"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADE- ADE AJE SI PICKME ELISE INI
Seminggu setelah pembatalan pertunangan resmi, kehidupan Catharina berubah drastis. Tapi kali ini, perubahan itu ke arah yang jauh lebih baik.
Namanya menjadi perbincangan di kalangan bangsawan, bukan sebagai wanita yang tidak tahu diri, melainkan sebagai pionir wanita mandiri yang berani mengambil keputusan untuk kebahagiaannya sendiri. Sebuah predikat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, tapi ternyata terasa sangat pas di pundaknya.
Beberapa countess dan duchess muda bahkan mulai datang ke kediaman Elsworth untuk berkonsultasi tentang bisnis atau sekadar bertanya bagaimana cara menjadi mandiri seperti Catharina. Tanpa sadar, ia menjadi semacam role mode bagi para perempuan bangsawan yang selama ini merasa terkekang oleh aturan dan ekspektasi masyarakat.
Pagi itu, Catharina sedang mengadakan pertemuan kecil dengan lima wanita bangsawan di ruang teh kediamannya. Ada Duchess Amelia, Countess Victoria, Lady Eleanor, Lady Beatrice, dan Viscountess Helena. Mereka duduk melingkar dengan cangkir teh di tangan, suasananya hangat dan akrab meski baru pertama kali berkumpul seperti ini.
"Lady Catharina, bagaimana Anda bisa begitu berani mengambil keputusan membatalkan pertunangan?" tanya Duchess Amelia, wanita berusia tiga puluh tahun yang cantik dan anggun dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Saya sudah lama tidak bahagia dengan suami saya, tapi saya tidak berani melakukan apa pun."
Catharina meletakkan cangkir tehnya dengan pelan, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Duchess Amelia, keberanian itu tidak muncul tiba-tiba. Ia datang dari kesadaran bahwa hidup kita terlalu berharga untuk dihabiskan dalam ketidakbahagiaan. Anda hanya punya satu kehidupan. Mau dihabiskan untuk menyenangkan orang lain, atau untuk kebahagiaan Anda sendiri?"
Para wanita itu terdiam sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Ada yang menatap cangkir tehnya, ada yang menatap jauh ke luar jendela.
"Tapi Lady Catharina, masyarakat akan menghakimi kita," ujar Lady Eleanor akhirnya, suaranya nyaris berbisik, seperti takut dengan kata-katanya sendiri.
"Masyarakat akan selalu menghakimi, apa pun yang kita lakukan," jawab Catharina dengan tegas namun tidak keras. "Kalau kita diam dan patuh, mereka bilang kita lemah. Kalau kita berani dan bersuara, mereka bilang kita tidak tahu diri. Jadi kenapa kita harus peduli dengan pendapat mereka? Yang penting adalah pendapat kita tentang diri kita sendiri."
Countess Victoria tersenyum kagum, matanya berbinar. "Anda benar-benar luar biasa, Lady Catharina. Saya dengar Anda juga mulai berbisnis?"
"Ya. Saya dan Marquess Lucian sedang bekerja sama dalam beberapa investasi. Tambang emas, properti, dan dalam waktu dekat akan membuka salon kecantikan."
"Salon kecantikan?" Mata para wanita langsung berbinar serentak, semua mencondongkan tubuh ke depan. "Seperti apa?"
Catharina tersenyum. Inilah saatnya ia memanfaatkan pengetahuan dari dunia lamanya yang sudah ia bawa sejak hari ia tersedak biji salak itu.
"Saya akan membuka salon yang tidak hanya menawarkan perawatan wajah biasa, tapi juga perawatan modern dengan bahan-bahan alami yang terbukti efektif. Perawatan kulit, perawatan rambut, bahkan pijat dan mandi rempah. Tempat di mana wanita bisa merawat diri dan merasa istimewa, bukan karena orang lain meminta mereka cantik, tapi karena mereka ingin merawat diri mereka sendiri."
"Itu ide yang luar biasa!" seru Viscountess Helena, hampir menumpahkan tehnya karena terlalu bersemangat. "Saya akan jadi pelanggan pertama!"
"Saya juga!" tambah yang lain hampir serempak, diikuti tawa riang yang memenuhi ruangan.
Mereka mengobrol dengan penuh semangat tentang rencana bisnis Catharina sampai jarum jam menunjuk tengah hari. Saat para wanita itu akhirnya pamit pulang, mereka semua meninggalkan kediaman dengan senyum lebar dan semangat baru yang terpancar jelas dari wajah-wajah mereka.
Martha menghampiri Catharina sambil mengumpulkan cangkir-cangkir kosong ke atas nampan perak. "Yang Mulia, Anda benar-benar menginspirasi banyak orang."
Catharina menatap pintu yang baru saja tertutup, hatinya hangat tanpa sebab yang jelas. "Aku hanya berbagi apa yang aku pelajari, Martha. Kalau itu bisa membantu orang lain, kenapa tidak?"
*****
Sementara itu, di kediaman Nightshade, situasinya jauh berbeda.
Elise duduk di sudut dapur dengan wajah penuh kemarahan yang ia sembunyikan di balik tatapan kosong. Sejak dipindahkan ke dapur oleh Duke Raphael, hidupnya menjadi neraka yang tidak pernah ia bayangkan. Ia yang dulu bisa bebas berkeliaran di seluruh penjuru kediaman, mencari perhatian Duke dengan berbagai cara, kini harus mengupas kentang dan mencuci piring dari pagi hingga malam.
