Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Agung Penguasa Wu 3
Sidang darah pembersihan masih berlanjut di bawah tatapan ngeri para bangsawan, sementara Wu Xuan pergi meninggalkan area aula takhta untuk memastikan pion rapuhnya, Yan Melin, menuruti perintah mutlaknya tanpa celah.
Lorong Istana Wu Agung yang terbuat dari marmer spiritual terasa dingin, para pelayan dan penjaga istana menunduk, bahkan berlutut, saat melihat Wu Xuan berjalan melewati mereka. Wu Xuan melangkah dengan langkah pelan dan berirama, jubah hitam kebesarannya menyapu lantai tanpa suara. Ia meninggalkan ketegangan yang mencekik di Aula Singgasana menuju kamar pribadinya di sayap timur istana, sebuah area terlarang yang dipenuhi formasi pelindung tingkat tinggi.
Begitu ia tiba di depan pintu kamarnya yang menjulang tinggi, sepuluh pelayan wanita langsung berlutut serempak di kedua sisi pintu.
"Menyambut kembalinya Yang Mulia Archduke," ucap kesepuluh pelayan itu dengan suara yang merdu bagaikan alunan musik surgawi.
Mata Wu Xuan melirik sekilas ke arah mereka. Kesepuluh pelayan ini mengenakan gaun sutra tipis yang sangat elegan, memancarkan aura murni dari Ranah Jiwa Menengah. Kulit mereka seputih salju, lekuk tubuh mereka menggoda iman, dan wajah mereka... masing-masing memiliki kecantikan tingkat dewi yang tak tertandingi.
Di luar, wajah Wu Xuan tetap kaku. Sorot matanya sedingin es abadi, seolah keindahan wanita di hadapannya ini hanyalah deretan patung batu yang tak bernilai. Ia memancarkan wibawa absolut seorang penguasa tiran yang tidak bisa digoyahkan oleh godaan duniawi rendahan.
Namun, di dalam kepalanya, jiwa pemuda Bumi berusia 24 tahun itu sedang berteriak histeris sambil memukul-mukul dinding imajiner.
'Sialan! Astaga naga! Terima kasih dewa! Apa-apaan standar kecantikan di dunia kultivasi ini?!' monolog batin Wu Xuan dengan napas mental yang tersengal. 'Di duniaku dulu, sepuluh wanita dengan wajah dan tubuh seperti ini akan memicu perang dunia, atau setidaknya membuat seluruh server internet global runtuh karena dipuja miliaran orang. Dan di sini? Mereka cuma pelayan penjaga pintu?! Jika bukan karena aku harus menjaga gengsi wibawa tiran ini, aku sudah mimisan sekarang!'
Menahan gejolak hormon pemuda bumi yang memberontak di dalam dirinya, Wu Xuan berdehem pelan.
"Kalian semua, keluar dan Jaga pintu luar kamarku. Jangan biarkan seekor lalat spiritual pun mendekat tanpa izinku," perintah Wu Xuan dengan nada berat dan cuek, sama sekali tidak menoleh lagi saat ia mendorong pintu kamarnya.
"Sesuai perintah, Yang Mulia," kesepuluh pelayan cantik itu menunduk patuh dan segera mundur dengan teratur.
Begitu pintu raksasa itu tertutup di belakangnya, Wu Xuan menghela napas panjang. Ia berjalan menuju ranjang giok di tengah ruangan dan langsung duduk dalam posisi lotus. Mengesampingkan urusan duniawi, ia menutup matanya dan membuka antarmuka sistem.
Saatnya mengklaim aset terbarunya.
Di dalam inventaris sistemnya, sebuah kartu bercahaya gelap berputar pelan. 1x Kartu Pemanggilan Elite Karakter Fiksi (Fiksi Luar).
Tanpa pikir panjang, Wu Xuan memberikan perintah mental untuk mengaktifkannya.
CRACK!
