ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT I
Karinn menggeleng. “Aku tinggal bersama ayah dan pamanku. Aku juga tidak direhabilitasi karena ledakan gas. Bu Kaila, mungkinkah ... kau salah orang?”
“Benarkah? Apa maksudmu ... ada orang lain yang bernama sama denganmu?”
“...Ya, kupikir juga begitu.”
Bu Kaila diam sejenak, memikirkan beberapa hal sebelum kemudian Karinn berkata lagi,
“Bu Kaila,” panggilnya. “Aku punya satu pertanyaan terakhir.”
“Apa itu?”
“Saat di kantin tadi, kenapa ibu mengambil susu kocok stroberi yang Bibi Tera berikan padaku dan menukarkannya dengan es latte?”
“Kenapa kau bertanya? Bukankah kau lebih tahu?”
Bahu Karinn tersentak, tapi wajahnya tampak datar seolah sudah tahu bahwa dugaannya akan benar. “Bu Kaila, apa itu artinya ibu tahu aku alergi keju? Sejak kapan ibu mengetahuinya?”
“Ah, karena itukah kau bertanya tentang ibu mengajar di SD? Kau mengkhawatirkan bagaimana ibu dapat mengenalmu?” Bu Kaila tersenyum, mulai mengerti maksud basa-basi si lawan bicaranya di awal topik. “Saat ibu mengajar di kelas enam, ibu mengenal salah satu siswi yang dijahili oleh teman sekelasnya. Mereka mengganggunya menggunakan keju karena tahu dia alergi. Sampai suatu waktu, hal itu berakibat fatal. Dia tak sadarkan diri dengan kondisi tubuhnya yang sudah terluka akibat iritasi. Sebagai wali kelasnya, tentu ibu menuntut tindakan mereka. Sungguh anak yang malang. Sejak itu, ibu pun belajar berbaur dengan para siswi untuk mengenal lebih dekat dengan mereka. Ibu ingin tahu apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh mereka tanpa harus bertanya langsung. Yah, itulah alasan lain mengapa ibu sering berkunjung ke gedung asrama. Ibu punya banyak cerita untuk melakukannya.”
Jawaban yang masuk akal, membuat Karinn telak hingga akhirnya mengalihkan kontak mata mereka.
Bu Kaila melanjutkan, “Saat Bibi Tera menawarkan susu kocok stroberi padamu, kau tidak langsung menerimanya. Kau tidak enak menolaknya karena Bibi Tera menawarkannya secara cuma-cuma. Jadi bukankah wajar kalau ibu menilaimu sebagai penderita alergi keju?”
Gbrakk..! Tong sampah berukuran setengah badan orang dewasa terguling sejauh lima meter begitu ditabrak oleh seseorang yang berjalan sambil melamun. Untungnya petugas kebersihan telah membuang sampah-sampahnya, jadi Karinn terhindar dari kesialan yang akan membuatnya jatuh sambil berlumuran sampah.
“Ah, sial..” gerutunya.
“Lagi-lagi kau kenapa, bocah?” Seorang gadis berlari menghampiri, lalu ikut membantunya bangkit serta mengembalikan tong sampah ke tempatnya.
“Terima kasih, kak.”
Ariana berkacak pinggang, mengamati sang junior dari ujung rambut sampai sepatunya. “Kau berantakan sekali. Oi, kau berjalan sambil melamun lagi, ya?”
“Sejak kapan kakak di sini?”
“Yah, cukup lama. Aku mengunjungi kamar temanku sampai kemudian kulihat kau berjalan seperti hantu begini.”
Karinn terkekeh, seniornya itu memang yang paling tahu tentangnya. Sekilas, atensinya tertuju pada sarung tangan berwarna putih yang dikenakan Ariana—muncul sedikit noda kotor karena kecelakaan tadi. Ia jadi merasa bersalah, padahal benda itu sangat dijaganya demi melindungi tangannya dari senar selo yang tajam. Dalam hatinya, Karinn mengutuk dirinya sendiri. Lain kali dia harus berjanji untuk tidak melamun sambil berjalan-jalan.
“Basuhlah wajahmu dulu sebelum kembali ke kamar. Kau tidak kuizinkan menyimak informasi dariku selain dalam keadaan sadar. Mengerti?” Tanpa menunggu jawaban si junior, Ariana langsung beranjak pergi. Namun baru tiga langkah diambilnya, dia berbalik badan dan menghampiri Karinn.
