NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaminan Berdarah

Malam di sudut kota itu selalu berbau karat, aspal basah, dan keputusasaan. Angin kencang menusuk hingga ke tulang, namun bagi Rebecca Sinclair, dinginnya cuaca tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di tengkuknya saat tiga pria berandal menyeretnya masuk ke gang buntu di belakang gudang tua.

"Tolong! Siapa pun, tolong!" jerit Rebecca. Suaranya serak, tenggorokannya perih karena terus berteriak sejak dua blok yang lalu.

"Berisik, jalang!" Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Rebecca, membuatnya tersungkur ke aspal yang kasar. Perih menjalar seketika, dan rasa amis darah mulai terasa di ujung bibirnya.

Pria berambut cepak yang memukulnya, yang tampak seperti pemimpin kelompok kecil itu, menyeringai lebar. "Ayahmu berhutang banyak pada bos kami. Dan karena dia tidak punya uang, dia memberikanmu sebagai gantinya. Anggap saja ini bunga dari pinjamannya."

"Ayahku tidak mungkin melakukan itu!" bantah Rebecca terisak, meskipun jauh di lubuk hatinya, dia tahu ayahnya adalah penjudi kelas kakap yang sanggup menjual apa saja demi satu putaran kartu lagi.

Dua pria lainnya tertawa kasar. Tanpa peringatan, mereka mencengkeram lengan Rebecca, memaksanya berdiri menghadap dinding bata yang lembap. Tangan-tangan kasar itu mulai bergerak liar. Rebecca meronta, menendang, dan mencakar, namun tenaganya bukan tandingan tiga pria dewasa yang sudah dirasuki nafsu dan adrenalin.

Srak!

Suara kain yang robek membelah kesunyian malam. Blus tipis yang dikenakan Rebecca terkoyak dari bahu hingga ke pinggang, memperlihatkan kulit putihnya yang kini bergetar hebat karena ketakutan dan hawa dingin.

"Lepaskan! Aku mohon, lepaskan!" tangisnya pecah.

Di tengah kekacauan itu, di balik bayang-bayang tumpukan peti kayu yang gelap, sebuah nyala api kecil memercik. Cahaya jingga itu menerangi sepasang mata yang sedingin es.

Maximilian berdiri di sana. Sosoknya tinggi menjulang, terbungkus setelan jas hitam custom-made yang tampak kontras dengan lingkungan kumuh tersebut. Dengan tenang, ia menyesap cerutunya, membiarkan asap tebal mengepul dari bibirnya yang kaku. Ia hanya diam, menyandarkan bahunya pada pilar beton, menonton adegan di depannya seolah-olah itu adalah pertunjukan teater yang membosankan.

Rebecca melihatnya. Mata mereka bertemu sekejap di antara celah tangan-tangan yang sedang menelanjanginya. "Tuan ... tolong ..." rintih Rebecca dengan sisa tenaganya.

Maximilian tidak bergerak. Ia melirik jam tangan Rolex-nya, lalu kembali menatap ke arah tiga berandalan itu. Ia mengenali tato di leher pria yang memimpin; mereka adalah anak buah kelompok Valenti, musuh bebuyutan yang sedang berebut wilayah pelabuhan dengannya.

Bukan urusanku, pikir Maximilian dingin. Membantu gadis itu berarti memicu keributan dengan Valenti malam ini, dan ia sedang tidak ingin mengotori tangannya untuk sesuatu yang tidak mendatangkan profit. Logikanya berkata untuk pergi sekarang, membiarkan gadis itu menjadi santapan para anjing liar ini.

"Lihat ini, Bos! Ada penonton," salah satu berandalan menunjuk ke arah Maximilian sambil tertawa mengejek. "Hei, kau! Mau ikut antre? Tapi setelah kami selesai, ya!"

Maximilian tetap tidak bergeming. Ia hanya menyesap kembali cerutunya. Pikirannya menghitung risiko. Jika ia membunuh mereka, perang terbuka dimulai. Jika ia pergi, nuraninya—yang ia duga sudah mati bertahun-tahun lalu—memberikan sinyal gangguan yang aneh.

"Tolong ..." Rebecca menjerit lagi saat salah satu pria itu mulai menarik paksa pakaian dalamnya. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, tubuhnya gemetar hebat di atas aspal yang kotor.

Maximilian mengembuskan asap cerutu terakhirnya. Ia menatap wajah Rebecca yang kini basah oleh air mata, hancur, dan penuh luka. Ada sesuatu di sana—mungkin harga diri yang tetap bertahan meski di titik nadir—yang menyenggol sesuatu dalam diri Max.

