Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Dan Taktik
"Aluna...."
Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya.
"Kenapa lagi kak Revan."
Matanya masih fokus pada layar komputer.
"Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk."
"Iya bentar lagi. Nanggung nih."
"Cari makan di luar yuk."
Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk."
Ia mengemasi beberapa barangnya.
***
Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang.
"Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekik di tangannya.
"Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor."
Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya.
"Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya.
"Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya.
"Novel genre apa?"
"Romance," jawabnya singkat.
"Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna.
"Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bisa bacanya?"
Aluna masih fokus pada bukunya, sementara tangannya membekap mulut Revan.
Revan terkekeh lalu membiarkan perempuan disampingnya melanjutkan bacaannya.
Pemandangan taman kota itu langsung berhadapan dengan jalan raya.
Lalu lalang kendaraan dan suara klakson membuat suara bising disekitarnya. Namun Aluna tetap fokus membaca bukunya seolah ia sedang berada di padang rumput hijau, yang tenang dan hening, tidak menghiraukan suasana ramai disekitarnya. Revan hanya memandangi rekannya itu dan tidak lagi mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan recehnya.
Disaat yang sama pula.
Mobil hitam melaju melewati taman kota, Arka yang hendak pergi ke suatu tempat karena ingin bertemu dengan seseorang tiba-tiba memberhentikan mobilnya.
Matanya menangkap sosok yang familiar—Aluna.
Dia melihat karyawannya itu sedang membaca buku.
Ia berpikir sesaat, sebelum akhirnya meraih ponselnya. Mencari sebuah kontak bernama 'Revan (Creative Lead)'
Dari dalam mobil, pandangannya tertuju pada Revan yang berdiri tak jauh dari sana. Tangannya bergerak cepat meraih ponsel di saku, kemudian menempelkannya ke telinga, wajahnya berubah sedikit serius.
"Iya Pak?" kalimat pertama diujung telepon.
"Van, kamu lagi dimana?" Tanya Arka.
"Saya sedang makan siang di luar, Pak."
"Kalau sudah selesai bisa tolong kembali ke kantor."
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Revan bingung.
"Ada dokumen penting yang harus segera kamu garap."
"Oh.. siap Pak. Saya akan segera kembali ke kantor."
"Oke."
Arka menutup telponnya, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyumannya tidak benar-benar sampai ke mata.
Setelah melihat Revan pergi meninggalkan Aluna di taman kota, Arka membuka pintu mobilnya, memarkirkannya di trotoar jalan.
Ia pergi ke sebuah cafe kopi yang tidak jauh dari sana, membeli dua cup kopi latte.
Pria dengan kemeja abu-abu itu berjalan mendekati perempuan yang tengah duduk di bangku taman, pandangannya fokus pada sebuah buku. Sampai ia tidak menyadari Arka tengah duduk disampingnya.
Arka tersenyum lucu melihat Aluna begitu fokus membaca bukunya.
Ia memandangi perempuan disampingnya, melihat detail setiap tubuhnya, rambut hitamnya yang tergerai sampai batas punggung, kedua matanya yang bergerak perlahan menyusupi setiap tulisan disana, jemari lentiknya yang membuka setiap lembar halaman dengan hati-hati.
Pandangan Arka tidak beralih pada perempuan di sampingnya itu, sampai tiba-tiba....
Kedua mata yang tadinya fokus pada buku itu, menoleh dengan cepat hingga mata mereka saling menatap, cukup lama.
Sontak Arka terkejut dan memposisikan dirinya.
"Bapak?" Mimik wajahnya sedikit kaget, "sejak kapan disini?" tanyanya polos.
"Disaat semua orang fokus dengan gadget mereka. Kenapa kamu memilih fokus dengan buku sampai-sampai tidak menyadari hal disekitar mu."
Aluna terdiam sesaat, pandangannya tertunduk. "Saya bisa saja membaca lewat ponsel. Tapi saya tidak bisa mencium aroma buku itu sendiri, tidak bisa merasakan struktur buku itu sendiri."
Jemarinya mengelus halaman buku, "makanya saya lebih suka baca buku daripada gadget."
Arka menyodorkan kopi latte, "dan untuk tetap bisa membaca buku tanpa mengantuk, kamu butuh kopi."
Aluna memandangi kopi itu beberapa saat, seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya dia meraihnya. "Makasih."
Keheningan menyelimuti diantara mereka.
