NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 - Some

Kata-kata Caca masih bergema di kepalaku, membuat suasana terasa canggung tak tertahankan. Aku melirik sekilas ke arah Henry, berharap ia segera memberikan jawaban… namun di sisi lain, aku juga berdoa dalam hati agar ia tidak jujur. Jika benar Henry mengakui sesuatu di depan Caca, bisa-bisa gadis itu langsung menyuruh kami berdua berpacaran. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada perjodohan yang mengikat Henry dengan Ana—sesuatu yang bahkan belum sanggup kuungkapkan pada siapa pun, termasuk pada Caca.

Bibirku terkatup rapat, sementara jantungku berdegup kencang, menanti kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya.

“Iya.” jawab Henry akhirnya.

Aku dan Caca sama-sama terkejut.

“Tapi sebagai seorang adik, sebagai seorang karyawan.” lanjutnya tenang.

Aku menghela napas panjang. Syukurlah. Henry tidak jujur… atau lebih tepatnya, ia memilih jalan aman.

“Yah, sayang banget. Padahal Lia—” Caca belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika aku buru-buru menutup mulutnya dengan tangan.

“Caca!” bisikku cepat. Gadis itu benar-benar tidak boleh membongkar perasaanku di hadapan Henry.

Aku menoleh ke arah Henry, mencoba menutupi kepanikan yang sempat muncul. “Kak, kami beli popcorn dulu, ya. Kakak mau popcorn juga? Atau minum?” tanyaku.

“Aku nggak mau apa-apa.” jawab Henry singkat.

“Baiklah.” balasku cepat.

Aku segera menarik Caca menjauh. Begitu kami cukup jauh dari Henry, ia langsung menepis tanganku dari mulutnya. “Apaan sih, Li?”

“Apa-apaan kamu! Bisa-bisanya kamu mau ngomongin perasaanku ke dia.” bisikku kesal.

“Aku cuma pengen dia tahu, Li.”

Aku menunduk, suara lirih keluar tanpa bisa kutahan. “Kalau dia tahu, lalu apa? Kamu dengar sendiri tadi, kan? Dia cuma menganggapku sebagai adik, sebagai karyawan. Nggak lebih. Kalau dia tahu aku suka sama dia… percuma aja, Ca. Perasaanku nggak bakal berbalas.”

Ada getir yang menyesakkan di dadaku. Yang lebih kutakutkan, jika Henry mengetahui isi hatiku, ia akan menuntut sesuatu yang tidak seharusnya—padahal hubungan kami sama sekali tidak boleh melampaui batas itu.

“미안해… (maaf…)” ucap Caca akhirnya, wajahnya menunduk merasa bersalah.

Aku tersenyum tipis, menepuk bahunya. “Udahlah. Yuk kita beli popcorn sama minum.”

Kami pun melangkah ke counter, memesan dua popcorn dan dua minuman. Setelah itu, kembali menuju tempat Henry menunggu.

Ia masih berdiri dengan tenang, seakan tidak terusik oleh percakapan sebelumnya. Aku berusaha menormalkan ekspresi, lalu kami bertiga duduk di kursi depan studio, menanti film dimulai.

Tak lama kemudian, suara pengumuman terdengar: pintu studio dibuka. Tanpa banyak bicara, Henry melangkah lebih dulu, diikuti aku dan Caca dari belakang.

Langkahku terasa berat, tapi aku terus maju. Di antara riuh rendah pengunjung bioskop, hanya suara jantungku sendiri yang terdengar begitu jelas di telinga.

Setelah sampai di baris C, kami bertiga langsung duduk sesuai nomor kursi di tiket, sesuai kesepakatan sebelumnya. Henry di C1, aku di C2, dan Caca di C3.

Jantungku berdegup cepat. Ini pertama kalinya aku dan Henry menonton film di bioskop setelah kami dewasa. Rasanya aneh sekaligus mendebarkan.

Lima belas menit berlalu dengan tayangan iklan bioskop dan trailer film-film mendatang. Lalu, lampu meredup, layar mulai menampilkan adegan pertama.

Film dibuka dengan seorang pria berlari kencang, dikejar tentara Jepang. Pria itu adalah Kim Hyun-woo, aktor favorit Caca. Latar waktu: 1945, beberapa bulan sebelum Korea Selatan merdeka.

“어머 오빠… 잘생겼어… (Ya ampun, oppa… ganteng banget…)” gumam Caca, matanya berbinar.

Aku hanya bisa menghela napas melihat tingkahnya. Sementara itu, tanganku meraih popcorn dan mulai memakannya. Sesekali aku melirik Henry, yang tampak fokus menatap layar.

“Kak, mau popcorn?” tanyaku sambil menyodorkan kotak popcorn ke arahnya.

Ia sempat terdiam sebentar, lalu mengambil beberapa butir dan memakannya. Aku buru-buru mengalihkan perhatian, meletakkan popcorn di kursi, lalu ikut larut dalam film.

