Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Langit Desa Asih yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu pekat hanya dalam hitungan menit. Awan kumulonimbus menggantung rendah, seolah-olah siap tumpah kapan saja. Mika, Siti, Asia, dan Arga masih berada di bibir sungai, sibuk mencatat efektivitas filter yang mereka pasang kemarin.
Mika, yang masih mengenakan kaos putih polos sisa senam pagi tadi, tampak sangat serius mencocokkan data di papan jalannya. Ia tidak menyadari bahwa angin mulai bertiup kencang, membawa aroma tanah basah yang sangat kuat.
JEDEEER!
Suara guntur menggelegar hebat, disusul dengan tetesan air hujan sebesar biji jagung yang langsung menghujam bumi.
"Aduh! Hujan!" pekik Asia sambil menutup kepalanya dengan tas.
"Gaes, kita neduh dulu! Jangan dipaksain, nanti alat kita malah basah semua!" teriak Mika lantang, berusaha mengalahkan suara hujan yang tiba-tiba berubah menjadi badai.
Mereka berlarian di sepanjang pematang sungai yang mulai licin dan berlumpur. Namun, malangnya bagi Mika, kaos putih yang ia kenakan bukanlah tandingan bagi lebatnya hujan tropis. Dalam sekejap, air meresap ke serat kainnya, membuat kaos itu menjadi transparan dan menempel ketat di lekuk tubuhnya.
"Mika! Ke gubuk itu aja!" Arga menunjuk sebuah gubuk kecil tempat penyimpanan alat nelayan yang terletak agak tinggi di lereng sungai.
Mereka berlari sekuat tenaga. Mika memeluk papan jalannya di dada, mencoba melindungi dokumen penting itu, sekaligus merasa sangat tidak nyaman karena hawa dingin mulai menusuk tulang dan pakaiannya terasa seperti kulit kedua yang membelitnya.
Begitu sampai di dalam gubuk, mereka semua terengah-engah. Gubuk itu sangat sempit, mungkin hanya berukuran 2x2 meter, dipenuhi tumpukan jaring ikan dan kayu-kayu tua. Atap rumbianya memang menahan air, tapi udara di dalamnya terasa sangat lembap dan dingin.
"Gila, hujannya nggak kira-kira," keluh Siti sambil memeras ujung jilbabnya yang basah kuyup.
Mika berdiri di sudut, ia menggigil hebat. Suhu udara turun drastis. Ia meletakkan papan jalannya di atas tumpukan jaring, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi kaos putihnya yang kini benar-benar memperlihatkan siluet tubuhnya dengan jelas.
"Duh, mampus gue. Kenapa harus pake kaos putih sih hari ini," batin Mika merutuk.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang sangat dikenal memecah suara hujan. Dari balik tirai air yang lebat, siluet motor Ninja hitam terlihat mendekat. Pengendaranya turun dengan gerakan cepat dan langsung melompat masuk ke dalam gubuk yang sudah penuh itu.
Itu Alvaro.
Alvaro masuk dengan napas memburu, rambutnya basah kuyup menutupi dahi, dan jaket denimnya terlihat jauh lebih gelap karena air. Begitu ia masuk, ruangan yang sempit itu terasa semakin sesak. Aroma hujan dan parfum maskulin Alvaro langsung memenuhi ruangan.
Alvaro menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, memastikan semua mahasiswa itu aman. Namun, tatapannya terhenti cukup lama pada Mika.
Mika semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri, wajahnya menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang muncul karena malu sekaligus kedinginan.
Alvaro tidak bicara sepatah kata pun. Ia melihat betapa menggigilnya Mika dan bagaimana kaos putih itu "berkhianat" pada pemiliknya. Tanpa mempedulikan Siti, Asia, dan Arga yang menonton dengan mata melotot, Alvaro melepas jaket denimnya yang tebal.
Meskipun bagian luar jaket itu basah, bagian dalamnya masih menyimpan sedikit kehangatan dari panas tubuh Alvaro.
Alvaro melangkah mendekati Mika. Ia tidak meminta izin, ia langsung menyampirkan jaket besar itu ke bahu Mika.
"Pakai ini," perintah Alvaro pendek, suaranya berat dan serak.
"Tapi... jaket Bapak basah luarnya," bisik Mika tanpa berani mendongak.
"Lebih baik daripada kamu memamerkan semuanya pada teman-temanmu," sahut Alvaro dengan nada bicara yang hanya bisa didengar oleh Mika. Ia menarik kedua sisi kerah jaket itu agar menutup rapat dada Mika, tangannya sempat bersentuhan dengan jari-jari Mika yang sedingin es.
