NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Keesokan harinya, matahari bersinar lebih terang, namun tidak sepenuhnya mampu menghilangkan sisa dingin dari hari-hari sebelumnya.

Kim Ae Ra tiba di kantor dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dibandingkan kemarin, meski pikirannya masih penuh dengan tanda tanya.

Percakapan dengan Jae Hyuk kemarin siang masih terngiang di telinganya, memberikan rasa hangat yang aneh namun juga menumbuhkan rasa penasaran yang lebih besar.

Hari itu, lantai eksekutif kembali sibuk dengan persiapan terakhir.

Dokumen-dokumen diperiksa ulang, presentasi disempurnakan, dan skenario-skenario yang mungkin terjadi selama pertemuan dengan Haesung didiskusikan secara mendalam.

Ae Ra bergerak dengan lancar, menangani telepon, mengatur jadwal, dan memastikan semua kebutuhan Jae Hyuk terpenuhi dengan baik. Ia merasa bangga melihat dirinya yang sekarang—perempuan yang tangguh, yang mampu berdiri tegak di tengah dunia bisnis yang keras ini.

Namun di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang selalu ia rasakan: tatapan Jae Hyuk.

Sejak kemarin, ia merasa pria itu semakin sering memperhatikannya. Bukan tatapan bos yang menilai kinerja sekretarisnya, tapi tatapan yang lebih dalam, lebih intens, seolah ia sedang mencoba mencari jawaban dari sesuatu yang telah lama ia tanyakan.

Kadang, saat mereka berpapasan di koridor atau saat Jae Hyuk keluar dari ruangannya, mata mereka akan bertemu, dan selama beberapa detik, dunia di sekitar mereka seakan berhenti berputar. Ae Ra bisa merasakan ada sesuatu yang kuat di antara tatapan itu, sesuatu yang menghubungkan mereka.

Ae Ra mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya karena mereka sudah semakin dekat sebagai rekan kerja. Tapi hatinya berkata lain. Setiap kali Jae Hyuk menatapnya seperti itu, jantungnya berdetak lebih cepat, dan wajahnya terasa panas.

Sore itu, saat pekerjaan hampir selesai, Han Sin Woo datang lagi ke kantor dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.

Ia langsung masuk ke ruangan Jae Hyuk tanpa mengetuk terlalu lama, seolah ada sesuatu yang sangat mendesak.

Ae Ra yang sedang merapikan berkas di meja depan sedikit memperhatikan, merasa ada sesuatu yang penting sedang terjadi. Aura tegang yang dipancarkan Sin Woo membuatnya ikut merasa cemas.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka dan Sin Woo keluar dengan wajah yang masih tegang. Ia menoleh sebentar ke arah Ae Ra, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk singkat dan pergi dengan langkah cepat.

Ae Ra bingung, tapi tidak sempat bertanya karena segera setelah itu, Jae Hyuk memanggilnya masuk.

"Ae Ra," suara Jae Hyuk terdengar dari dalam saat Ae Ra mengetuk pintu.

Ae Ra membuka pintu dan masuk perlahan. Ruangan itu terasa sama seperti biasa—luas, rapi, dan sedikit dingin.

Namun hari itu, ada suasana yang berbeda di dalamnya. Jae Hyuk tidak duduk di mejanya, melainkan berdiri di dekat jendela besar, memandangi langit kota yang mulai berwarna oranye keunguan karena matahari mulai terbenam.

Ia tampak sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.

"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Ae Ra pelan, memecah keheningan yang terasa.

Jae Hyuk menoleh perlahan, menatapnya dengan tatapan yang dalam dan sulit dibaca. Ia tidak langsung menjawab, melainkan berdiri diam beberapa detik, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan yang penting ini.

"Duduklah," katanya akhirnya, menunjuk kursi di depan meja kerjanya.

Ae Ra mengangguk dan duduk dengan hati-hati, meletakkan tablet di pangkuannya. Jae Hyuk kemudian berjalan menuju kursinya dan duduk, menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi yang serius namun juga lembut. Ada gejolak emosi yang terlihat jelas di matanya.

"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, Ae Ra," katanya, kembali menggunakan nama depannya tanpa gelar, membuat suasana di antara mereka terasa semakin intim dan penting. "Tim Haesung Group baru saja mengirimkan konfirmasi terakhir mengenai perwakilan mereka yang akan hadir besok."

Ae Ra menunggu dengan napas tertahan, merasa jantungnya berdebar kencang tanpa alasan jelas. Ada firasat yang mengatakan bahwa apa yang akan Jae Hyuk katakan selanjutnya akan mengubah banyak hal.

"Mereka mengumumkan nama perwakilan eksekutif mereka," lanjut Jae Hyuk pelan, suaranya terdengar berat. "Dan orang yang akan datang itu… adalah Lee Seo Jun."

Darah di tubuh Ae Ra seakan berhenti mengalir sejenak.

Ia menatap Jae Hyuk dengan mata terbelalak, mulutnya terbuka sedikit namun tidak ada kata yang keluar. Nama itu bergema di kepalanya,berulang-ulang seperti gema yang tak henti. Lee Seo Jun.

Pria yang selalu tenang di toserba, pria yang selalu menyiapkan minuman hangat untuknya tanpa diminta, pria yang ia anggap sebagai tempat bersandar yang paling aman dan nyaman.

"Tidak mungkin…" bisiknya pelan, suaranya bergetar hebat.