Adegan berlanjut. Kim Hyun-woo akhirnya bersembunyi di sebuah pemukiman, masuk ke rumah seorang wanita—tokoh utama yang diperankan Song Mina. Seiring waktu, kedekatan mereka kian terjalin. Sampai akhirnya, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman panjang di dalam kamar.

Aku menelan ludah. Dadaku terasa sesak. Sungguh canggung berada di situasi ini, menonton adegan mesra bersama Henry di sebelahku. Aku tak berani menoleh, hanya bisa menatap lurus ke layar.

“아 안돼… 오빠 안돼… (Ah, tidak… oppa jangan…)” suara Caca memecah keheningan. Ia tampak menahan tangis.

“Kenapa sih harus ada adegan kayak gitu?” gerutunya pelan.

Aku tak menjawab. Tapi dalam hati, rasa panas menjalari wajahku. Bayangan ketika aku dan Henry pernah begitu dekat—hampir saling mencium—tiba-tiba terlintas. Padahal AC bioskop menyala kencang, tubuhku justru terasa hangat.

Film terus bergulir. Dari adegan kebersamaan manis hingga perjuangan berat, sampai Kim Hyun-woo harus menjalankan misi berbahaya melawan Jepang. Song Mina menunggu kepulangannya, namun ia tak kunjung kembali.

Ketika kabar pengeboman Hiroshima dan Nagasaki terdengar, Jepang akhirnya menyerah, Korea merdeka. Tapi Kim Hyun-woo tak pernah muncul lagi. Hingga seorang kurir datang membawa berita: Kim Hyun-woo gugur.

Song Mina tampak hancur.

Air mataku pun ikut mengalir, membasahi pipi. Kuusap cepat, namun tetap saja menetes lagi. Aku melirik ke arah Caca, dan benar saja—gadis itu menangis lebih hebat dariku.

“오빠 안돼… (Oppa, jangan…) hiks… kenapa harus kayak gitu sih?” gumamnya sambil terisak.

Aku menghela napas, lalu menoleh ke arah Henry. Tanpa kuduga, pandangan kami bertemu. Henry mengangkat tangannya, menyeka air mataku dengan lembut.

Aku tersentak. Segera kutepis tangannya, buru-buru menghapus air mataku sendiri, lalu kembali memaku pandangan ke layar. Jantungku berdegup semakin keras.

Adegan selanjutnya menampilkan Song Mina yang baru sadar dirinya hamil—anak dari Kim Hyun-woo. Ia menangis sembari mengelus perutnya.

Film pun berakhir. Nama-nama pemain dan kru bergulir di layar. Lampu studio menyala, para penonton mulai bangkit dari kursi. Kami bertiga hendak ikut keluar ketika tiba-tiba layar kembali menyala, menampilkan epilog.

Tampak seorang wanita paruh baya duduk di samping sebuah makam, dengan nama tokoh yang diperankan Kim Hyun-woo tertera di nisan. Sesaat kemudian, terdengar suara memanggil, “Ibu!”

Wanita itu menoleh perlahan. Dari kejauhan, seorang pria muda berseragam tentara berdiri tegak, sorot matanya teduh namun penuh kerinduan. Kamera mendekat, menampilkan wajahnya dengan jelas—Kim Hyun-woo.

Namun, sesuatu terasa aneh. Bukan… itu bukan sosok yang ia rindukan dua puluh lima tahun silam. Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah anaknya sendiri, yang baru saja pulang dari wajib militer.

Dengan berlinang air mata, ia berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya erat.

Film benar-benar berakhir.

“오빠… (Oppa…) hiks…” Caca kembali menangis, kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Aku terperangah, tak tahu harus berbuat apa. Beberapa penonton lain juga tampak terisak, meski tidak sekeras Caca.

Orang-orang mulai meninggalkan studio, sementara kami bertiga tetap duduk. Aku dan Henry saling melirik, sama-sama tak tega membiarkan Caca menangis sendirian.

Akhirnya, setelah tangisnya sedikit mereda, kami pun berdiri. Bertiga, kami melangkah keluar dari studio dengan perasaan masing-masing yang masih penuh sisa emosi.

“Sekarang kalian mau ke mana? Pulang?” tanya Henry, suaranya tenang tapi matanya sempat melirik ke arahku.

“Ehm… gimana, Ca?” tanyaku ragu.

“Iya… aku mau pulang. Rasanya aku nggak mau ngapa-ngapain setelah lihat film tadi.” ucap Caca, wajahnya masih terlihat murung.

“Ya sudah, biar saya antar.” sahut Henry.

“Ah, nggak usah, Kak. Kita bisa naik taksi kok.” ucapku cepat, tak ingin merepotkannya.

“Lia… jangan gitu. Nggak boleh nolak kebaikan orang. Lagian kan kita bisa hemat ongkos.” sahut Caca lembut.

“Tapi, Ca…” ucapku pelan.

