Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Pilihan di Tengah Kabut
Fajar menyingsing dengan kabut tebal yang masih menutupi seluruh hutan.
Lin Feng bangun dari tidurnya, tubuhnya masih terasa kaku dari luka-luka tribulasi yang belum sepenuhnya sembuh. Ia meregangkan tubuhnya dengan hati-hati, merasakan setiap otot yang masih sakit.
Ini jauh lebih baik dari kemarin, pikir Lin Feng sambil memeriksa luka-luka di lengannya. Beberapa sudah mulai menutup, meskipun masih meninggalkan bekas merah. Mungkin tiga atau empat hari lagi untuk sembuh total.
Tapi ia tidak punya waktu tiga atau empat hari untuk berlama-lama di gua ini. Semakin lama ia diam, semakin besar kemungkinan akademi atau pihak lain menemukan jejaknya.
Lin Feng mengumpulkan perlengkapan sederhananya: tombak kayu, botol air bambu, beberapa buah yang ia kumpulkan kemarin, dan giok informasi yang berisi peta. Semuanya ia bungkus dengan kain robek dari bajunya yang sudah rusak.
Sebelum meninggalkan gua, ia menggunakan ranting untuk menghapus jejak api unggun dan jejaknya di tanah. Tidak sempurna, tapi cukup untuk menyesatkan pelacak biasa.
Dengan satu pandangan terakhir pada gua yang melindunginya selama dua malam, Lin Feng keluar dan mulai perjalanannya ke arah barat—menuju Kota Qingshui.
Kabut pagi di Hutan Kabut Abadi bukan kabut biasa. Lin Feng menyadarinya setelah berjalan sekitar satu jam. Kabut ini... Seperti hidup. Atau setidaknya mengandung qi yang aneh. Qi yang mendistorsi persepsi, membuat suara terdengar dari arah yang salah, membuat jarak terasa lebih jauh atau lebih dekat dari sebenarnya.
Tidak heran orang orang mudah tersesat di sini, bahkan para kuktivator pun, pikir Lin Feng sambil berhenti sejenak untuk mengecek peta di giok informasi. Tanpa peta, aku pasti sudah jalan berputar-putar.
Ia menggunakan indra spiritualnya untuk merasakan arah, mencari sumber air atau formasi qi yang bisa menjadi patokan. Tapi kabut juga mengacaukan indra spiritual-nya, membuatnya hanya bisa merasakan area sekitar sepuluh meter.
Aku harus lebih mengandalkan peta, putus Lin Feng. Dan bergerak perlahan dengan hati-hati.
Ia melanjutkan perjalanannya menggunakan tombak kayunya untuk menusuk tanah di depan setiap beberapa langkah, memastikan tidak ada lubang tersembunyi atau jebakan alam.
Suara hutan terdengar diredam oleh kabut. Sesekali ia mendengar kicauan burung yang aneh, burung spiritual yang qi-nya ia bisa rasakan bahkan dari kejauhan. Sesekali juga terdengar geraman rendah dari binatang buas yang tidak terlihat.
Lin Feng tetap waspada, tangan kanannya selalu siap untuk memanggil qi jika dibutuhkan.
Sekitar tengah hari, Lin Feng menemukan sesuatu yang menarik. Ada Jejak kaki manusia.
Ia berjongkok dan memeriksa jejak itu dengan teliti. Jejak ini masih segar, mungkin hanya beberapa jam yang lalu. Sepatu bot berat, jejak dalam, berarti orang yang membuat jejak ini membawa beban berat atau memiliki tubuh yang besar.
Kultivator? pikir Lin Feng. Atau mungkin manusia biasa yang berani masuk hutan ini?
Jejak itu mengarah ke arah yang sama dengan tujuan Lin Feng yaitu arah barat. Lin Feng mempertimbangkan opsinya. Mengikuti jejak ini mungkin bisa membawanya ke orang lain, tetapi bisa jadi berbahaya atau bisa jadi membantunya. Atau ia bisa mengabaikan jejak ini dan tetap pada rutenya sendiri.
Lebih baik hindari orang lain untuk saat ini, Aku tidak tahu siapa mereka, dan dalam kondisiku yang masih terluka, lebih baik tidak mengambil risiko. Pikir Lin Feng
Ia mengubah arah sedikit dan menghindari jejak itu, ia melanjutkan perjalanannya melalui rute yang sedikit lebih panjang tapi lebih aman.
Tapi keputusan itu ternyata membawanya ke masalah lain.
Lin Feng sedang melewati area dengan pohon-pohon yang lebih rapat saat ia mendengar suara. Bukan suara binatang buas.