Tangannya yang dulu selalu terjaga halusnya kini mulai kasar karena air sabun dan pisau kupas.
"Ini semua gara-gara Catharina terkutuk itu," gerutunya sambil mengupas wortel dengan gerakan kasar, serpihan oranye beterbangan ke mana-mana.
Di sampingnya, pelayan lain bernama Clara menatapnya dengan tatapan sinis yang sudah lama ia tahan. "Kamu terlalu berambisi, Elise. Dari awal semua orang sudah tahu kamu sedang mengincar Duke. Tapi kamu pikir kamu siapa? Hanya pelayan rendahan seperti kami semua."
Elise menatap Clara dengan mata menyala, rahangnya mengeras. "Tutup mulutmu, Clara! Setidaknya aku punya keberanian untuk mencoba. Tidak seperti kamu yang hanya bisa mencuci piring seumur hidup!"
"Lebih baik mencuci piring seumur hidup daripada jadi pemburu kedudukan yang gagal total!" balas Clara tidak mau kalah, suaranya naik setingkat.
Elise melempar wortel yang dipegangnya ke arah Clara, tapi meleset dan jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Kepala dapur, Madam Susan, langsung muncul dari balik pintu dengan wajah merah padam.
"Elise! Clara! Berhenti bertengkar atau kalian berdua saya pecat sekarang juga!"
Keduanya langsung bungkam, menundukkan kepala. Tapi tatapan penuh kebencian masih saling dilempar di balik kepala yang tertunduk itu.
Malam harinya, ketika semua pelayan sudah terlelap, Elise menyelinap keluar dari kamar dengan mengendap- ngendap. Ia menyusuri lorong gelap kediaman, menghindari setiap lilin yang masih menyala, sampai akhirnya mencapai taman belakang yang jarang dikunjungi siapa pun setelah gelap.
Di sana, seseorang sudah menunggunya. Seorang pria paruh baya dengan jubah hitam gelap dan wajah yang tertutup setengah oleh tudung kapnya.
"Kamu terlambat," ujar pria itu dengan suara serak.
"Maaf, Paman Marcus. Aku harus memastikan tidak ada yang mengikuti." Elise mendekat, suaranya diturunkan hingga hampir tidak terdengar. "Bagaimana? Apakah Paman sudah menyiapkan yang aku minta?"
Marcus mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari dalam jubahnya. Botol itu begitu kecil hingga nyaris tersembunyi di dalam genggaman tangannya. "Ini yang kamu minta. Racun yang sulit terdeteksi. Hanya butuh beberapa tetes di makanan atau minuman, dan korban akan sakit parah. Tidak langsung meninggal, tapi cukup untuk membuatnya lemah dan tersiksa berhari-hari."
Elise mengambil botol itu dengan senyum licik yang mengubah wajah cantiknya menjadi sesuatu yang mengerikan. "Sempurna."
"Tapi ingat, Elise." Mata Marcus menatap keponakannya dengan tajam. "Kalau kamu ketahuan, aku tidak akan mengenalimu lagi. Kamu mengerti artinya, kan?"
"Aku mengerti, Paman. Jangan khawatir. Aku tidak akan ceroboh."
Marcus terdiam sebentar, menatap botol kecil yang kini tersembunyi di dalam genggaman Elise. "Kenapa kamu begitu membenci Lady Catharina? Dia bahkan sudah melepaskan Duke Raphael. Kamu harusnya lega, bukan semakin marah."
"Lega?" Elise tertawa pahit, suaranya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri. "Duke Raphael bahkan tidak melirikku setelah Catharina pergi! Dia masih memikirkan wanita itu! Dan yang lebih menyakitkan, Catharina sekarang menjadi terkenal dan dikagumi semua orang. Setiap ke mana pun aku pergi, yang aku dengar hanya nama dia, nama dia, nama dia. Sementara aku? Aku dicampakkan ke dapur seperti sampah yang tidak berguna!"
"Jadi ini hanya tentang rasa iri?"
"Ini tentang keadilan!" Elise hampir berteriak, lalu langsung menekan bibirnya rapat-rapat sebelum suaranya pecah terlalu keras. Ia menarik napas panjang, berusaha menguasai diri. "Catharina tidak pantas mendapat semua itu. Dia hanya wanita beruntung yang lahir dari keluarga bangsawan, semuanya sudah tersedia untuknya. Sementara aku? Aku harus bekerja keras sejak masih kecil, berjuang untuk setiap hal yang aku miliki, tapi tidak pernah mendapat apa pun yang berarti!"
Marcus menggeleng pelan. "Kamu sedang dibutakan oleh kebencian, Elise. Jalan ini akan berakhir buruk."
"Atau berakhir dengan kemenanganku." Elise menyeringai licik, menyimpan botol racun itu dengan rapi di dalam saku tersembunyi di balik roknya. "Terima kasih, Paman. Aku berhutang budi padamu."
Setelah Marcus pergi dan bayangannya lenyap di antara pepohonan, Elise berdiri sendirian di taman belakang yang gelap. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan dedaunan, tapi Elise tidak merasakannya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Catharina von Elsworth, bersiaplah. Permainan baru saja dimulai."
*****
BERSAMBUNG