NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Pertama Di Kota

Saat pagi hari, waktu subuh, aku terbangun. Kulihat ibu tidak lagi tidur di sampingku—mungkin ia pindah semalam.

Biasanya jam segini aku dibangunkan Abah untuk mandi dan salat Subuh, tapi hari ini aku merasa malas. Jadi aku memutuskan untuk lanjut tidur lagi. 😄

Ketika cahaya pagi mulai terang, aku terbangun lagi. Aku mandi dan keluar kamar. Ternyata, tidak ada siapa-siapa. Namun di meja makan sudah disiapkan sarapan untukku. Setelah makan, aku sedikit bingung mau ngapain.

Akhirnya aku berkeliling melihat-lihat sekitar rumah. Di halaman belakang, kulihat Bi May sedang membersihkan halaman. Aku bertanya kepadanya ke mana yang lain.

“Eh, Dek Rendra, sudah bangun ya? Sarapannya sudah dimakan?” sapa Bi May ramah.

“Udah, Bi,” jawabku.

“Si Ibu dan Bapa teh kerja pagi-pagi, terus Kak Marissa berangkat kuliah,” jelas Bi May.

“Ooh,” jawabku pelan.

Bi May tersenyum. “Kalau bosan, keluar liat-liat sekitar. Di garasi ada motor atau sepeda. Kuncinya tanya aja ke Mang Tatang.”

Aku mengangguk. “Ia, Bi.”

Mang Tatang, suami Bi May, kadang bekerja sebagai supir, tukang kebun, penjaga, atau membantu istrinya. Peran ganda ini membuat rumah terasa hidup dan sibuk.

Aku pun berkeliling lagi. Di halaman belakang, kulihat sebuah pintu besi—ternyata akses keluar masuk ke tetangga. Aku bertanya pada Bi May,

“Ini pintu apa, Bi? Bisa keluar dari sini?”

“Oh, ini pintu tembus ke tetangga. Dek Cila kalau main suka lewat sini biar dekat,” jawab Bi May.

“Ooooh,” aku mengangguk.

Bi May melanjutkan, “Dek Rendra sudah kenal belum sama Dek Cila? Dia cantik lho. Mau nggak Bi kenalin?”

“Mm, nggak, Bi. Makasih,” jawabku.

Aku kembali melihat-lihat bagian lain rumah, dan setelah bosan, aku masuk kamar lagi. Terlintas di pikiranku untuk mengecek saldo ATM melalui aplikasi mobile. Waw… angkanya sangat fantastis! Rupanya selama di kampung, ibu rutin mengirim uang, tapi Oma sama sekali tidak menggunakannya.

“Anjay,” kataku dalam hati. “Ga nyangka aku sekaya ini, haha.”

Saat itu aku sadar, ibu sangat sayang padaku. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak begitu membutuhkan semua kemewahan ini. Aku lebih suka keluarga yang sederhana tapi harmonis.

Tak lama kemudian terdengar suara Bi May memanggil,

“Dek, Dek Rendra, ada yang nyariin!”

Aku keluar mengikuti Bi May, dan ternyata orang itu adalah Cila, yang sedang menunggu di bangku halaman belakang.

“Lho, kok kamu di sini, Bi? Kak Marissa mana? Pantesan suruh tunggu di sini,” kata Cila, terlihat sedikit bingung. Aku tersenyum canggung.

“Sudah, Dek. Ngobrol aja dulu, Bi May buatin minum dulu,” jawab Bi May.

Aku duduk sedikit canggung. Setelah saling diam sebentar, Cila bertanya,

“Nama kamu siapa kemarin? Aku lupa.”

“Rendra,” jawabku.

“Rendra doang?”

“Rendra Abhinaya,” aku menambahkan.

“Aku Prescila Anindita,” katanya sambil tersenyum.

Saat itu aku tidak berani menatap wajahnya, jadi aku pura-pura melihat ponsel.

“Ngapain sih, sibuk banget kayanya?” Cila bergumam.

“Oh enggak, ini tadi lagi lihat-lihat HP,” jawabku.

Cila tampak ekspresi “hadeuh”, lalu mengambil HP dan mulai melihatnya. Tak lama Bi May datang membawa minuman.

“Nih, minum dulu biar tenggorokan nggak kering,” katanya sebelum pergi lagi.

Kami kembali diam sejenak. Aku meneguk minumanku.

“Ayo minum, enak lho, segar,” ajakku.

Cila ikut meneguk minumannya sambil tetap melihat HP. Aku merasa sepertinya ia tidak suka dengan sikapku tadi. Akhirnya aku menyimpan HP dan bertanya,

“Sil, biasanya tiap hari kamu kemana atau ngapain kalau di rumah?”

Cila menyimpan HP-nya dan menjawab,

“Biasanya sekolah, banyak teman. Tapi kalau di rumah suka bete. Kalau ada Kak Marissa, main sama Kak Marissa. Kadang iseng nyoba make-up dia 😄.”

“Jadi selama liburan nggak pernah keluar?” tanyaku.

“Ya pernah, tapi jarang. Cuma kalau ayah ada di rumah. Sekarang ayah sibuk kerja, ibu juga sibuk arisan sama teman-temannya, sama kayak ibu kamu,” jawabnya.

“Ooh, gimana kalau kita keluar jalan-jalan naik sepeda?” tawarku.

“Boleh,” katanya, terlihat senang. “Tapi aku ganti baju dulu, soalnya cuacanya panas. Ke rumah aku yuk.”

“Lho, bukannya aku nunggu di sini aja?” tanyaku.

“Enggak, kita naik sepeda aku, kamu pakai yang punya ayah di rumah,” jelas Cila.

Aku pun izin ke Bi May, “Bi, aku main dulu ya sama Cila.”

“Ia, Dek,” jawab Bi May.

Kami berjalan menuju rumah Cila melalui pintu halaman belakang. Saat masuk, kulihat ada kolam renang, dan rumahnya ternyata lebih mewah dari rumahku 😄.

“Ini… aku boleh nggak berenang di sini?” tanyaku.

“Bolehlah, tapi jangan sekarang,” jawab Cila.

“Kenapa?”

“Kan mau sepedaan,” katanya.

“Oh, iya, maksudku kapan-kapan,” jawabku sambil tersenyum.

Kami lanjut berjalan, dan Cila menyuruhku menunggu di halaman belakang sementara dia ganti baju. Sambil menunggu, aku melihat-lihat sekitar rumah. Semuanya terlihat mewah dan keren 😄.

Dan pagi itu pun berakhir dengan hangat. Aku duduk di bangku halaman belakang, tersenyum sendiri, merasa lega karena hari pertamaku di kota berjalan lancar… meski semuanya masih terasa sangat baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!