NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni di Taman Samping

​Yogyakarta selalu punya cara untuk merangkul duka dan tawa dalam satu dekapan hangat. Hari-hari menjelang pernikahan Maya diisi dengan kesibukan yang luar biasa di sebuah villa klasik di daerah Kaliurang. Nina dan Sari benar-benar mendedikasikan waktu mereka untuk memastikan sahabat mereka menjadi pengantin tercantik. Mereka berdua sibuk mengurus ronce melati, memastikan katering gudeg manggar sudah sesuai rasa, hingga melatih para penari latar agar setiap gerak selaras dengan detak jantung sang pengantin.

​Selama prosesi pingitan hingga malam midodareni, suasana berlangsung tenang. Tidak ada sosok perwira yang muncul. Tidak ada deru mobil dinas yang mengganggu. Nina mulai merasa lega. Ia mengira pertemuannya dengan Arya di sanggar tempo hari adalah babak terakhir dari drama panjang mereka. Ia mulai bisa tertawa lepas saat melihat Liam yang kebingungan mencoba memakai kain jarik dengan benar.

​"Nin, lihat Liam! Dia bilang jariknya terlalu ketat sampai dia merasa seperti mumi," bisik Sari sambil terkekeh.

​Nina tersenyum, menyematkan mawar terakhir pada dekorasi pelaminan. "Setidaknya dia berusaha, Sar. Dia melakukannya karena dia cinta pada Maya."

​Cinta. Kata itu kini terasa lebih ringan bagi Nina. Ia merasa sudah berada di jalur yang benar bersama Julian. Meski jauh di Amsterdam, Julian rutin mengirimkan pesan dukungan dan bunga ke hotel tempat Nina menginap. Nina merasa aman. Ia merasa hidupnya sudah tertata rapi, seperti lipatan kain yang ia siapkan untuk Maya.

​***

​Hari pernikahan itu tiba dengan cuaca yang sangat cerah. Sinar matahari pagi menembus celah-celah pohon pinus di Kaliurang, menciptakan suasana sakral saat Liam dan Maya mengucapkan janji suci. Nina berdiri di barisan depan, mengenakan kebaya seragam berwarna hijau lumut yang anggun. Ia merasa haru, air mata bahagianya jatuh saat melihat sahabatnya resmi menjadi seorang istri.

​Resepsi berlangsung meriah dengan konsep outdoor. Tamu-tamu penting mulai berdatangan, termasuk beberapa rekan militer Dimas. Nina terus waspada, namun hingga acara hampir mencapai puncaknya, Arya tidak terlihat. Ia mulai benar-benar yakin bahwa Arya telah menyerah.

​Namun, saat matahari mulai condong ke barat dan tamu-tamu mulai berkurang, Dimas mendekati Nina yang sedang duduk beristirahat di dekat meja penerima tamu. Wajah Dimas tampak serba salah, ia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi dari saku seragamnya.

​"Nin, ada titipan," ucap Dimas pelan.

​Nina mengerutkan kening. "Dari siapa, Mas?"

​"Arya. Dia baru saja sampai, tapi dia tidak mau masuk ke area utama. Dia tidak mau merusak suasana atau membuat Maura—yang untungnya tidak ikut—menjadi pembicaraan. Dia menunggumu di taman samping, dekat pohon beringin tua."

​Jantung Nina berdegup kencang secara tiba-tiba. Tangannya gemetar saat menerima kertas itu. Hanya ada satu kalimat yang tertulis dengan tulisan tangan Arya yang tegas namun sedikit berantakan:

​"Aku hanya ingin bicara sebentar. Sebagai manusia, bukan sebagai perwira. Aku menunggumu di taman samping."

​Nina terdiam. Perasaan bingung, takut, dan marah bercampur aduk. Ia menatap ke arah pelaminan di mana Maya dan Liam sedang berfoto bahagia. Ia tidak ingin merusak hari ini. Namun, ia juga tahu bahwa jika ia tidak menemui Arya sekarang, bayang-bayang ini akan terus menghantuinya hingga ia kembali ke Amsterdam.