Kartu itu hancur menjadi partikel cahaya hitam. Seketika, suhu di dalam kamar anjlok drastis. Sebuah aura yang tidak berasal dari dunia ini, melainkan dari dasar jurang tanpa dasar, meledak di hadapannya.
Kegelapan memadat. Dari dalam pusaran energi hitam itu, sesosok wanita bermanifestasi.
Wu Xuan membuka matanya perlahan. Di hadapannya, berlutut seorang wanita dengan kecantikan yang sangat murni dan mematikan. Ia mengenakan zirah tempur hitam yang melekat ketat pada tubuhnya. Rambutnya sehitam malam, mengalir menutupi sebagian wajahnya yang pucat namun sempurna. Dari dahinya, menyembul sepasang tanduk hitam melengkung ke belakang.
Meskipun dalam wujud manusia, aura yang memancar darinya adalah puncak Ranah Kuno. Di balik punggungnya, ilusi bayangan naga raksasa—bukan naga surgawi memanjang khas Benua Tianlan, melainkan naga reptil raksasa bersayap kelelawar dari mitologi Eropa kuno—menggeliat pelan.
Data sistem mengalir masuk.
Nama: Armis.
Ras: Naga Jenis Abyss.
Wujud: Roh Pedang tingkat Kuno Puncak.
Tepat saat Armis mengangkat wajahnya untuk menatap Wu Xuan, sebuah ingatan buatan disuntikkan secara paksa oleh sistem ke dalam otak Wu Xuan.
Ingatan itu terasa sangat nyata, seolah ia benar-benar mengalaminya di masa lalu: Wu Xuan muda menemukan sebuah telur naga hitam legam di dasar jurang. Ia merawatnya dengan esensi darahnya sendiri. Telur itu menetas menjadi Armis kecil. Mereka bertarung bersama, menjelajahi alam rahasia. Hingga suatu hari, sebuah serangan fatal dari musuh misterius mengarah pada Wu Xuan yang sedang lengah. Armis, dalam wujud naga raksasanya, melompat dan menggunakan tubuh fisiknya sebagai tameng. Tubuhnya hancur lebur, namun dengan sihir Abyss terakhirnya, ia mengikatkan jiwanya menjadi roh pedang agar bisa terus bersama tuannya.
Wu Xuan memijat pelipisnya sejenak. Ia tahu ini hanyalah plot palsu yang sengaja ditanamkan oleh sistem untuk menciptakan loyalitas absolut yang masuk akal, tetapi emosi kehilangan dan kelegaan di dada pemilik tubuh ini terasa begitu menyesakkan dan nyata.
"Tuan..." suara Armis terdengar serak dan bergetar. Mata naga vertikalnya yang berwarna ungu terang menatap Wu Xuan dengan kerinduan dan kesetiaan yang tak berujung. "Armis bahagia... dan akhirnya bisa kembali melihat wajah Anda."
Wanita naga itu bersujud menyentuh lantai.
Wu Xuan menatap roh pedang itu dalam diam. Sebuah senjata yang memiliki jiwa, memiliki loyalitas absolut, dan memiliki kekuatan puncak Ranah Kuno. Ini adalah sebuah aset pertempuran yang tak ternilai harganya.
Wu Xuan mengulurkan tangan kanannya. Ruang di depannya terbelah, dan Pedang Pelahap Dunia (World Devourer Sword) yang ia dapatkan sebelumnya melayang keluar. Bilah hitam pekat pedang itu berdengung, seolah menantikan sesuatu.
"Armis," panggil Wu Xuan dengan nada lembut namun penuh otoritas. "Tubuh fisikmu telah tiada, tapi jiwamu masih menyala. Untuk sementara waktu, masuklah ke dalam Pedang Pelahap Dunia ini. Pedang tingkat Primordial ini akan menjadi wadah barumu, memelihara jiwamu hingga tiba saatnya aku bisa membuatkan tubuh baru untukmu."
Armis mendongak. Tidak ada keraguan sedikit pun di matanya. "Ke mana pun Tuan memerintahkan, di sanalah Armis berada. Jiwa saya adalah milik tuan."
