NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpustakaan pusat kota

Hari ini hari libur , akhir pekan.

Pagi terasa lengang—tidak ada jadwal sekolah, tidak ada kewajiban bangun tergesa. Namun bagi Amatsuki Douma, hari libur bukan berarti hari tanpa tujuan. Ia duduk santai di meja belajarnya, layar perangkat digital transparan menyala lembut di hadapannya. Jarinya bergerak cepat menelusuri platform sosial edukasi—forum tempat para siswa elit berbagi rekomendasi kelas tambahan.

Matanya berhenti pada satu informasi.

Program les sains berbasis modul adaptif — perpustakaan pusat kota.

Deskripsi kurikulumnya singkat, padat, dan efisien. Mentor berkualitas. Sistem belajar fleksibel. Semua poin yang Douma anggap rasional.

Sudut bibirnya naik tipis.

“Menarik,” gumamnya.

Tanpa berpikir panjang, ia mengenakan seragam santai—rapi, bersih, seperti biasa—lalu keluar rumah dengan langkah tenang. Tujuannya sederhana: mendaftar kelas tambahan. Sekaligus… menikmati waktu di tempat yang ia tahu akan memberinya ketenangan.

Dan begitulah, beberapa waktu kemudian—

---

Pagi itu kota terasa lebih tenang dari biasanya. Matahari seperti tersenyum, cahayanya memantul lembut di permukaan kaca gedung-gedung modern, menciptakan kilau seperti lapisan tipis kristal yang menenangkan mata. Di antara bangunan tinggi itu berdiri sebuah struktur yang berbeda—tidak mencolok, namun memiliki wibawa tersendiri. Perpustakaan pusat kota. Tempat yang bagi sebagian orang hanyalah gudang buku… tapi bagi mereka yang benar-benar mencintai pengetahuan, tempat itu seperti oasis di tengah hiruk pikuk dunia.

Amatsuki Douma berjalan menuju pintu masuk dengan langkah santai, tangan dimasukkan ke saku. Penampilannya tetap sempurna meski hanya berpakaian biasa, rambut perak jatuh alami mengikuti garis wajahnya yang tegas namun halus, kulitnya bersih bercahaya seperti porselen, dan ekspresinya tenang, nyaris dingin. Ia tampak seperti seseorang yang selalu tahu ke mana ia pergi, bahkan ketika sedang berjalan tanpa terburu-buru.

Pintu otomatis terbuka tanpa suara.

Udara di dalam berbeda.

Sejuk… bersih… dan hening.

Namun bukan hening kosong. Ini adalah keheningan yang penuh—seperti ruang yang menyimpan ribuan pikiran, teori, cerita, dan pengetahuan yang menunggu disentuh. Cahaya putih lembut jatuh dari panel transparan di langit-langit, menerangi rak-rak tinggi yang tersusun simetris. Tangga melengkung menghubungkan lantai-lantai bertingkat, sementara layar digital tipis melayang di beberapa sudut, menampilkan katalog buku dan jadwal kelas edukatif.

Douma menarik napas pelan.

Tenang.

Tempat seperti ini selalu membuat pikirannya jernih.

“Aku hanya perlu mencari kelas tambahan sains…” gumamnya pelan.

Bukan karena ia tertinggal. Justru sebaliknya. Otaknya bergerak terlalu cepat. Ia membutuhkan stimulasi yang seimbang—materi yang cukup menantang agar pikirannya tidak stagnan. Dan jujur saja… ia memang menyukai tempat seperti ini. Ia kutu buku dalam arti paling murni. Hanya saja, penampilannya tidak pernah memberi kesan demikian. Begitulah nasib orang tampan—bahkan saat mencari buku ilmiah, orang tetap mengira ia sedang syuting iklan.

Douma berjalan ke area referensi akademik. Lantai di bagian itu lebih sunyi, suara langkah kaki terasa teredam oleh material lantai pintar yang menyerap getaran. Ia mengangkat tangan, menyentuh panel katalog digital. Antarmuka hijau lembut muncul, responsif terhadap sentuhan.

Program les tambahan sains bermunculan di layar:

— Modul adaptif berbasis neural

— Program akselerasi penelitian pemula

— Kelas eksperimen simulatif lanjutan

Matanya bergerak cepat membaca detail kurikulum, tingkat kesulitan, metode pengajaran, dan profil mentor. Ia tidak asal memilih. Otaknya menganalisis dengan presisi—mencari keseimbangan antara teori, praktik, dan fleksibilitas.

Bagus.

Program modul adaptif ini cukup rasional.

Ia hampir menekan tombol pendaftaran ketika…

…suhu ruangan berubah.

Sangat halus.

Tapi Douma merasakannya.

Udara terasa lebih berat, seperti tekanan yang tidak terlihat menekan lapisan realitas itu sendiri. Suara di perpustakaan tiba-tiba terasa jauh—bukan hilang, tapi teredam, seolah dunia sedang menarik napas.

Alis Douma sedikit bergerak.

Tidak panik. Tidak tegang.

Hanya… waspada.

Lampu di atas berkedip sekali.

Sangat singkat.

Tak seorang pun bereaksi.

Para pengunjung tetap membaca. Seorang anak kecil menunjuk buku bergambar. Pustakawan berjalan seperti biasa.