​"Pergilah, Nin," bisik Sari yang tiba-tiba muncul di belakangnya. "Selesaikan semuanya. Jangan bawa beban ini kembali ke Belanda."

​Nina menghela napas panjang, mengangguk pelan, lalu melangkah menuju arah taman samping yang lebih sunyi.

​*

​Taman samping itu dipenuhi dengan tanaman pakis dan bunga anggrek hutan yang aromanya sangat khas. Di sana, berdiri seorang pria yang telah melepaskan atribut kebesarannya. Arya tidak memakai baret, tidak memakai tanda pangkat yang mentereng. Ia hanya mengenakan kemeja batik sederhana bermotif parang.

​Saat mendengar langkah kaki mendekat, Arya berbalik. Begitu matanya menangkap sosok Nina yang berjalan ke arahnya dengan kebaya hijau yang mempesona, sebuah senyuman tulus merekah di wajahnya yang lelah. Bagi Arya, detik itu seolah oksigen kembali masuk ke paru-parunya. Detak jantungnya yang selama berbulan-bulan terasa mati, kini berdentum keras, mengingatkannya bahwa ia masih hidup.

​"Kamu datang," bisik Arya, suaranya parau.

​Nina berhenti beberapa langkah di depan Arya. Ia menjaga jarak. "Apa lagi yang ingin Kakak bicarakan? Semuanya sudah jelas di Jakarta, lalu di sanggar kemarin."

​Arya menunduk, lalu duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari akar kayu. "Duduklah sebentar, Nin. Anggap saja aku ini kakakmu yang sedang ingin mengadu. Kita bicara seperti dulu, saat kita masih sering makan bakso di pinggir asrama."

​Nina ragu, namun ia akhirnya duduk di ujung kursi yang sama. Mereka terdiam sejenak, mendengarkan suara burung gereja yang bersahutan.

​"Bagaimana hidupmu di Belanda?" tanya Arya mengawali percakapan, mencoba mencairkan suasana.

​"Menyenangkan. Teratur. Aku merasa dihargai di sana," jawab Nina singkat.

​"Baguslah. Aku senang mendengarnya. Setidaknya salah satu dari kita ada yang berhasil keluar dari 'penjara' ini," Arya terkekeh pahit.

​"Kenapa Kakak menyebutnya penjara? Kakak punya segalanya. Pangkat yang naik, istri yang cantik dan cerdas, keluarga yang terpandang," ujar Nina, sedikit sinis.

​Arya menoleh, menatap Nina dengan mata yang memerah. "Pangkat itu hanya logam dingin di pundak, Nin. Dan istri... Maura adalah wanita baik, tapi dia tidak pernah memilikiku. Pernikahan itu benar-benar hanya topeng. Sejak malam pertama hingga detik ini, aku tidak pernah menyentuhnya. Kami tidur di kamar yang sama, tapi jiwaku ada ribuan kilometer darinya."

​Nina tertegun. Ia tidak menyangka Arya akan sejujur ini. "Kak... itu tidak adil bagi Mbak Maura."

​"Aku tahu! Aku tahu aku jahat padanya! Tapi aku tidak bisa, Nin! Setiap kali aku mencoba mendekat, wajahmu muncul. Setiap kali aku mencoba mencintainya, aku merasa seperti sedang menghianati sisa-sisa diriku sendiri. Aku depresi, Nin. Aku harus ke psikolog militer hanya untuk bisa bangun di pagi hari tanpa rasa ingin menyerah pada hidup."

​Nina terdiam seribu bahasa. Ia melihat sisi rapuh Arya yang selama ini disembunyikan di balik seragam gagahnya. Arya yang ada di depannya sekarang bukanlah Kapten Pradipta Arya sang pahlawan operasi, melainkan seorang laki-laki yang jiwanya hancur berkeping-keping.

​Tiba-tiba, ponsel Nina di dalam tas kecilnya bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama "Julian".

​Nina melihat layar itu, namun tangannya tidak bergerak untuk mengangkatnya. Getaran itu berhenti, lalu semenit kemudian ponsel itu bergetar kembali. Panggilan kedua. Lalu ketiga. Julian pasti sedang khawatir karena Nina tidak memberi kabar sejak acara dimulai.

