Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk ke jiwa Clara
Mobil ambulan masuk kedalam rumah sakit dan berhenti di depan pintu UGD. Petugas medis menaruh tubuh Clara keatas brankar dan mendorongnya masuk kedalam ruangan.
Bianca dan Ronald menepikan mobilnya di parkiran, lalu berjalan kearah ruangan UGD. Mereka menunggu tak jauh dari ruangan UGD untuk memastikan keadaan Clara.
Bianca terlihat cemas dan ketakutan, Ronald berulang kali menenangkan sang keponakan.
"Paman, aku takut ketahuan. Kalau aku lah yang telah menabrak Clara."
"Kamu tidak usah khawatir, semuanya akan beres di tangan ku!"
"Tapi paman, di sekitar jalan raya itu ada cctv. Bagaimana kalau kakek Darwin menyuruh anak buahnya untuk melacak tabrakan cucunya."
"Paman sudah pikirkan itu, anak buah paman sudah merusak cctv nya, jadi kamu tidak akan tertuduh kalau wanita itu mati!"
Bianca bernafas lega, akhirnya ia bisa tenang. Sebab bukti kejahatannya tidak akan ada
Suara dering ponsel mengalihkan pandangan mereka ke ponsel Ronald. Tertera nama Ratih di layar datar.
"Hallo kak!"
"Ronald! Kamu dimana? Bianca dan Clara belum pulang ke rumah. Ini sudah jam 12 malam, kemana mereka?! Pekik Ratih panik
"Kak! Aku bersama Bianca di rumah sakit."
"Hah?! Siapa yang sakit? Bianca kenapa?! Jerit Ratih di ujung telepon.
"Kak! Dengarkan aku dulu!" Ronald berdiri dan melangkah menjauh, kebetulan suasana di rumah sakit tanpak sepi, jadi ia leluasa untuk bicara.
"Kamu jangan buat aku spot jantung!"
"Bianca tidak apa-apa, Ratih tertabrak mobil Bianca."
"Ap-apa?! Bianca menabrak Clara?! Sahut Ratih yang tampak syok.
"Iya! Sekarang Clara sedang di ruangan UGD. Apa Kakak berharap Clara mati!"
"Tutup mulut mu! Kita masih membutuhkan Clara untuk meminta uang pada Kakek Darwin! Bagaimana bila jatah bulanan kita di setop Kakek tua itu!"
"Kakak tidak usah khawatir, aku bisa merekayasa semuanya. Agar seluruh harta milik David yang jatuh ke tangan Clara, bisa jadi milik kakak seutuhnya."
"Kamu serius?!
"Tentu saja, jangan ragukan kejeniusan ku kak!"
"Bagus juga kalau Clara mati, aku sudah muak dengan gadis polos itu!'
"Ya sudah, aku matikan telepon nya. Nanti kita bicarakan lagi di rumah."
Sambungan telepon terputus, Ronald kembali duduk di samping Bianca.
Satu jam kemudian, pintu ruangan UGD di buka. Empat orang perawat mendorong ranjang brankar dan membawanya keruangan ICU.
"Apa yang terjadi dengan wanita itu sus?! tanya Ronald yang pura-pura panik.
"Anda siapanya korban?"
"Sa-ya paman nya!" sahut Ronald sedikit gugup.
"Kalau begitu saya akan antarkan anda kerungan Dokter, nanti dokter yang akan menjelaskan."
"Baiklah!"
Ronald mengikuti langkah sang suster bersama Bianca. Di ujung koridor ada sebuah ruangan khusus dokter. Setelah mengetuk pintu mereka masuk kedalam ruangan dokter spesialis.
"Malam dok, ada kelurga korban datang untuk menanyakan kondisi nona tadi."
"Silahkan duduk."
Ronald dan Bianca duduk di depan sang dokter, lalu membaca salinan yang di berikan sang suster.
"Kondisi nona tadi sangat kritis, kepalanya mengalami gegar otak dan mengalami pendarahan hebat."
Ronald dan Bianca saling bersitatap. "Lalu? Apakah keponakan kami masih bisa di selamatkan?"
Sang Dokter menghela nafas berat "Kemungkinan untuk hidup hanya 20%, walaupun ia hidup kembali. Kondisinya tidak akan baik, ia akan lumpuh seumur hidup dan mengalami amnesia. Sebab jaringan otaknya sudah rusak."
Bianca membekap mulutnya. Ia tidak menyangka kalau menabrak Clara akan berakibat fatal dan menderita seumur hidup. Tapi, bukankah ini keinginan ia, ibu dan pamannya?"
