Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. keras kepala
"...Apa kamu tak tau malu?! Ini apartemenKU, bukan rumahmu!" teriaknya dengan nada yang semakin tinggi.
"Baiklah sudah diputuskan..."Bai Xuning dengan lembut menurunkan Hu Lian ke atas sofa dan menutupinya dengan selimut tipis yang ada di sana.
Lalu dia berdiri dan berkata dengan suara yang tenang, "Aku akan memasak untuk kita berdua. Kamu pasti belum makan kan?"
Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan santai menuju dapur seperti seolah-olah itu rumahnya sendiri—bahkan dengan lancar membuka lemari dan kulkas untuk melihat apa saja yang ada di dalamnya.
"......" Hu Lian hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka lebar, pikirannya hanya bisa menyebutkan satu hal—Pria ini benar-benar sudah gila!
Dia melihat Bai Xuning yang kini sibuk mencari bahan makanan di dapur, bahkan mulai mencuci sayuran dengan gerakan yang terampil.
Padahal beberapa waktu lalu, pria itu sama sekali tidak bisa memasak dan selalu meminta makanan dari koki keluarganya!
"Apa kamu benar-benar berniat memasak di sini?!" tanya Hu Lian dengan suara yang bingung, masih tidak bisa percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Bai Xuning hanya menoleh sebentar dan memberikan senyum tipis. "Tunggu saja nanti kamu akan tahu....." jawabnya sambil kembali fokus pada pekerjaannya.
"......."kenapa dia meragukannya.Hu Lian hanya bisa duduk diam di sofa, mata masih terpaku pada sosok Bai Xuning yang sibuk di dapur.
Rasa marahnya perlahan sirna digantikan oleh kebingungan dan rasa penasaran yang tak bisa dijelaskan.
Seperti yang Hu Lian duga, tak lama kemudian suara desisan kecil dan sedikit hiruk-pikuk terdengar dari dapur. Beberapa sendok terjatuh, air mendidih hampir tumpah, dan bahkan ada bau makanan yang sedikit gosong menyebar ke seluruh ruangan.
Bai Xuning benar-benar hampir meledakkan dapurnya!
Setelah beberapa saat, pria itu muncul dari dapur dengan wajah kaku dan sedikit kemerahan karena rasa malu.Tangan bajunya sedikit kotor dan ada noda minyak di lengan jasnya yang masih belum dilepas.
"..Ayo pesan antar saja, kamu mau makan apa?" ucapnya dengan suara yang sedikit terengah, mencoba tetap tampak tenang padahal jelas terlihat canggung.
"......."Hu Lian hanya bisa melihatnya dengan wajah yang bercampur antara kesal dan ingin tertawa. Akhirnya dia menghela napas panjang dan menggeleng kepala. "Aku mau makan bubur saja..."
Bai Xuning mengangguk cepat dan segera mengambil ponselnya untuk memesan makanan. Saat sedang memilih restoran, dia secara tidak sengaja melihat ke arah Hu Lian dan menemukan gadis itu sedang melihatnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Rasa malu padanya semakin bertambah, dia cepat-cepat menoleh dan fokus pada layar ponselnya.
"Saya juga akan pesan yang sama," tambahnya pelan sambil mengetik cepat di layar ponsel.Setelah selesai memesan, dia kembali mendekat ke sofa dan duduk pada ujungnya dengan jarak yang cukup jauh, seolah tidak berani terlalu dekat dengan Hu Lian.
Hu Lian hanya menyaksikannya dengan diam, rasa marahnya perlahan hilang digantikan oleh rasa iba yang tidak bisa dijelaskan.
Meskipun masih merasa kebingungan dengan keberadaan pria itu di apartemennya, dia tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Bai Xuning sekarang.
Tak lama kemudian makanan mereka tiba.
Bai Xuning dengan rajin menata meja makan dan menyajikan mangkuk bubur hangat untuk Hu Lian. Keduanya makan dalam kesunyian yang cukup nyaman sampai pukul 9 malam.