​Namun, di depan Arya, Nina merasa seolah waktu berhenti. Ia tidak bisa menghiraukan pria yang sedang menangis tanpa suara di depannya.

​"Kak Arya..."

​"Aku masih mencintaimu, Nin. Sangat mencintaimu," potong Arya, suaranya pecah. "Aku tahu aku sudah terlambat. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa di Jakarta, ada satu orang yang hidupnya berhenti sejak hari kamu pergi. Aku tidak minta kamu kembali, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menghianati rasaku padamu, meski raga ini dipaksa berlutut pada mami."

​Nina merasakan dadanya sesak. Ia melihat Arya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahu pria itu berguncang hebat. Nina ingin sekali meraih tangan itu, memeluknya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, akal sehatnya berteriak tentang Julian, tentang Amsterdam, dan tentang pengorbanannya selama ini.

​Ponsel Nina bergetar untuk yang kesepuluh kalinya. Julian menelepon lagi. Pesan singkat mulai masuk bertubi-tubi: "Nina, are you okay? Please answer me."

​Nina mengabaikannya. Untuk pertama kalinya, ia memilih untuk tidak menghiraukan Julian. Bukan karena ia tidak mencintai Julian, tapi karena saat ini, di taman sunyi di Kaliurang ini, ada sebuah luka lama yang butuh pengakuan sebelum benar-benar bisa sembuh.

​"Kak, jangan begini," Nina akhirnya memberanikan diri menyentuh lengan Arya pelan. "Kakak harus berdamai dengan keadaan. Kasihan Mbak Maura, kasihan diri Kakak sendiri."

​"Bagaimana cara damai kalau setiap sudut rumahku berbau penyesalan, Nin?" Arya menatap Nina dengan pandangan memohon. "Katakan padaku, apa aku masih punya kesempatan? Sedikit saja?"

​Nina menatap mata Arya, lalu menatap layar ponselnya yang kembali menyala dengan nama Julian. Ia berada di persimpangan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Di satu sisi adalah masa depan yang tenang dan terjamin, di sisi lain adalah cinta masa lalu yang penuh luka namun sangat mendalam.

​*

​Matahari akhirnya benar-benar tenggelam. Lampu-lampu taman mulai menyala otomatis, memberikan efek dramatis pada wajah mereka yang sama-sama basah oleh air mata.

​"Aku harus kembali ke dalam, Kak. Maya pasti mencariku," ucap Nina lirih.

​Arya mengangguk lemah. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan: ia sudah menyampaikan kejujurannya, dan ia sudah melihat Nina sekali lagi dari jarak yang sangat dekat. "Terima kasih sudah mau menemui mayat hidup ini, Nin."

​Nina berdiri, merapikan kebayanya. Sebelum ia melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi. "Kak Arya... tolong, sehatlah. Bukan untukku, tapi untuk Ayah Hamdan yang dulu sangat bangga padamu."

​Nina berjalan meninggalkan taman itu dengan langkah yang berat. Begitu ia sampai di koridor villa yang sepi, ia mengeluarkan ponselnya. Ada lima belas panggilan tak terjawab dari Julian dan puluhan pesan.

​Nina menatap layar ponselnya lama. Ia tidak langsung menelepon balik. Ia hanya menyandarkan kepalanya di tembok dingin, menyadari bahwa kepulangannya ke Jogja ternyata tidak menutup luka, melainkan merobeknya kembali dan memperlihatkan betapa dalamnya rasa yang masih tersisa.

​Di taman samping, Arya masih duduk sendirian. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma melati yang tertinggal dari keberadaan Nina. Ia tahu, perjuangannya belum berakhir. Bukan untuk merebut Nina kembali, tapi untuk melepaskan diri dari belenggu Maura dan ibunya yang telah membunuh jiwanya.

​Nina akhirnya mematikan ponselnya, memilih untuk tenggelam dalam kesunyian malam Jogja, sementara Julian di Amsterdam mulai merasakan firasat buruk bahwa kekasihnya sedang berada dalam jangkauan masa lalu yang belum benar-benar usai.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!