NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Gatotkaca tertegun. Ikatan di dunia fana?

"Hamba tidak memiliki ikatan apa pun lagi, Batara," bantah Gatotkaca tegas, mengepalkan tangannya. "Sumpah hamba pada Amarta telah hamba bayar lunas dengan darah. Sumpah hamba untuk mengawal Dewi Pregiwa telah paripurna di gerbang Swantipura. Hamba mati tanpa meninggalkan hutang pada siapa pun."

Dewa Kematian itu menggeleng pelan. Ia mengangkat sebelah tangannya, menunjuk ke arah kabut kelabu di atas kepala Gatotkaca. Kabut itu perlahan berputar, menipis, dan membentuk sebuah cermin bayangan raksasa yang memperlihatkan dunia orang hidup.

"Karma tidak hanya terbentuk dari sumpah yang diucapkan oleh bibir, Gatotkaca," suara Yamadipati kembali bergema. "Karma juga terbentuk dari jejak kehancuran yang ditinggalkan oleh kepergianmu."

Di dalam cermin kabut itu, Gatotkaca melihat sesuatu yang seketika menghentikan detak jantung rohnya.

Ia melihat sebuah menara batu yang gelap dan kotor oleh kotoran burung. Di sana, Dewi Pregiwa berdiri mengenakan jubah beludru hitam. Namun, wajah pualam wanita itu tidak lagi memancarkan kelembutan dan keteduhan yang selama ini menjadi satu-satunya alasan Gatotkaca bertahan hidup. Wajah itu keras, sedingin es, dan matanya memancarkan kekejaman yang sangat pekat saat ia menyerahkan sebuah kantung emas kepada seorang pria tua berbongkok (Ki Randu).

Cermin kabut itu kemudian bergeser, memperlihatkan lorong-lorong Swantipura yang membeku. Gatotkaca melihat Pregiwa sedang merajut kebohongan demi kebohongan dengan senyum pualamnya, menebarkan racun perpecahan di antara para jenderal, memanipulasi suaminya sendiri, dan mengumpulkan kekuatan militer rahasia dalam bayang-bayang. Ratu yang dulu begitu rapuh dan menangis di dadanya di tengah badai salju itu, kini telah bermutasi menjadi seekor monster politik yang siap menenggelamkan ribuan nyawa ke dalam lautan darah demi membalaskan dendamnya.

"Tidak..." bisik Gatotkaca ngeri. Ia melangkah maju, tangannya tanpa sadar terulur ke arah cermin kabut tersebut, ingin menggapai wajah Pregiwa dan menarik wanita itu menjauh dari kegelapan. "Apa... apa yang terjadi padanya? Mengapa ia menempuh jalan yang begitu kotor?"

"Kematianmu adalah kapak yang membelah jiwa wanita itu menjadi dua, Gatotkaca," Yamadipati menjelaskan takdir dengan kejam tanpa tedeng aling-aling. "Kau mengira pengorbananmu di Kurusetra akan memastikan ia hidup bahagia sebagai permaisuri. Namun kau lupa, bahwa saat kau membunuh dirimu sendiri di ujung tombak Konta Wijayadanu... kau juga membunuh cahaya nurani di dalam diri Dewi Pregiwa."

Cermin kabut itu memudar kembali menjadi asap kelabu, meninggalkan Gatotkaca dalam keputusasaan yang sepuluh ribu kali lipat lebih menyakitkan daripada tusukan panah Adipati Karna.

"Wanita itu kini berjalan di atas jalan yang akan membawanya langsung ke dasar kawah neraka yang paling dalam," lanjut sang Dewa Maut, mengayunkan gadanya menunjuk ke arah jurang berapi di kejauhan Yamaloka. "Kelak, saat usianya di dunia fana berakhir, ia tidak akan menyeberangi jembatan surga. Jiwanya yang telah berlumur intrik, darah, dan dendam akan diseret langsung oleh algojoku ke kawah siksaan abadi. Itulah harga dari cinta butamu, Ksatria."

Gatotkaca jatuh tertunduk. Tangannya mencengkeram kabut di bawah lututnya.