Setelah selesai makan, Bai Xuning bahkan membersihkan meja dan mencuci piring dengan rapi, seperti sudah terbiasa mengerjakan itu.
Hu Lian yang baru saja selesai mandi dan berganti piyama lembut berwarna putih mendengar suara ada orang lain di luar kamarnya.
Dengan handuk putih yang masih melingkari kepalanya karena belum mengeringkan rambut dengan benar, dia keluar dari kamar tidur dan langsung terkejut.
Di tengah ruang tamu ada sebuah koper hitam besar yang sangat mencolok. Sementara itu, Bai Xuning baru saja menutup pintu apartemen dan berbalik melihatnya, wajahnya langsung berubah serius saat melihat rambut Hu Lian yang masih basah.
Tanpa berkata apa-apa, dia langsung mengambil handuk yg dia sempat keluar kan dari kopernya dan mendekati Hu Lian.Namun gadis itu dengan cepat mundur sedikit dan menunjuk pada koper besar itu dengan wajah tak percaya.
"Apa maksudnya ini?!" tanyanya dengan suara yang semakin tinggi.Bai Xuning menghela napas perlahan, meletakkan handuk di atas sofa sebelum menjawab.
".....Kamu tidak bisa tinggal sendirian dengan kondisi tubuhmu yang masih sakit..." ucapnya dengan suara tenang namun tegas."Jadi aku akan tinggal di sini untuk merawatmu sampai lukamu benar-benar sembuh."
Hu Lian hanya bisa menatapnya dengan mata melebar lebar. "Tinggal di sini?! Kamu pikir apartemen ini memiliki kamar tidur lain untuk kamu tinggal?!" teriaknya dengan tidak percaya.
Bai Xuning hanya berkata perlahan. "Aku sudah menyewa apartemen di lantai yang sama dengan kamu—hanya di sebelah saja. Tapi untuk sementara waktu, aku akan sering berada di sini untuk menjagamu. Dan yang penting,"
sambungnya sambil melihat langsung ke mata Hu Lian, "jangan biarkan rambutmu basah begitu saja, itu bisa membuatmu sakit."
Tanpa menunggu jawaban, dia menghampirinya mulai mengeringkan rambut Hu Lian dengan gerakan yang lembut.
"......." Hu Lian benar-benar tak mengerti jalan pikiran pria ini.
Dia hanya bisa berdiri diam sambil melihat Bai Xuning mengeringkan rambutnya dengan hati-hati, gerakan lembutnya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain terdiam.
Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Bai Xuning mengambil koper besarnya dan berpamitan untuk pergi.
"Aku tinggal di unit sebelah, kalau ada apa-apa cukup panggil aku atau tekan bel pintu saja," ucapnya dengan nada serius yg tak bisa ditutupi.
Saat Hu Lian masih dalam keadaan kebingungan dan belum bisa merespons apa-apa, pria itu dengan licik mengambil kesempatan untuk mengincar kunci cadangan apartemen yang diletakkan di rak sepatu dekat pintu—yang Hu Lian selalu letakkan di sana.
Dengan cepat namun diam-diam, dia menyembunyikannya di dalam saku jasnya tanpa disadari gadis itu.
Dengan perasaan puas dan sedikit tersenyum Bai Xuning mengucapkan selamat malam dan pergi ke pintu sebelah yang baru saja dia sewa.
Dia bahkan sudah memastikan bahwa unit itu kosong dan langsung menyewanya untuk beberapa bulan ke depan—semua dilakukan dengan cepat saat dia memasak.
Hu Lian yang sama sekali tidak tahu tentang kelicikan Bai Xuning hanya menghela napas panjang setelah pintu tertutup.
Dia melihat sekeliling apartemen yang kembali sunyi, lalu memutuskan untuk segera pergi tidur—lagi pula tubuhnya sudah sangat kelelahan akibat kejadian hari ini dan rasa sakit yang masih menyiksa tubuhnya.
