian yang gelap. "Tuan ... kenapa Anda menolong saya?" suaranya bergetar.
Maximilian terdiam sejenak. Ia melihat luka-luka di tubuhnya sendiri, lalu menatap tiga pria yang tergeletak tak berdaya. Ia baru saja memulai perang besar hanya untuk seorang gadis yang bahkan tidak ia kenali namanya.
"Siapa namamu?"
"R-Re ... Rebecca Sinclair, Tuan."
"Kau tadi bertanya kenapa aku menolongmu? Jawabannya adalah karena aku membenci suara jeritan yang merusak ketenangan cerutuku," jawabnya ketus. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar—tangan yang baru saja menghancurkan tulang orang lain—ke hadapan Rebecca. "Bangun. Sekarang kau adalah tanggung jawabku. Dan itu berarti, kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku, Rebecca Sinclair."
Rebecca ragu sejenak, namun akhirnya ia menyambut tangan itu. Saat jemari mereka bersentuhan, Rebecca tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah keluar dari mulut serigala, hanya untuk masuk ke dalam sarang sang naga.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