Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngarai Es
Dua putaran bulan telah berlalu sejak Shen Yuan meninggalkan reruntuhan kuil di pinggiran Kota Bintang Jatuh.
Perjalanan menuju Wilayah Utara Benua Awan Gelap bukanlah sekadar ujian jarak, melainkan siksaan mutlak dari langit dan bumi. Semakin jauh ia melangkah ke utara, tanah yang dipijaknya perlahan kehilangan warna kehidupannya. Padang rumput berganti menjadi dataran beku yang tandus, dan pepohonan purba digantikan oleh pilar-pilar es raksasa yang menjulang menusuk langit kelabu.
Angin utara menderu tanpa henti, membawa serpihan badai salju yang setajam bilah pisau. Bagi manusia fana biasa, menghirup udara di wilayah ini sama saja dengan menelan pecahan kaca; paru-paru mereka akan membeku dan hancur dalam hitungan jam. Bahkan pendekar di Ranah Penempaan Raga tingkat menengah harus membakar hawa murni mereka terus-menerus hanya untuk menjaga darah mereka tetap mengalir.
Namun, di tengah badai putih yang membutakan pandangan itu, sesosok bayangan berjalan dengan langkah yang stabil dan tak tergoyahkan.
Shen Yuan mengenakan jubah bulu beruang putih yang tebal—hasil buruannya beberapa minggu yang lalu. Di balik jubah itu, Tubuh Emas Gelap-nya memancarkan pendar kehangatan yang abadi. Rasa dingin mutlak dari alam luar sama sekali tidak mampu menembus kulitnya, justru sebaliknya, hawa dingin ini menjadi tungku penempaan alami yang terus-menerus memadatkan hawa murni di dalam Dantian-nya.
Kini, kultivasinya telah mencapai Puncak Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan, hanya berjarak selapis kertas dari batas akhir alam fana.
"Sudah dua bulan," gumam Shen Yuan, suaranya sedikit teredam oleh deru angin. Uap putih mengepul dari mulutnya. "Menurut ingatan dari peta itu, Lembah Jurang Seribu Tulang seharusnya berada di balik pegunungan es di depan sana."
Ia menghentikan langkahnya di bibir sebuah tebing curam. Di bawahnya, membentang sebuah ngarai raksasa yang tertutup oleh kabut es. Ngarai Angin Membeku. Ini adalah satu-satunya jalur darat yang aman untuk melintasi pegunungan menuju tujuan akhirnya.
Namun, lautan kesadaran Shen Yuan yang telah diperluas berkat menelan Niat Pedang Perak tiba-tiba beriak.
Meski matanya terhalang oleh badai salju, mata batinnya menangkap riak hawa murni yang sangat teratur dan tajam di dasar ngarai. Hawa murni itu tidak liar seperti binatang buas, melainkan dingin, angkuh, dan membawa ketajaman yang seolah ingin membelah langit.
"Niat pedang... Mereka benar-benar datang," bisik Shen Yuan sedingin es di sekitarnya.
Alih-alih melompat turun secara langsung, Shen Yuan memutar hawa murninya ke telapak kakinya. Langkah Bayangan Hantu! Tubuhnya melesat turun meniti dinding tebing es yang nyaris tegak lurus, merayap tanpa suara bagaikan laba-laba hantu, dan bersembunyi di balik sebuah stalaktit es raksasa di dasar ngarai.
Dari tempat persembunyiannya, Shen Yuan memejamkan mata dan melepaskan kesadaran spiritualnya. Jangkauan pandangan batinnya kini mampu mencakup jarak sejauh tiga ratus tombak dengan sangat jelas.
Di tengah jalur ngarai yang sempit, sebuah pos penjagaan telah didirikan. Puluhan tenda berwarna putih perak berdiri kokoh menahan badai. Di tengah barisan rintangan tersebut, tertancap sebuah panji raksasa yang berkibar dengan angkuh; lambang sebilah pedang perak yang menembus gumpalan awan.
Itu adalah panji kebesaran Sekte Pedang Langit! Kubu raksasa dari alam menengah yang akhirnya merentangkan cakar mereka ke alam bawah demi mengejar Peta Makam Tuan Tanah Hantu.
Sekitar dua puluh murid berpakaian seragam putih perak berjaga di sekitar pos penjagaan. Masing-masing dari mereka memanggul pedang panjang di punggung. Yang membuat Shen Yuan menahan napas adalah tingkat kultivasi mereka. Murid penjaga gerbang yang paling rendah di antara mereka berada di Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan! Sementara dua pemimpin kelompok yang duduk di dekat perapian memancarkan riak Ranah Pengumpulan Lautan Qi!
"Sekte raksasa benar-benar memiliki fondasi yang menakutkan. Di Kota Debu Merah, ahli Lautan Qi dipuja sebagai leluhur. Di sini, mereka hanya bertugas menjaga pos perbatasan yang membeku," batin Shen Yuan, Nadi Iblis di dalam tubuhnya berdenyut merasakan ancaman sekaligus kelaparan.
