Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kolam Sumsum Naga Bintang
Surga Kedua - Lembah Fosil Naga, Tambang Api Tembaga.
Tiga ratus kultivator fana yang dipimpin oleh Mo Han telah tiba. Mereka melangkah memasuki lembah dengan sisa-sisa napas yang memburu, namun wajah mereka dipenuhi kebanggaan buas saat melihat mayat para penjaga berzirah tembaga bergelimpangan di tanah, sementara para budak tambang berlutut gemetar di hadapan Shen Yu.
"Tuan Shen!" Mo Han bersujud di atas tanah yang keras, menahan tekanan hukum alam yang masih membebani pundaknya. "Kami siap menerima perintah!"
Shen Yu berdiri di atas tengkorak naga purba yang menjadi atap kemah utama, jubah hitamnya berkibar menepis angin yang membawa serbuk logam.
"Singkirkan mayat-mayat itu. Siapa pun budak yang ingin pergi, biarkan mereka mati di hutan. Siapa yang ingin bertahan, berikan mereka beliung dan suruh mereka kembali menggali. Tapi kali ini, mereka menggali untuk Malam Abadi," titah Shen Yu mutlak.
Ia kemudian menatap Mo Han dengan sorot mata sedingin es. "Jaga lembah ini. Jangan biarkan lalat dari luar masuk, dan jangan biarkan percakapan dari dalam bocor ke luar."
Setelah memberikan perintah, Shen Yu melompat turun dengan ringan ke sisi Lin Xue. Mata kirinya yang bercincin perak berputar perlahan, memindai tumpukan tulang rusuk raksasa yang mengelilingi mereka.
"Guru, lembah ini memancarkan Qi yang sangat kental, tetapi alirannya tidak menyebar," bisik Lin Xue, mata ungunya menelusuri garis-garis urat bumi di bawah kaki mereka. "Fosil ini... ia tidak sepenuhnya mati. Sesuatu di bawah sana masih berdetak memancarkan daya penekan."
"Tepat," seringai Shen Yu. "Klan Api Tembaga itu terlalu bodoh. Mereka hanya menggores permukaan kulit tulang dan memperebutkan remah-remahnya, tanpa menyadari apa yang tersembunyi di dalam jantungnya."
Shen Yu berjalan ke tengah pelataran tambang, tepat di titik pertemuan bayangan tulang-tulang rusuk raksasa itu. Ia tidak menggunakan alat gali. Ia hanya mengangkat kepalan tangannya yang dilapisi Api Ketiadaan, lalu menghantamkannya langsung ke permukaan tanah baja tersebut.
BLAAAAAAR!
Ledakan dahsyat mengguncang lembah. Tanah baja itu retak dan runtuh, membuka sebuah terowongan yang sangat dalam. Gelombang panas yang berwarna merah keemasan langsung menyembur keluar dari lubang tersebut, membawa tekanan fisik yang begitu berat hingga Mo Han dan para pasukannya terpaksa mundur sepuluh langkah sambil memuntahkan darah.
Tekanan murni dari daging purba!
"Xue'er, ikut aku," panggil Shen Yu, melompat terjun ke dalam lubang tanpa ragu sedikit pun. Lin Xue segera menyusul, membiarkan Dao Kehidupan-nya membungkus tubuhnya bagaikan perisai kelopak teratai.
Di dasar terowongan rahasia itu, sebuah gua luas terbentang. Gua itu tidak diterangi oleh obor, melainkan oleh sebuah kolam raksasa di tengahnya.
Kolam itu berisi cairan kental berwarna emas kemerahan yang mendidih lambat. Setiap gelembung yang pecah di permukaannya melepaskan raungan samar yang menggetarkan gendang telinga raungan dari naga bintang yang pernah menguasai era purbakala.
"Kolam Sumsum Naga Bintang," gumam Shen Yu, matanya berkilat penuh ambisi. "Daging dan darah kita berasal dari alam bawah. Betapapun kuatnya pemahaman Dao kita, wadah fisik ini terlalu rapuh untuk menahan benturan murni di Surga Kedua. Sumsum ini adalah tungku pembakaran yang sempurna."
"Kekerasan Qi di dalam kolam ini cukup untuk menghancurkan tulang Dewa Fana menjadi debu dalam satu tarikan napas," Lin Xue memperingatkan, merasakan hawa panas yang menembus perisai teratainya.
"Hancur dan dibangun kembali. Itulah satu-satunya jalan menuju kemutlakan," Shen Yu menoleh, melepaskan jubah hitamnya. Bekas-bekas luka di tubuh nya terlihat jelas. "Kau sanggup menahannya, Ratuku?"
Lin Xue tersenyum, sebuah senyuman anggun yang menyembunyikan ketegasan baja. Ia melepaskan jubah peraknya.
"Di mana pun kau melangkah, teratai akan selalu mekar menemaninya."
Keduanya melangkah masuk ke dalam kolam sumsum emas tersebut secara bersamaan.
ZRAAAASH!
Seketika, penderitaan yang melampaui segala bentuk penyiksaan di dunia fana menghantam tubuh mereka. Cairan sumsum itu seperti jutaan jarum baja yang dibakar hingga meleleh, menusuk menembus pori-pori kulit, melelehkan daging, dan membakar meridian mereka secara langsung.
Shen Yu menggertakkan giginya hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia memaksa dirinya duduk bersila di tengah cairan mendidih tersebut. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol, menahan rasa sakit dari kulitnya yang perlahan terkelupas oleh keganasan sumsum naga.