"Cukup," suara Maximilian berat dan rendah, bergema di gang sempit itu seperti dentum lonceng kematian.

Ketiga berandalan itu berhenti. Si pemimpin menoleh, meludah ke samping. "Apa katamu, hah? Jangan cari mati. Ini urusan Valenti."

Maximilian melangkah keluar dari bayangan. Cahaya lampu jalan yang temaram mempertegas garis wajahnya yang keras. "Aku bilang ... cukup. Lepaskan gadis itu dan pergilah selagi kalian masih punya kaki untuk berjalan."

"Hah! Kau pikir kau siapa?" Pria berambut cepak itu menarik pisau lipat dari sakunya. "Habisi orang tua ini!"

Dua berandalan lainnya melepaskan Rebecca—yang langsung meringkuk mencoba menutupi tubuhnya yang terbuka—dan menerjang ke arah Maximilian.

Maximilian tidak gentar. Saat pria pertama melayangkan tinju, Max menghindar dengan gerakan minimalis namun efisien. Ia menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga terdengar bunyi krak yang memilukan, lalu menghantamkan sikunya tepat ke hidung pria itu. Darah menyembur, dan pria itu tumbang seketika.

Namun, pria kedua lebih cepat. Sebuah tendangan mendarat di pinggang Maximilian, membuatnya terhuyung sedikit. Max meringis, merasakan panas menjalar di rusuknya. Tanpa membuang waktu, ia membalas dengan pukulan hook kiri yang telak di rahang, menjatuhkan lawan keduanya ke tanah.

Si pemimpin, yang melihat kedua temannya tumbang, menjadi gelap mata. Ia menyerbu dengan pisau lipatnya, mengayunkannya secara membabi buta.

Lengan kemeja mahal Maximilian robek, dan garis merah darah muncul di kulitnya. Max tidak menunjukkan rasa sakit. Matanya justru berkilat marah. Ia menangkap tangan yang memegang pisau, lalu dengan kekuatan brutal, ia menghantamkan kepala pria itu ke dinding bata berkali-kali.

Bugh! Bugh! Bugh!

Dinding itu kini dihiasi bercak darah segar. Maximilian melepaskan cengkeramannya, dan si pemimpin jatuh lunglai tak sadarkan diri.

Napas Maximilian memburu. Jas hitamnya kini kotor oleh debu dan darah. Ia menyeka sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan yang sempat mendarat tadi. Matanya beralih ke arah Rebecca yang masih terduduk lemas di tanah, memeluk lututnya dengan pakaian yang compang-camping.

Maximilian berjalan mendekat. Rebecca gemetar, mencoba mundur karena takut pria yang menyelamatkannya ini jauh lebih mengerikan daripada mereka yang menyerangnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Maximilian melepas jas hitamnya yang mahal. Ia menyampirkan jas itu ke bahu Rebecca, menutupi tubuh gadis itu sepenuhnya. Aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal dari jas itu seketika menyelimuti Rebecca, memberikan rasa aman yang ganjil di tengah badai.

"Bisa berdiri?" tanya Maximilian dingin, suaranya tidak memiliki nada simpati, namun tindakannya berkata lain.

Rebecca mendongak, menatap mata Maximilian yang gelap. "Tuan ... kenapa Anda menolong saya?" suaranya bergetar.

Maximilian terdiam sejenak. Ia melihat luka-luka di tubuhnya sendiri, lalu menatap tiga pria yang tergeletak tak berdaya. Ia baru saja memulai perang besar hanya untuk seorang gadis yang bahkan tidak ia kenali namanya.

"Siapa namamu?"

"R-Re ... Rebecca Sinclair, Tuan."

"Kau tadi bertanya kenapa aku menolongmu? Jawabannya adalah karena aku membenci suara jeritan yang merusak ketenangan cerutuku," jawabnya ketus. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar—tangan yang baru saja menghancurkan tulang orang lain—ke hadapan Rebecca. "Bangun. Sekarang kau adalah tanggung jawabku. Dan itu berarti, kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku, Rebecca Sinclair."

Rebecca ragu sejenak, namun akhirnya ia menyambut tangan itu. Saat jemari mereka bersentuhan, Rebecca tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah keluar dari mulut serigala, hanya untuk masuk ke dalam sarang sang naga.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 👍👍👍 𝐢𝐧𝐢 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!