NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Pertama Di Kota

Saat subuh, aku sempat terbangun—tanpa suara siapa pun yang memanggil.

Ruang terasa berbeda dari sebelumnya. Sepi. Ketika aku menoleh, ibu sudah tidak ada di sampingku. Entah sejak kapan ia pindah.

Biasanya, di jam seperti ini, Abah akan membangunkanku. Menyuruh mandi. Lalu shalat Subuh.

Tapi hari ini tidak ada yang membangunkan.

Dan entah kenapa, aku memilih untuk tidak bangun sepenuhnya.

Rasa malas menahanku di tempat. Aku kembali menarik selimut, membiarkan tubuhku tenggelam lagi dalam sisa kantuk yang belum benar-benar hilang.

Saat aku terbangun lagi, cahaya pagi sudah masuk dari sela jendela.

Tidak lagi redup.

Aku bangun perlahan, mandi, lalu keluar kamar.

Rumah terasa kosong.

Tidak ada suara percakapan. Tidak ada langkah kaki. Hanya keheningan yang rapi.

Di meja makan, sarapan sudah tersedia.

Seperti sesuatu yang disiapkan tanpa perlu kehadiranku.

Aku makan sendirian.

Pelan.

Tanpa banyak pikiran—atau mungkin justru terlalu banyak.

Setelah selesai, aku berdiri sebentar.

Bingung.

Tidak tahu harus melakukan apa.

Akhirnya, aku memutuskan berkeliling.

Melihat-lihat rumah yang masih terasa asing, meskipun perlahan mulai kupahami.

Di halaman belakang, aku melihat Bi May.

Ia sedang menyapu.

Gerakannya tenang. Terbiasa.

Aku mendekat.

“Eh, Dek Rendra, sudah bangun ya? Sarapannya sudah dimakan?” sapanya ramah.

“Udah, Bi,” jawabku.

“Si Ibu dan Bapa teh kerja pagi-pagi, terus Kak Marissa berangkat kuliah,” jelasnya.

“Ooh…” jawabku pelan.

Penjelasan itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat rumah ini terasa benar-benar kosong.

Bi May tersenyum.

“Kalau bosan, keluar liat-liat sekitar. Di garasi ada motor atau sepeda. Kuncinya tanya aja ke Mang Tatang.”

Aku mengangguk.

“Ia, Bi.”

Mang Tatang—suami Bi May.

Perannya tidak pernah satu. Kadang supir, kadang tukang kebun, kadang penjaga. Kadang hanya membantu di mana pun dibutuhkan.

Rumah ini berjalan bukan hanya karena satu orang.

Aku melanjutkan berkeliling.

Di bagian belakang, aku menemukan pintu besi.

Tidak besar. Tapi cukup mencolok.

Seperti batas yang tidak benar-benar menutup.

“Ini pintu apa, Bi? Bisa keluar dari sini?” tanyaku.

“Oh, ini pintu tembus ke tetangga. Dek Cila kalau main suka lewat sini biar dekat,” jawab Bi May.

“Ooooh…”

Aku mengangguk pelan.

Seolah sedang mengingat sesuatu yang belum pernah kualami.

Bi May melanjutkan,

“Dek Rendra sudah kenal belum sama Dek Cila? Dia cantik lho. Mau nggak Bi kenalin?”

“Mm, nggak, Bi. Makasih,” jawabku.

Bukan menolak.

Hanya… belum siap.

Aku kembali masuk ke dalam rumah.

Berjalan tanpa tujuan.

Sampai akhirnya kembali ke kamar.

Duduk.

Diam.

Lalu tanpa sadar, tanganku mengambil ponsel.

Membuka aplikasi.

Melihat saldo.

Dan angka itu—

terlalu besar untuk sesuatu yang tidak pernah benar-benar kupikirkan.

Ternyata selama ini ibu rutin mengirim uang.

Dan tidak pernah dipakai.

“Anjay…” gumamku dalam hati. “Ga nyangka aku sekaya ini.”

Kalimat itu terasa ringan.

Tapi tidak benar-benar berarti.

Karena di saat yang sama, aku sadar—

aku tidak benar-benar butuh itu.

Yang kuinginkan bukan angka.

Bukan kemewahan.

Tapi sesuatu yang lebih sederhana.

Lebih utuh.

“Dek, Dek Rendra, ada yang nyariin!”

Suara Bi May memanggil dari luar.

Aku langsung berdiri.

Keluar.