“Ada apa?”
“Um, begini. Ada yang mau kutanyakan.” Respon tubuh Ariana tampak tidak biasa, bahkan dia terus mengalihkan kontak mata dengan si junior sebelum kemudian dia memberanikan diri bertanya, “Karinn, usiamu 18 tahun, kan?”
Karinn mengangguk. “Ya, aku seusia denganmu. Kenapa?”
“Um, bolehkah aku tahu kenapa kau tinggal kelas?”
“Seingatku aku tidak pernah mengatakannya.”
Kerongkongan Ariana bergerak secara spontan, menelan ludah. Sementara itu manik matanya terpaku selama beberapa saat, jelas menunjukkan bahwa dirinya cukup terkejut mendapat serangan telak dari si lawan bicara. “Ah, ya. Aku hanya ... Kupikir itulah alasan kenapa kau jadi junior di tahun ketiga-ku. Jika menurutmu pertanyaanku tidak benar, kau boleh menyangkalnya.”
Karinn menegak ludah, mengakui bahwa dirinya cukup terkejut dengan lontaran pertanyaan si senior. “Kenapa ... kau penasaran tentang itu?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya ... Tidak ada salahnya jika aku mencoba dekat dengan junior, kan?” kata Ariana, nada bicaranya terdengar santai dibanding saat dia membuka topik obrolan. “Selain itu, aku memang selalu ingin tahu tentangmu. Menurutku kau terlihat seperti gadis misterius yang keluar dari novel. Yah, jika kau tidak nyaman dengan sikapku, anggaplah aku tidak pernah bertanya.”
Karinn melihat ke arah sembarang selagi sedang menimbang-nimbang jawabannya. Bohong jika ia tidak nyaman dan frustrasi dengan perubahan situasi yang mendadak begini. Terlebih pada senior yang telah dikenalnya sejak SMP itu, perasaannya yang abstrak jadi terasa campur aduk dengan perasaan terhadap dirinya sendiri.
Ariana, menurutnya dia adalah orang yang sangat peka terhadap apa yang ada di sekitarnya. Teman sekelasnya bahkan menjulukinya sebagai ‘cenayang’ karena dia bisa memprediksi peristiwa yang belum terjadi. Kemampuan analisis dan cara berpikirnya adalah alasan mengapa ia sangat mengaguminya sebagai senior. Namun pada kesempatan kali ini, dia benar-benar bingung. Tidak terbesit sedikit pun dalam benaknya tentang alasan Ariana dapat tahu isi kotak pandora yang selama ini mendampingi hidupnya sebagai rahasia.
Karinn menghela napas sembari memejamkan matanya, memantapkan kembali jawaban yang telah diputuskan. “Baiklah. Jadikan rahasia antara kau dan aku. Benar, aku tinggal kelas saat SD. Alasannya, aku mengalami kecelakaan dan harus menjalani rehabilitasi selama berbulan-bulan.”
Ariana manggut-manggut seolah merasa tidak ada yang spesial dari jawaban si junior. “Karena itukah kelasmu turun tingkat ke 4?”
“Tidak. Aku memang berada di tingkat 4 sejak SD.”
Air bertekanan sedang mengucur dari kran wastafel, membasahi telapak tangannya selama tiga menit. Waktu yang tidak normal itu bagi Karinn adalah hal biasa yang dapat meredakan energi negatif di tubuhnya. Segala macam perasaan yang membelenggu dirinya sampai terasa sesak mengalir bersama kucuran air.
“Apa kita pernah bertemu?” Napasnya memburu, bahkan telinganya serasa dapat mendengar bagaimana kerasnya jantungnya mendobrak dadanya. Dia mendongakkan kepalanya, menatap bayangan dirinya yang kacau di cermin. “Jika ya, bukankah itu artinya kemungkinan besar—”
Gbrak..! Terdengar suara gaduh dari salah satu bilik toilet. Menilai dari bunyi dentumannya, sepertinya orang di dalamnya jatuh dan kepalanya mengenai pintu. Tentu situasi tersebut membuat Karinn yang sedang bermonolog pada dirinya sendiri jadi terkejut, khawatir ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan begini—terlebih seseorang yang dikenalnya.
Cermin besar di depannya memantulkan sesosok gadis di belakang tubuhnya. Dia keluar dari bilik toilet dalam keadaan linglung dan berjalan dengan langkah tidak beraturan.
