Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kejutan yang Terinterupsi
Pagi itu, suasana hati Nika seperti pelangi yang muncul setelah badai. Ucapan Devan di lokasi proyek kemarin—tentang kemeja biru—terus terngiang di telinganya seperti melodi yang indah. Ia menyadari bahwa hari ini adalah tanggal sembilan Maret, hari ulang tahun Devan. Tahun lalu, ia bahkan tidak ingat tanggal lahir suaminya sendiri; ia hanya tahu dari notifikasi kalender asistennya dan ia hanya mengirimkan sebuah kado formal berupa jam tangan mahal yang ia beli lewat jasa titip tanpa kartu ucapan yang tulus. Namun tahun ini, segalanya harus berbeda.
Nika sudah merencanakan semuanya dengan sangat detail. Ia tidak ingin lagi ada insiden "asap gas air mata" di dapur. Kali ini, ia memesan bahan-bahan terbaik dan mengundang salah satu chef kenalannya untuk memberikan kursus singkat di rumah secara privat sejak subuh tadi. Menu pilihannya tidak lagi aneh-aneh: nasi tumpeng kuning ukuran kecil, ikan asin goreng yang kali ini ia pastikan garing sempurna tanpa gosong, dan sambal terasi yang aromanya lebih "sopan" karena ia menggunakan ventilasi maksimal.
"Aku bisa melakukannya. Kali ini, dia pasti akan tersentuh," gumam Nika sambil menghias tumpeng dengan potongan timun dan wortel yang ia bentuk menyerupai bunga. Ia mengenakan terusan berwarna biru muda—warna yang direkomendasikan Devan kemarin. Ia ingin tampil sempurna, bukan sebagai desainer kondang, tapi sebagai seorang istri yang menantikan suaminya pulang.
Rumah sudah ia hias tipis-tipis. Tidak ada balon atau spanduk norak, hanya lilin aromaterapi beraroma kayu cendana—aroma favorit Devan—dan beberapa tangkai mawar putih di atas meja makan. Nika terus melirik jam dinding. Pukul tujuh malam. Devan biasanya sampai di rumah pukul setengah delapan jika tidak ada lembur.
Namun, tepat saat ia sedang menyalakan lilin terakhir, suara deru mobil terdengar di halaman. Jantung Nika berdegup kencang. Ia segera merapikan rambutnya di depan cermin, memastikan senyumnya terlihat tulus. Ia berlari kecil menuju pintu depan, siap untuk menyambut Devan dengan sebuah pelukan jika pria itu mengizinkan.
Ceklek.
Pintu terbuka. Namun, senyum Nika seketika membeku. Devan memang ada di sana, namun ia tidak sendirian. Di belakangnya, berdiri Clarissa dengan gaya yang tetap elegan, mengenakan trench coat tipis dan menenteng sebuah map kulit yang tebal.
"Loh, Nika? Kamu sudah pulang?" tanya Devan, tampak sedikit terkejut melihat lampu rumah yang temaram dan aroma wangi yang menyeruak.
"Mas... kamu... ada tamu?" suara Nika terdengar sedikit bergetar. Usaha kerasnya untuk tetap tegar seolah diuji kembali oleh kehadiran wanita itu.
"Maaf ya, Nika, kalau aku mengganggu waktu istirahat kalian," Clarissa melangkah masuk dengan santai, matanya memindai ruangan dan langsung tertuju pada meja makan yang sudah tertata cantik. "Wah, ada perayaan apa ini? Apa aku datang di saat yang salah?"
Devan menatap meja makan, lalu menatap Nika. Ada kerutan di dahinya, seolah ia baru menyadari sesuatu yang sangat penting namun ia terlupa karena beban pekerjaan. "Ni, ini... kamu yang menyiapkan semua ini?"
"Hari ini ulang tahunmu, Mas," jawab Nika pendek. Ia mencoba sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di depan Clarissa. Rasa cemburu dan kecewa bercampur menjadi satu adonan yang menyesakkan dada.
Wajah Devan berubah pias. "Ya Tuhan, aku benar-benar lupa. Pekerjaan di Bali sedang ada masalah teknis pada struktur pondasi, Clarissa dan aku harus merevisi drafnya malam ini juga karena besok pagi harus dipresentasikan ke dewan komisaris."
"Tapi Devan, ini hari ulang tahunmu," Clarissa menyela, namun nadanya justru terdengar seperti seseorang yang sedang "memiliki" informasi lebih banyak. "Kalau aku tahu, aku pasti akan membawakan kado. Nika, kamu sangat manis sudah menyiapkan ini. Tapi bisnis tetap bisnis, kan? Proyek ini senilai triliunan, Devan tidak mungkin menundanya hanya untuk makan malam."
Nika mengepalkan tangannya di balik punggung. Ia benci betapa Clarissa seolah menjadi juru bicara bagi suaminya sendiri. Ia benci bagaimana wanita itu menekankan kata "manis" seolah usaha Nika hanyalah sebuah hobi remeh dari seorang istri yang tidak tahu apa-apa tentang beban kerja suaminya.
"Aku mengerti proyek itu penting, Clarissa," ucap Nika dengan nada yang ia buat setegas mungkin. "Tapi ini rumah kami. Dan aku sedang berbicara dengan suamiku."