Suara itu seperti logam beradu. Suara teriakan. Dan... itu adalah suara pertempuran.
Lin Feng berhenti dan ia mencoba mengalirkan indra spiritual-nya sejauh yang ia bisa dalam kabut. Sekitar lima puluh meter di depan, ia merasakan fluktuasi qi yang intens.
Pertarungan antara kultivator, Setidaknya tiga orang, mungkin empat orang.
Instingnya mengatakan untuk menjauh, mencari rute lain. Terlibat dalam pertarungan orang lain di tengah hutan berbahaya adalah ide buruk.
Tapi ada sesuatu yang membuatnya ragu.
Salah satu dari qi yang ia rasakan terasa familiar. Tidak, bukan familiar dalam arti ia kenal orangnya. Tapi familiar dalam arti qi itu memiliki pola yang ia pernah rasakan di dantiannya sebelumnya.
Qi yang bersih, teratur, dengan nuansa cahaya.
Apakah itu salah satu Klan yang memiliki Gulungan? pikir Lin Feng terkejut.
Keingintahuannya menang atas kehati-hatiannya. Lin Feng bergerak lebih dekat dengan hati-hati, menggunakan "Langkah Bayangan Angin" untuk bergerak tanpa suara. Ia bersembunyi di balik pohon besar mengintip ke arah sumber pertarungan.
Apa yang ia lihat membuat matanya melebar.
Tiga kultivator bertarung melawan satu.
Tiga kultivator mengenakan jubah hitam dengan emblem naga merah, sama seperti yang Lin Feng lihat malam itu di dekat guanya. Mereka adalah orang-orang Klan Langit Biru, atau setidaknya Klan bawahan mereka.
Dan satu kultivator yang mereka serang...
Seorang gadis muda mengenakan jubah putih dengan emblem matahari keemasan. Rambutnya hitam panjang diikat ekor kuda, wajahnya cantik tapi saat ini penuh dengan keringat. Pedang panjang di tangannya bersinar dengan cahaya putih.
Qi-nya adalah Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Kesembilan hampir terobosan ke Ranah Pembentukan Fondasi.
Tapi ia dalam kesulitan. Tiga lawan satu, dan salah satu musuhnya adalah Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Kedua. Lin Feng mengamati pertarungan dengan perhatian penuh, menganalisis setiap gerakan mereka.
Gadis itu bertarung dengan baik, tekniknya bersih dan efisien, setiap serangan membawa kekuatan cahaya yang murni. Tapi ia jelas kewalahan. Setiap kali ia fokus pada satu musuh, dua yang lain menyerang dari samping.
Dia tidak akan bertahan lama, analisis Lin Feng. Mungkin lima menit lagi sebelum qi-nya habis atau salah satu serangan menembus pertahanannya.
Dan saat itu terjadi, mereka akan membunuhnya. Lin Feng bisa melihat niat membunuh di mata ketiga kultivator Klan Langit Biru.
Bukan urusanku, pikir Lin Feng. Aku harus pergi sebelum mereka menyadari kehadiranku.
Tapi kakinya tidak bergerak. Ia menatap gadis itu yang bertarung dengan putus asa, mencoba bertahan, mencoba bertahan hidup.
Dan tiba-tiba Lin Feng teringat dirinya sendiri. Sepuluh tahun lalu, saat keluarganya diserang ia bersembunyi dengan ketakutan, mendengar teriakan adiknya dan mendengar ibunya memohon. Saat itu ia tidak melakukan apa-apa karena terlalu lemah.
Tapi saat ini aku tidak lemah lagi, bisik suara di dalam hatinya.
Lin Feng mengepalkan tinjunya.
Ini bodoh dan berbahaya. Tapi... Aku tidak akan jadi orang yang hanya menonton lagi.
Keputusan pun dibuat. Lin Feng melangkah keluar dari persembunyiannya, tombak kayu di tangan kanannya di alirkan qi sembilan elemen.
Salah satu kultivator Klan Langit Biru, pria bertubuh kurus dengan wajah kejam sedang bersiap melepaskan serangan qi petir dari belakang saat gadis itu fokus pada dua musuh lainnya.
Serangan yang pasti akan mengenai dan melumpuhkan atau membunuhnya.
Tapi sebelum ia bisa melepaskan serangan itu.
Wush...
Tombak kayu melesat dari kabut mengenai pergelangan tangannya dengan keras.
"Argh!" Pria itu berteriak, tangannya seketika mati rasa.
Sementara kultivator Klan Langit Biru yang lainnya, dan gadis berjubah putih terkejut dan langsung berbalik mencari sumber serangan.
💪💪💪💪