NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Mathias Brayden mulai melangkah mantap menuju lingkaran sihir yang berpendar biru di tengah lapangan. Setiap langkahnya menarik perhatian ratusan pasang mata. Aura pahlawan yang tenang namun kuat terpancar jelas dari bahunya yang tegap.

"Mathias! Semangat!" teriak Thalia dari pinggir lapangan sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

Mathias mengangguk kecil. Sebelum benar-benar masuk, ia menoleh sejenak ke arah Adel. Ia menyadari teman perjalanannya itu masih terlihat tidak tenang, wajahnya masih pucat pasi.

Adel merespons tatapan itu dengan anggukan kaku, mencoba memberikan dukungan moral meski pikirannya masih terpecah oleh keberadaan Leon. Begitu Mathias berdiri tepat di titik pusat lingkaran sihir, cahaya terang menelan tubuhnya. Dalam sekejap, ia menghilang.

Pandangan Mathias berubah. Ia kini berada di sebuah arena luas yang dikelilingi oleh dinding batu magis yang menjulang. Di tribun kehormatan yang melayang di atas arena, duduk beberapa sosok paling berpengaruh di akademi.

Di tengah, duduk seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata yang memancarkan kebijaksanaan luar biasa. Dialah Grandmaster Alaric, Kepala Akademi Asterlyn.

Di sampingnya, duduk seorang wanita dewasa yang tampak sangat elegan. Ia mengenakan gaun beludru merah tua, duduk dengan gaya santai sambil menumpangkan satu kakinya. Dialah Profesor Seraphina, kepala departemen sihir tempur.

Beberapa tetua lainnya duduk di barisan belakang, menatap ke bawah dengan mata tajam, siap memberikan penilaian objektif.

Mathias segera menunduk hormat dengan satu lutut menyentuh lantai. "Mathias Brayden, menghadap"

Grandmaster Alaric mengangguk pelan, memberikan izin tak bersuara. Mathias bangkit berdiri dan melangkah mantap menuju titik tengah arena.

Di tribun kehormatan, Profesor Seraphina membolak-balik lembaran kertas berisi informasi peserta. Matanya tertuju pada baris nama keluarga Mathias.

"Seorang anak bangsawan jatuh, ya? Aku penasaran seberapa kuat dia," ucap Seraphina dengan nada tertarik. "Apakah dia sanggup menyamai kekuatan mendiang Duke Brayden yang legendaris itu?"

"Kita lihat saja nanti," sahut Grandmaster Alaric singkat, matanya tidak lepas dari sosok pemuda di bawah sana.

Kini Mathias sudah sampai di tengah arena. Tiba-tiba, pilar-pilar di pinggiran arena memancarkan cahaya sihir yang menyilaukan lalu perlahan memudar.

Detik berikutnya, geraman rendah terdengar. Monster tingkat satu muncul. Empat ekor Shadow Wolf bertubuh kekar dengan taring yang meneteskan air liur. Monster tipe petarung ini langsung mengepung Mathias dari empat sisi.

Di luar ruangan, suasana lapangan mendadak riuh. Dua artefak batu sihir raksasa mulai bekerja. Batu pertama memancarkan siaran langsung sosok Mathias di dalam arena, sementara batu kedua menampilkan identitas dan statusnya.

(NAMA: MATHIAS BRAYDEN)

(RANK: A)

(CLASS: SWORDSMAN)

Seketika, sorak-sorai dan gumaman kagum pecah. "Rank A?! Gila, dia jenius sejati!" teriak salah satu murid.

Leon yang bersandar di kejauhan ikut menatap layar itu dengan mata menyipit. "MC memang beda," gumamnya pelan.

Kekaguman penonton semakin memuncak saat Mathias menggerakkan tangannya secara elegan. Tanpa ada sarung pedang di pinggangnya, tiba-tiba sebuah pedang muncul begitu saja di genggamannya dalam sekejap mata.

"Wah! Cincin penyimpanan! Gila, dia memiliki artefak legendaris itu?!" pekik para murid di lapangan. Di dunia ini, alat ruang dimensi seperti itu sangat langka dan mahal.