Tanpa penundaan, tubuh Armis berubah menjadi kabut hitam yang pekat, lalu melesat masuk ke dalam bilah Pedang Pelahap Dunia. Seketika, pedang hitam yang tadinya terasa dingin dan mati itu kini memancarkan aura naga yang mengerikan. Ada denyut nadi kehidupan di dalam gagangnya.
Wu Xuan tersenyum puas, lalu menarik pedang itu kembali ke dalam dantiannya.
Beberapa jam telah berlalu sejak Wu Xuan meninggalkan Aula Singgasana.
Waktu istirahat telah usai. Sekarang, saatnya kembali ke pertunjukan utama. Wu Xuan pun kembali ke Aula Singgasana.
Ketika pintu raksasa marmer itu kembali terbuka, keheningan di dalam aula terasa jauh lebih pekat dan mematikan dibandingkan sebelumnya. Bau darah tidak lagi tercium samar, melainkan menusuk tajam ke paru-paru.
Wu Xuan melangkah masuk dengan santai, kembali menduduki singgasananya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja giok raksasa di tengah ruangan.
Jika beberapa jam yang lalu hanya ada enam kepala di sana, kini meja itu telah berubah menjadi etalase jagal.
Tiga puluh tujuh kepala kultivator ras manusia tertata rapi di atas meja. Darah segar masih menetes dari beberapa leher yang terpotong. Mata mereka membelalak kosong, memancarkan teror absolut dari momen terakhir kehidupan mereka.
Wu Xuan memejamkan mata. "Laporkan?"
Jenderal Agung Wu Zuan, dengan sigap dan suara lantang, melaporkan.
"Satu Jenderal Agung ke-10."
"Sepuluh jenderal bawahan yang berada di bawah komando Jenderal Agung ke-9 dan ke-10."
"Dua puluh Baron wilayah pinggiran."
"Tiga pemimpin Kota Besar tingkat Marques.
Dan tiga Tetua Penegak Hukum dari dewan klan Keluarga Wu sendiri."
"Demikian yang mulia Archduke." Selesai Laporan Wu Zuan ia kembali ke tempatnya.
Total tiga puluh tujuh pengkhianat dan mata-mata kekaisaran. Dieksekusi mati dalam kurun waktu beberapa jam.
Ratusan bangsawan yang masih hidup di dalam aula hanya bisa terdiam mematung. Tubuh mereka kaku, bahkan ada yang mengompol di dalam jubah kebesaran mereka namun terlalu takut untuk bergerak.
Algojo dari pembantaian senyap ini adalah Song Ginzhou dan jaringan bayangannya. Namun... tangan yang menunjukkan di mana para pengkhianat itu bersembunyi tidak lain adalah mantan Nyonya Utama mereka sendiri.
Di kursi Selir, Yan Melin tampak seperti mayat hidup. Tangannya gemetar hebat di atas pangkuannya. Ia telah melakukannya. Di bawah tekanan teror suaminya dan ancaman akan menjadi makanan Mandou, ia secara lisan membongkar satu per satu nama mata-mata kekaisaran yang ia ketahui. Setiap nama yang keluar dari mulutnya langsung ditindaklanjuti oleh hilangnya Song Ginzhou, dan beberapa menit kemudian, sebuah kepala baru akan dilemparkan ke atas meja. Ia telah memutus habis seluruh koneksinya dengan Keluarga Yan di ibukota. Ia kini sepenuhnya terisolasi, hanya memiliki suaminya sebagai tumpuan hidup.
"Pemandangan yang sangat artistik," ucap Wu Xuan santai, memecah keheningan yang menyiksa.
Ia berdiri dari singgasana, menatap sisa penguasa wilayah yang masih hidup dan bernapas.
