Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Hukuman di balik jeruji besi
Bau lembap tanah yang membusuk, karat besi yang menahun, dan aroma tajam bahan kimia yang menyengat memenuhi udara di ruang bawah tanah The Velvet Manor.
Tempat ini adalah rahim dari segala rahasia gelap keluarga von Raven, sebuah labirin batu yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari.
Cahaya hanya berasal dari beberapa obor yang terpasang di dinding batu berlumut, apinya menari-nari dengan liar ditiup angin dingin yang entah datang dari mana, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai iblis yang sedang berpesta pora di dinding.
Aira melangkah turun menyusuri tangga batu yang licin dengan keanggunan yang membekukan darah. Suara ketukan tumit sepatunya bergema di lorong sempit itu, memberikan peringatan ritmis bagi siapa pun yang berada di bawah sana bahwa sang penguasa neraka telah datang untuk menagih janji.
Gaun beludru hijaunya menyapu lantai yang kotor, namun ia tidak peduli. Matanya yang hijau zamrud kini berkilat dengan smirk kejam yang tidak menyisakan ruang bagi belas kasihan.
Di balik jeruji besi sel isolasi yang paling gelap dan pengap, Julian tergantung dengan rantai perak yang mengikat kedua pergelangan tangannya ke langit-langit.
Kemeja putih sutranya yang mahal kini robek di sana-sini, ternoda oleh keringat dan debu. Wajahnya yang biasanya rupawan dan penuh percaya diri kini tampak kuyu, dengan hidung yang masih diperban dan mata yang sayu akibat sisa-sisa efek ramuannya sendiri.
Kehancuran harga dirinya tampak jauh lebih menyakitkan daripada luka fisiknya.
Di depan sel itu, Dante berdiri tegak seperti patung kematian.
Ia sedang memutar-mutar sebuah alat bedah kecil yang biasanya digunakan Julian untuk eksperimennya—sebuah pisau bedah tipis yang berkilat di bawah cahaya obor.
Dante menoleh perlahan saat merasakan kehadiran Aira, matanya yang biru es berkilat dengan kecurigaan yang belum sepenuhnya padam.
"Anda datang tepat waktu, Nyonya," suara Dante dingin, baritonnya bergema rendah di ruangan yang sempit itu.
"Julian baru saja mulai menyadari di mana dia berada. Sejak efek ramuannya memudar, dia terus menyebut nama Anda dalam igauannya... atau lebih tepatnya, dia menyebut nama 'Aira' dengan nada yang sangat memuja, seolah nama itu adalah satu-satunya tuhan yang tersisa baginya."
Jantung Aira berdegup kencang mendengar nama aslinya disebut oleh Dante, namun ia tidak membiarkan satu otot pun di wajahnya bergetar. Ia tetap mempertahankan ekspresi dinginnya. Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di depan jeruji besi, menatap Julian yang perlahan mengangkat kepalanya yang berat.
"Julian," panggil Aira, suaranya selembut sutra namun setajam belati yang siap menggorok leher.
"Bagaimana rasanya mencicipi racun buatanmu sendiri? Apakah 'kebenaran' yang kau cari semalam terasa semanis madu, atau justru sepahit empedu yang membakar tenggorokanmu?"
Julian menatap Aira dengan mata yang merah dan basah.
"Nyonya... maafkan saya... saya hanya... saya hanya tidak tahan melihat Anda berubah... saya ingin memiliki Anda, jiwa dan raga, agar Anda tidak pernah berpaling pada anjing-anjing lain di rumah ini..."
Dante tertawa sinis, sebuah suara kering yang sangat jarang terdengar dari bibirnya yang kaku.
Ia mendekati Aira, memerangkap wanita itu di antara tubuhnya yang besar dan jeruji sel yang dingin. Ketegangan yang menyiksa merayap di antara mereka, membuat udara di sekitar mereka terasa statis dan panas.
"Dia sangat terobsesi pada Anda, Isabella. Begitu juga dengan Zane yang tiba-tiba menjadi begitu 'pahlawan' memberikan isyarat tentang teh itu," Dante merendahkan wajahnya, bibirnya menyentuh telinga Aira yang panas, hawa napasnya berbau kopi pahit.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian yang tidak saya ketahui? Ataukah Anda sedang menggunakan Zane untuk menyingkirkan Julian agar posisi kekuasaan di mansion ini berubah?"
Aira tidak mundur sedikit pun. Ia justru berbalik di dalam kungkungan Dante, menatap mata biru es pria itu dengan pandangan menantang yang penuh dengan hasrat yang tertahan. Ia mengangkat tangannya yang halus, jemarinya menelusuri rahang kaku Dante dengan gerakan yang sangat provokatif.
"Kau cemburu, Dante? Seorang kepala pelayan yang agung, yang katanya paling mengenal setiap jengkal pikiranku, merasa terancam oleh seorang pengawal bayangan yang hanya bisa diam?" Aira tertawa pelan, sebuah tawa yang menusuk.
