NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkas Sang Putri yang Hilang

Di ruang kerja pribadinya yang kedap suara di lantai teratas gedung Zollern Group, Edward duduk di balik meja mahoninya yang luas. Di depannya, Rey berdiri dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. Sebuah map kulit berwarna hitam diletakkan di tengah meja, di dalamnya berisi dokumen-dokumen yang sebelumnya terkunci rapat oleh pengaruh keluarga Lichtenzell.

"Ternyata, kita mencari di kolam yang salah selama ini, Sir," lapor Rey. "Informasi ini tidak ada di database warga sipil biasa karena Tuan Lewis Lichtenzell membayar mahal untuk menghapus jejak putrinya setelah dia kabur."

Edward membuka map itu perlahan. Di lembar pertama, terpampang ijazah dengan stempel resmi dari University of Oxford.

"Eleanor Lichtenzell," gumam Edward, mengecap nama itu di lidahnya. "Lulusan terbaik, peraih gelar Magister Hukum Bisnis dengan predikat Summa Cum Laude. Dia bukan hanya pintar, Rey. Dia jenius."

"Lebih dari sekadar jenius, Sir," tambah Rey sambil menyodorkan lembar berikutnya yang berisi daftar nama pria. "Ini adalah daftar sepuluh pria dari kalangan atas—pewaris minyak, putra menteri, hingga CEO teknologi—yang menjadi korban lidahnya. Semuanya lari terbirit-birit setelah kencan pertama."

Edward membaca catatan singkat tentang kencan-kencan buta Eleanor dan tidak bisa menahan tawa rendahnya.

Korban Ke-3: Putra Baronet Wessex. Menangis di toilet restoran karena Eleanor menyebut analisis investasinya 'setingkat dengan kemampuan kognitif anak sekolah dasar'.

Korban Ke-7: Pewaris perbankan Swiss. Mengalami serangan panik karena Eleanor membongkar skandal penggelapan pajak keluarganya di sela-sela makan malam pembuka.

Korban Ke-10: Seorang diplomat muda. Berhenti mengejar Eleanor setelah gadis itu mengatakan bahwa 'menikahi pria sepertimu adalah bentuk regresi intelektual yang tidak bisa kuterima'.

Edward menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya berkilat penuh obsesi. "Pantas saja dia menyebutku psikopat dan tidak efisien. Bagi Eleanor, pria-pria itu hanyalah gangguan kecil. Dia tidak kabur karena lemah, dia kabur karena dia terlalu kuat untuk dikurung di dalam mansion."

"Lalu, apa langkah Anda selanjutnya, Sir? Nyonya Besar Agatha sangat mendesak agar Anda segera bertunangan dengan putri Lichtenzell ini," tanya Rey.

Edward menutup map itu dengan dentuman pelan. "Nenek ingin aku bertunangan dengannya? Itu terlalu sederhana. Eleanor tidak akan mau kembali ke dunia ini jika dipaksa dengan cara biasa. Dia benci perjodohan, dia benci aturan kolot."

Edward berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah Sussex, tempat kafe L'Horizon berada.

"Dia ingin menjadi bebas, maka aku akan membiarkannya merasa bebas sedikit lebih lama," bisik Edward dengan seringai tipis. "Tapi biarkan dia tahu bahwa pelariannya selama ini sebenarnya berada di bawah pengawasanku. Rey, jangan beri tahu siapapun, termasuk Nenek. Aku ingin memainkan permainan ini sendirian."

Sore Harinya – Kafe L'Horizon. Eleanor sedang sibuk membersihkan meja ketika ia merasa bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seperti ada ribuan mata yang mengawasinya, padahal kafe sedang sepi.

Tak lama kemudian, Edward muncul. Kali ini tidak ada mobil mewah yang parkir di depan pintu. Ia masuk dengan santai, mengenakan kemeja kasual namun tetap terlihat sangat mahal.

"Nona Eleanor," panggil Edward saat ia sampai di depan konter.

Eleanor menghela napas, menatap Edward dengan tatapan 'apa-lagi-kali-ini'. "Tuan Zollern. Saya harap Anda tidak datang untuk menagih hutang waktu lagi. Saya baru saja ingin menikmati kopi saya dengan tenang."

Edward menatap Eleanor dengan cara yang berbeda. Ada binar penuh rahasia di matanya. Ia sekarang tahu bahwa gadis di depannya ini adalah wanita yang paling dicari di Inggris, wanita yang lulusan Oxford, dan wanita yang telah menghancurkan sepuluh pria perkasa dengan mulut pedasnya.

"Aku tidak datang untuk menagih waktu, Eleanor," ucap Edward sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Eleanor refleks waspada. "Aku hanya ingin bertanya... bagaimana rasanya menjadi orang yang sangat jenius namun memilih untuk mencuci piring di pinggir pantai?"

Eleanor tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Apa dia tahu sesuatu? batinnya panik. Namun, ia segera menormalkan ekspresinya.

"Saya tidak tahu apa maksud Anda, Tuan Zollern. Menjadi pintar itu relatif, dan mencuci piring itu memberikan ketenangan yang tidak bisa dimengerti oleh orang yang hidupnya hanya diatur oleh angka saham seperti Anda," balas Eleanor dengan lidah tajamnya yang khas.

Edward tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat tulus namun mengintimidasi. "Jawaban yang sangat tajam. Kau tahu, Eleanor? Kau mengingatkanku pada seseorang yang baru saja dibicarakan nenekku pagi ini. Seorang putri yang sangat cerdas, namun sangat keras kepala."

Eleanor mengepalkan tangannya di bawah konter. "Dunia ini luas, Tuan Zollern. Banyak orang keras kepala di luar sana. Sekarang, mau pesan apa?"

"Berikan aku apa saja yang kau rekomendasikan. Karena mulai hari ini, aku memutuskan bahwa seleramu adalah seleraku juga," ucap Edward dengan nada yang sangat posesif.

Edward duduk di tempat biasanya, memperhatikan Eleanor yang sedang bekerja dengan perasaan puas yang luar biasa. Ia tahu kebenarannya, dan ia sangat menikmati fakta bahwa Eleanor sekarang berada dalam jangkauannya tanpa gadis itu sadari. Perangkap itu sudah dipasang, dan Edward tidak terburu-buru. Ia ingin melihat sejauh mana "Putri Oxford" ini akan terus berbohong di depannya.

1
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
Xiao Bae•: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!