Seorang suster berlari dan membuka pintu ruangan sang dokter dengan tergesa-gesa.
"Dok, pasien tadi mengalami kejang-kejang dan rekaman detak jantungnya datar."
Sang dokter langsung berdiri "Kita keruangan nya sekarang!"
Dokter keluar dari ruangannya di ikuti Ronald dan Bianca.
"Om, jangan-jangan Clara benar-benar sudah mati!"
"Semoga saja!" sahut Ronald sambil tersenyum licik.
Dokter paruh baya itu membuka ruangan ICU dan berlari kearah Clara. Ia melihat mesin pendeteksi jantung bernada datar. sang dokter berupaya mengambil Defibrilator, berfungsi untuk memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung normal. Defibrilator menekan kedada Clara. Namun denyut nadinya tetap datar dan tiba-tiba hilang.
Sang dokter menarik nafas panjang dan berkata. "Maaf, wanita ini tidak bisa di selamatkan."
"Apa?! Jadi adik ku sudah meninggal?! Seru Bianca pura-pura terkejut.
"Kami sudah berusaha, tetapi nyawanya sudah tidak bisa tertolong."
"Huhuhu... Clara!" jerit Bianca "Bangun dek, kamu tidak boleh meninggalkan kami!" teriak Bianca sambil terus menangis.
Ronald berpura-pura menenangkan keponakan di depan dokter dan suster. "Jangan bersedih Bian, kamu harus ikhlas menerima takdir Tuhan."
"Tapi paman, Clara adik ku satu-satunya. Aku tidak punya saudara kalau Clara meninggal." hiks..
Ronald menarik Bianca kedalam pelukannya, saat wajah Bianca berada dalam dekapan sang paman. Ia tersenyum sumringah, bahkan tertawa dalam hati.
"Mampus kau Clara! Akhirnya tidak ada lagi yang mengganggu hidup ku, semua barang-barang milik mu akan jadi kepunyaan ku!" ia berkata dalam hatinya sambil sumpah serapah.
"Sudah jangan menangis lagi, paman akan mengurus makam Clara!" ucap Ronald sambil mengusap rambut sang keponakan.
"Iyaa paman."
"Dok, bisa di urus pemakaman keponakan saya."
"Baik, akan kami urus besok pagi."
"Kalau begitu kami permisi dulu, saya juga akan hubungi kelurga besar keponakan saya."
"Baiklah!"
Ronald dan Bianca keluar dari ruangan ICU, setelah menjauh mereka tertawa bersama.
"Akhirnya aku berhasil menyingkirkan Clara, meskipun tadi aku sempat takut."
"Kakek Darwin juga menyayangi mu sebagai cucu sambung. Sudah pasti hanya Kamu cucu satu-satunya yang akan di manjakan dengan kemewahan."
"Paman benar, akulah cucu satu-satunya pengganti Clara. sekarang penghalang ku sudah pergi!"
Sementara di ruangan ICU, tubuh Clara terbujur kaku di atas ranjang. Tidak ada siapa-siapa disana, Dokter dan suster masih sibuk dengan pasien lainnya. Jenazah Clara akan di bawa keruangan mayat pada esok pagi.
Tiba-tiba jemari tangannya yang kaku bergerak-gerak, dan matanya terbuka lebar. Clara langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Hingga detak jantungnya yang sempat hilang kembali berdenyut.
Bola matanya mengedarkan pandangan, menyapu tiap sudut ruangan.
"Dimana aku?! Pekik nya sambil bangun dari tidur.
Clara menepuk-nepuk wajahnya dan mengitari tiap incinya dengan telunjuk. Ia meraba-raba seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki.
"Aku berada di rumah sakit?! Tanyanya pada diri sendiri.
"Sial! Aku masuk ke tubuh orang yang hampir mati!"
"Wajah ku rusak parah dan kepala ku penuh dengan perban!"
"Professor telah salah memilih jiwa untuk ku!" kesalnya.
"Rania! Kamu harus terima ini semua, karena takdir mu masuk ke tubuh wanita lemah ini!" ucapan pada diri sendiri.
Ikuti terus kelanjutannya ya All, tolong komentar kalian di RATE BINTANG 5 DAN BANTU LIKE, VOTE/GIFT UNTUK PENYEMANGAT BUNDA 🤗 🥰
💜💜💜
Terima kasih
lg seru soalnya 🤣🤣😍