Ia membayangkan Pregiwa—wanita yang kulitnya sangat lembut, yang tangisannya membuat semesta seolah berhenti berputar—akan disiksa di dalam lahar neraka selama ribuan tahun hanya karena ia mencoba membalaskan dendam atas kematian seorang raksasa rendahan sepertinya. Rasa bersalah yang tak terbayangkan meledak di dalam dada roh Gatotkaca, membuat cahaya merah Candradimuka di jantungnya kini berkobar hebat, mengubah warna kabut di sekitarnya menjadi merah darah.

"Lalu... apa yang harus hamba lakukan, Batara?" ratap Gatotkaca, memohon belas kasihan pada penguasa alam baka. "Hukum hamba! Lemparkan jiwa hamba ke neraka paling dasar sebagai gantinya! Tapi tolong... selamatkan jiwanya. Bersihkan kebencian di dalam dadanya!"

"Hukum alam baka tidak menerima jiwa pengganti untuk sebuah dosa yang dilakukan dengan kesadaran penuh," tolak Yamadipati mutlak. "Satu-satunya cara agar nurani wanita itu bisa diselamatkan... adalah jika kau kembali ke dunia fana, dan menghentikannya dengan tanganmu sendiri sebelum darah pertama tumpah di Swantipura."

Gatotkaca mendongak dengan cepat. Mata elangnya kembali menyala merah keemasan. Sebuah percikan harapan yang sangat gila, sangat mustahil, namun begitu menggoda akal sehatnya, menyala di tengah alam kematian.

"Kembali?" ulang Gatotkaca, suaranya kini tidak lagi bergetar karena putus asa, melainkan dipenuhi oleh tekad baja yang pernah membuat seluruh pasukan Kurawa kencing di celana. "Hamba bisa kembali ke dunia fana?"

Yamadipati tertawa, suara tawanya membuat riak ombak ganas di Sungai Serayu Hitam.

"Kau berbicara seolah kembali dari Yamaloka adalah sebuah perjalanan melintasi lembah, Gatotkaca," cemooh sang dewa maut. "Tubuh fisikmu telah hancur menjadi abu di Tegal Kurusetra. Jika jiwamu memaksa untuk kembali, kau tidak akan memiliki tubuh untuk ditempati. Terlebih lagi, gerbang alam baka ini dijaga oleh Tiga Penjaga Purba dan lautan lahar karma. Tidak ada jiwa yang pernah berhasil merangkak naik melawan arus kematian... kecuali mereka bersedia menukar separuh eksistensi dewatanya dengan kutukan dunia bawah."

Gatotkaca bangkit berdiri dengan perlahan. Otot-otot pada wujud rohnya menegang. Hawa panas yang memancar dari dadanya kini membakar habis keputusasaan dan kelelahan yang sebelumnya menyelimutinya. Ia telah menemukan tujuan barunya. Sumpah ksatrianya untuk melindungi Pregiwa ternyata belumlah usai. Dulu ia melindunginya dari pedang dan badai salju; kini, ia harus melindungi wanita itu dari kegelapannya sendiri.

Sang Senopati Pringgandani mengepalkan kedua tangannya hingga terdengar suara derak gaib di udara. Ia memutar lehernya, memberikan tatapan yang begitu buas kepada Dewa Kematian di seberang sungai, tatapan yang membuat Yamadipati untuk pertama kalinya menyadari betapa berbahayanya ciptaan Kawah Candradimuka ini.

"Batara Yamadipati yang Agung," ucap Gatotkaca, suaranya menggema hebat, memecahkan keheningan absolut Yamaloka. Ini adalah deklarasi perang seorang jiwa yang menolak mati. "Hamba tidak peduli jika hamba harus kehilangan eksistensi dewata hamba. Hamba tidak peduli jika hamba harus merangkak kembali ke Swantipura dalam wujud iblis tanpa raga sekalipun. Tunjukkan di mana gerbang Tiga Penjaga Purba itu berada... Hamba akan menghancurkannya malam ini juga."

Malam itu, di dunia kematian yang sunyi, pemberontakan terbesar sepanjang sejarah alam baka baru saja dimulai. Sang malaikat maut akan menebas jalan kembalinya menuju dunia fana, demi menyelamatkan satu-satunya ratu yang bertahta di dalam jiwa matinya.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!