Dan di sana—

di bangku halaman belakang—

Cila sudah duduk menunggu.

“Lho, kok kamu di sini, Bi? Kak Marissa mana? Pantesan suruh tunggu di sini,” katanya, terlihat bingung.

Aku hanya tersenyum kecil.

Canggung.

“Sudah, Dek. Ngobrol aja dulu, Bi May buatin minum dulu,” kata Bi May sebelum pergi.

Aku duduk.

Jarak kami tidak terlalu dekat.

Tidak juga terlalu jauh.

Cukup untuk membuat diam terasa jelas.

“Nama kamu siapa kemarin? Aku lupa,” tanya Cila.

“Rendra.”

“Rendra doang?”

“Rendra Abhinaya.”

“Aku Prescila Anindita.”

Aku mengangguk kecil.

Tidak benar-benar menatapnya.

Sebagai gantinya, aku melihat ponsel.

Seolah itu lebih mudah.

“Ngapain sih, sibuk banget kayanya?” gumamnya.

“Oh enggak, ini tadi lagi lihat-lihat ponsel,” jawabku.

Ia tampak tidak terlalu suka.

Ekspresinya berubah.

Lalu ia ikut membuka ponselnya.

Seolah membalas sikapku tanpa perlu bicara.

Bi May datang membawa minuman.

“Nih, minum dulu biar tenggorokan nggak kering,” katanya, lalu pergi lagi.

Kami kembali diam.

Aku meneguk minumanku.

“Ayo minum, enak lho, segar,” ucapku pelan.

Ia ikut minum, tapi pandangannya masih sesekali turun ke ponsel.

Saat itu aku sadar—

mungkin aku yang membuat suasana jadi canggung.

Akhirnya aku menyimpan ponselku.

“Sil, biasanya tiap hari kamu ke mana atau ngapain kalau di rumah?” tanyaku.

Ia ikut menyimpan ponselnya.

Menatap ke depan sebentar, seolah berpikir.

“Di sekolah… aku punya banyak teman,” ucap Cila pelan. Wajahnya tampak sedikit bosan. “Tapi kalau di rumah, rasanya sepi… dan membosankan.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu ekspresinya berubah, sedikit lebih cerah.

“Tapi kalau ada Kak Marissa… aku bisa main bareng dia. Kadang juga iseng—coba-coba pakai make-up punya dia.”

“Jadi selama liburan nggak pernah keluar?”

“Ya pernah, tapi jarang. Cuma kalau ayah ada di rumah. Sekarang ayah sibuk kerja, ibu juga sibuk, sama kayak ibu kamu.”

“Ooh…”

Aku mengangguk pelan.

Lalu tanpa banyak berpikir—

“Gimana kalau kita keluar jalan-jalan naik sepeda?”

Wajahnya langsung terlihat lebih hidup.

“Boleh. Tapi aku ganti baju dulu. Soalnya cuacanya panas. Ke rumah aku yuk.”

“Lho, bukannya aku nunggu di sini aja?”

“Enggak. Kita naik sepeda aku, kamu pakai yang punya ayah di rumah.”

Aku mengangguk.

“Oke.”

Aku lalu menoleh ke arah Bi May.

“Bi, aku main dulu ya sama Cila,” pamitku.

“Iya, Dek,” jawab Bi May.

Kami berjalan melewati pintu belakang.

Masuk ke rumahnya.

Dan dari langkah pertama saja—

terasa perbedaan.

Ada kolam renang di sana.

Ruang yang lebih luas.

Lebih rapi.

Lebih… mewah.

“Ini… aku boleh nggak berenang di sini?” tanyaku.

“Bolehlah, tapi jangan sekarang.”

“Kenapa?”

“Kan mau sepedaan.”

“Oh… iya.”

Aku tersenyum kecil.

Tidak benar-benar serius.

Ia menyuruhku menunggu di halaman belakang.

Aku duduk.

Melihat sekitar.

Segalanya terlihat bagus.

Tertata.

Seperti hidup yang tidak pernah kekurangan apa-apa.

Dan entah kenapa—

pagi itu terasa hangat.

Bukan karena cuaca.

Tapi karena sesuatu yang pelan-pelan berubah.

Aku duduk di sana.

Tersenyum sendiri.

Merasa sedikit lebih ringan.

Hari pertamaku di kota berjalan lancar.

Meski semuanya masih terasa baru.

Dan mungkin—

aku juga masih mencoba menjadi bagian dari semua ini.

1
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!