Lalu lalang kendaraan terus berjalan tanpa jeda, tetapi waktu diantara mereka berdua seperti terhenti.
"Bapak sedang apa disini?"
Aluna mencoba memecah keheningan.
"Hanya sedang mencari angin."
Arka menyeruput kopinya.
Mereka terdiam beberapa saat, sampai Arka kembali dengan pertanyaannya.
"Kamu dan Revan, sepertinya dekat."
"Iya. Kak Revan teman yang baik."
"Baik—dimata kamu itu, seperti apa?"
Aluna diam sesaat. "Hangat. Tidak dingin."
Arka tersenyum tipis, "sepertinya saya harus belajar darinya."
Aluna menoleh sesaat, "untuk apa?"
"Untuk mendapatkan sesuatu."
Jawaban yang menggantung.
"Kenapa harus menjadi orang lain untuk mendapatkan sesuatu?" Aluna terdengar bijak. "Seseorang itu sempurna di mata yang tepat."
"Apa saya sempurna di mata mu?"
Tanya Arka tiba-tiba, membuat Aluna terpaku sesaat.
"Di mata saya, Bapak adalah seorang pemimpin yang sempurna bagi karyawannya."
Ia ea realistis.
Arka terkekeh kecil, bukan sebuah jawaban yang ia inginkan.
Aluna melirik jam ditangannya, ia kemudian memasukkan buku kedalam tasnya.
"Kalau begitu saya pamit kembali ke kantor dulu, Pak. Jam makan siang sebentar lagi selesai."
Dia berdiri dari duduknya.
Arka tidak menjawab.
Aluna berlalu pergi meninggalkan bosnya tanpa menunggu kalimat yang keluar.
Arka berdiri dari duduknya, tangannya ingin meraih Aluna, "tung..."
Kalimat itu terpotong karena dering ponselnya, ia merogoh ponsel di sakunya.
Telepon dari rekan yang tengah menunggunya.
Pada akhirnya, Arka kembali memperhatikan punggung Aluna yang berlalu meninggalkannya sendirian ditengah bisingnya suara klakson siang itu. Tanpa sempat mengucapkan kalimat terakhir.
***
Di kantor.
Revan tengah duduk di meja kerja Aluna.
Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya.
"Kak Revan? Sedang apa?"
Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya.
"Sedang menunggu."
Jemarinya mengetuk-ngetuk meja.
"Menunggu apa?" alisnya mengerut.
"Sesuatu yang dirampas dariku."
Ekspresinya datar.
Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk."
Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda.
Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya.
Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya.
Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa.
Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota.
Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati meninggalkan Aluna disana.
Sesampainya di kantor, dia memasuki ruang CEO, mengetuk pintu tetapi tidak ada sahutan.
Sampai kemudian pak Damar datang menghampirinya, "Revan, sedang apa?"
"Saya mau bertemu Pak Arka, katanya tadi beliau memanggil saya," ujar Revan.
"Loh... Bukannya Pak Arka sudah pergi ya, beberapa jam yang lalu," tanya Damar bingung.
Revan terdiam sesaat, "tadi beliau menghubungi saya untuk melihat beberapa dokumen."
"Setahu saya dokumen sudah ditandatangani dan diserahkan pada saya."
Revan semakin bingung, apa mungkin bosnya itu salah, pikirnya. Mencoba untuk berpikir realistis.
Karena tidak menemukan Arka, akhirnya Revan kembali ke taman kota berniat untuk menjemput Aluna. Ia merasa tidak enak telah meninggalkan Aluna disana padahal Revan sendiri yang mengajaknya ke luar.
Setelah memarkirkan motornya di sisi jalan, ia melangkah menuju tempat Aluna.
Namun langkahnya terhenti ketika dari kejauhan dia melihat Aluna bersama bosnya.
Raut wajah cerianya berubah menjadi datar, beberapa saat pikirannya mulai menghubungkan yang baru saja terjadi.
"Oh.. begitu, ya."
Gumamnya dalam hati.
Revan kembali ke kantor meninggalkan mereka berdua.
Sesampainya di kantor, ia berpapasan dengan Helena. "Loh kak Revan sendirian? Bukannya tadi pergi sama Aluna?"
"Aluna mampir ke suatu tempat, ada perlu. Jadi aku duluan." Kalimatnya terdengar santai.
Revan berlalu meninggalkan Helena setelah menjawab pertanyaannya.
Helena merasa bingung dengan wajah datar Revan yang tidak biasanya.