Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Guru Misterius
Hutan pegunungan itu akhirnya kembali tenang.
Setelah kepergian Kang Dae-Rin dan dua murid Sekte Naga Hitam, hanya suara angin malam dan serangga hutan yang terdengar pelan di sekitar Goo Yoon.
Pemuda itu masih berdiri di tempatnya.
Pedangnya perlahan ia turunkan.
“Huff…”
Ia menghembuskan napas panjang.
Tubuhnya terasa lelah setelah pertarungan panjang itu. Energi yang tadi mengalir deras di dalam tubuhnya kini mulai perlahan mereda.
Namun perasaan di dalam hatinya justru semakin rumit.
Kata-kata Kang Dae-Rin masih terngiang di kepalanya.
“Darah pendekar legendaris…”
Goo Yoon menatap tangannya sendiri.
Selama ini ia selalu mengira dirinya hanyalah pemuda biasa yang belajar bela diri dari kakeknya.
Namun sekarang…
Mungkin ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang dirinya sendiri.
Ia perlahan duduk di sebuah batu besar di dekatnya.
Angin malam terasa dingin di wajahnya.
Tiba-tiba—
Tepuk… tepuk…
Suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pepohonan.
Goo Yoon langsung berdiri kembali.
Matanya tajam menatap ke arah suara itu.
“Siapa di sana?”
Beberapa detik kemudian, sebuah sosok keluar dari balik bayangan pohon.
Seorang pria tua dengan jubah panjang berwarna abu-abu.
Rambutnya putih panjang hingga melewati bahunya. Wajahnya dipenuhi kerutan, namun matanya tajam seperti pedang.
Ia berjalan dengan langkah santai mendekati Goo Yoon.
“Pertarungan yang menarik,” katanya sambil tersenyum tipis.
Goo Yoon tetap waspada.
Tangannya kembali menggenggam pedangnya.
“Kau menonton sejak tadi?”
Pria tua itu mengangguk ringan.
“Sejak awal.”
Jawaban itu membuat Goo Yoon sedikit terkejut.
Jika pria ini benar-benar berada di sana sejak awal pertarungan, berarti kekuatannya tidak bisa diremehkan.
Karena Goo Yoon sama sekali tidak merasakan kehadirannya sebelumnya.
Pria tua itu berhenti beberapa meter di depan Goo Yoon.
Ia memandang pemuda itu dengan tatapan penuh minat.
“Kau lebih kuat dari yang kuduga.”
Goo Yoon tidak menjawab.
Ia hanya menatap balik pria itu dengan hati-hati.
“Siapa kau?”
Pria tua itu tersenyum kecil.
“Orang tua yang kebetulan lewat.”
Jawaban itu jelas tidak meyakinkan.
Goo Yoon mengerutkan kening.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, pria tua itu kembali berbicara.
“Energi yang bangkit dalam tubuhmu tadi…”
Ia menatap lurus ke mata Goo Yoon.
“…sudah lama sekali aku tidak melihatnya.”
Goo Yoon langsung terdiam.
Jadi pria ini juga menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya.
Pria tua itu berjalan sedikit lebih dekat.
Namun langkahnya tetap santai, seolah tidak merasa terancam sama sekali.
“Anak muda,” katanya pelan.
“Siapa yang mengajarimu bela diri?”
Goo Yoon menjawab dengan jujur.
“Kakekku.”
“Hmm…”
Pria tua itu mengelus janggutnya.
“Apakah dia pernah memberitahumu tentang asal-usul keluargamu?”
Pertanyaan itu membuat Goo Yoon terdiam.
Ia menggeleng pelan.
“Tidak pernah.”
Senyum tipis muncul di wajah pria tua itu.
“Seperti yang kuduga.”
Ia kemudian menatap langit malam sejenak.
Bulan bersinar terang di atas hutan.
“Sepertinya waktunya memang sudah tiba,” gumamnya pelan.
Goo Yoon semakin bingung.
“Apa maksudmu?”
Pria tua itu akhirnya menatapnya kembali.
Tatapannya kali ini jauh lebih serius.
“Namaku Han Seol.”
Nama itu tidak terdengar asing, namun juga tidak langsung dikenali oleh Goo Yoon.
Namun pria tua itu melanjutkan dengan tenang.
“Aku pernah menjadi salah satu pendekar yang mengenal keluargamu.”
Kata-kata itu membuat jantung Goo Yoon berdetak lebih cepat.
“Keluargaku?”
Han Seol mengangguk.
“Ya.”
Ia menatap Goo Yoon dengan tajam.
“Keluarga Pedang Langit.”
Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Nama itu kembali muncul.
Pedang Langit.
Nama yang sebelumnya disebut oleh Kang Dae-Rin.
Goo Yoon menatap pria tua itu dengan tidak percaya.
“Kau bilang… keluargaku?”
Han Seol mengangguk perlahan.
“Kau mungkin tidak tahu ini.”
“Tapi ayahmu… adalah salah satu pendekar terkuat yang pernah ada di dunia ini.”
Kata-kata itu terasa seperti petir di telinga Goo Yoon.
Ayahnya?
Pendekar terkuat?
Selama ini Goo Yoon bahkan tidak pernah tahu siapa ayahnya sebenarnya.
Ia selalu mengira ayahnya telah lama meninggal sebagai orang biasa.
Namun sekarang—
Cerita yang sama sekali berbeda mulai terungkap.
Han Seol melanjutkan dengan suara tenang.
“Namun keluarga Pedang Langit dihancurkan bertahun-tahun lalu oleh banyak sekte besar.”
“Karena mereka takut pada kekuatan keluarga itu.”
Mata Goo Yoon sedikit melebar.
“Kau satu-satunya yang selamat.”
Angin malam berhembus melewati mereka.
Hutan kembali sunyi.
Goo Yoon berdiri tanpa berkata-kata.
Seluruh dunia yang ia kenal terasa seperti berubah dalam satu malam.
Han Seol akhirnya tersenyum kecil.
“Namun sekarang darah itu sudah bangkit.”
Ia menunjuk ke arah pedang Goo Yoon.
“Dan jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang keluargamu…”
Tatapannya menjadi tajam.
“…kau harus menjadi jauh lebih kuat.”
Goo Yoon menatapnya dalam-dalam.
“Kau tahu caranya?”
Han Seol tersenyum tipis.
“Aku mungkin sudah tua.”
“Tapi aku masih bisa mengajarimu beberapa hal.”
Ia berbalik perlahan.
“Jika kau ingin menjadi lebih kuat… ikutlah denganku.”
Goo Yoon berdiri diam beberapa saat.
Namun di dalam hatinya, tekadnya mulai mengeras.
Ini mungkin kesempatan untuk mengetahui kebenaran tentang dirinya.
Ia akhirnya berkata pelan.
“Tunggu.”
Han Seol berhenti berjalan.
Goo Yoon menggenggam pedangnya.
“Aku akan ikut.”
Senyum kecil muncul di wajah pria tua itu.
Perjalanan Goo Yoon sebagai pendekar sejati—
Baru saja dimulai.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/