"Empat Puluh Dua posisi penguasa kini kosong," deklarasi Wu Xuan, suaranya mengandung hukum yang tak bisa dibantah. "Dan mulai hari ini, Keluarga Wu akan mengambil alih secara langsung seluruh wilayah yang penguasanya telah mati di atas meja itu. Tidak ada lagi pewarisan takhta bagi keluarga pengkhianat. Wilayah mereka, tambang mereka, rakyat mereka... semuanya akan di kelola kembali menjadi milik Istana Wu Agung."
Bangsawan yang tersisa terkesiap. Pengambilalihan mutlak! Ini adalah sentralisasi kekuasaan yang paling brutal. Namun, siapa yang berani membantah saat tiga puluh tujuh contoh mengerikan sedang menatap mereka dari atas meja?
BRUK!
Seorang Marques di barisan depan tiba-tiba menjatuhkan diri, berlutut dengan kedua kaki dan bersujud dalam-dalam. "Keluarga kami bersumpah setia kepada Yang Mulia Archduke Xuan! Harta kami adalah milik Anda, nyawa kami adalah pedang Anda!"
Efek domino kembali terjadi. Pemandangan itu sangat epik sekaligus menyedihkan. Ratusan penguasa kota, para viscount yang congkak, hingga para baron baik yang setia maupun yang pelit, semuanya berlutut serempak. Mereka membuang seluruh ego faksi mereka.
Bahkan Yan Melin perlahan bangkit dari kursinya, lalu ikut berlutut di lantai giok, menundukkan kepalanya yang tadinya selalu terangkat angkuh. Ketiga putranya, Wu Guan, Wu Ling, dan bahkan Wu Shan yang masih pucat, ikut berlutut memberikan penghormatan mutlak kepada sang penguasa baru Wilayah Selatan.
Wu Xuan menatap pemandangan itu dengan tatapan seorang tiran sejati. Papan catur telah dibersihkan. Sisa bidaknya kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Mata Wu Xuan menyapu barisan tetua biasa, dan berhenti pada sosok pria paruh baya yang berdiri dengan postur tenang meski ikut berlutut hormat.
"Tetua Qin Han," panggil Wu Xuan.
Ayah dari Qin Wuyan itu mendongak, sedikit terkejut karena namanya tiba-tiba dipanggil di tengah ketegangan ini. Ia melangkah maju dengan hati-hati. "Hamba di sini, Yang Mulia Archduke."
"Hari ini, aku mencopot status tetua biasamu," titah Wu Xuan. Sebelum Qin Han sempat panik, kalimat selanjutnya membuat seisi ruangan menahan napas. "Aku menunjukmu sebagai Tetua Agung Bagian Sumber Daya Kultivator untuk seluruh Wilayah Selatan. Posisi yang lebih tinggi dari menteri mana pun di kekaisaran."
Qin Han terbelalak. Qin Wuyan yang duduk di kursi Permaisuri menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru menggenang di matanya melihat ayahnya diangkat ke posisi yang begitu mulia.
Ini bukan sekadar tindakan nepotisme bodoh dari Wu Xuan. Sebagai orang yang telah membaca novel aslinya, Wu Xuan tahu persis kapasitas Qin Han. Dahulu, pria ini adalah Menteri Agung Kekaisaran yang sangat brilian dalam mengelola sumber daya dan ekonomi kekaisaran. Ia dilengserkan bukan karena korupsi atau tidak becus, melainkan karena ia secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada kelicikan Pangeran Mahkota Yan Shen. Qin Han adalah seorang loyalis yang memiliki integritas dan otak jenius, sebagai perwakilan bawahan.
"Yang Mulia... hamba... hamba tidak pantas—" Qin Han mencoba merendah, air mata mulai menggenang.
"Aku tidak menerima penolakan," tegas Wu Xuan. "Kecerdasanmu dalam manajemen sumber daya adalah apa yang kubutuhkan untuk mengisi kekosongan dari para tikus tak berguna yang baru saja mati itu. Laksanakan tugasmu, kau bebas memilih dan melatih para tetua muda yang bisa dipercaya untuk menempati posisi kosong tersebut."