Ia merasa dunia di sekitarnya seakan berputar cepat. "Itu tidak mungkin, Tuan. Seo Jun… dia hanya bekerja di toserba. Dia… dia orang yang sangat sederhana. Dia tidak mungkin…"

Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa tercekat.

Semua potongan kecil yang selama ini terasa aneh dan mengganjal di hatinya—reaksi Seo Jun yang selalu diam dan tatapannya yang menjauh saat mendengar nama Haesung, ketenangannya yang terkadang terasa terlalu dewasa dan berwibawa untuk seorang pekerja toserba, bahkan cara ia memegang barang atau berbicara yang kadang memiliki nada otoritas yang samar—semuanya kini tiba-tiba memiliki makna yang jelas dan menyakitkan.

Namun kebenaran itu terlalu besar, terlalu mengejutkan untuk diterima begitu saja oleh akal sehatnya.

Jae Hyuk memperhatikan reaksi Ae Ra dengan cermat. Ia bisa melihat keterkejutan, rasa sakit, dan rasa dikhianati yang jelas tergambar di wajah gadis itu.

Dan di saat yang sama, di dalam dadanya, ia merasakan gejolak perasaan yang rumit. Ada rasa cemburu yang selama ini ia pendam diam-diam, yang kini bercampur dengan kenyataan pahit bahwa Seo Jun bukan sekadar pria biasa yang dekat dengan Ae Ra.

Dia adalah pewaris dari perusahaan rival terbesar mereka, musuh yang selama ini mereka waspadai dengan sangat ketat.

Dan yang paling menyakitkan bagi Jae Hyuk, Seo Jun telah berada di sisi Ae Ra selama ini, menyembunyikan identitas aslinya dengan sempurna, sementara ia sendiri baru saja menemukan kembali gadis di masa lalunya, gadis yang pernah ia selamatkan nyawanya.

"Aku tidak tahu apa hubunganmu yang sebenarnya dengan dia, Ae Ra," kata Jae Hyuk akhirnya, suaranya terdengar lembut namun juga tegas, seolah ia sedang berusaha menahan emosinya sendiri.

"Tapi aku ingin kau tahu satu hal dengan jelas. Pertemuan besok bukan sekadar soal kerja sama bisnis biasa. Ini akan menjadi sangat penting dan penuh risiko. Aku akan melakukan apa saja untuk memastikan kau aman di sana, tapi aku juga harus memintamu untuk sangat berhati-hati. Dunia bisnis ini penuh dengan tipu daya, rahasia, dan perhitungan yang dingin. Dan kita tidak tahu apa tujuan sebenarnya dia datang secara pribadi. Apakah ini murni keinginan ayahnya, atau ada rencana lain yang dia miliki sendiri."

Ae Ra hanya bisa mengangguk pelan, kepalanya terasa berat dan pusing. Ia tidak tahu harus merasa apa saat ini—marah karena dibohongi selama ini oleh orang yang ia percaya, kecewa karena sosok yang ia anggap teman dekat ternyata menyembunyikan identitas yang begitu besar darinya, atau bingung karena posisinya sekarang ternyata berada tepat di antara dua pria yang ternyata memiliki latar belakang keluarga yang saling bertentangan dan bersaing ketat.

Malam itu, Ae Ra tidak pergi ke toserba seperti biasanya.

Ia merasa tidak sanggup. Ia butuh waktu untuk sendirian, untuk memproses semua informasi yang baru saja ia terima, untuk mencoba merangkai potongan-potongan kenyataan yang tiba-tiba terungkap begitu cepat.

Ia berjalan pulang dengan langkah yang berat dan lambat, payung hitam milik Jae Hyuk di tangannya terasa semakin berat pula, seolah membawa beban seluruh rahasia dunia ini.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup dan remang-remang, ia merasa sangat kecil dan rapuh di tengah kota yang besar dan dingin ini.

Ia tidak tahu bahwa di toserba kecil itu, Seo Jun sedang menunggunya dengan cemas.

Pria itu berdiri di dekat pintu keluar, menatap jalanan yang mulai sepi dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Ia tahu, hari ini adalah hari di mana semuanya akan terungkap.

Ia tahu ayahnya pasti akan mengumumkan namanya sebagai perwakilan eksekutif dalam pertemuan itu, sebagai langkah terakhir untuk memaksanya terlibat kembali dalam urusan perusahaan.

Dan ia tahu, Ae Ra pasti akan mengetahuinya sekarang juga.

"Maafkan aku, Ae Ra…" bisiknya pelan ke dalam malam yang sunyi dan dingin, matanya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam.

"Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu. Aku hanya… aku hanya takut. Takut jika kau tahu siapa aku sebenarnya, kau akan menjauh. Takut kehilangan tempat di sampingmu, tempat yang selama ini membuatku merasa hidup."

Namun kata-kata itu tidak sampai ke telinga Ae Ra.

Malam itu, rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang akhirnya terungkap, dan tidak ada yang bisa kembali seperti semula.

Pertemuan besok bukan hanya soal kerja sama antar dua raksasa perusahaan.

Itu adalah pertemuan yang akan mempertemukan kembali masa lalu dan masa kini, yang akan menguji kesetiaan, perasaan, dan kebenaran yang selama ini terkubur.

Dan Kim Ae Ra, tanpa sadar, berdiri tepat di tengah-tengah badai besar yang akan segera meledak dan mengubah segalanya selamanya.

1
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!