Berkat perluasan jiwanya, pendengaran Shen Yuan menajam hingga ia bisa mendengar percakapan dua pemimpin kelompok dari jarak seratus tombak, melampaui deru angin badai.
"...sudah dua bulan kita menjaga ngarai terkutuk ini. Kakak Seperguruan Han, apakah utusan yang mencuri peta itu benar-benar akan lewat sini?" keluh seorang pemimpin yang memiliki bekas luka pedang di pipinya, meminum seteguk arak panas.
Pemimpin bernama Han, seorang pemuda berwajah dingin yang mengusap sarung pedangnya, mendengus pelan. "Leluhur menanamkan Niat Pedang Pembelah Jiwa pada peta tersebut. Saat pelacak itu dihancurkan dua bulan lalu, Leluhur memastikan bahwa arah terakhirnya menuju ke utara. Pencuri itu mungkin telah menghancurkan Tuan Muda Lin Chen dan merampas petanya. Dia pasti akan menuju Makam Tuan Tanah Hantu untuk mengklaim warisan tersebut."
"Mencari mati!" Pemuda berwajah codet itu meludah ke atas salju. "Bahkan jika ia memiliki peta itu, Lembah Jurang Seribu Tulang telah dikepung sepenuhnya oleh para Penatua sekte kita. Tuan Muda Pertama secara pribadi turun gunung untuk memimpin rombongan. Siapa pun pencuri rendahan itu, begitu ia muncul, ia akan langsung dicincang menjadi ribuan keping!"
Pemuda bernama Han mengangguk. "Tugas kita di sini hanyalah menyaring tikus-tikus yang lewat. Tuan Muda Pertama memerintahkan agar setiap pendekar pengelana dan kelompok pemburu bayaran yang menuju lembah ditangkap dan dikumpulkan. Reruntuhan makam itu penuh dengan Susunan Aksara Kematian dan racun kuno. Kita membutuhkan banyak 'umpan daging' untuk membuka jalan dan memicu jebakan sebelum murid-murid inti kita masuk."
Mendengar percakapan itu, mata Shen Yuan di balik kegelapan memancarkan kilatan buas.
"Umpan daging? Sekte besar yang mengaku sebagai pilar keadilan rupanya tak lebih dari sekumpulan bandit yang menjadikan nyawa manusia sebagai tameng batu," batin Shen Yuan.
Ia menyadari bahwa menerobos pos penjagaan ini secara paksa adalah tindakan bodoh. Membunuh dua ahli Lautan Qi mungkin bisa ia lakukan dengan membayar harga luka parah, namun itu akan memicu isyarat bahaya ke seluruh penjuru ngarai.
"Mereka mencari pengelana untuk dijadikan umpan? Kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginan mereka," Shen Yuan tersenyum sinis.
Ia melepaskan jubah bulu beruang putihnya dan menyembunyikannya di dalam Kantong Qiankun, membiarkan tubuhnya hanya dibalut oleh jubah abu-abu kusam yang sengaja ia buat sedikit robek dan kotor. Ia kemudian menekan hawa murninya hingga ke tingkat Ranah Penempaan Raga Lapisan Kelima, tingkat kekuatan rata-rata seorang petualang fana yang mengadu nasib di wilayah utara.
Namun, sebelum ia melangkah keluar dari persembunyiannya, kesadaran spiritualnya menangkap pergerakan seseorang yang memisahkan diri dari pos penjagaan.
Seorang murid biasa di Lapisan Kedelapan berjalan menjauh dari tenda, menggerutu karena harus berpatroli menembus badai salju untuk memeriksa tumpukan es di ujung ngarai. Murid itu berjalan perlahan ke arah stalaktit tempat Shen Yuan bersembunyi.
"Dingin sekali tempat terkutuk ini. Begitu Tuan Muda Pertama mendapatkan warisan makam itu, aku bersumpah akan membakar kota fana di perbatasan untuk menghangatkan badanku," rutuk murid itu sambil menarik kerah jubahnya.
Ia tidak pernah menyadari betapa dekatnya ia dengan kematian.
Saat murid itu melewati celah gelap di antara dua pilar es, sebuah bayangan melesat keluar tanpa suara.
Bukan sebuah pukulan atau tebasan pedang. Shen Yuan menggunakan kekuatan yang baru saja ia peroleh dari menghancurkan Niat Pedang Perak.
Mata hitam Shen Yuan menatap lurus ke dalam mata murid Sekte Pedang Langit tersebut. Putaran Pelahap Jiwa! Sebuah gelombang kejut batin yang sangat tajam menghantam lautan kesadaran murid itu. Bagi murid Lapisan Kedelapan yang tidak pernah melatih kekuatan jiwanya, serangan ini ibarat godam raksasa yang menghantam otaknya.