Qin Han langsung menjatuhkan diri, bersujud dengan penuh emosi. "Sumpah darah hamba untuk Keluarga Wu! Hamba akan memastikan setiap butir batu spiritual di Wilayah Selatan mengalir untuk kejayaan Anda, Archduke!"
Wu Xuan mengangguk puas. Dengan manajemen Qin Han dan pengawasan bayangan Song Ginzhou, Wilayah Selatan kini menjadi benteng besi yang produktif.
"Sidang selesai," titah Wu Xuan, mengibaskan jubahnya. "Semua bubar!!"
Titah itu seperti suara lonceng keselamatan bagi para bangsawan. Mereka buru-buru berdiri, membungkuk berulang kali, dan berhamburan keluar dari Aula Singgasana menuju altar teleportasi seolah dikejar oleh setan itu sendiri.
Ketika aula mulai kosong, menyisakan keluarga inti, aura tiran dan diktator yang sedari tadi menyelimuti Wu Xuan tiba-tiba lenyap, menguap ke udara tanpa sisa. Wajahnya yang kaku dan dingin mendadak melembut.
Ia membalikkan badan, berjalan perlahan menuju kursi Permaisuri. Dengan sebuah senyuman romantis yang bisa mencairkan gunung es, Wu Xuan mengangkat tangan kanannya. Menggunakan Akar Spiritual Kayu Surgawi, sebuah tunas kecil tumbuh dari telapak tangannya, memutar, dan mekar menjadi sekuntum Bunga Teratai Darah Surgawi yang sangat indah dan memancarkan aura menenangkan.
"Untukmu, Permaisuriku," ucap Wu Xuan lembut, menyelipkan bunga spiritual itu ke telinga Qin Wuyan.
Gadis muda itu merona hebat. Rona merah di pipinya membuat kecantikannya semakin tak nyata. Ia tersipu malu, menundukkan kepalanya sambil tersenyum sangat manis. "Terima kasih, Suamiku."
Beberapa tetua dan pelayan yang masih tersisa terbelalak tak percaya. Pria yang baru saja menjadikan kepala manusia sebagai camilan singa dan memenggal puluhan penguasa tanpa berkedip itu... kini bersikap seperti pemuda kasmaran yang merayu istrinya? Kontras psikologis ini membuat mereka semakin tidak bisa menebak jalan pikiran sang Archduke.
Namun, pemandangan romantis itu adalah racun mematikan bagi satu orang.
Di bawah undakan takhta, Yan Melin berdiri mematung. Matanya memerah, dan kuku jarinya menusuk telapak tangannya hingga berdarah. Kecemburuannya nyaris membakar jantungnya. Bunga itu... kelembutan itu... dulu adalah miliknya!
'Beraninya jalang ini mencuri perhatian suamiku' Gumam Yan Melin, Dadanya terasa sesak.
Tak tahan dengan pemandangan itu, Yan Melin memalingkan wajah dan berjalan mendekati putranya, Wu Shan, yang masih berdiri dengan wajah pucat di barisan tetua. Ia ingin menyapa dan memastikan kondisi anak kesayangannya.
Namun, sebelum Yan Melin sempat membuka mulutnya, sebuah botol giok kecil melesat dari arah Wu Xuan.
Wu Shan menangkap botol itu dengan refleks. Ia mendongak dan melihat ayahnya menatapnya dengan tatapan datar.
Itu adalah Pil Penyembuhan Tingkat Roh. Obat kelas atas yang bisa menyembuhkan cedera internalnya dalam hitungan jam. Namun, Wu Xuan melemparnya seolah membuang tulang ke arah anjing peliharaan. Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan. Tidak ada wejangan. Tanpa memberi kesempatan Wu Shan untuk membungkuk atau mengucapkan terima kasih, Wu Xuan membalikkan punggungnya.
Dengan satu ayunan tangan, sang Archduke merobek ruang di udara, menciptakan celah dimensi yang menghubungkan langsung ke kamar utama mereka. Ia meraih pinggang ramping istrinya, Qin Wuyan, menuntunnya masuk ke dalam retakan itu, lalu menghilang, meninggalkan aula tanpa repot-repot melirik selir dan putranya lagi.