"Betapa rendahnya kau malam ini."
"Saya tidak cemburu pada anjing, Nyonya. Saya hanya tidak suka jika milik saya mulai bermain api di belakang punggung saya," geram Dante. Ia mencengkeram pinggang Aira dengan kasar, menariknya hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.
Di dalam sel, Julian merintih, suaranya pecah melihat pemandangan itu. "Jangan... Dante... jangan sentuh dia... dia bukan milikmu..."
Aira justru berpaling ke arah Julian, lalu kembali pada Dante dengan smirk yang lebih tajam.
"Kau ingin bukti kesetiaanku, Dante? Kau ingin tahu apakah aku masih 'Isabella' yang sanggup menghancurkan jiwa manusia? Kalau begitu, berikan aku cambuk itu. Aku akan menunjukkan pada Julian—dan padamu—siapa yang memegang kendali atas rasa sakit di sini."
Dante tertegun sejenak, namun kemudian ia memberikan sebuah cambuk pendek berbahan sutra hitam yang ujungnya dilapisi serpihan kaca halus pada Aira. Dante membukakan pintu sel dengan bunyi dentuman logam yang berat.
Aira melangkah masuk ke dalam sel yang gelap dan pengap. Suasana di dalam sana menjadi sangat panas oleh aroma bahaya dan gairah yang bengkok. Ia berdiri di hadapan Julian yang tergantung tak berdaya.
Alih-alih memberikan tatapan simpati, Aira menatapnya seolah Julian adalah sampah yang mengganggu pemandangannya.
"Kau menghancurkan kepercayaan yang kau bangun selama bertahun-tahun hanya demi rasa penasaranmu yang bodoh, Julian," ucap Aira datar.
Ia mengangkat cambuk itu, namun tidak memukulkannya. Ia justru menggunakan gagang cambuk yang dingin untuk mengangkat dagu Julian agar menatapnya.
"Eksperimenmu, ramuanmu... semuanya berakhir di sini," bisik Aira.
"Kau pikir kau bisa mengendalikan pikiranku? Kau lupa siapa yang memberimu makan selama ini. Mulai malam ini, kau bukan lagi peracik tehku. Kau hanyalah kelinci percobaan yang akan menunggu gilirannya untuk dibuang."
Aira membalikkan badan dengan gerakan yang sangat anggun, menyerahkan kembali cambuk itu kepada Dante tanpa menggunakannya satu kali pun.
Baginya, menghancurkan martabat Julian di depan Dante adalah hukuman yang jauh lebih kejam daripada luka cambuk.
"Simpan ini, Dante," ujar Aira sambil melangkah keluar sel.
"Suara rintihannya sudah cukup menggangguku. Aku ingin dia merenungkan posisinya di kegelapan ini selama sisa minggu ini. Jangan beri dia air, kecuali jika dia merangkak untuk memintanya."
Dante menerima cambuk itu, matanya berkilat dengan kekaguman yang gelap.
"Langkah yang luar biasa, Nyonya. Mengabaikan keberadaannya adalah siksaan paling brutal bagi seorang manipulator seperti Julian. Anda benar-benar telah melampaui ekspektasi saya."
Dante mengunci pintu sel dengan keras, membiarkan Julian tenggelam dalam keputusasaan total di kegelapan. Dante kemudian mengawal Aira kembali ke lantai atas.
Di sepanjang lorong yang remang, Dante tidak melepaskan tangannya dari pinggang Aira, seolah ia takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan cengkeramannya sedikit saja.
Saat mereka mencapai aula utama, Aira menangkap sekilas bayangan di sudut tangga yang paling gelap.
Itu adalah Zane.
Pengawal itu berdiri mematung, namun sorot matanya yang tajam memberikan sinyal yang jelas: Kita perlu bicara. Zane tampak tidak menyukai bagaimana Dante terus menyentuh Aira setelah apa yang terjadi di sel bawah tanah tadi.
Aira tahu bahwa malam ini adalah awal dari perpecahan besar di antara para pelayannya.
Dante mulai merasa memenangkan kendali, Julian hancur, Kael sedang mengasah amarahnya, dan Zane memegang rahasia terdalamnya. Di bawah tatapan mata Isabella asli yang tertawa di cermin aula, Aira menyadari bahwa ia tidak boleh goyah sedikit pun.
"Kembalilah ke tugasmu, Dante," perintah Aira saat mereka sampai di depan pintu kamarnya.
"Aku tidak butuh penjaga lagi malam ini. Aku sudah cukup 'terhibur' oleh penderitaan Julian."
Dante membungkuk sangat rendah, mencium tangan Aira dengan cara yang sangat posesif sebelum pergi. Aira masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan langsung bersandar di sana dengan napas yang akhirnya bisa ia lepaskan.
Lanjuutt