Suasana mendadak menjadi sangat kaku. Devan berada di tengah-tengah dua wanita yang memancarkan aura berbeda. Ia melihat kerja keras Nika yang terpampang di meja makan—ikan asin goreng yang aromanya sangat ia kenali—namun ia juga tahu bahwa di dalam tas Clarissa terdapat nasib ribuan pekerja proyeknya.
"Nika, beri aku waktu satu jam," ucap Devan akhirnya. "Kami akan membahas revisi itu di ruang kerja. Setelah itu, aku akan keluar untuk makan malam bersamamu. Tolong, ini darurat."
Nika menelan pahitnya kekecewaan itu. "Satu jam, Mas?"
"Satu jam," Devan mengangguk mantap. Ia kemudian memberi isyarat pada Clarissa untuk menuju ruang kerja di lantai atas.
Nika kembali ke meja makan sendirian. Ia duduk di sana, menatap lilin yang perlahan mulai meleleh dan nasi tumpeng yang mulai mendingin. Dari lantai atas, ia bisa mendengar samar-samar suara Devan dan Clarissa yang sedang berdiskusi dengan serius. Kadang terdengar suara tawa kecil Clarissa, atau suara Devan yang sedang menjelaskan sesuatu dengan nada beratnya.
Satu jam berlalu.
Dua jam berlalu.
Nika masih setia duduk di sana. Ia tidak bergerak sedikit pun. Ia merasa seperti seorang pelayan yang sedang menunggu majikannya selesai urusan. Penyesalan itu kembali datang; dulu, ia sering melakukan hal yang sama pada Devan. Ia sering membiarkan Devan menunggunya berjam-jam saat ia sedang sibuk berpesta atau berbelanja, bahkan ia sering membatalkan janji makan malam di menit terakhir. Sekarang, ia merasakan bagaimana rasanya menjadi pihak yang "tidak diprioritaskan".
Baru pada pukul sepuluh malam, langkah kaki terdengar menuruni tangga. Clarissa keluar lebih dulu dengan wajah puas. "Terima kasih, Devan. Revisi ini sempurna. Kita akan menang besok." Clarissa melirik Nika yang masih duduk di meja makan, lalu tersenyum tipis—senyum kemenangan yang sangat halus. "Selamat malam, Nika. Semoga makan malamnya tetap enak meskipun sudah dingin."
Setelah Clarissa pergi dan pintu depan tertutup, Devan melangkah menuju ruang makan dengan wajah yang sangat lelah. Ia melihat Nika masih duduk di sana, namun kali ini lilin-lilin itu sudah padam. Nika sedang menatap piring kosong di depannya.
"Ni... maafkan aku. Aku benar-benar kehilangan jejak waktu," Devan duduk di kursi seberang Nika. Ia melihat nasi tumpeng yang sudah tak lagi mengeluarkan uap.
Nika mendongak. Matanya merah, bukan karena asap cabai, tapi karena menahan tangis selama tiga jam. "Apa proyek itu benar-benar lebih berharga daripada kesempatan kedua yang sedang aku coba bangun, Mas?"
Devan terdiam. Ia melihat ikan asin di piringnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sendok dan mulai menyuap nasi dingin dan ikan asin itu ke mulutnya. Ia mengunyahnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Ini enak, Ni," ucap Devan lirih. "Rasanya persis seperti yang sering dibuatkan ibuku. Kamu... kamu benar-benar mempelajarinya?"
"Aku mempelajarinya karena aku ingin kamu tahu kalau aku peduli, Mas. Tapi sepertinya, Clarissa lebih tahu cara membuatmu tertarik daripada aku," Nika mulai terisak.
Devan meletakkan sendoknya. Ia berdiri, berjalan memutari meja, dan kali ini—untuk pertama kalinya sejak mereka berkonflik—ia menarik Nika ke dalam pelukannya. Devan mendekap kepala Nika di dadanya, membiarkan istrinya itu menangis sejadi-jadinya di kemeja putihnya.
"Clarissa tidak ada artinya, Nika. Dia hanya rekan kerja. Tapi duniaku... duniamu dan duniaku memang berbeda sejak awal. Itulah yang membuatku takut untuk kembali berharap padamu. Aku takut saat aku sudah mulai makan masakanmu, kamu tiba-tiba berubah pikiran dan menyodorkan surat cerai lagi," bisik Devan di rambut Nika.
Nika menggeleng kuat-kuat dalam pelukan Devan. "Tidak akan, Mas. Aku sudah merobek surat itu. Aku tidak ingin pergi. Aku ingin di sini, meski aku harus menunggu tiga jam setiap malam."
Devan menghela napas panjang, sebuah napas lega yang seolah melepaskan beban berton-ton dari pundaknya. Ia tidak mencium Nika, ia tidak langsung memaafkannya sepenuhnya, namun ia memeluknya lebih erat. Di malam ulang tahunnya yang hampir berakhir, Devan menyadari bahwa kado terindah bukanlah revisi proyek triliunan rupiah, melainkan seorang istri yang rela menunggunya dalam diam meski hatinya sedang terluka.