Namun bagi Douma—

ada sesuatu yang tidak selaras.

Ia memutar tubuh perlahan menuju rak sains di belakangnya.

Lalu—

sebuah buku jatuh.

Tidak keras. Hanya bunyi lembut kertas menyentuh lantai.

Douma menatapnya beberapa detik.

Tidak ada orang di dekat rak itu.

Ia berjalan mendekat, membungkuk, dan mengambil buku tersebut.

Sampulnya gelap. Tidak seperti buku ilmiah biasa. Tidak ada judul jelas—hanya simbol asing yang terasa… salah. Bukan salah secara visual. Tapi secara eksistensi.

Tangannya menyentuh permukaan buku.

Dan—

kilatan.

Sekilas bayangan menghantam pikirannya.

Aula besar.

Langit-langit tinggi seperti katedral yang rusak.

Lingkaran simbol bercahaya.

Suara… banyak suara… berbisik dalam nada ritual.

Tekanan.

Lalu—

semuanya lenyap.

Douma berkedip.

Perpustakaan kembali normal.

Buku di tangannya sekarang tampak seperti buku referensi tua biasa. Judulnya tentang teori energi klasik. Tidak ada simbol. Tidak ada aura.

Namun telapak tangannya masih merasakan sisa getaran.

Ia meletakkan buku itu kembali dengan hati-hati.

Douma berdiri diam beberapa detik, membiarkan indranya membaca ruang di sekitarnya. Ada retakan kecil di dimensi ini. Tipis. Hampir tidak terlihat. Seperti bekas goresan di kaca yang hanya bisa dilihat dari sudut tertentu.

Dan retakan itu… berasal dari tempat ini.

Rak buku di ujung lorong tampak sedikit… bergeser. Bayangannya tidak sinkron dengan sumber cahaya. Sepersekian detik saja.

Energi dalam tubuh Douma merespons secara otomatis—bukan agresif, hanya menstabilkan. Gelombang halus menyebar dari dirinya seperti riak di air.

Gangguan itu mereda.

Realitas kembali lurus.

Tidak ada yang menyadari apa pun.

Douma menghembuskan napas pelan.

“Jadi… begitu, hanya gangguan kecil” pikirnya.

Seseorang sedang menguji batas dunia ini.

Meskipun telah lahir di tubuh manusia biasa. Namun energi dan aura yang tak berasal dari dunia manusia, masih bisa dia rasakan.

Tapi bukan urusannya sekarang.

Belum.

Langkah kaki lembut mendekat.

“Permisi… apakah Anda menemukan yang dicari?”

Pustakawan perempuan berdiri di sampingnya dengan senyum profesional. Douma menoleh, ekspresinya kembali netral sopan.

“Saya mencari program les tambahan sains.”

“Oh, bagus sekali. Kami punya program eksklusif berbasis modul adaptif. Mentor terbaik kota biasanya mengajar di sini. Banyak siswa elit mendaftar.”

Douma mengangguk kecil.

“Saya sudah melihatnya. Metodenya cukup efisien.”

Pustakawan tampak sedikit terkesan. Tidak banyak remaja yang bicara seperti itu.

“Kalau begitu, Anda bisa mendaftar langsung dari panel. Kami juga menyediakan ruang belajar pribadi.”

“Terima kasih.”

Dialog singkat. Normal. Biasa.

Kontras tajam dengan gangguan dimensi yang baru saja terjadi.

Douma kembali ke panel digital dan menyelesaikan pendaftaran. Konfirmasi muncul—kelas dimulai minggu depan.

Selesai.

Tujuan utamanya tercapai.

Ia duduk di kursi dekat jendela, membuka materi pengantar yang baru diunduh ke perangkatnya. Matanya membaca cepat, otaknya menyerap informasi dengan efisiensi luar biasa. Namun sebagian kecil kesadarannya tetap memantau ruang sekitar.

Tenang.

Stabil.

Bagus.

Perpustakaan ini… menarik.

Selain tempat belajar, energi ruangan ini memiliki kualitas yang… menenangkan. Cocok untuk berpikir. Cocok untuk menyusun strategi. Cocok untuk menyendiri.

Tempat healing, kalau boleh jujur.

Douma membaca hampir satu jam tanpa terasa. Dunia luar seperti memudar—hanya ada teks, rumus, dan alur logika yang mengalir rapi di kepalanya.

Ia menutup perangkat.

Cukup untuk hari ini.

Saat berdiri, angin dari ventilasi atas berhembus pelan. Kertas di meja bergetar halus.

Douma berhenti.

Ia menatap refleksinya di kaca beberapa detik.

Tatapan tenang.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Tanpa tergesa, ia berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya ringan, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan urusan kecil—padahal tanpa ia sadari, tempat itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar.

Perpustakaan kembali sunyi.

Normal.

Namun jauh di dalam lapisan realitas yang tidak terlihat—

sesuatu… memperhatikan.

ia atau mereka menyadari keberadaan Douma_

Sementara itu, Douma sudah berjalan pergi di bawah cahaya sore yang hangat, pikirannya dipenuhi rencana belajar… seolah tidak ada apa pun yang terjadi.

Dan ia memilih… untuk menghiraukan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!