Mika tertegun. Ia segera memasukkan tangannya ke dalam lengan jaket yang sangat kebesaran itu. Jaket itu terasa sangat berat, tapi sangat hangat. Aroma tubuh Alvaro yang tertinggal di kain jaket itu entah kenapa memberikan rasa aman yang luar biasa.
"Makasih, Pak," gumam Mika pelan.
Alvaro hanya mengangguk, lalu berbalik memunggungi Mika, berdiri di depan pintu gubuk yang terbuka lebar untuk menghalau angin agar tidak langsung masuk mengenai Mika. Ia berdiri seperti benteng kokoh di sana, hanya mengenakan kaos singlet hitam yang kini memperlihatkan otot punggung dan lengannya yang basah terkena tempias hujan.
Hujan tak kunjung reda. Suara air yang menghantam atap gubuk menciptakan irama yang konstan. Siti dan Asia mulai berbisik-bisik di sudut lain, sementara Arga sibuk mengecek kamera digitalnya yang untungnya tidak basah.
Mika duduk di atas tumpukan jaring, masih dibalut jaket denim Alvaro. Ia memperhatikan punggung Alvaro yang lebar. Pria itu tampak tidak terganggu sama sekali dengan kedinginan yang melanda.
"Bapak nggak kedinginan?" tanya Mika akhirnya.
Alvaro menoleh sedikit, separuh wajahnya terlihat sangat tegas dalam kegelapan gubuk. "Saya sudah biasa dengan hujan di desa ini. Kamu yang harusnya khawatir. Orang kota biasanya gampang sakit kalau kena hujan sedikit saja."
"Saya nggak segampang itu sakit, Pak!" protes Mika, meski sedetik kemudian ia bersin dengan keras. "HATCHIII!"
Alvaro mendengus pelan, sebuah tawa ejekan yang tertahan. "Oh ya? Terdengar sangat meyakinkan."
Alvaro berbalik, ia mendekat dan berjongkok di depan Mika. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Mika selama beberapa detik. Kulit tangan Alvaro yang hangat terasa sangat kontras dengan dahi Mika yang dingin.
"Kamu mulai demam," ucap Alvaro dengan kening berkerut. "Begitu hujan reda, saya akan antar kamu balik ke posko."
"Nggak usah, Pak. Saya bisa bareng Arga dan yang lain—"
"Ini bukan tawaran, Mikayla. Ini perintah," potong Alvaro telak. Ia menatap mata Mika dengan intensitas yang membuat napas Mika tertahan. "Saya tidak mau program irigasi ini terhambat hanya karena koordinatornya terbaring sakit di kasur."
Mika ingin mendebat, tapi ia kehilangan kata-kata. Ada rasa peduli yang terselip di balik kalimat otoriter pria itu.
Hujan mulai berubah menjadi rintik-rintik kecil. Langit mulai sedikit terang. Alvaro berdiri dan menatap ke arah luar.
"Arga, Siti, Asia. Kalian bawa motor kalian duluan. Saya yang akan bawa Mikayla," perintah Alvaro tanpa menoleh.
"Baik, Pak Kades!" jawab Siti dengan semangat yang berlebihan, sambil memberikan kedipan rahasia pada Mika yang hanya bisa dibalas Mika dengan pelototan tajam.
Setelah teman-temannya pergi, gubuk itu menjadi jauh lebih sunyi. Hanya tersisa Mika dan Alvaro.
"Ayo," Alvaro mengulurkan tangannya. "Motor saya parkir di bawah pohon itu."
Mika bangkit berdiri. Jaket denim itu masih ia pakai, menjuntai sampai ke pahanya. Saat mereka berjalan menuju motor, jalanan sangat licin. Mika hampir saja terpeleset jika Alvaro tidak dengan sigap melingkarkan lengannya di pinggang Mika.
"Pegang saya, Mikayla. Jangan sampai jatuh lagi," bisik Alvaro.
Mika terpaksa memegang lengan Alvaro yang kuat. Di bawah langit yang masih gerimis, ia merasa seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Rasa benci yang dulu meluap-luap kini seolah tersapu oleh air hujan, menyisakan sebuah perasaan baru yang jauh lebih mendalam dan sulit untuk dijelaskan.
Saat mereka sampai di motor, Alvaro membantu Mika naik. Ia memastikan jaket denimnya menutupi kaki Mika dengan baik.
"Pegangan yang erat. Saya akan jalan agak cepat supaya kamu bisa segera mandi air hangat," ucap Alvaro.
Mika melingkarkan tangannya di pinggang Alvaro, menyandarkan kepalanya di punggung pria itu yang hangat. Ia tidak peduli lagi jika teman-temannya melihat. Di tengah dinginnya sisa hujan Desa Asih, Mika menemukan bahwa tempat terhangat yang pernah ia tempati bukanlah di bawah selimut poskonya, melainkan di balik jaket denim milik sang Kepala Desa.