“Oi, kau kenapa?” Karinn bertanya panik. Beruntungnya dia segera berlari menangkap tubuh gadis itu saat nyaris tumbang dan berbenturan dengan dinding. “Kau...?” Pantas saja ia merasa wajahnya tidak asing, ia bertemu dengan gadis itu pada siang tadi di depan kelas 11-2. Dialah yang menjadi partner piket bersama si pemain Drama bernama Erica.
Di bilik toilet yang digunakannya, Karinn melihat sebuah botol kecil berwarna putih tergeletak di dekat kloset. Walau jarak pandangnya cukup jauh, ia dapat membaca dengan jelas tulisan yang tertera pada label kemasannya; Benzodiazepin. “Kunyuk ini...”
Si gadis menepis kedua tangan Karinn di tubuhnya, kemudian beranjak bangkit walau gerakannya masih menandakan dia belum sadar sepenuhnya. Perlahan-lahan dia mulai berjalan sembari meringis kesakitan di kepalanya. Karena pandangannya kabur, jadi langkahnya tidak jauh berbeda saat ia keluar dari bilik toilet.
“Oi,” panggil Karinn. Dia menghampiri gadis itu, kemudian menarik paksa pergelangan tangannya. “Jaga kesehatanmu.” Sampai di situ perbincangan singkatnya, ia pun berlalu.
Walau objek di sekitarnya tampak samar, namun si gadis dapat tahu bahwa ada orang lain selain dirinya di toilet kala itu. Dia jugalah yang telah memberikan sebutir pil obat di telapak tangannya. Menilai dari bentuk dan baunya, tampaknya orang itu juga mengkonsumsi obat yang sama seperti dirinya.
...• • • • •...
Bulan purnama menggantung dengan cantiknya di atas langit, memantulkan cahaya perak dari matahari untuk menyinari malam yang terkukung oleh gelap. Awan hitam berarak pelan membentuk pola-pola indah bersama ribuan bintang, menutupi bulan dan menciptakan bayangan misterius di tanah.
Jarum terpendek pada jam dinding menunjukkan pukul delapan. Itu belum terlalu larut untuk melanjutkan perbincangan yang tampak seru setiap kali berganti topik. Di kamar nomor 28, kelima anggota yang baru saja menyelesaikan makan malam bersama di balkon, duduk melingkar di kursi mereka dan saling berbagi cerita seperti yang biasa dilakukan sehari-hari. Kebetulan hari ini banyak peristiwa terjadi, termasuk tentang Karinn yang bergulat dengan Dianna di kantin siang tadi. Mereka jadi perbincangan di grup anonim sekolah karena ternyata aksi mereka berdua direkam dan dijadikan bahan bercandaan oleh seluruh siswi. Sebagian ada yang bereaksi kasihan terhadap Karinn atas kemalangan yang menimpanya, sementara sebagian yang lain meminta putaran kedua dari pergulatan mereka.
“Baiklah, ini dia yang kalian tunggu-tunggu.” Ariana selaku ketua kamar membuka topik obrolan baru. Keempat junior pun langsung antusias mendengarkan karena ini adalah lanjutan dari pembahasan mereka tiga hari yang lalu. “Ya, ternyata benar dugaan kita. Aku sudah menemui teman-temanku dari kamar-kamar yang berbeda selama tiga hari dan bertanya hal yang sama. Sebagian besar mereka menjawab bahwa sebenarnya mereka juga menyadari tentang keganjilan dari kasus itu. Selain mereka tidak tahu dari mana rumor itu berasal, mereka juga mencurigai bahwa pelaku bekerja sama dengan polisi.”
“Kenapa begitu?” Si junior kelas 10 bertanya.
“Aku kurang yakin, tapi detektif dari kelas 11-7 bilang kalau kedatangan polisi pada malam korban ditemukan itu aneh. Makanya dia berspekulasi bahwa pelaku memanipulasi fakta.”
“Jadi, walau rumor yang beredar lebih populer...”
“Kebanyakan mereka menyadari keganjilan?”
“Jika begitu, kenapa tidak ada yang bersaksi di wawancara?”
Dianna yang duduk tepat di sebelah Karinn, menyikutnya. “Oi, justru kalau mereka bersaksi, bencana lain akan terjadi. Coba pikirkan bagaimana kedua pihak itu saling bekerja sama untuk menutupi kebenarannya? Bisa-bisa si pelaku menargetkan kita.”