Tanpa memeriksa keberadaan kunci cadangannya, dia masuk kamar tidur, menutup pintu, dan segera terlelap dalam tidur yang nyenyak setelah sekian lama merasa tidak tenang.
Keesokan paginya, Hu Lian bangun dengan rasa sakit yang sudah sedikit mereda. Berniat pergi berbelanja ke pasar dekat kampus untuk membeli makanan dan perlengkapan obat, dia berjalan ke arah rak sepatu dan—hanya untuk menemukan bahwa tempatnya kosong.
_kuncinya hilang lagi_ Wajahnya sedikit mengerut bingung, namun dia segera menghela napas dan mengangguk sendiri.
"aku pasti menjatuhkan nya lagi...."ucapnya pelan.
Mengingat ini bukan pertama kalinya kunci cadangan itu hilang karena kelalaiannya, Hu Lian tidak begitu ambil pusing dan hanya mengambil kunci utama yang selalu ada di dompetnya.
Setelah siap, dia keluar dari pintu apartemen 023 dan mengunci pintunya dengan hati-hati. Saat hendak berjalan ke arah lift, matanya secara tidak sengaja melirik pintu sebelah dengan nomor 022 yang baru saja disewakan.
Dia sedikit mengerut dahi karena merasa ada sesuatu yang tidak biasa, namun segera membuang muka dan melanjutkan langkahnya.
Kakinya masih kesulitan untuk berjalan karena luka di lutut, membuatnya harus berjalan dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Saat memasuki lift dan menekan tombol lantai dasar, dia masih berpikir tentang kunci yang hilang dan merencanakan apa saja yang perlu dia beli.
Namun tak disangka, saat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan besar dengan cepat masuk dan menahan pintunya agar tetap terbuka.
Hu Lian mendongak dan terkejut melihat sosok yang datang masuk ke dalam lift bersamanya—Bai Xuning yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans.
"Pagi pagi mau kemana?" tanya dia dengan suara yang tenang. Hu Lian hanya menjawab dengan singkat bahwa dia akan membeli bahan makanan.
Tanpa menunggu izin, Bai Xuning segera masuk ke dalam lift dan berkata dengan tegas bahwa mereka akan berbelanja bersama.
Hu Lian hanya menghela napas dan tak ingin memperdulikan keberadaannya. Setelah keluar dari lift, mereka berjalan menuju gerbang apartemen. Bai Xuning kemudian meminta dia untuk menunggu sebentar agar bisa mengambil mobilnya.
Namun Hu Lian hanya melihatnya pergi ke arah arena parkir, lalu tanpa berkata apa-apa berbalik dan melanjutkan berjalan sendiri dengan wajah datar.
Dia merasa tidak perlu menunggunya.Setelah berjalan beberapa menit, mobil hitam yang sudah sangat dia kenal segera berhenti dengan sedikit keras tepat di depannya.
Bai Xuning keluar dari mobil dengan wajah yang tampak jelek dan sedikit marah.
"Sudah kubilang kan untuk menunggu ku..."ucapnya dengan suara yang agak tinggi, membuat beberapa orang yang lewat melihat mereka berdua.
Hu Lian hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"Aku tidak pernah setuju untuk menunggu atau bahkan pergi bersama kamu,"jawabnya dengan tegas. Dia ingin melanjutkan berjalan, namun Bai Xuning dengan cepat menghalangi jalannya.
"Kaki kamu masih sakit, bagaimana kalau kamu jatuh lagi?!" ucap Bai Xuning dengan suara yang semakin tinggi, namun jika diperhatikan ada rasa khawatir yang tersembunyi di dalamnya. "Aku hanya ingin membantumu, itu saja!"
Hu Lian terdiam sejenak, melihat ekspresi wajah Bai Xuning yang campur aduk antara kemarahan dan kekhawatiran.
Akhirnya dia menghela napas panjang dan mengangguk perlahan. "Baiklah... tapi janji kamu tidak akan menggangguku saat berbelanja," ucapnya dengan nada yang sudah tidak sekeras sebelumnya.