Retakan ruang itu tertutup.
Yan Melin berdiri di sana, napasnya memburu. Penghinaan ini membuat amarah dan keputusasaannya mendidih.
"Jalang sialan!!" Gerutu Yan Melin gigi nya saling bergesekan.
"Ibu..." panggil Wu Shan pelan, menggenggam botol giok itu dengan erat. "Kenapa Ayah berubah drastis? Ia menatapku seolah aku orang asing."
Yan Melin menoleh menatap putranya, matanya memancarkan kegilaan yang dipicu oleh kecemburuan dan ambisi yang hancur. "Dia berubah karena dia sudah tahu, Shan'er. Dia tahu apa yang faksi ibu lakukan di belakangnya, dan dia sedang menghukum kita."
Wanita itu meraih tangan putranya yang besar, memaksanya membuka telapak tangannya. Yan Melin mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dan meletakkannya di atas botol penyembuh tadi.
"Gunakan pil dari ayahmu itu untuk menyembuhkan tulangmu. Dan gunakan ini..." Yan Melin membuka kotak kayu itu, memperlihatkan dua Pil Roh tahap awal yang memancarkan aura murni. "...ini untuk meningkatkan kultivasimu. Serap ini, hancurkan batasmu, lalu pergilah ke perbatasan bersama para jenderal lain."
Wu Shan terbelalak, wajahnya yang pucat semakin kehabisan darah. "T-Tapi Bu! Perbatasan Selatan ini adalah wilayah ekstrim! Tempat ini dipenuhi kultivator iblis, beberapa buronan kekaisaran, dan monster kuno! Bagaimana jika aku mati?!" keluh pemuda itu dengan nada manja yang selama ini selalu menjadi senjatanya.
PLAAAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Wu Shan.
Pemuda itu memegang pipinya yang memerah, menatap ibunya dengan syok.
"Mati?! Kau terlalu manja, Wu Shan!" desis Yan Melin dengan gigi terkatup, air mata keputusasaan menggenang di matanya. "Ibu terlalu memanjakanmu selama ini! Kau lihat Wu Guan dan Wu Ling?! Dua anak haram yang selalu kau injak-injak itu sekarang berdiri di atasmu! Kau kalah dari mereka karena kau takut berdarah!"
Yan Melin mencengkeram kerah jubah putranya. "Pergilah ke perbatasan. Bertarunglah. Membunuhlah. Buatlah dirimu berguna! Buatlah ayahmu bangga padamu lagi. Karena jika kau bisa membuktikan bahwa kau adalah pedang yang paling tajam..." suara Yan Melin melemah, menjadi sebuah bisikan penuh harap yang menyedihkan, "...dengan begitu, mungkin dia... dia akan melihat ibu lagi."
Mendengar keputusasaan ibunya, sisa-sisa mental manja di dalam kepala Wu Shan akhirnya retak. Ia menatap ke bawah, ke arah pil di tangannya, lalu kembali menatap ibunya dengan rahang yang mengeras.
"Maafkan aku ibu. Aku kini mengerti," ucap Wu Shan, suaranya kini terdengar lebih berat dan dingin. "Aku tidak akan kembali sebelum berhasil mendapatkan jasa kontribusi. Aku berjanji."
Wu Shan menoleh ke arah pintu keluar Aula Singgasana. Di sana, di ambang pintu, Wu Guan dan Wu Ling sedang berdiri bersandar pada pilar giok. Kedua pangeran yang baru diangkat itu menatap Wu Shan dengan senyuman mengejek—sebuah seringai ejekan dari dua serigala yang telah merebut takhta dari anjing rumahan yang manja.
Mata Wu Shan berkilat penuh kebencian. Takdir antara saudara sedarah ini telah digariskan dengan darah, dan badai di Wilayah Selatan baru saja dimulai.
Bersambung...