Leon tersentak. Cincin penyimpanan? Ia segera melirik ke arah cincin perak berbentuk harimau yang melingkar di jari manisnya sendiri. Cincin pemberian keluarganya sebagai simbol Anhart.

Jangan-jangan... Leon langsung mengaktifkan skill Appraisal Eye.

...[Ring Tiger]...

...[Tier: - ]...

...[Atribut: - ]...

...[Deskripsi: Cincin simbolis keluarga Anhart. Tidak memiliki fungsi magis.]...

Leon mengembuskan napas panjang, bahunya merosot sedikit. "Sial, ternyata hanya pajangan," ucapnya kesal dalam hati.

Leon mendecit kesal. Padahal, jika cincin harimau miliknya adalah alat ruang seperti milik Mathias, itu akan menjadi keuntungan besar. Meskipun sistem hologramnya memiliki fitur inventory, slotnya sangat terbatas—hanya tersedia 5 slot saja.

Di layar raksasa, pertarungan Mathias dimulai. Keempat Shadow Wolf itu bergerak serentak, menerjang Mathias layaknya bayangan hitam yang haus darah.

Mathias tidak panik. Ia justru memejamkan matanya sejenak, lalu membuang napas panjang dari mulutnya. Begitu kelopak matanya terbuka, kilatan perak melesat di udara.

Sret! Sret! Sret! Sret!

Gerakannya begitu cepat hingga mata telanjang sulit mengikuti. Dalam satu rangkaian tebasan melingkar yang presisi, keempat monster itu hancur menjadi partikel cahaya sebelum sempat menyentuh ujung jubahnya.

Angka di artefak pencatat waktu berhenti di: 00:00:20.

"Dua puluh detik?!" gumam kerumunan di luar dengan wajah melongo.

Tak ada waktu untuk beristirahat. Lantai arena kembali bergetar hebat. Kali ini, monster tingkat dua muncul. Asap hitam berkumpul di tengah, membentuk sosok tunggal yang jauh lebih mengerikan.

Sesosok Iron-Skinned Boar—babi hutan dengan kulit yang dilapisi lempengan logam alami dan taring sepanjang lengan manusia. Monster ini masih tipe petarung, namun dengan pertahanan yang jauh lebih alot dari serigala sebelumnya.

Waktu kembali berjalan. Iron-Skinned Boar itu melesat seperti peluru meriam, namun Mathias tetap tenang. Begitu moncong monster itu nyaris menyentuhnya, Mathias bergeser tipis dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

KLANG!

Suara logam beradu logam menggema. Tebasan Mathias tepat mengenai sela lempengan kulit babi hutan itu, membelahnya dalam satu gerakan bersih. Monster itu tersungkur dan hancur menjadi cahaya.

Sangat cepat. Mathias tidak membiarkan penonton bernapas lega.

Lantai arena bergemuruh lebih hebat dari sebelumnya. Tingkat tiga dimulai. Sosok raksasa muncul—seekor Armored Bear setinggi tiga meter. Beruang ini mengenakan pelindung dada dari baja hitam dan cakar yang dialiri energi mana.

Kali ini pertarungan tidak berakhir dalam hitungan detik. Mathias harus melompat ke sana kemari menghindari hantaman cakar yang menghancurkan lantai arena.

DUAK!

Cakar beruang itu menghantam tanah tepat di samping Mathias. Ia memanfaatkan momentum itu, berlari menaiki lengan sang beruang dan menusukkan pedangnya ke celah helm monster tersebut. Beruang itu mengaum kesakitan sebelum akhirnya tumbang.

Angka waktu di layar menunjukkan 00:03:45.

"Luar biasa..." bisik murid-murid di luar. Thalia tampak mengepalkan tangan dengan wajah tegang.

Namun, suasana di tribun kehormatan berubah serius. Profesor Seraphina menegakkan duduknya. "Sekarang barulah ujian yang sebenarnya dimulai. Masuk ke Tingkat 4."

Character Visual:

...Grandmaster Alaric...

...Profesor Seraphina...

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!