“Benar, itu masuk akal. Mungkin selama ini wawancara dan penyelidikan ulang polisi dilakukan setiap bulan adalah untuk mengamati kita.” Si junior ikut menyampaikan argumen yang bermakna menyetujui. Kebetulan dia adalah alumni SMP ini sama seperti keempat anggotanya yang lain. Jadi rumor atau spekulasi yang bermunculan kala itu memang sudah melekat di benak masing-masing. Walau sampai saat ini belum ditemukan juga titik terangnya, namun tak ayal bahwa sebagian besar memiliki firasat serupa.
“Wah, menyeramkan.”
“Mereka benar-benar maniak gila.”
“Mereka iblis dalam tubuh manusia.”
Angin malam berembus pelan, suara desirannya di antara celah dedaunan pohon terdengar menenangkan. Semakin malam larut, pemandangan gedung dan jalan di luar sana tampak menyeramkan seolah gelap menenggelamkannya.
Karinn duduk seorang diri di balkon. Matanya terpejam, membiarkan dengan sengaja semilir angin menyelimutinya. Ponsel di atas mejanya beberapa kali bergetar, panggilan masuk dari ayahnya. Kean tahu kebiasaan sang putri semata wayangnya itu saat malam menjelang larut, jadi dia menghubunginya untuk sekadar berbincang. Yah, walau sebenarnya alasan lainnya adalah dia mencemaskan pengaruh si adik iparnya itu yang sudah terlalu lama berada di dekatnya.
Ini bukan kali pertama Kean meneleponnya, juga bukan kali pertama panggilannya diabaikan. Singkatnya, dia terus melakukan itu tanpa tahu bahwa Karinn tidak menyukai ketenangannya diusik.
“Bulan mengalami siklus yang mirip seperti perjalanan emosional manusia.”
Terdengar suara seseorang berbicara, Karinn refleks menolehkan kepalanya ke belakang, mendapati Ariana entah kapan sudah berada di balkon mengikutsertakan diri untuk bergabung. Dia berjalan menuju pagar pembatas, lalu menatap gelapnya langit malam sembari berkata, “Bola cantik itu berfase dari bulan baru, bulan setengah, purnama, dan kemudian kembali lagi ke bulan baru. Siklus itu mencerminkan emosi manusia yang tidak pernah statis. Kita mengalami kebangkitan semangat (bulan baru), masa-masa penuh harapan (bulan setengah), hingga saat-saat refleksi mendalam (bulan purnama) sebelum akhirnya kembali ke titik awal lagi.” Ariana berbalik badan menghadap Karinn yang juga sedang menatapnya. “Analogi yang keren, kan?”
Karinn tidak menggubris, atensinya hanya merespons saat si senior duduk di kursi sebelahnya.
“Apa kau akan marah karena aku mengusik waktumu?”
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Bukankah seharusnya begitu?”
Dibalas dengan pertanyaan juga, Karinn langsung mengalihkan kontak mata. Ia tahu maksud si senior tak bukan adalah dirinya yang membiarkan ponsel bergetar alih-alih menolak atau membisukannya. “Kenapa kau di sini? Pergilah. Aku tidak leluasa merenung jika ada orang lain.”
“Kau memang yang paling tahu tentangku.” Ariana terkekeh. “Apa kau tidak merasa ada yang aneh saat aku menyampaikan informasi tentang kasus itu?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak menyadarinya? Ah, sayang sekali. Aku akan pergi kalau begitu.” Ariana beranjak bangkit, namun pergerakannya lebih dulu ditahan Karinn sehingga pantatnya kembali menyentuh kursi.
“Bukan begitu. Aku menyadarinya. Tapi ada hal lain yang kupikirkan.” Karinn terkekeh. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa kau bagi dengan para anggota. Jadi apa boleh buat selain aku menunggumu berbicara, hehee.”
Wajah datar Ariana mulai berangsur-angsur hilang. Yah, setidaknya dia merasa dihargai karena antusias lawan bicaranya. “Aku dengar dari salah satu junior kelas 11 tentang adanya kaitan antara kasus itu dengan Drama.”
“Drama?”
Ariana mengangguk. “Mereka yang memainkan Drama adalah mereka yang terlibat dalam kasus. Kau tahu? Banyak yang berasumsi kalau jumlah mereka lebih dari dua. Kau mengerti apa itu artinya, kan?”
Karinn menegak ludah, kemudian mengangguk dengan ragu-ragu. “Benang merahnya saling terhubung.”
...• • • • •...