Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Yang Terbuka Lebar
Pagi itu,cahaya matahari masuk melalui celah jendela workshop.Udara masih dingin.
Namun suasana di dalam sudah terasa berbeda.
Ryan berdiri di depan mobil itu.
Mobil yang selama tiga hari terakhir
menguras tenaga dan pikirannya.
Kini mesin itu hidup sempurna.
Stabil Kuat.Dan siap diuji di level yang lebih tinggi.
Namun Ryan tidak tersenyum lebar.
Ia hanya menatapnya dengan tenang.
Seolah berkata ini belum selesai.
“Sudah siap?”
Suara Raka terdengar dari belakang.
Ryan pun menoleh dan Mengangguk pelan.
“Adrian sudah tunggu,” lanjut Raka.
Ryan menarik napas lalu berjalan keluar.
Beberapa menit kemudian
ia kembali berada di gedung yang sama.
Tempat pertama kali ia datang kemarin.
Namun kali ini langkahnya berbeda.
Lebih mantap.
Ia tidak lagi terlihat asing.
Pintu lift terbuka.
Ryan langsung menuju ruangan itu.
Dan seperti sebelumnya
Adrian sudah ada di sana.
Duduk santai.
Seolah semuanya sudah dalam kendalinya.
“Kamu cepat,” katanya.
Ryan berdiri di depannya.
“Waktu saya tidak banyak.”
Adrian tersenyum tipis.
“Dan kamu tidak buang waktu.”
Ryan tidak menjawab.
Adrian menggeser sebuah tablet ke arahnya.
“Laporan.”
Ryan melihat sekilas
data hasil pengerjaannya sudah ada di sana.
Lengkap dan Detail.Ia sedikit mengernyit.
“Kamu sudah tahu hasilnya.”
Adrian menyandarkan tubuhnya.
“Saya selalu tahu.”
Sunyi sejenak.
Lalu Adrian berkata,
“Bagus.”Namun kali ini
lebih berarti dari sebelumnya.“Kamu lulus.”
Ryan tidak terlihat terkejut.
Namun tetap ia mengangguk.
“Apa selanjutnya?” tanyanya.
Adrian tersenyum dan kali ini lebih serius.
“Sekarang kita bicara yang sebenarnya.”
Ryan sedikit menyipitkan mata.
Adrian melanjutkan,
“Proyek kemarin… hanya penyaringan.”
Ryan sudah menduga.
“Dan sekarang…” lanjut Adrian.
“…kamu masuk ke bagian utama.”
Ia membuka satu file baru.
Menunjukkannya pada Ryan.
Beberapa detik Ryan membaca.
Dan kali ini ekspresinya berubah.
“Ini…”
Adrian mengangguk.
“Kompetisi.”
Ryan menatap lebih dalam.
Bukan kompetisi biasa.
Melainkan kompetisi Balap dunia yang memiliki Level yang lebih tinggi
dengan nama-nama besar.
Dan yang lebih penting—
taruhan besar di belakangnya.
“Kamu akan pegang satu unit,” kata Adrian.
Ryan langsung mengangkat kepala
“Saya?”
Adrian tersenyum tipis.
“Kenapa? Tidak percaya diri?”
Ryan menggeleng pelan.
“Ini bukan soal itu.”
Ia menatap kembali layar itu.
“Ini levelnya beda.”
Adrian mengangguk.
“Makanya kamu di sini.”
Sunyi sejenak.
Ryan berpikir cepat.
Kesempatan ini besar,Sangat besar.
Namun risikonya jauh lebih besar.
“Kapan?” tanyanya akhirnya.
“Minggu depan.”
Ryan langsung menatap tajam.
“Cepat.” Adrian tersenyum.
“Dunia ini tidak pernah menunggu.”
Ryan terdiam.Lalu ia bertanya,
“Apa yang kamu dapat dari ini?”
Adrian tertawa kecil.
“Akhirnya kamu tanya juga.”
Ia berdiri.
Berjalan mendekat.
“Nama.”
Ia berhenti di depan Ryan.
“Dan posisi.”
Ryan menatapnya.
“Dan kamu?”
tanya Adrian balik.
Ryan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik
hening.
Lalu ia berkata,
“Bukti.”
Adrian tersenyum.
“Bagus.”
Ia kembali ke kursinya.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Ryan tajam.
“Jangan gagal.”
Ryan keluar dari ruangan itu.
Langkahnya tidak terburu-buru.
Namun pikirannya
penuh.
Kompetisi.
Level tinggi.
Nama besar.
Dan di balik semua itu
ada sesuatu yang lain.
Arini.
Jika ia masuk ke dunia ini
maka ia akan semakin dekat
dengan dunia yang sama yang menekan Arini.
Namun juga
semakin berbahaya.
Ryan berhenti sejenak di luar gedung.
Menatap langit.
“Kalau ini jalannya…”
gumamnya pelan.
“…aku akan jalan sampai akhir.”
Ia kembali melangkah.
Tanpa ragu.
Karena sekarang
pintu itu sudah terbuka.
Lebar.
Dan ia
sudah masuk ke dalamnya.