"Menelan!" raung Shen Yu dalam hatinya. Ia melepaskan pusaran Ketiadaan tepat di dalam Dantian-nya. Bukannya menolak rasa sakit itu, ia menarik Qi naga yang liar itu masuk lebih dalam, memaksa kehampaan untuk melumat kehendak naga purba yang mencoba merobek kewarasannya.
Di hadapannya, Lin Xue mengalami penderitaan yang tak kalah hebat. Wajahnya yang seputih salju kini memerah karena panas ekstrem. Namun, gadis itu menempelkan kedua telapak tangannya ke dada Shen Yu.
Dao Kehidupan meledak dari tubuh Lin Xue. Saat sumsum naga itu menghancurkan otot dan tulang mereka, Api Teratai milik Lin Xue bekerja dengan kecepatan yang sama gilanya, membangun kembali sel-sel yang hancur, menenun ulang urat nadi mereka dengan kualitas yang jauh lebih kuat.
Hancur. Dibangun kembali. Hancur lagi. Diperkuat lagi.
Proses brutal ini terus berulang selama berhari-hari di dalam gua tertutup itu. Setiap siklus membuat tulang fana mereka perlahan berubah warna. Dari putih tulang biasa, menjadi warna perak redup, dan akhirnya memancarkan kilau logam hitam yang menyatu dengan kemurnian emas.
Raungan kehendak naga di dalam sumsum itu semakin melemah, takluk oleh arogansi mutlak Dao Ketiadaan dan kegigihan tanpa batas Dao Kehidupan.
Tujuh hari tujuh malam berlalu di Surga Kedua.
Di luar lembah, Mo Han dan pasukannya berjaga tanpa henti, memandang cemas ke arah lubang besar di tengah pelataran yang terus memancarkan uap panas.
Hingga pada hari kedelapan, uap panas itu tiba-tiba mereda.
Permukaan tanah baja di sekitar lembah bergetar. Retakan-retakan panjang menyebar dari lubang tersebut.
BLAAAAAAR!
Dua sosok melesat ke udara, menghancurkan sisa-sisa tanah yang mengurung mereka. Mereka mendarat dengan suara debuman berat yang membuat seluruh lembah bergetar, seolah dua gunung besi baru saja dijatuhkan dari langit.
Pasukan fana menahan napas.
Shen Yu berdiri di sana, mengenakan jubah hitam barunya. Tidak ada hawa pembunuh yang meluap-luap. Tidak ada Qi yang bergejolak. Namun, sekadar melihatnya berdiri saja membuat mata Mo Han terasa perih, seolah ia sedang menatap bilah pedang yang paling tajam.
Kulit Shen Yu memancarkan kilau samar baja hitam saat terkena cahaya surga. Setiap otot di tubuhnya kini memiliki kepadatan yang setara dengan tulang naga purba itu sendiri.
Di sebelahnya, Lin Xue tampak semakin anggun. Pedang teratainya tidak lagi memancarkan embun beku biasa, melainkan hawa dingin yang memiliki bobot fisik, mampu meremukkan apa pun yang disentuhnya.
Tubuh fana mereka telah mati. Kini, mereka memiliki Tulang Besi Naga Bintang.
Shen Yu perlahan mengangkat tangan kanannya. Ia tidak memadatkan Dao Ketiadaan maupun Dao Waktu. Ia hanya mengencangkan kepalan tangannya menggunakan kekuatan murni ototnya.
KRAAAK!
Udara di sekitar kepalan tangannya retak. Ruang Surga Kedua yang sebelumnya menekan mereka, kini hancur hanya oleh satu remasan tangan kosong Sang Tiran.
"Tekanan alam ini... tidak lagi menjadi penghalang," bisik Shen Yu, menyeringai buas.
Namun, sebelum mereka bisa merayakan kelahiran kembali tersebut, seorang penjaga fana berlari dari arah gerbang lembah dengan wajah pucat pasi.
"T-Tuan Shen! Di langit arah selatan!" teriak penjaga itu, menunjuk dengan tangan gemetar.
Shen Yu dan Lin Xue mengangkat wajah mereka.
Dari balik awan kelabu Surga Kedua, sebuah kapal perang raksasa yang terbuat dari kayu perunggu sedang membelah angkasa, meluncur lurus ke arah Tambang Api Tembaga. Panji-panji perang berwarna merah darah berkibar di tiang utama kapal tersebut, membawa lambang klan yang sama dengan penjaga yang telah mereka bantai.
"Klan Api Tembaga," Lin Xue menyipitkan mata ungunya, mencabut pedang teratainya. "Pecahnya plakat jiwa Mandor Tong tampaknya telah menarik perhatian para tetua mereka. Kapal itu dipenuhi oleh puluhan Dewa Fana Tahap Menengah, dan satu hawa pembunuh di puncaknya."
Shen Yu mengibaskan jubah hitamnya. Ia tidak memerintahkan pasukannya untuk mundur atau bersembunyi. Sebaliknya, ia berjalan santai ke tengah pelataran lembah, menyambut bayangan raksasa kapal perang yang menutupi langit.
"Tubuh baru selalu membutuhkan pemanasan," kata Shen Yu, memanggil Sabit Penebas Langit ke tangannya. "Mari kita lihat apakah tulang-tulang tetua klan ini cukup keras untuk mematahkan tinjuku."
💪💪💪