Henry tiba-tiba memotong, suaranya tenang tapi menusuk. “Kalau kamu nggak mau aku antar, ya udah. Aku anterin Caca aja.”

“Apa?!” seruku terkejut, spontan.

“Ayo, Ca.” Henry menoleh pada Caca seolah tak peduli dengan protesku.

“Baik, Pak.” sahut Caca sambil tersenyum tipis.

Mereka berdua berjalan meninggalkanku begitu saja.

“Eh… tunggu!” aku akhirnya berlari kecil menyusul di belakang mereka, setengah kesal, setengah pasrah.

Kami bertiga turun ke basement dengan lift. Begitu sampai, Kami berjalan menuju mobil Henry yang terparkir tak jauh dari pintu keluar.

“Saya di depan ya, Pak?” ujar Caca tiba-tiba.

Eh? Kenapa Caca mendadak seperti itu?

Henry sempat terdiam, melirikku sekilas, lalu menjawab, “Ya.”

Aku langsung menatap tajam ke arahnya. Serius? Dia mengizinkan Caca duduk di sampingnya?

Dengan kesal aku masuk ke mobil dan memilih duduk di kursi belakang, persis di belakang Henry.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di jendela, menatap jalanan sore yang padat. Dalam hati, rasa sebal bercampur dengan sesuatu yang tak ingin kuakui.

“Pak, tipe wanita yang Bapak suka itu seperti apa?” suara Caca tiba-tiba memecah keheningan.

Aku refleks menoleh padanya, terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Tipe wanita yang saya suka, ya?” Henry mengulang pelan, seolah berpikir.

Aku diam, tapi hatiku berdegup kencang. Jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya?

“Lucu? Menggemaskan?” jawab Henry santai.

Hah?

“Kok kayak anak kecil sih, Pak? Kalau Lia lucu dan menggemaskan tidak, Pak?” tanya Caca tiba-tiba.

Aku langsung terperanjat. “Caca…” suaraku meninggi, mencoba menghentikannya.

“Dulu…” jawab Henry pelan.

“Dulu? Kalau sekarang?” desak Caca.

“Ehm… ya begitulah.” jawab Henry, mengalihkan pandangan ke jalanan.

“Begitulah gimana?” aku tak tahan menahan rasa penasaran.

“Ya gitu deh.” Henry tersenyum samar.

“아 뭐야? (Ah, apa-apaan sih?)” gerutuku kesal.

Henry menoleh sebentar. “Kenapa kamu kayak kesal gitu? Kamu kan nggak suka aku, kan?”

Aku terdiam, terkejut oleh pertanyaannya. Aku dan Caca spontan saling pandang, seolah sama-sama menahan napas.

“Pak… Lia itu—” Caca membuka suara.

“Caca.” potongku cepat, tak ingin ia melanjutkan.

“Lia kenapa?” tanya Henry, suaranya pelan tapi penuh selidik.

“Tidak apa-apa, Pak.” jawab Caca akhirnya, memilih menutup mulut.

Setelah itu suasana hening kembali. Tak ada yang bicara sampai mobil berhenti di depan rumah Caca.

“Terima kasih sudah mengantar saya, Pak.” ucap Caca sambil tersenyum ramah.

“Ya.” jawab Henry singkat.

“리아야… 내일 봐… (Lia… sampai besok…)” ucap Caca padaku sebelum turun dari mobil.

“Ya.” sahutku singkat.

Begitu Caca menutup pintu, Henry melirikku sekilas. “Duduk depan.”

“Apa?” tanyaku tak percaya.

“Duduk depan. Aku bukan sopirmu, Lili.” nada suaranya terdengar sedikit kesal.

Aku mendengus pelan, tapi menurut juga. “Ya.”

Aku turun dari kursi belakang lalu pindah duduk di depan.

“Lili…” panggil Henry saat mobil kembali melaju meninggalkan kawasan rumah Caca.

“Hmm?” gumamku, masih menatap keluar jendela.

“Kamu tadi kayak terkejut banget waktu Caca minta duduk di depan. Apa kamu cemburu?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa? Cemburu? Ngapain aku cemburu. Aku kan nggak suka kamu.” jawabku cepat, meski dalam hati kutahu itu bohong.

Henry tersenyum samar, lalu berkata pelan, “Sejak kecil kita selalu bareng. Apa nggak ada rasa sedikit pun buat aku?”

Aku tercekat. Bibirku nyaris terbuka untuk bicara, tapi akhirnya aku memilih diam. “Nggak. Udah, jangan banyak bicara. Fokus nyetir aja.”

Aku lalu menyandarkan kepala di kaca jendela.

Dalam hati, keinginanku untuk jujur pada Henry begitu besar. Aku ingin mengaku kalau aku memang menyukainya. Tapi keadaan tak memperbolehkan. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Mama dan Papa jika tahu aku menaruh hati pada Henry.

Dan untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku dalam diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!