NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah asli

Di dalam kamar VIP yang sunyi, Laila menatap langit-langit plafon dengan pandangan kosong. Kata-kata Zayn memang menenangkan, tapi api dendam dan rasa sakit di dalam dadanya jauh lebih besar daripada rasa syukur. Bayinya hilang. Harga dirinya diinjak-injak. Lima tahun pengabdiannya dibalas dengan pengusiran layaknya binatang.

​"Gion... Ibu..." desis Laila. Suaranya pecah, namun matanya memancarkan kilat yang berbeda.

​Ia melirik ke arah pintu. Zayn baru saja pergi, dan perawat mungkin sedang sibuk di ruang jaga. Dengan gerakan perlahan dan menahan ringkih di perut bawahnya, Laila melepas selang infus dari punggung tangannya. Ia meringis saat darah sedikit merembes, tapi ia tak peduli.

​Ia bangkit, kakinya gemetar saat menyentuh lantai dingin. Di dalam lemari pasien, ia menemukan pakaian lamanya yang masih menyisakan noda debu saat ia tersungkur di depan gerbang tempo hari. Dengan napas yang memburu, Laila mengganti pakaian rumah sakitnya.

​"Aku nggak bisa cuma diam di sini dan nunggu Zayn balas dendam. Ini urusanku," gumamnya sambil memaksakan diri berjalan menuju pintu.

​Beruntung, koridor sedang sepi. Laila berjalan menunduk, menutupi wajahnya dengan rambut yang berantakan. Ia berhasil keluar dari rumah sakit dan segera menyetop taksi.

​"Ke perumahan Graha Indah, Pak. Tolong cepat," ucapnya dingin.

​Satu jam kemudian, Laila berdiri di depan gerbang rumah yang selama lima tahun ini ia anggap sebagai surga, namun ternyata adalah neraka. Ia menarik napas panjang, mengabaikan rasa pening yang sesekali menghantam kepalanya.

​Ia tidak mengetuk. Ia menekan bel berkali-kali dengan emosi yang meluap.

​Pintu besar itu terbuka. Bukan Gion yang muncul, melainkan Nyonya Ratih—mertuanya—yang tampil modis dengan daster sutra dan perhiasan emas di lengannya. Begitu melihat siapa yang datang, wajah Nyonya Ratih langsung berubah jijik.

​"Laila? Ngapain kamu ke sini lagi?! Kamu itu sudah dibuang, masih nggak punya malu juga ya?" teriak Nyonya Ratih tanpa basa-basi.

​Laila menatap mertuanya dengan tatapan tajam. "Mana Gion? Aku mau bicara sama suamiku."

​"Suami? Heh, sadar diri! Gion sudah nggak sudi punya istri macam kamu. Kamu itu pembawa sial!" Nyonya Ratih melangkah maju, mendorong bahu Laila hingga wanita itu hampir terjatuh. "Lihat muka kamu. Pucat, kusam, berantakan. Benar-benar nggak ada harganya."

​"Aku ke sini cuma mau minta pertanggungjawaban," suara Laila bergetar. "Karena perbuatan Gion, aku kehilangan anakku, Bu. Cucu Ibu..."

​Nyonya Ratih justru tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat nyaring dan menyakitkan di telinga Laila.

​"Cucu? Halah, paling itu cuma akal-akalan kamu supaya nggak dicerai, kan? Lagian kalaupun benar ada, ya syukurlah kalau mati. Saya nggak mau punya cucu dari rahim perempuan mandul yang tiba-tiba mengaku hamil kayak kamu. Pasti itu anak pembawa sial juga kalau sampai lahir!"

​"Ibu keterlaluan!" jerit Laila. "Aku mengandung anak Gion! Anak sah di rumah ini!"

​"Sah atau nggak, itu nggak penting!" bentak Nyonya Ratih. "Sekarang coba kamu bandingkan diri kamu sama Sarah. Kamu tahu Sarah, kan? Teman bisnis Gion yang sekarang sering ke sini?"

​Laila terdiam. Nama itu sudah sering ia dengar.

​"Sarah itu cantik, modis, wangi, dan yang paling penting... dia wanita karier yang berkelas. Dia bisa kasih Gion koneksi, bisa kasih Gion keuntungan. Nah, kamu? Cuma bisa pegang sutil di dapur, bau bawang, pakai daster bolong, mukanya nggak pernah diurus. Kalau Gion jalan sama Sarah, dia bangga. Kalau jalan sama kamu? Kayak bawa pembantu!"

​Nyonya Ratih memperhatikan penampilan Laila dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.

​"Kamu lihat penampilan kamu sekarang. Sudah kayak gembel di lampu merah. Nggak malu kamu berdiri di depan rumah mewah ini dengan tampang kayak gitu? Sarah kalau datang ke sini pakai tas yang harganya bisa buat beli sepuluh nyawa kamu, Laila!"

​"Kecantikan nggak ada gunanya kalau hatinya busuk, Bu," balas Laila lirih namun tajam.

​"Halah, nggak usah sok bijak! Di dunia ini, yang dilihat itu rupa dan harta. Gion itu butuh pendamping yang bisa angkat derajatnya, bukan yang cuma bisa nangis dan minta uang belanja doang. Mending kamu pergi sekarang sebelum saya panggil satpam buat seret kamu!"

​Tepat saat itu, sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah. Itu mobil Gion. Gion turun dari mobil, namun ia tidak sendirian. Seorang wanita cantik dengan pakaian kantor yang sangat stylish—rok pendek ketat dan blazer mahal—turun dari pintu sebelah. Sarah.