Mata murid itu mendadak kosong. Tubuhnya membeku kaku di tengah langkahnya, tidak mampu menggerakkan satu jari pun atau bahkan mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Ia terjebak dalam ilusi naga iblis yang sedang menatapnya dari dasar jurang kegelapan.
Memanfaatkan kelumpuhan sesaat musuhnya, tangan kanan Shen Yuan melesat ke depan dan memelintir leher murid itu dengan satu putaran halus.
Krek.
Tulang belakangnya terputus seketika. Shen Yuan menangkap tubuh murid itu sebelum jatuh ke salju, menariknya masuk ke dalam celah tebing gelap. Ia tidak menggunakan Sutra Penelan Surga untuk menghisap darahnya, karena ia tidak ingin meninggalkan jejak mayat kering yang bisa dikenali. Ia hanya meletakkan mayat itu di sudut tebing dan merampas sebuah plakat perak dari pinggang sang murid.
Plakat itu memiliki ukiran pedang dan tulisan 'Murid Luar'.
"Arogan, namun rentan," bisik Shen Yuan sambil menimbang plakat perak itu di tangannya. Ia mengantongi plakat tersebut sebagai tanda pengenal palsu jika sewaktu-waktu ia membutuhkannya.
Setelah membersihkan sisa jejak di salju, Shen Yuan berjalan keluar dari celah stalaktit es. Ia sengaja membuat langkahnya terlihat berat, seolah ia adalah seorang pengelana yang kelelahan menembus badai.
Saat ia berjalan tertatih-tatih mendekati cahaya perapian dari arah barisan rintangan, suara bentakan keras langsung menghentikan langkahnya.
"Berhenti di sana, Pengemis! Siapa kau dan mau ke mana?!" teriak salah satu penjaga, mengarahkan pedangnya lurus ke dada Shen Yuan.
Dua ahli Lautan Qi yang tadinya duduk di dekat perapian ikut menoleh, menatap Shen Yuan dengan tatapan merendahkan.
Shen Yuan menjatuhkan dirinya berlutut di atas salju, menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik tudung, dan berpura-pura menggigil kedinginan.
"T-Tuan Pendekar... ampun! S-Saya hanyalah pengumpul ramuan dari selatan... Saya mendengar ada reruntuhan makam kuno di utara yang menjanjikan kekayaan, jadi saya mencoba mencari peruntungan... T-Tolong izinkan saya lewat, saya bersedia membayar pajak jalan!" suara Shen Yuan dibuat serak dan gemetar, benar-benar menyerupai seekor semut fana yang ketakutan.
Murid penjaga itu tertawa mengejek, meludah ke arah salju di dekat Shen Yuan. "Mencari peruntungan? Tikus di Lapisan Kelima sepertinya benar-benar bosan hidup."
Pemimpin kelompok bermarga Han berdiri dan berjalan menghampiri. Ia menyapu Shen Yuan dengan kesadaran spiritualnya. Karena Shen Yuan telah menyempurnakan teknik menyembunyikan auranya, Han tidak menyadari Tubuh Emas Gelap yang bersemayam di balik jubah kusam tersebut.
"Pengumpul ramuan yang menyedihkan," ucap Han dengan senyum dingin yang kejam. "Kebetulan sekali, Sekte Pedang Langit sedang bermurah hati. Kami akan memberimu kawalan gratis menuju reruntuhan makam itu."
Han menoleh ke arah bawahannya. "Lemparkan tikus ini ke dalam kandang tawanan bersama para pengelana bodoh lainnya. Besok pagi, kita akan menggiring mereka semua sebagai gelombang pertama 'umpan daging' ke Lembah Jurang Seribu Tulang!"
"Baik, Kakak Seperguruan Han!"
Dua penjaga menyeret lengan Shen Yuan secara kasar dan membawanya menuju sebuah kurungan besi besar yang berada di sudut pos penjagaan. Di dalam kurungan itu, terlihat belasan pria dan wanita berpakaian compang-camping yang duduk menggigil penuh keputusasaan.
Shen Yuan didorong masuk, dan pintu besi dikunci rapat dari luar.
Di dalam sudut kurungan yang gelap, Shen Yuan duduk menyandar pada jeruji es. Ia menundukkan kepalanya, namun bibirnya menyunggingkan sebuah seringai iblis yang sangat mengerikan.
Rencananya berhasil dengan sempurna. Tanpa harus membuang setetes pun darahnya, Sekte Pedang Langit sendiri yang akan mengawalnya melewati sisa badai salju dan mengantarkannya tepat ke depan pintu gerbang makam Tuan Tanah Hantu. Ia hanya perlu bersembunyi di antara domba-domba pengorbanan ini, menunggu saat yang tepat untuk menancapkan taringnya ke jantung sang harimau.