​Sarah menatap Laila dengan pandangan meremehkan dari balik kacamata hitamnya. "Gion, ini siapa? Pengemis kok bisa masuk sampai depan pintu?"

​Gion menatap Laila dengan dingin. Tidak ada raut bersalah, tidak ada raut sedih meski ia tahu Laila baru saja kehilangan anak mereka.

​"Laila, ngapain kamu di sini?" tanya Gion datar.

​"Gion... anak kita..." Laila melangkah mendekat, namun Sarah langsung bergelayut di lengan Gion.

​"Sayang, jangan dekat-dekat. Bau," ucap Sarah sambil menutup hidungnya dengan tangan yang kukunya dihias cantik. "Kamu nggak lihat dia kotor gitu? Bisa-bisa baju kamu ketularan kuman."

​Gion menghela napas, menepis tangan Laila yang mencoba menyentuh lengannya. "Laila, sudah cukup. Ibu benar, kamu dan aku sudah selesai. Aku sudah kasih kamu waktu lima tahun untuk membuktikan diri, tapi hasilnya nol. Kamu nggak bisa kasih aku keturunan, kamu nggak bisa jaga penampilan, dan sekarang kamu malah makin kacau."

​"Tapi aku hamil, Gion! Kamu yang bikin aku jatuh sampai aku keguguran!" teriak Laila histeris.

​Gion tertawa sinis. "Keguguran? Atau kamu sengaja jatuh supaya ada alasan buat nyalahin aku? Sudahlah, aku capek sama drama kamu. Lihat Sarah, dia jauh lebih segalanya dibanding kamu. Dia berkelas, pintar, dan nggak pernah ngerepotin aku dengan urusan remeh-temeh."

​Nyonya Ratih menimpali, "Tuh dengar! Gion aja sudah muak. Mending kamu pergi, cari cermin yang gede, terus lihat betapa nggak pantasnya kamu ada di sini. Kamu itu bumi, Sarah itu langit. Jangan mimpi mau menyamai dia."

​Laila menatap ketiga orang di depannya. Ibu mertua yang kejam, suami yang tidak punya hati, dan wanita selingkuhan yang sangat angkuh. Rasa sakit di perutnya kembali menyerang, tapi rasa benci di hatinya kini jauh lebih mendominasi.

​"Jadi... karena fisik dan harta, kalian buang aku?" tanya Laila pelan, air matanya sudah kering, berganti dengan tatapan yang sangat dingin.

​"Iya! Karena kamu nggak berguna!" sahut Nyonya Ratih sambil mendorong Laila hingga wanita itu terhuyung ke jalanan di depan pagar.

​Gion tidak menolong. Ia justru merangkul pinggang Sarah dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Ayo masuk, Sayang. Jangan diladeni orang gila ini."

​Pintu besar itu tertutup rapat.

​Laila duduk bersimpuh di atas aspal. Tangannya tergores, lututnya berdarah. Ia tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat mengerikan. Ia menyeka darah di lututnya dengan sisa-sisa kain bajunya.

​"Kalian bilang aku bumi dan dia langit?" gumam Laila. "Kita lihat nanti... siapa yang akan jatuh paling keras ke tanah."

​Ia bangkit berdiri dengan sisa kekuatannya. Saat ia berbalik untuk pergi, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah Zayn yang terlihat sangat murka namun tetap berusaha tenang.

​"Sudah puas melihat wajah asli mereka?" tanya Zayn pendek.

​Laila menatap Zayn. "Bawa aku pergi dari sini, Zayn."

​"Ke mana?"

​"Ke tempat di mana aku bisa menghancurkan mereka semua," jawab Laila tegas.

​Zayn tersenyum miring. Ia turun dari mobil, membukakan pintu untuk Laila, dan memperlakukannya seperti seorang ratu di depan gerbang rumah Gion yang baru saja mengusirnya.

​"Dengan senang hati, My Queen."

​Di dalam mobil yang melaju menjauh, Laila menatap rumah Gion melalui spion.

​"Zayn, kamu bilang kamu sudah siapkan semuanya?"

​Zayn yang sedang menyetir mengangguk. "Semua aset Gion Wijaya terkait dengan perusahaan pusat milik keluargaku. Besok pagi, saat dia bangun, dia akan menemukan semua rekening perusahaannya dibekukan dan investornya lari satu per satu."

​"Jangan cuma itu," potong Laila. "Aku mau dia kehilangan rumah itu juga. Aku mau dia dan ibunya tahu rasanya tidur di jalanan yang mereka banggakan itu."

​Zayn melirik Laila dengan bangga. "Itu permintaan yang mudah. Tapi ada satu hal lagi."

​"Apa?"

​"Besok akan ada acara pesta besar para pengusaha. Gion dan Sarah pasti datang untuk mencari investor baru karena mereka mulai panik. Aku ingin kamu datang ke sana."

​Laila melihat pakaiannya yang lusuh. "Dengan keadaan seperti ini?"

​Zayn tertawa kecil. "Tentu tidak. Malam ini, kita akan mengubah 'bumi' yang mereka hina menjadi 'matahari' yang akan membakar mereka semua."

​Laila memejamkan mata. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini ia punya tujuan. Gion Wijaya dan Nyonya Ratih telah salah memilih musuh.

​"Besok... mereka akan tahu siapa Laila yang sebenarnya," bisik Laila pada dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!